Ingatan Yang Pertama (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Kata orang, masa kuliah itu adalah masa yang paling menentukan hidupmu. Masa depanmu, pekerjaanmu, gaya hidupmu kelak, bahkan… pasangan hidupmu. Diterima si salah satu universitas favorit di kotaku menjadi suatu cerita sendiri bagiku. Suatu cerita hidup yang sederhana, tidak terlalu sedih, tidak terlalu bahagia, orang yang membacanya mungkin bosan. Apalagi inti ceritanya adalah seorang wanita yang dicintai di masa kuliah, dan alasan kenapa mencintainya pun terlalu sederhana. Tetapi, memang kan cinta tak butuh alasan?

“Reza, mau pakai mobil yang mana? Kamu pakai yang merah saja, kuncinya papi titip ke Dion ya. Papi mau pake yang hitam, lebih gede soalnya. Papi ada janji angkut barang proyek.” Papiku teriak dari luar kamar mandi, membuat kaget saja.
“Iya, pi”, aku juga teriak, semoga saja kedengaran.

Pagi ini akan terasa berbeda. Mahasiswa. Entah apa yang akan dijanjikan oleh hari ini. Perencanaanku di masa kuliah ini sudah matang. Kuliah, mengajar privat, belajar, kuliah, mengajar privat, belajar, begitu seterusnya. Oh, akan menjadi masa kuliah yang membosankan. Tapi apa daya, papiku termasuk orang yang disiplin. Masuk kuliah di teknik sipil ini juga adalah motivasi papiku. Semoga saja akan ada yang menarik nantinya.
Aku bergegas ke meja makan. Disana sudah ada adik laki-lakiku, Dion. Sarapan kali ini adalah makanan kesukaanku, tumis bayam dan ikan lele goreng sambel.
“Akhirnya.. Lele…”, aku segera duduk dan mengambil makanan.
“Mami sengaja buatin makanan kesukaan loe mungkin karena hari pertama loe kuliah.” kata adikku dengan mulutnya yang berisi makanan.
“Oh, gitu.” kataku dengan mata tertuju pada makanan di atas meja.
“Kagak mau bilang makasih?” aku terdiam mendengar adikku mengatakan itu. Kehidupan keluargaku yang dingin ini sudah biasa aku alami. Papi kerja, mami kerja, adik sekolah dan terobsesi ikut lomba olimpiade sains dimana-mana, aku pun demikian. Sibuk. Dingin. Bahkan untuk mengatakan “makasih” sama mamiku sendiri saja sungkan.
“Iya, nanti gue bbm. Anyway, kan emang belum tentu mami yang masakin, bisa aja mbak Ina. Atau mungkin emang mami yang masakin tapi bukan karena hari pertama gue masuk kuliah.” itu adalah jawaban diplomatis yang artinya aku mungkin tidak akan bilang makasih sama mamiku.

Hari pertama kuliah ini belum langsung menerima materi kuliah. Ada masa orientasi oleh jurusan untuk mengenal kampus untuk memudahkan adaptasi mahasiswa dari masa SMA ke masa perkuliahan. Karena itu, seluruh mahasiwa seangkatan berkumpul di aula jurusan. Berita buruknya, aku belum kenal siapa-siapa…
“Eh, Reza ya?”, kaget juga ada yang menyebut namaku di tempat asing ini. Seorang cowok tinggi dan stylish, sepertinya familiar, menjabat tanganku sambil tersenyum yang ramah.
“Iya, gue Reza. Kok bisa kenal gue?”, dia tertawa seolah sudah mengenal aku lama.
“Loe dari St. Vincentius kan? Loe itu pernah main band di festival sekolah gue. Gue panitia waktu itu, bagian yang ngurus-ngurus band yang tampil. Loe daftarin band loe langsung ke gue.” Ingatan SMAku terlintas, masa-masa mendapat juara 1 lomba festival band saat itu dan aku sejenak langsung mengingat anak ini.
“Andy? Oh, gue inget sekarang. Gila, bisa aja kita ketemu di tempat kuliah yang sama kayak gini. Hahaha… Gue belum punya kenalan sama sekali di tempat ini, untung loe dateng”, kataku sambil melihat sekeliling. Semua anak sedang sibuk berkenalan sana-sini.
“Fortunately, bro. Yuk, duduk di dekat gue. Gue kenalin sama anak-anak yang pasti cocok sama loe.” Dia langsung menarik tanganku menuju suatu meja di sudut. Disana ada 5, hmm 7 cowok jika ditambah aku dan Andy. Mereka semua sangat stylish dan berbadan pemain basket. Beberapa mempunyai rambut yang diberi gel. Wah, calon teman-teman kuliahku 4 tahun mendatang sangat… gaul…
“Bro kenalin ini Reza, anak St. Vincentius.” Andy kenalin aku langsung ke mereka. Mudah-mudahan awal pertemanan ini baik.
“Ricky.” badannya lebih berisi dibanding yang lain dan sedang memegang HP dengan layar games Clash Royale.
“Gary.” wajahnya lebih putih dibanding lainnya, berbadan tegap, dan sedari tadi aku lihat selalu tersenyum. Anak yang ceria.
“Joseph.” dari logatnya mudah ditebak kalau dia dari daerah Surabaya atau Semarang.
“Surya.” badannya kurus dan tinggi, serta ada lesung pipitnya.
“Rian.” berkacamata dan berbehel, agak malu-malu, mungkin dia tipe pendiam.

Ya, hari pertama kuliah ini sudah sukses memberikanku teman-teman yang baru. Seperti kata Andy, mereka cocok denganku. Mereka mengejar ilmu, mereka juga suka main games. Bahkan kami juga sama-sama badboy, yang terobsesi cewek cantik.
Sepulang dari kuliah kita makan bersama di cafe tengah kota. Mereka semua menjanjikan suatu kenyamanan bagiku untuk menempuh pendidikan di kampus ini. Masih tidak paham saja rasanya bagaimana Andy semudah itu mempertemukan kami, bakat dari dalam mungkin.
Bukan itu saja semangatku menjalani masa kuliah ini, suatu pertemuan yang berkesan dengan seorang gadis…

Hari ini kuliah Mekanika Teknik, dan karena termasuk mata kuliah penting, kebanyakan mahasiswa datang lebih awal, termasuk aku. Entahlah karena memang semua mahasiswa baru ini masih semangat-semangatnya, atau memang semua mahluk ini haus akan ilmu.

Lima belas menit Pak Sugi menerangkan materi, muncullah seorang mahasiswi di dekat pintu dan buru-buru mengambil tempat di ujung kelas yang kebetulan kosong. Semua mahasiswa tidak ada yang peduli, mata mereka tetap tertuju ke layar proyektor.

Mahasiswi itu, gadis itu, begitu sederhana. Rambutnya sebahu, pakaiannya kemeja coklat dan celananya jeans hitam. Dia melihat handphone sebentar, mengetik, lalu menutupnya lagi. Kemudian mengarahkan fokusnya pada materi kuliah.
Seumur hidup, belum pernah aku penasaran pada seorang perempuan seperti ini. Kebanyakan hanya mengagumi kecantikan seorang perempuan, berkenalan, kemudian tidak peduli. Tetapi ini berbeda, tidak tahu mengapa. Hanya, aku melihat gadis yang satu ini begitu berbeda.

“Baik, saya rasa cukup sampai disini dulu. Untuk powerpointnya boleh dicopy disini. Oh, ya. Ada baiknya kalian mempunyai modul sendiri, tolong koordinator kelas nanti ke lab struktur meminta modul Mekanika Teknik 1 untuk difotocopy ke yang berminat. Terimakasih. Selamat pagi.” Pak Sugi menutup kuliah pagi ini. Sebentar dia memberikan powerpoint materi ke koordinator kelas, kemudian pergi meninggalkan kelas.
Sebentar saja aku mengalihkan pandanganku dari gadis tadi, dia lenyap begitu saja. Tanpa mengobrol sebentar dengan anak di sebelahnya, atau apalah. Aku bahkan belum tahu namanya. Apa yang membuat dia begitu cepat pergi?

Semester ini berlalu begitu saja. Ada tiga mata kuliah yang kebetulan sama dengan gadis itu. Oh ya, namanya Ribka. Melalui beberapa dosen yang suka mengabsen dengan memanggil nama, akhirnya aku tahu namanya Ribka. Hari-hari hanya melihat dia dari jauh. Dan, seperti biasa ciri khasnya adalah kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Tidak adakah yang membuat dia tertarik dengan kampus ini?
Walaupun demikian, aku bersyukur semester ini kulalui bersama sahabat-sahabatku. Seringnya kami berkumpul membuat aku lebih mengenal mereka. Gary yang ternyata walaupun masih berstatus pacaran dengan teman SMAnya, dia juga sedang mendekati seorang cewek cheerleader. Joseph bercerita tentang papanya yang seorang pejabat tetapi beberapa tahun yang lalu mengugat cerai mamanya. Surya berpacaran dengan cewek yang tidak direstui orangtuanya karena papanya berniat menjodohkan dia dengan anak rekan kerja papanya. Ricky, katanya hidupnya tak lain dan tak bukan hanya untuk belajar dan games semata. Rian, sejak kecil hidup dengan kakaknya yang sudah bekerja sebagai insinyur mesin. Sewaktu kecil orangtuanya meninggal karena kecelakaan, lalu merekapun hidup dari warisan orangtua mereka. Bahkan, Andy yang terlihat ceria, ternyata hidupnya juga tidak mulus. Orangtuanya selalu bertengkar tetapi tidak kunjung berpisah. Hal ini membuat Andy tidak betah di rumah dan mencari kesibukan di luar.

Tetapi satu hal, sekalipun mereka sudah terbuka satu sama lain, aku masih saja belum bercerita tentang Ribka. Ribka, cewek sederhana itu? Tidak ada hal yang menarik? Musik, tari, prestasi, terkenal saja tidak. Ya, aku sudah bisa bayangkan jawaban mereka. Lebih baik aku diam dan menyimpannya sendiri.
Semester dua pun berlalu sama seperti semester satu, aku masih berjuang bersama dengan sahabat-sahabatku. Tak ada yang berbeda, Ribka juga masih sama.
Suatu kali aku mempunyai tekad untuk mengikuti dia pulang, setidaknya mengetahui dimana dia tinggal dan bagaimana kesehariannya. Tetapi,
“Bro bro, gue udah pesan studio nih. Jam sepuluh sampai jam duabelas, jadi selesai kelas langsung go ya.” Gary yang tiba-tiba menghampiri aku dan Ricky yang sedang ngobrol-ngobrol seraya menunggu kelas di kantin.
“Okay bro, sikaaat.” Ricky langsung mengangkat jempol ke arah Gary.
Begitulah, selalu tidak ada kesempatan mengenal Ribka dikala aku menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatku. Sebenarnya kami semua tidak saling memaksa. Gary yang mungkin ada janji dengan pacarnya, atau Surya yang harus pulang ke rumah jam 10 setiap malam oleh orangtuanya, kami semua tetap saling mendukung. Masalahku ya, aku cuma belum terbuka mengenai Ribka.

Semester tiga, aku dan sahabat-sahabatku berada di kelas yang sama untuk semua mata kuliah. Kebetulan semester ini sudah bisa memilih kelas sendiri. Begitu menyedihkan saat mengetahui tidak semua kelasku ada yang bernama Ribka Abigail. Aku semakin jauh, jauh dengannya. Sedangkan ketika sekelas dulu jarang bertemu, apalagi sekarang.
Tetapi ada yang berbeda, sekarang Ribka lebih sering di kampus. Aku sering melihatnya bersama Astrid mengerjakan tugas. Astrid termasuk anak yang aktif di kampus. Mudah-mudahan dengan begitu bisa membuat Ribkaku lebih sering di kampus dan membuatku tidak jauh darinya. Beberapa kali aku melihat dia tersenyum. Astaga, aku benar-benar ingin memiliki senyum itu.

“Tok tok..” suara ketukan pintu membuatku kaget. Lukisan wajah Ribka masih berantakan di kamarku.
“Siapa ya? Lagi sibuk nih.” kataku sambil merapikan beberapa lukisan.
“Ya, gue lah. Siapa lagi yang berniat mengetuk kamar loe malam-malam begini. Ayo bukain, gue mau cerita sama loe.” setelah kamarku terlihat aman dari lukisan, aku bukakan pintu dan Dion langsung menghempaskan badannya ke tempat tidurku.
“Bawel banget sih. Loe pasti mau cerita kalau loe menang olimpiade kan? Gue udah lihat di instagram loe.” kataku sambil mengambil gitar dan memain-mainkan senarnya.
“Loe kan cuma tahu yang di media, aslinya loe ga bakal tahu kalau nilai timku beda tipis dengan yang juara dua. Bayangkan, poinnya cuma beda… Ya, ampun sejak kapan loe suka melukis wajah cewek?” Deg! Betul-betul ceroboh aku ini. Lukisan wajah Ribka masih ada terletak di dekat lemari.
“Ya… Buat refreshing aja. Daripada gue ngelukis wajah cowok, dikirain LGBT entar.” sahutku sambil melompat ke arah lukisan itu dan berniat menyimpannya.
“Gue ga percaya sama loe. Pasti ini cewek yang lagi loe suka kan?” Dion langsung merampas lukisan itu dari tanganku, dan melihat tulisan di bawahnya: Your Smile is Your Gift to Me, Ribka.

Setelah mencoba mencari-cari alasan untuk menutupi, akhirnya aku mengaku juga kepada Dion tentang Ribka. Malam itu menjadi malam yang panjang. Aku menceritakan semuanya, ya semuanya. Aku sudah siap dengan jawaban Dion yang mengatakan “Ya ampun, loe kesambet apaan suka sama cewek yang beda kelas sama loe. Loe itu disukai banyak cewek cantik dan gaul. Pinter, anak teknik sipil, bisa musik, bisa basket. Tapi malah sukanya sama cewek yang bahkan instagramnya pun ga ada”.
Tetapi ternyata jawaban Dion berbeda, “Entah kenapa gue kagum sama loe, ga nyangka aja loe sekarang udah terlihat dewasa banget. Kalau gue jadi Ribka, pasti gue bahagia.”
“Sialan loe, pakai nyama-nyamain sama Ribka segala. Mau jadi cowok apaan loe? Hahaha…”
Sejak saat itu lukisan wajah Ribka tidak pernah aku sembunyikan lagi. Aku bahkan sudah menatanya dengan rapi di kamar, menjadi penyemangat hari-hariku. Toh, yang berani ke kamarku cuma Dion seorang.

Semester empat masih sama saja. Sekelas dengan sahabat-sahabatku dan tidak ada kujumpai Ribka disana. Aku masih saja menyimpannya di hatiku terdalam. Menyimpan senyumnya di ingatanku yang tak terlenyapkan. Hari-hari penuh dengan pertanyaan: Ribka, ada apa denganmu? Atau lebih tepatnya, mengapa kau buat aku begini?

Dalam suatu perjalanan pulang dari kampus, aku terjebak di kemacetan. Padahal aku ada janji makan malam dengan adikku, Dion. Sambil melamunkan Ribka di lampu merah, terlihat olehku di sisi sebelah kanan mobilku sebuah sepeda motor dengan sepasang anak muda di atasnya. Wajah perempuan di belakangnya tidak asing. Tidak mungkin, itu tidak mungkin Ribka.
Ketika lampu hijau menyala, segera kuarahkan mobilku mengikuti sepeda motor itu. Aku sama sekali lupa ada janji dengan Dion. Fokus mataku pada sepeda motor itu. Kegairahanku, penasaranku menjadi-jadi, sampai-sampai… Bruuuk!

“Nak, Reza… Ini mami.” aku membuka mataku dan mengangkat badanku.
“Please, tetap berbaring nak.” kudengar suara mami di sebelahku sambil memegang tanganku.
Kubuka mataku lebih jelas. Kulihat mami, papi, dan Dion. Kulihat keluarga ini begitu terang. Mata mereka begitu hangat, rinduku pada keluarga terlepaskan. Walaupun, badanku sakit karena kecelakaan yang menyebalkan ini, tetapi begitu berkah rasanya menyadari bahwa yang kulihat pertama kali adalah keluargaku. Aku bahkan hampir lupa bahwa penyebab kecelakaanku adalah karena memburu Ribka.
“Mami, saya kok di kamar?” tanyaku dengan nafas yang belum stabil.
“Tadi di rumah sakit. Tapi karena gak terlalu parah dan kata dokter kamu pingsan cuma karena shock, mami bawa kamu ke rumah aja. Mami mau cuti kerja seminggu ngerawat kamu.” rasanya kayak pengen peluk mami mendengar perkataan yang memesona itu.

Beberapa hari setelah kecelakaan itu, papi lebih sering cepat pulang. Dion pun demikian. Kami pun bahkan mulai bercanda tentang lukisan wajah Ribka yang masih aku tata di kamarku. Mereka tak henti-hentinya menggodaku.
“Papi bener-bener ingin ketemu sama Ribka yang sudah membuat anak papi yang satu ini mabuk kepayang.” Malu sebenarnya papi bicara begitu ke aku. Tapi aku bersyukur kalau Ribka tanpa disengaja sudah mengubah keluargaku yang kaku ini.
Pertanyaan yang belum terjawab: siapakah lelaki yang bersama Ribka itu? Apakah Ribka mempunyai kekasih? Hilangkah harapanku mendapatkan senyum yang indah itu?

“Za.. Za..” aku seperti mendengar suara Surya. Aku membuka mataku.
“Wah gila loe, Sur. Orang lagi istirahat juga digangguin.” sekarang Joseph yang berbicara.
“Gapapa kali. Masa bajingan kayak Reza lemah. Pasti udah kuat nih anak. Hahaha…” kata Andy sambil memainkan bola basket di kamarku.
“Iya, Reza kuat. Bahkan menyimpan rasa cinta yang sekian lama dipendam.” sahut Rian sambil memeragakan orang yang berpuisi. Astaga! Lukisan wajah Ribka masih ditata di kamarku. Wajahku pasti sudah menunjukkan rasa shock campur malu yang luar biasa.
“Reza, loe kenapa ga bilang kita tentang Ribka?” Ricky angkat bicara.
“Gue takut loe pada ga suka dan gue takut kehilangan loe semua. Secara Ribka itu…”
“Reza!” Andy memotong penjelasanku. “Emang kita pernah mensyaratkan seorang cewek yang mesti dicintain teman kita sendiri? Enggak kan?”
“Reza, kita udah dengar semua dari nyokap loe. Gimana loe selama dua tahun ini ga pernah bisa dekat dengan Ribka. Sakit yang loe tanggung, bahkan sampai kecelakaan segala. Apapun itu, kita akan tetap dukung loe.” Rian, anak yang pendiam ini, bisa-bisanya bicara seperti itu. Ingin rasanya kupeluk dia.
“Ya, Reza. Bahkan semester 5 sampai seterusnya kita harus sekelas sama yang namanya Ribka itu. Atau gimanalah, apa aja deh buat ngebantu loe. Hahaha…” kata Gary sambil memakan kue di atas karpet. “Kue buatan nyokap loe enak banget.”
Aku bersyukur, ya sangat sangat bersyukur. Ribka, kamu, senyummu, harus menjadi milikku. Harus!

Semester lima menjadi semester yang mentransformasi teman-temanku menjadi orang-orang yang paling menyebalkan. Bayangkan saja, mereka berani-beraninya godain aku kalau si Ribka lagi lewat. Atau ketika kebetulan warna bajuku dan Ribka sama, mereka langsung berteriak “Jodooooh, cieee!”
Menyebalkan, tetapi menyenangkan. Hal ini membuat penasaranku meningkat, kira-kira dia menganggap itu serius atau biasa saja. Beberapa kali aku melihat Ribka seperti tidak suka dan kalau kami lewat di dekatnya, dia menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Aku pun memperingatkan teman-temanku untuk mulai bertingkah biasa saja sejak saat itu.
“Za, kapan loe menyatakan rasa suka loe?”
“Za, loe kalau diam-diam begini mau dapat apa?”
“Za, lama-lama gue jadi gemes ya sama loe!”
Teman-temanku sudah seperti monyet-monyet yang tidak sabaran memanjat pohon pisang untuk mendapatkan pisangnya. Aku cuma bisa tenang, aku tidak bisa merusak setiap kesempatan. Ribka harus mendapatkan kesempatan yang baik.

Semester enam pun tiba, sahabat-sahabatku yang agresif itu mulai mengatur strategi lagi agar bisa sekelas dengan Ribka. Setelah jadwal kelas keluar dan daftar mahasiswa yang ada di dalamnya… Dari tujuh mata kuliah yang sudah diaturkan sahabat-sahabatku agar sekelas dengan Ribka, ternyata hanya ada dua kelas yang bernama Ribka.
“Beneran, Za. Kita lihat sendiri di web jurusan, ada Ribka di kelas-kelas itu.” kata Rian.
“Mungkin Ribka ingin pindah kelas karena sesuatu.” Kata Gary sambil melihat web jurusan di tabnya.
“Tapi, masa langsung sekali lima kelas pindahnya. Itu kan aneh.” sahut Surya sambil melihat ke tab Gary.
Aku tidak bisa mengucapkan kata apapun. Mungkinkah Ribka tidak suka? Tidak suka denganku? Kalau iya, mengapa? Apakah dia menghindari aku karena dia sudah punya pacar?
“Gapapa, Za. Yang penting masih ada dua kelas yang bareng sama Ribka. Kesempatan masih ada. Berusahalah di setiap kesempatan.” Andy merangkul pundakku. Aku pun membalasnya tersenyum.

Semester enam ini menjadi masa-masa sibuk sahabat-sahabatku. Gary sibuk menjadi staf di Kesma Himpunan. Ricky sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan lomba jembatan tingkat nasional. Andy kini diminta menjadi tim inti pemain futsal untuk jurusan. Joseph sekarang menjadi ketua UKM Badminton di kampus. Sementara, Surya sibuk menjadi asisten dosen untuk mahasiswa baru. Hanya tinggal aku dan Rian yang masih sama dengan kesibukan semester sebelumnya: kuliah dan mengajar privat siswa SMA.
Tetapi banyak hal yang masih sama. Kami tetap mengatur waktu untuk berkumpul sekalipun hanya sekali seminggu. Dan yang masih sama lainnya, mereka masih tak henti-hentinya mengatur kedekatanku dengan Ribka.

“Jangan lupa, hari sabtu ini kita ada kuliah lapangan Rekayasa Jembatan. Dipersiapkan semua alat yang diperlukan, meteran, kamera, dan lainnya.” bu Dita menutup kuliah sore yang membosankan itu. Kulihat Andy dan Ricky masih tertidur. Kemudian Rian membangunkan mereka. Mahasiswa semester enam yang memprihatinkan, benar-benar menggelikan.
Kulihat Ribka keluar dari kelas sambil berbicara lewat teleponnya. Sayup-sayup terdengar pembicaraannya,
“Iya, mami. Kata temanku kemungkinan kuliah lapangan sampai sore gitu. Ribka juga pengen mami, tapi kan ini juga penting. Hehe.. Doain aja mami, semoga ga kesorean.” suara Ribka lama kelamaan menghilang.
Kuliah lapangan ini, apakah sesuatu akan terjadi? Akankah aku lebih dekat dengan Ribka? Semoga waktunya tepat.

“Bro gue udah atur tempat duduk di bis. Setiap kelas akan ada di bis yang sama. Jadi loe akan ketemu Ribka, ciyeee..” Gary, yang kebetulan juga koordinator kelas, tiba-tiba duduk di dekatku pagi itu, di tempat duduk dekat koridor kampus, sambil menunggu keberangkatan kuliah lapangan.
“Maksud loe, atur gimana?” aku tidak mengerti maksud Gary.
“Jadi, tiga baris depan bis itu isinya kita semua. Nanti loe duduk dekat gue. Gue yang dekat jendela, dan bangku yang berseberangan dengan loe itu adalah, bangkunya Ribka. Gue udah minta Astrid buat ajak dia duduk disitu.” Gary menjelaskan dengan penuh agresif sampai aku butuh waktu lama untuk memahaminya.
“Bro, loe harus rebut kesempatan ini.” Gary meninggalkan aku yang masih terdiam. Aku harus bagaimana memangnya?

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: morningdew95.wordpress.com

Cerpen Ingatan Yang Pertama (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anata To Christmas Eve

Oleh:
TENG! TENG! TENG! Dentuman bunyi lonceng Gereja pun berdetak memecah heningnya malam. Menandakan bahwa malam sudah cukup larut. Namun, aku masih ingin berada di sini. Di tengah kesendirian dan

Kejutan Untuk Sahabat Kami

Oleh:
Di hari yang cerah dan menyenangkan, tepat pada jam 11 siang tentunya aku sudah berada di sekolah, mengikuti kegiatan belajar seperti hari-hari yang biasanya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) telah

Friendship

Oleh:
Masa SMA? Banyak orang beranggapan dimana kita menemukan jati diri. Bukan, itu adalah masa dimana kita memulai untuk mencari jati diri. Dimana kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang mengharuskan

Bahagia Hidup Pesantren

Oleh:
(Bel Berbunyi) Pagi menjelang subuh aku telah dibangunkan oleh suara bel yang sangat keras. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu, setelah itu aku dan kawan-kawanku

Ketika Aku Jatuh Cinta

Oleh:
Hujan mulai menaungi tempatku berpijak. Aku terjebak tak dapat bergegas pulang melepas lelah setelah seharian beraktivitas di sekolah. Ingin rasanya aku berlari menerobos hujan. Tapi, dengan seragam putih abu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *