Indah Tinumbia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 March 2019

“Kamu pernah makan ini, Ndah?” Tanya Sasa saat ia mampir di rumah Indah Tinumbia, gadis manis yang duduk di atas kursi roda.
Gadis yang dipanggil Ndah itu berbalik dan tersenyum kepada Sasa. Lalu ia melirik ke tangan Sasa, sepertinya gadis itu membawakannya makanan.
“Aa..paa.. itt…tu..?” Balas Indah tidak lancar. Dirinya kesusahan untuk berbicara, meski ia ingin.
Sasa membuka toples itu lalu mengeluarkan sepotong kue berwarna-warni yang bertingkat. Ia memotong kue itu menggunakan garpu dan memberikannya kepada Indah.
“Cobain Ndah, kamu pasti suka.” Sasa menyuapkan potongan kue itu ke mulut Indah yang langsung diterima oleh gadis berhijab itu.

Sasa menatap Indah yang sedang mengunyah kue itu. Dalam hati ia terus berpikir keras bagaimana ia harus berkata kepada sahabatnya itu bahwa ia harus pindah ke Jakarta untuk waktu yang sangat panjang. Ia berencana untuk melanjutkan kuliah di Jakarta karena mendapat beasiswa di kampus negeri incarannya.

“Ndah..” Sasa mulai membuka suara. “Kamu.. kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal?”
Indah menatap Sasa bingung. Bibirnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu namun tak ada suara yang keluar.
“Aku dapat beasiswa untuk kuliah di Jakarta, kamu tahu kan kalau aku pengen banget kuliah disitu?”
Tatapan Indah masih saja menyiratkan sesuatu yang tidak dapat ditebak, dan Sasa makin kesusahan untuk menjelaskannya kepada Indah.
“Aku mungkin akan meninggalkan kota ini dengan waktu yang sangat lama. Aku berharap persahabatan kita nggak berhenti sampai disini. Kamu mau kan nungguin aku?”

Gadis yang memiliki mata cantik itu masih saja terdiam. Sasa tidak tahu apa yang ada di pikirannya, yang jelas saat ini Sasa sangat tersiksa. Kemudian gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Indah sendiri. Perpisahan yang tragis? Tidak. Tapi yang pasti, baik Indah maupun Sasa sangatlah tersiksa. Sasa hanya bisa berharap kalau Indah tidak marah kepadanya. Karena jujur, ia memang sangat marah kepada dirinya sendiri.

6 tahun kemudian
Di dalam Mall yang amat sangat ramai itu, Sasa Nusajaya tampak melangkah menuju salah satu store untuk membeli tas yang sudah ia incar dari bulan lalu. Dirinya memang menyukai hal-hal berbau fashion dan hasrat untuk berbelanja itu sangatlah tinggi. 6 tahun hidup di Jakarta sangat merubah dirinya menjadi wanita metropolitan, apa lagi ketika tahun lalu dirinya resmi naik pangkat menjadi manager di perusahaan tempatnya berkerja dalam waktu yang cukup singkat.

Tapi ketika melewati sebuah toko buku, matanya menangkap sesuatu yang familier. Sebuah nama yang tertulis jelas di atas spanduk berwarna merah. Matanya menyipit, memastikan kalau ia tak salah baca.
“Indah?”
Kaki Sasa langsung melangkah cepat masuk ke dalam toko buku itu dan ia tak menemukan apa yang ia cari saat ini. Seorang pelayan dari toko buku itu lewat dan langsung dicegat oleh Sasa.
“Mba, ini acara apa ya?”
“Oh ini acara bincang buku bareng salah satu penulis best seller, Kak. Tapi acaranya sudah lewat, kemarin malam. Hanya saja spanduk yang di depan belum dicopot.”
“Saya permisi, Kak.” Ujar gadis itu lagi ketika mendapati Sasa masih memasang ekspresi bengong, tak merespon apa-apa.

“Mbak, boleh saya membeli buku dari penulis best seller itu?” tanya Sasa tiba-tiba yang membuat gadis kecil itu terkejut.
“Sudah habis bukunya, Kak. Kalau kakak mau, bisa saya bantu untuk pesan melalui Pre-Order.”
Dan Sasa masih saja terdiam. Dirinya tak menyangka kalau sahabatnya itu telah mencapai cita-citanya menjadi penulis.
Dirinya masih saja berpikir, masihkah ia pantas disebut sahabat ketika Indah bersusah payah untuk mencapai cita-citanya dan ia tak pernah ada di sampingnya untuk selalu mendukungnya? Bukankah Sasa dulu pernah berjanji akan terus berada di sekitar Indah dan yang akan pertama kali membaca bukunya ketika Indah berhasil menjadi penulis? Bahkan sekarang rasanya mustahil. Ia malah menjadi pembaca ke sekian dan sekarang ini harus melalui proses Pre-Order demi mendapatkan bukunya. Segitu parahnya kah dia?

Sebuah rasa penyesalan menghampirinya. Ketika 6 tahun lalu, ia pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia sengaja menghindari Indah walau ia tahu gadis itu terus mencarinya. Ia tak sanggup melihat muka sedih sahabatnya. Biarlah waktu yang akan menghiburnya. Sasa berjanji akan kembali 4 tahun lagi ke samping Indah lalu membantu sahabatnya itu melewati masa-masa sulit. Tapi janji tinggal janji, Sasa telah terbuai dengan kehidupan kota Jakarta yang sangat mewah sehingga kepulangannya ke kota kelahirannya pun menjadi prioritas terakhirnya.

Fakta menyadarkannya. Ia bukan sahabat yang baik untuk Indah. Ibarat kacang lupa kulitnya, Sasa memang sangat pantas menerima perlakuan yang mungkin tidak baik dari Indah. Mungkin Indah akan lupa padanya?

“Dengan Mba Sasa?” Sasa memalingkan wajahnya dan mendapati seorang pria berusia pertengahan tiga puluh sedang tersenyum kepadanya. Dengan kaku ia membalas senyumannya.
“Ya?” Sasa menatap pria itu lekat.
“Saya Andi, manager toko buku ini, saya mau kasih paket ini.” Andi menyerahkan sebuah kantong hitam berukuran sedang yang ditebak pasti isinya berat.
“Ini dari siapa, Pak?”
“Maaf, saya tidak berhak untuk memberi tahu. Mba Sasa buka saja isinya. Saya permisi, Mba.”

Lalu dengan rasa penasaran yang tinggi, tangan Sasa masuk ke dalam kantong itu dan menemukan sebuah buku tebal bersampul putih. Dirinya membaca judul dari buku itu dan halaman demi halaman ia balik. Lalu tangannya berhenti di halaman kata pengantar.

Untuk sahabatku di Jakarta, Sasa Nusajaya.
Dear Sasa, kalau kamu membaca buku ini, kamu pasti bingung kenapa ada namamu. Aku bukan siapa-siapa ketika kamu masih bersamaku. Aku hanya merepotkanmu, mempermalukanmu sehingga kamu berpikir untuk pergi saja dariku. Tapi pikiran itu kubuang jauh-jauh karena aku sangat mengenalmu. Suka dan duka kita lalui bersama tapi ada satu yang ingin kukatakan kepadamu, kalau kamulah tokoh utama dari buku ini. Perpisahan terakhir kita menjadi inspirasi utamaku untuk menyelesaikan ini semua. Ketika kamu memberikanku kue pelangi berwarna warni yang dilapisi oleh cream putih pada pertemuan terkahir kita, aku sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupmu. Aku menunggumu, Sa. Maukah kamu memaafkanku dan bertemu kembali denganku?

Air mata Sasa menetes. Ia membaca ulang judul yang terpampang jelas di sampul buku tersebut.

RAINBOW CAKE FROM SASA

Tanpa Sasa sadari, seorang gadis berhijab pink duduk di atas kursi roda, sedang mengintip dari balik rak buku. Syukur saja rak buku itu besar sehingga kemungkinan Sasa melihat dirinya sungguh kecil. Setelah memastikan Sasa menerima buku itu, gadis cantik itu pun pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.

Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Sa.

Cerpen Karangan: Avril Wong
Wattpad: avrilwong, Storial: avrilwong
A 98’s Kid who has written 4 novels, rejected 12 times by publisher and now trying to be an online writer with a wish that my works can be loved by readers.

Anything ’bout me?
Oh yes, I ‘m.

-Love to make new stories in my brain but doesn’t have the mood to write it.
-I am not author of a book, but I am the author of my life.
-Start writing when Junior High School, I guess.
-Try to do something normal, but in the end, I prefer doing something stupid.
-They call me ‘gila’ (?)
-Hate DURIAN of course. Please don’t judge me, ok? Anyone same?
-Jakarta’s
-I do believe in love but until today I still can’t find the real meaning of true love.

Email: av.wong03[-at-]gmail.com
Wattpad: avrilwong

My Short Story List:
1. Oreo, Novel, dan Cokelat (Media Kawasan, September 2018)
2. Kau Sudah Sukses, Nak! (Cerpenmu.com, Juni 2017)

Cerpen Indah Tinumbia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlatih Patah Hati

Oleh:
Pada Sabtu malam, Febian, seorang pemuda berusia 18 tahun itu sedang merenung, melihat ke langit di malam yang tenang dan indah, di benua yang sudah tidak lagi sama dengan

Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
Suatu hari di sebuah kelas dalam satu sekolah terdapat sepasang sahabat yang bernama Desi dan Wawan. Mereka selalu bersama dan terus bersama sepanjang waktu. Rumah mereka memang berbeda komplek.

Dua Sahabat

Oleh:
Jam 12 siang,Andi dan Tri ingin pergi ke rumah temannya yaitu si Putra,diBogor mereka berdua adalah sahabat sejati ,mereka kemana-mana berdua ,ketika mereka ingin ke rumah temannya Tri berangkat

Usia 17 dan Pacar Baru

Oleh:
Hidup terasa indah dan menyenangkan bagi Lydia saat ini. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa di pagi itu umurnya telah bertambah satu. Lydia tersenyum lalu ia bangkit

Puisi Terakhir

Oleh:
Aku kalah dalam sebuah pertaruhan. Pertaruhan konyol yang sudah diketahui pemenangnya. Gio. Bodohnya, aku tetap mengikuti keinginannya untuk bertaruh. Dan sebagai akibatnya, sekarang aku harus menuangkan isi pikiranku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *