Ikhlas Yang Ternodai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 November 2017

Di sudut ruangan kantor yang kini kosong, aku terisak memeluk lutut dan membenamkan wajah di sana sampai semua air yang mengalir perlahan tumpah membasahi bagian rok yang menutupi lutut. Tangisku tertahan hingga hampir tak terdengar, namun entah apa yang mengantarkan Maryam mendekatiku, karena bahkan sepertinya semut yang berada di sampingku pun tak mendengar suara tangisku. Maryam memelukku erat dan kini dia menangis dengan suara yang terdengar nyaring dan menggetarkan isi hatiku.
“Maafkan aku.” Ucapnya, hanya itu tak ada penjelasan yang panjang atau permohonan yang bertele-tele.

Aku sampai tak mengerti harus bagaimana mengungkapkan awal dari kejadian yang membuat aku merasakan sakit seperti ini, dan apa mungkin ini pantas aku lakukan dan menyalahkan sahabat yang mungkin dalam pikirannya tak pernah terbersit untuk melakukan hal ini karena dia tahu bagaimana perasaanku sesungguhnya.
Sahabat yang dengan rela menjalani hidup bersama menembus suka melawan duka bersama, melewati malam tanpa cahaya dan menjajaki siang yang mempesona hingga tangis terasa sama dan tawa tak ada beda, dan satu yang selalu kutahu kalau Maryam adalah sosok orang yang tak pernah mau menyakiti orang lain dia selalu menyemai kebaikan bahkan hingga rela menggadaikan kebahagiaannya, dan saat ini untuk pertama kalinya secara tidak langsung dia menyakitiku dengan sakit yang terparah.

Aku masih berusaha keras mengingat semuanya, ya ini semua berawal dari sebuah peerasaan kecil yang menjadi besar karena merasa cinta bukan hanya milikku tapi miliknya juga.

“Ustadzah Nadia.” Panggil Ustadz Hamzah.
Aku berbalik dan sekilas menatap Ustadz Hamzah yang berdiri bebapa meter di hadapanku, dengan pandangan yang dihiasi senyum.
“Dipanggil Umi” Lanjutnya.
Aku hanya mengangguk dan bergegas untuk menemui Umi Ainun.

Sampai di sana tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, namun lambat laun Ustadz muda yang baru wisuda tahfidz Qur’an ini menyihirku lewat pendidikan Al-Qur’an yang luas, lewat suara adzan pertamanya yang merdu dan selalu aku nanti sampai detik ini.

Ustadz yang satu ini kembali menyihirku lewat sebuah cinta yang tulus ketika dia mengajar anak-anak kecil yang mesantren sama denganku saat ini, yang membedakan adalah aku mewakafkan diriku untuk mengabdi pada pesantren yang telah mengalirkan ilmu padaku, sampai suatu saat akan ada seorang yang memintaku untuk menemaninya berjihad di jalan Allah, yang tentu saja semuanya lewat persetujuan Kyai Anwar Pendiri Pondok Pesantren yang telah aku anggap ayahku sendiri karena kasih sayang yang tulus pada santrinya, dan aku merasa lebih istimewa lagi karena istri beliau Umi Ainun selalu membawaku ke maanapun beliau pergi, dan darinya aku mendapatkan perhatian lebih, hingga aku pun dengan senang hati menganggap beliau sebagai ibuku sendiri. Terlebih Ustadz Hamzah yang membuatku untuk pertama kalinya mempunyai sebuah perasaan yang dinamakan cinta adalah putra beliau yang ke 3.

Dibalik semua itu aku bercermin pantaskah aku seorang santri biasa yang mengabdikan hidupnya untuk pesantren mencintai seorang putra Kyaiku sendiri, yang bahkan keilmuan dan statusnya jauh lebih tinggi dariku. Perasaan itu selalu hadir ketika aku sedang menikmati suara adzannya dengan perasaan lain yang kupunya.
Sampai pada suatu ketika ada yakin dalam dilema terpanjangku ketika beberapa kali aku mendapati Ustadz Hamzah memperhatikanku ketika aku sedang mengajar atau bahkan pernah kudapati beliau tersenyum ke arahku yang sebelumnya belum pernah kutemukan.
Ada rona merah dari wajah putihnya ketika tanpa sadar aku membalas senyumnya yang mungkin sebenarnya beliau tidak bermaksud tersenyum secara langsung kepadaku.

Bahagia? Tentu, kau tahu sebahagia apa? Tak terkira. Namun apakah itu bisa membuatku yakin bahwa beliau juga sebenarnya mempunyai perasaan yang sama sepertiku? Pertanyaan itu menjadi titik cukup besar dalam seragam putih yang cukup mengganggu untuk dilihat.

Dan perasaan itu pada akhirnya hanya sebuah bahagia tanpa memikirkan alasan lain, sampai beliau dengan jelasnya menanyakan hal pribadi langsung kepadaku tanpa canggung.
“Ustadzah Nadia sudah punya calon untuk menikah?” tanyanya suatu waktu saat aku berjalan beriringan, aku berjalan dengan jarak beberapa langkah kaki di belakangnya, saat itu kami sama-sama akan pergi ke kelas untuk mengajar. Ucapan yang dilontarkannya membuatku benar-benar terpaku hingga aku berhenti berjalan untuk beberapa saat dan memandangnya dari belakang, namun aku hentikan keterpakuan itu dan mencoba berjalan tepat di belakangnya setelah kupercepat langkahku.
“Belum Ustadz, saya serahkan semuanya kepada Allah dan seseorang itu sudah atas restu dari Umi dan Kyai.” Jawabku jujur, bukannya aku tak percaya kepada kedua orangtuaku namun keterbatasan mereka tentang Islam membuatku lebih yakin jika Umi dan Kyai yang langsung menyetujuinya.
Dan seperti yang sudah-sudah Ustadz Hamzah tak banyak berkata apa-apa beliau hanya bernafas dalam dan mengangguk. Aku tak mengerti maksud dari caranya merespon jawabanku apakah sebuah kelegaan, tapi untuk apa, dirinya kah?

Siangnya di atas meja kerjaku kudapati sebuah bingkisan yang aku perkirakan itu adalah nasi.
“Maaf ini bingkisan siapa ya?” tanyaku kepada pengajar lain yang sama-sama sedang istirahat. Tak ada yang menjawab alasannya simpel seperti yang sering banyak orang alami biasanya karena mereka tidak merasa apa yang ditanyakan tidak ada sangkut paut dengan dirinya maka mereka memilih diam.

Penasaran membuatku lama menatap bingkisan yang kini kupegang, tapi sebenarnya yang membuatku mampu dengan lancang membukanya adalah rasa lapar. Jujur pagi tadi aku tak sempat sarapan, namun jika memang pemiliknya keberatan aku berjanji akan menggantinya.
kubuka bingkisan yang tertutup rapi oleh kertas nasi ternyata isinya nasi goreng dan yang membuatku heran setelah nasinya meneyebar tersembul secarik kertas yang terletak di tengah-tengah nasi.

“cinta itu memang hanya Allah yang tahu akan dilabuhkan pada siapa, namun semuanya pasti yang terbaik, dan dengan ini kuselipkan kesemogaan atasmu.”

Kulipat kembali kertas yang membuat jantungku bergemuruh dan memasukannya ke dalam saku, kulihat satu persatu pengajar yang ada di dalam kantor, rata-rata Ustadz yang mengajar sudah punya istri kecuali Ustadz Abdullah dan Ustadz Husen, ada dorongan hati yang berbisik tak mungkin mereka, jelas-jelas mereka diam ketika kutanya tadi. Atau malah salah satu dari mereka sengaja diam untuk tetap merahasiakan apa yang telah mereka perbuat?

Dan dugaan terkuat adalah ini dari Ustadz Abdullah beliau sempat terang-terangan menyatakan perasaannya kepadaku, namun aku bisa apa membalasnyakah? Itu jelas-jelas tidak mungkin hingga saat ini aku bahkan belum pernah menjawab perasaannya, senyuman kurasa lebih baik dari pada ucapan yang mungkin hanya bisa menyakitinya.

“Nad.” Suara Maryam mengagetkanku. Aku terperanjat dari lamunan yang membawaku pada ingatan yang salah.
“Maryam ngagetin aja.”
“Ngelamunin Ustadz Hamzah ya, ayo ngaku.” Maryam menggodaku, dia tahu perasaanku yang akhir-akhir ini muncul kepada Ustadz Hamzah karena sejak dulu Maryam adalah tempat mencurahkan seluruh isi hatiku, sekecil apapun tentang diriku dia tahu.
“Liat deh Yam, aku nemuin ini di dalam bingkisan nasi, aneh banget kan masa iya ada yang naruh kertas di tengah-tengah nasi.” Aku menyerahkan secarik kertas yang tadi kutemui.
“Ah dari Ustadz Hamzah kali.” Maryam mencoba menebak-nebak dengan nada yang masih menggoda.
Aku hanya mengangkat bahu, sejauh ini aku tidak membayangkan kalau orang yang sengaja menaruh bingkisan nasi beserta secarik kertas itu Ustadz Hamzah.
“Kayaknya iya deh Nad ini pasti Ustadz Hamzah, soalnya dia katanya mau dijodohin sama santri di Pesantren kita, nah santriwati yang siap buat nikah siapa lagi kalau bukan kamu, apalagi kamu kan anak emasnya Umi Ainun.” Maryam begitu antusias mengungkapkan kemungkinannya. Dia sepertinya menemukan titik cerah dari rasa penasaran akan seseorang yang akan dipersuntingkan untuk Ustadz Hamzah.
“Kamu tahu dari mana kalau Ustadz Hamzah mau dijodohin?”
“tadi aku denger sendiri waktu keluarga Kyai kumpul ngomongin perihal perjodohan.” Maryam memberi penekanan terhadap kata perjodohan.
“Sudahlah, ayo pulang.” Aku menarik tangan Maryam meninggalkan ruangan kantor kebetulan setelah istirahat jadwalku kosong.

Dan pagi itu bagaimana mungkin penuturan Maryam dan semua mimpi-mimpi akan perasaanku terasa begitu nyata.
“Ustadzah Nadia, bagaimana sudah dibaca?” ucapan yang langsung terngiang di telinga seperti ketenangan malam saat ibu menyanyikan Nina bobo, tak mampu kuungkapkan bagaimana perasaannya dan nyaris aku tak mempercayai pendengaranku sendiri.
“Ustadz.” Ucapku tak tertahan.
“Maafkan saya jika itu mengganggumu.” Ustadz Hamzah dengan sikap dinginnya kembali meninggalkanku dengan seribu kebahagiaan tak terhingga.
Maryam. Perempuan yang satu ini memang mampu membuatku mempercayai satu hal yang jelas aku sendiri tak mempercayainya, membuatku semakin percaya bahwa jodoh itu akan datang kepadaku dengan sekian kewajaran di dalamnya. Dan kini semua perasaanku menjadi wajar ketika rasaku diterimanya.

“Ustadzah Maryam sama Ustadzah Nadia dipanggil Umi.” Tiba-tiba salah satu santri baru menghampiriku yang tengah duduk berdua bersama Maryam.
“Oh iya makasih ya de.” Jawabku.
“Tuh kan apa aku bilang.” Maryam menyenggel lenganku.
Aku hanya menggeleng tanpa merespon dengan ucapan, tiba-tiba Maryam mengehentikan langkahnya ada raut muka kaget yang diperlihatkannya
“Umi sama Abi ke sini, ngapain ya?” tanya Maryam terheran ketika melihat mobil yang terparkir di depan halaman rumah Umi Ainun.
“Oh ya itu Umi kamu, aku bisa kenalan dong, selama ini kan orangtuamu nggak pernah datang buat jenguk kamu ke Pesantren.” Ada bahagia tersendiri ketika orangtua sahabatku kini bisa kujumpai.
“Nah itu dia ngapain coba, biasanya juga nggak pernah ke sini.” Maryam jelas terlihat aneh menggambarkan suatu bahagia yang biasanya orang lain rasakan.
“Nanti juga tahu sendiri, ayo ah.”

“Maryam, Nadia masuk nak.” Ucap Umi Ainun ketika melihat aku dan Maryam berdiri di depan pintu.
Setelah mengucap salam Maryam langsung menyalami tangan kedua orangtuanya, kini aku tahu dari penampilannya ternyata orangtua Maryam bisa dikatakan adalah seorang yang berpendidikan agama mungkin Ustadz atau bahkan seorang Kyai.
Aku duduk di tempat yang dipersilahkan Umi Ainun, ternyata ini memang acara yang penting dilihat dari seluruh anggota keluarga hadir pada saat itu.

“Jadi gini Maryam, Umi sama Abi datang ke sini untuk memberitahukanmu perihal pernikahanmu, yang Insya Allah akan segera kita langsungkan mengingat pesantren kita kekurangan pengajar yang terlatih apalagi masalah Al-Qur’an nah untuk mengatasi masalah itu Umi sudah bicara dengan Umi Ainun yang bersedia menikahkanmu dengan Ustadz Hamzah.” Petir menggelegar menyambar pendengaranku rasanya nyilu seperti ditusuk duri bertubi-tubi ketika nama yang menjadi kunci utama mimpi dan perasaanku disebutkan. Tapi kesepakatan itu menjadi jelas ketika aku kini tahu sebenarnya orangtua Maryam adalah pendiri sebuah pesantren juga. Haruskah bahagia yang baru saja aku bangun runtuh seketika itu juga.
“Umi.” Suara Maryam tercekat dia berusaha menggeleng bahkan sampai beberapa kali.
Ustadz Hamzah yang sejak tadi menundukan kepala kini mengangkatnya dengan kedua mata terbelalak tak percaya.
“Saya percaya Maryam dan Hamzah adalah pasangan yang cocok dan itu sudah melalui istikhoroh yang saya dan Umi Ainun lakukan, saya tidak mungkin menentang jawaban Allah oleh karena itu bagaimanapun kondisinya pada akhirnya saya harus Rido Hamzah diboyong ke pesantren Kyai Ahmad untuk mengabdi di sana, sebagaimana Maryam yang sudah mengikhlaskan dirinya untuk mengabdi di pesantren ini.” Kyai Anwar menjelaskan maksud dari pernikahan ini kepada keduanya. Dan saat itu pula ingin rasanya aku berteriak kepada salah satu dari mereka untuk menolak perjodohan ini, namun sampai beberapa lama dari yang hadir hanya terdiam, tak ada yang kuasa berbicara apa lagi membantah kepada orangtuanya masing-masing.

“Nadia kamu bisa kan menyiapkan anak-anak Lengser islami kita untuk upacara adat pernikahan nantinya?” tanya Umi Ainun yang menyadarkanku dari kekecewaan dan sakit yang masih tertahan.
Aku menganggukan kepalaku tak kuasa aku menjawab meskipun hanya sebatas ‘naam’.
“Maryam, calon pengantin tak boleh bertemu sampai waktunya tiba oleh karena itu selain untuk menyampaikan berita pernikahanmu Umi kemari untuk menjemputmu pulang.” Umi Maryam kembali menjelaskan.

Calon besan yang sedang berhadapan kini membicarakan setiap detail pernikahan yang akan mereka selenggarakan dalam waktu dekat ini, mereka kadang tersenyum setuju atau mengomentari satu sama lain dan semua itu membuatku ingin meledak.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk pamit apabila sudah tidak ada kepentingan, dan seperti yang sudah kuperkirakan aku yang hanya berperan sebagai semut kecil yang sedang merasa teraniyaya dan dengan senang hati dipersilahkan untuk pergi.

Dan di sinilah aku sekarang meratapi detik-detik paling menyakitkan dalam hidupku mengingat semuanya yang telah aku alami dalam kurun waktu yang cukup singkat, bahkan terasa begitu singkat seakan hanya jeda antara takbir dan iftitah.
Maryam masih memelukku tangisnya tak kunjung reda. Allah! Ini menyakitkan, aku tak kuasa lagi menahan sakit namun aku juga tak kuasa membiarkan sahabatku sendiri menanggung beban dan rasa bersalah yang mendalam terhadapku.

Kini aku mengusap lutut Maryam untuk menenangkannya, dia melepaskan pelukannya dan menatapku dalam hingga aku tak tahan dipandang dengan penuh permohonan.
Aku menundukan kepalaku dalam.

“Menikahlah aku janji aku akan memberikan penampilan yang paling istimewa untuk pernikahanmu nanti.”
“Maafkan aku.” Kalimat itu hanya kalimat itu yang dia ulang-ulang sejak tadi.
Aku mencoba meyakinkan hatiku sendiri, dengan apa yang akan kuucapkan
“Aku masih punya iman dan memegang rukun Iman di dalam hati dan seluruh sendi kehidupanku, kamu nggak perlu minta maaf ini adalah takdir Allah yang paling adil dan apapun itu sesakit apapun itu aku tetap harus mengimaninya. Percayalah aku Ikhlas” Sebenarnya aku tak percaya dengan ucapanku sendiri bahkan hati ini masih tak bisa kubohongi sebenarnya Ikhlas yang kuucapkan tak sepenuhnya sempurna disaat hati bahkan berteriak mencaci kenyataan.
Maryam kembali memelukku masih dengan tangis yang sama.
“Menikahlah, setidaknya aku tahu perempuan seperti apa yang akan menjadi istri dari seseorang yang aku cintai.”

Cerpen Karangan: Yuni Riyanti (@YR)
Facebook: Yuni Riyanti Al-Qibtiya

Cerpen Ikhlas Yang Ternodai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bersamamu Lagi Sahabatku (Part 1)

Oleh:
Deburan Ombak yang menabrak karang, membuat aku melamun, mengingat masa lalu ketika aku kelas 3 SD harus berpisah dengan Iqbaal. Sahabat Kecilku. “Tinaa, maafin Iqbaal yaaa, Iqbaal harus pindah

Yakin

Oleh:
“Kukuruyukk…” Terdengar suara ayam membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Aku bangun dari tempat tidurku dan mengambil hp yang berada di meja belajar. Aku melihat jam yang berada di dalam

Pencopet Ulung

Oleh:
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana

Mencintai Kehilangan

Oleh:
Pagi itu hujan sangat deras, aku memaksakan diri untuk pergi ke kampus karena hari ini ada jam kuliahku. Aku segera bergegas ke luar untuk mencari taksi. Setibanya di kampus,

Aku Bukan Layang Layang

Oleh:
“Maaf Dany, hubungan kita sepertinya sampai di sini saja!” “Kenapa Nisa? Bukannya beberapa hari lalu kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku, bahkan hingga kita menikah nanti?” “Maaf, aku minta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ikhlas Yang Ternodai”

  1. cahayabolang says:

    cerpennya menohok thor. jadi baper nih. rapi amat y tatanan cerpen author. salam semangat y thor.

  2. shilna nina says:

    bagus kak author,,,rada sedih ya akhirnya,,,saya sampai berkaca kaca loh,serasa masuk ke cerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *