I’m Sorry Junior

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Brak!
Suara pukulan meja mengejutkan siswa seisi kantin. Termasuk dua siswi baru yang duduk di depan meja itu.

“Ke… kenapa, Kak?” Tanya siswi itu ragu.
“Minggir! Kita mau makan!” Bentak siswi yang menggebrak meja tadi sambil berkacak pinggang.
“Tapi, kami lagi makan, Kak.”
“Apa peduli kami? Kami mau makan disini!”

Belum selesai mereka berargumen, tiga kakak kelas di depan mereka menarik tubuh mereka kasar. Sementara, semua siswa hanya bisa diam dan menonton. Dengan berat hati, mereka pergi dari tempat makan mereka. Belum sepuluh langkah mereka berjalan. Terdengar teriakan yang mengarah kepada mereka.

“Iya, kalian! Sini!” Perintah salah seorang dari kakak kelas tadi setelah mereka berdua berbalik.
“Kenapa, Kak?” Tanya mereka setelah sampai.
“Beliin kita makanan dan minuman, apa aja! Pake uang kalian!”
“Tapi…,”
“Kalian bener-bener!” Lanjutnya dengan tatapan sinis.
“Iya, Kak.” Ucap mereka pasrah.
Mereka pergi dengan berat hati meninggalkan tiga kakak kelas yang sedang mentertawai mereka.

Di lain tempat, Sarah berjalan gontai, ia sudah berkeliling sekolah mencari keberadaan dua temannya, Syifa dan Syafa. Syifa dan Syafa berjanji menunggu Sarah di depan perpustakaan. Namun, batang hidung mereka berdua tak nampak setelah Sarah menunggu mereka berdua selama lima belas menit disana.

“Kemana sih mereka?” Ucapnya sambil berjalan memasuki kantin yang ramai.

Kantin sebagai tempat pelepas kelelahan siswa setelah memakan segala materi mereka di kelas ini sangat ramai. Dari keramaian, Sarah melihat dua orang siswi yang tak asing dimatanya, yang satu tinggi kurus, yang satunya lagi sedikit pendek. Tak salah, itu pasti Syafa dan Syifa.

“Eh!” Ucap Sarah sambil merangkul kedua bahu sahabatnya.
“Aku nungguin kalian di perpustakaan dari tadi, kalian malah ke kantin.” Lanjutnya sambil cemberut.
“Maaf, Sarah. Kita udah kelaparan.” Jawab Syifa dengan nada penyesalan.
“Iya, udah lupain aja. Kalian ngapain?”
Syifa dan Syafa tak bergeming. Mereka tak mau Sarah ikut ke dalam permasalahan mereka.

“Kok diam? Kalian kenapa?”
“Syifa, Syafa? Jangan main rahasia-rahasia.” Ucap Sarah meyakinkan mereka.
“Kita dibully.” Ucap Syifa sambil menunduk, tak berani menatap sahabatnya itu.
“Apa?!”

Bullying. Kata itu menetap dipikirannya sekarang, ia mengira kejadian itu hanya terjadi di televisi saja. Ternyata, di sekolahnya juga ada mimpi buruk itu.

“Tapi, tadi kita hadapin kok, Sar.”

Sarah menghembuskan napas lega, sementara Syifa dan Syafa menatap satu sama lain, dari sorot mata mereka berdua, Sarah tahu, mereka berbohong.

“Terus, kalo kalian bisa hadapin, kenapa kalian kesini? Bukannya kalian udah makan? Ini semua buat siapa?” Tanya Sarah bertubi-tubi.
“Hm…,”
“Aku sahabat kalian, kita harus hadapin sama-sama.” Ucap Sarah sambil memegang pundak kedua sahabatnya itu, mengulas senyum manis dan meyakinkan mereka.
“Tadi kita lagi makan, terus kita diusir dan kita disuruh kakak itu beli makanan pake duit kita, Sar.” Ucap Syafa ragu sambil menunjuk tiga siswi yang duduk di bangku depan.

Akhirnya Syafa mengucapkannya juga, rasanya sulit sekali memberitahukan kepada Sarah. Karena, Syafa dan Syifa tahu, Sarah tidak suka perbuatan seperti itu, apalagi merugikan orang lain, dan Sarah tidak segan untuk melawan ketidak adilan itu. Siapapun itu.

“Neng, ini minumannya lagi.” Ucap perempuan renta sambil menyodorkan segelas jus mangga untuk ketiga kalinya ke Syafa dan Syifa.

Setelah mengucapkan terimakasih, Sarah segera mengambil segelas jus tersebut.

“Sar, aku mohon jangan.” Syifa yang tahu gerak-gerik Sarah, menarik lengan Sarah kuat.
“Syafa, Syifa. Kalo kalian masih mau sahabatan sama aku, biar aku bantu kalian.”

Syafa dan Syifa terdiam. Mereka tak tahu harus menjawab apa lagi, mereka benar-benar tak mau kehilangan sosok sahabat seperti Sarah. Dengan pasrah, Syifa melepas tangan Sarah dan mengekori Sarah dari belakang.

“Aku masih nggak habis pikir sama kelakuan mereka.” Ucap Sarah memecah keheningan antara mereka. Mereka sekarang, tengah berjalan santai untuk kembali ke kelas setelah mengisi perut mereka di kantin.
“Kamu juga kenapa kemaren pake acara ngelabrak mereka?”
“Ya, aku gak terima lah!”
“Tapi, nggak gitu caranya, Sar. Jangan pake emosi.”
Sarah mempercepat langkahnya setelah Syafa dan Syifa menambah kekesalannya.

“Sar, ada lomba nyanyi!”
“Nggak peduli.” Jawab Sarah sambil terus berjalan, sampai Syafa menarik lengan Sarah ke depan madding.
“Nih! Kamu ikutan, gih! Suara kamu kan bagus, Sar.”
“Oke, pertama, aku nggak percaya diri, kedua suara aku jelek, keti…,”
“Sadar suara kamu jelek?” Ucap Asyila yang baru datang bersamaan dengan kedua temannya.
“Kak, kita udah nggak ada urusan lagi sama kakak.” Balas Sarah sabar.
“Siapa bilang? Kita nggak mungkin ngelupain sikap kamu begitu aja!”
“Begitu juga dengan mereka yang kakak bully!”
“Kak, udah. Ma.. mau kakak apa sih?” Tanya Syifa ragu.
“Gini aja, kita buktikan lewat lomba ini, asal kalian tahu, aku udah nyanyi kemana-mana, kalo kalian kalah, kalian harus nurut sama kita, kalo kalian menang…,”
“Itu nggak akan terjadi, Kak!” Potong Sarah sambil menatap sengit Keyla.
“Kalo kalian menang, terserah kalian mau apa.” Lanjut Keyla sambil menaikkan alisnya sebelah, tanda meremehkan.
Sarah, Syafa dan Syifa diam. Mereka tak tahu harus menjawab apa.

“Kok diam? Berarti kalian memang pantas kita bully.”
“Deal!”
Syafa dan Syifa menatap Sarah kaget, mereka tak menyangka, begitu mudahnya Sarah menerima tantangan kakak kelasnya itu. Mereka pasti bermain licik nantinya.

“Nggak apa-apa.” Ucap Sarah sambil mengulas senyum ke Syafa dan Syifa.
“Iya, nggak apa-apa kalian jadi babu kita nanti. Kita senang kok.” Sindir Pricila, sedetik kemudian mereka bertiga tertawa meremehkan.
“Kita nggak takut sama sekali! Kalau aku sungguh-sungguh sementara kakak meremehkan, Tuhan tahu!”
“Fine, liat aja besok! Cabut, guys!”

Setelah tiga siswi itu pergi dari hadapan mereka. Sarah menatap Syafa dan Syifa dengan cemas. Ia meneguk liurnya resah.
“Gimana nih?”

Bolamata Syifa dan Syafa terus bergerak bergantian ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak perempuan bertubuh mungil yang sedari tadi mondar-mandir di depan mereka.

“Sampe kapan kamu mondar-mandir nggak jelas? Lebih baik kamu latihan aja.”
“Latihan apa coba? Lombanya itu besok, Syafa.”
“Yah, daripada kamu gak latihan sama sekali.”

Sarah memberhentikan langkahnya, omongan Syafa ada benarnya juga. Sarah menarik napas dan mulai bernyanyi. Buaian angin sore di taman yang sunyi ditambah mendengar suara merdu Sarah membuat siapa saja merasa tenang.

“Eh, adik kakak lagi latihan? Semangat buat kalah besok.”

Sarah memberhentikan nyanyiannya, ia menoleh dan mendapati tiga remaja yang masih memakai seragam sekolah itu membawa beberapa kantong belanjaan.

“Kita nggak butuh perhatian recehan dari Kakak!” Ucap Sarah Ketus.
“Baiklah, adik manis. Selamat menikmati pertunjukan besok!”

Dada sarah naik turun melihat tingkah kakak kelasnya itu. Ia bertekad untuk mengalahkan mereka. Para pecundang.

Keesokan harinya, cuaca sangat bersahabat, beberapa suporter sudah siap dengan yel-yel menarik, Sarah dengan latihan kerasnya benar-benar siap. Sementara Asyilla dengan kepercayaan diri yang tinggi tidak mempersiapkan apapun untuk lomba, ia terlalu meremehkan lawannya, terutama Sarah.

Setelah semua persiapan acara selesai, acara langsung dimulai. Pembawa acara dengan kemeja putih dilapisi blazer merah muda manis naik ke atas panggung. Penonton yang tadi sedikit gaduh mulai diam.

“Dengan dibukanya acara ini, langsung saja kita ke peserta pertama, ada Sarah Syabillah dari kelas sepuluh bahasa, berikan tepuk tangan yang meriah.”

Musik mulai mengalun pelan, Sarah datang dari balik panggung dengan gaun panjang putihnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, menambah kesan anggun didirinya. Lampu panggung perlahan redup dan digantikan dengan lampu kecil tepat di atas Sarah. Suasana sangat hening, Sarah menarik napas panjang dan mulai melantunkan nada dengan merdu.

“Tak bisa kau salahkan…,” Sarah menghela napas lega setelah mengucapkan lirik terakhir lagu ‘Cinta dan Rahasia’ milik Yura.

Tepuk tangan terdengar seantero aula sekolah. Beberapa siswa yang menonton melakukan standing applause untuk Sarah. Di balik panggung, Asyila cemas setelah mendengar Sarah yang tampil sempurna. Menurutnya.

“Berikan tepuk tangan sekali lagi untuk Sarah, what a nice performance! Good job Sarah!, Langsung saja kita kepeserta kedua, ada Asyila Saviera dari kelas dua belas IPA satu!”

Semua mata tertuju kepada Asyila. Dengan gugup serta cemas, Asyila datang dengan gaun biru selututnya, wajahnya yang memang sudah cantik dipoles dengan make up tebal, serta rambut hitam bagusnya dicat menjadi coklat kemerahan. Terlalu berlebihan.

Musik mulai mengalun, Asyila memilih lagu ‘When I Was You Man’ milik Bruno Mars itu perlu penghayatan lebih, jika tidak fokus satu detik saja, lagu itu menjadi tak enak didengar. Seperti sekarang, Asyila menghancurkan rasa dari lagu tersebut.

Penonton mulai gaduh setelah mendengar suara Asyila yang tidak sampai saat menyanyi dengan nada tinggi. Tawaan terdengar, bulir-bulir airmata menghiasi mata cokelat Asyila. Penonton mulai berteriak minta turun dan melempari Asyila dengan plastik air mineral bekas, Asyila menangis, baru saja ia ingin berbalik untuk pergi, sebuah botol plastik berisi batu melayang di udara.

“Asyila!” Teriak Keyla dan Pricila.

Tinggal beberapa senti lagi botol itu mengenai Asyila, sebuah tangan menarik tangannya lembut untuk menjauh.

“Sa.. sarah?”
“Kakak, nggak papa?” Tanya Sarah cemas.
“Ngapain kamu?” Tanya Keyla yang baru datang.
“Key, dia yang nolongin aku. Kalo nggak kepala aku udah bocor tadi.”

Keyla terdiam. Lidahnya kaku, ingin sekali ia mengatakan terimakasih, tapi, entah kenapa, kata itu tersangkut dan tak bisa keluar dari mulutnya.

Sarah yang benar-benar tak terima atas perlakuan siswa sekolahnya yang memperlakukan Asyila seperti itu. Ia langsung naik ke atas panggung.

“Apa itu tadi? Kekerasan, penghinaan, dosa! Agama kalian nggak ngajarin kayak gitu! Maaf bukannya menggurui, tapi ini patut disampaikan!”

Sarah pergi dari atas panggung, meninggalkan semua siswa yang entah menganggapnya apa. Ia tak peduli.

Lomba masih terus berlanjut. Semua penonton telah diberi arahan dan acara kembali berjalan lancar. Semua panitia perlombaan berterimakasih dengan sikap Sarah.

Sampailah dipenghujung acara, Sarah, Syafa dan Syifa saling berpegangan tangan gugup menunggu hasil keputusan, begitu juga Asyila. Suara langkah kaki pembawa acara yang membawa hasil pemenang bagai mimpi buruk yang sangat menegangkan bagi mereka.

“Saya sudah memegang amplop yang berisi nama pemenang, langsung saja, juara tahun ini jatuh kepada… Sarah dari sepuluh bahasa!”

Sarah membelalakkan matanya, tak menyangka namanya disebut. Dengan gugup ia naik keatas panggung, menerima piala dan mengangkat piala itu tinggi-tinggi. Usahanya selama ini, hinaan kakak kelasnya, tak peduli apapun itu. Ia membuktikan. Ia bisa jadi yang terbaik dari yang terbaik.

Syafa dan Syifa naik ke atas panggung dan memeluk Sarah erat. Penonton masih belum beranjak dan menyaksikan kemenangan Sarah.

“Ini gak berarti tanpa kalian.” Sarah mengeratkan pelukannya kesahabatnya itu.
“Ehem!”

Suara deheman mengangetkan mereka, Sarah melepas pelukannya dan mendapati Asyila, Keyla, dan Pricila yang menatap Sarah dengan rasa bersalah.

“Kita minta maaf!” Ucap mereka serentak sambil menunduk malu.
“Kita udah maafin kakak jauh sebelum ini.” Ucap Sarah sambil mengulas senyum.
“Maaf atas semua yang kami lakukan ke kalian.”
“Kak, Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, yang terpenting bagaimana cara kakak menyikapi kesalahan yang kakak perbuat.”
“Thanks a lot for every thing” Bisik Keyla sambil memeluk sahabat barunya.

Mereka tersenyum haru dan mengeratkan pelukan mereka.

Persahabatan adalah sebuah hubungan dimana seseorang dan orang lain itu saling melengkapi satu sama lain, permasalahan selalu ada, namun bagaimana caranya kita bangkit dari permasalahan.

Kita masih remaja, dimasa itu kita mudah terluka, dan mengalami masa sulit, meski begitu seiring berjalannya waktu, saat itu, bisa dikatakan masa-masa paling membahagiakan, ketika seseorang mengulurkan tangan hangatnya saat kau terjatuh. Tak lebih, tak kurang, hanya satu orang saja. Dekati temanmu yang sedang sulit, dan katakan ini kepadanya “Aku, kau dan kita tak peduli rintangan apapun yang menghadang akan kita hadapi”.

Cerpen Karangan: Irfa Fee
Facebook: Irfa Luthfia Rahmani
Irfa fee, nama pena dari Irfa luthfia rahmani, lahir di Bengkulu, 8 September 2000. Anak sulung dari dua bersaudara yang masih menduduki bangku Madrasah, tepatnya di MAN 1 Model Kota Bengkulu ini, mempunyai hobi membaca dan menulis.
Ia sekarang tengah sibuk menulis di berbagai media, seperti di aplikasi wattpad. Anak sulung dari pasangan Irman Karim dan Siti Farikah ini pernah menjuarai lomba seni baca Al-qur’an. Namun, selain aktifitasnya dibidang seni baca Al-qur’an, kecintaannya terhadap dunia sastra sangat besar. Sekarang ia tengah menyelesaikan tiga novel dan beberapa cerpen. Irfa bisa dihubungi di facebook ” Irfa Luthfia Rahmani “, bisa juga melihat karyanya di aplikasi wattpad dengan username Irfafee.

Cerpen I’m Sorry Junior merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Worst Class

Oleh:
Terkadang kau pasti pernah merasakan rasa banggan dan sedih secara bersamaan. Kapan? Hari itu di saat kau dinyatakan sebagai alumni, sebagai wisudawan. Sudah pasti kau bangga, siapa yang tidak

My Sweet Moment

Oleh:
Sudah 15 menit aku menunggunya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14:26, berbagai macam pikiran pun mulai menghantuiku, akhirnya ku putuskan untuk mengirim sms padanya. “kak, masih lama?” “tggu di situ

Sebesar Biji Zarah

Oleh:
Waktu menunjukkan bahwa senja segera tiba. Di ruangan sederhana, terlihat jelas barang-barang berserakan, sudah, sangat tidak beraturan. Menggambarkan sang pemilik ruangan, persis. Belum terlalu gelap saat itu, biasan cahaya

Kamu Sangat Setia

Oleh:
“Hai Siska, lagi apa?” Lala menyapa Siska, sahabatnya ketika di kelas. Tapi Siska hanya tersenyum sejenak dan malah meninggalkan Lala menuju mejanya Bella lalu mereka berdua mengobrol. “Aneh” gumam

Sahabat

Oleh:
Jake dan Andrea adalah dua tentara yang tergabung dalam pasukan khusus. Kala itu, mereka sedang tersesat di sebuah tempat yang sama sekali tak dikenalinya saat melakukan sebuah tugas. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “I’m Sorry Junior”

  1. Siti Anisa Anggraini says:

    Bagus banget cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *