Ingatan Yang Pertama (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Setelah aku masuk ke dalam bis, benar saja, Ribka duduk di dekatku, hanya terpisahkan oleh gang di dalam bis.
Gary mengabsen semua mahasiswa di dalam bis dan setelah selesai, Gary berjalan ke arahku lalu mengedipkan mata. Maksudnya apa?
Ternyata semua sahabat-sahabatku sudah tahu siasat Gary. Mereka selalu mengajak Ribka mengobrol, sementara aku tidak. Aku benar-benar tidak bisa mengatur nafasku duduk di dekat Ribka begini, apalagi kalau berbicara dengannya. Bis yang ber-AC ini bahkan tidak berhasil menahan keringatku untuk tidak keluar.

“Rian, gue minta tissue, dong.” kataku sambil menoleh ke belakang, ke arah Rian.
“Ga punya, Za. Minta ke ceweklah, pasti punya. Hahaha..” sialan si Rian. Aku tahu dia itu punya tissue, pasti mau memancing aku supaya mengobrol dengan Ribka.
“Ribka, punya tissue ga?” tanyaku sambil mengatur nafas.
“Punya. Mau tissue basah atau kering?” Ribka menjawabku dengan senyumannya. Deg. Sementara sahabat-sahabatku ini mulai berbisik-bisik “ciyeee”.
“Yang kering aja.” kataku. Aku merasakan mukaku memerah.
Joseph termasuk yang paling tidak bisa menahan tawa. Karena itu, dia sampai memukul-mukul kursi di depannya, yang adalah kursi Ribka dan Astrid.
“Aduh, siapa sih ini goyang-goyang di belakang?” sahut Astrid yang sedang mencatat beberapa data untuk jembatan yang akan diamati.
“Eh, loe jangan ganggu Ribka ya, Jos. Atau gue lempar loe.” ini benar-benar reaksi spontan dariku. Kok bisa seberani itu aku mengatakan hal itu.
Mendadak seluruh isi bis penuh dengan teriakan sahabat-sahabatku. Mati aku. Pasti Ribka semakin tidak menyukaiku. Tetapi, aku melihat Ribka begitu tenang sambil senyum-senyum ke arah Astrid.
Mungkinkah ini sinyal yang baik?

“Oke, teman-teman. Kita sampai di jembatan yang pertama. Silakan diamati dan dicatat data yang diperlukan.” Gary memotong keributan itu. Syukurlah, setidaknya aku terbebas dari rasa malu, untuk sementara.
“Gary, gue rasanya udah dapat sinyal yang baik dari Ribka. Gue mau coba deketin dia dulu, tapi belum nembak.” aku bicara dengan Gary sambil mengambil video jembatan disitu.
“Ya, terserah loe sih Za, dari dulu juga tergantung loe kan. Hahaha…” kata Gary sambil mengawasi semua mahasiswa kelasku.
“Tapi, gue bingung gimana mulainya.” kataku sambil melirik Ribka di kejauhan.
“Nanti gue atur si Astrid pindah ke kursi belakang deh. Selebihnya terserah loe. Gue tahu loe pasti bisa.” Gary mengedipkan matanya lagi.

“Loh, kok Astrid pindah ke belakang?” aku mendengar Ribka bicara dari dekat.
“Iya, sayang. Ada yang mau aku kelarin sama Ricky soal lomba jembatan. Panitianya minta beberapa data paling lama setengah jam lagi. Bye bye” Astrid segera duduk ke sebelah Ricky yang dari tadi duduk sendirian dan tidak mau diganggu karena mempersiapkan lomba jembatannya.
“Sekarang giliran loe. Maju, Za.” kata Gary sambil berbisik.
Sementara bis mulai berjalan, dengan penuh keraguan aku mengambil posisi berdiri, mengambil nafas sejenak. Lalu, dengan keberanian yang penuh aku pun duduk di dekat Ribka.
Ribka kaget bukan main dan menggeser badannya menjauh dariku. Perlahan sisi badboyku keluar.
“Ribka, jangan coba-coba teriak. Tetap tenang, atau gue bilang loe godain gue disini.” Sebenarnya aku tidak enak mengucapkan kata-kata itu. Tetapi itu yang keluar dari otakku yang dungu ini.
Ribka diam saja dan mencoba tenang. Untung Ribka seorang yang low profil, setidaknya dia tidak mau teriak dan menghebohkan seisi bis. Apalagi sekarang tangannya sedang dalam genggamanku. Dan yang lebih menggilakan lagi, musik bis yang dari tadi diisi oleh musik nostalgia kesukaan bapak sopir, tiba-tiba berganti menjadi lagu-lagu barat lama yang… romantis. Christian Bautisa, The Way You Looked Me. Astaga, apa maksud sahabat-sahabatku ini?
Lagu Christian Bautista membuatku ikut-ikutan bernyanyi, sesekali memandang Ribka yang wajahnya memerah. Betul-betul manis.
Richard Marx, MLTR, astaga. Aku menyanyikan lagu-lagu romantis yang sering aku nyanyikan kalau lagi karaoke bersama sahabat-sahabatku. Aku menyanyikannya, hanya untuk Ribka seorang, yang sekarang tangannya sedang aku pegang erat-erat.

Satu setengah jam begitu terus, aku sampai lupa diri.
“Teman-teman, kita sudah sampai di jembatan yang kedua. Silakan turun dan mengambil data.” suara Gary yang lantang menyadarkanku. Aku pun melepaskan tangan Ribka lalu berjalan ke arah jembatan.
Sampai disitu. Astrid kembali duduk di dekat Ribka. Kesempatanku untuk dekat dengannya cukup hari ini. Aku akan menunggu waktu yang lebih baik lagi untuk menyatakan perasaanku padanya.
Hari yang begitu melelahkan ini ternyata cepat juga berakhir. Sesampainya kembali di kampus, aku melihat Ribka buru-buru ke parkiran sepeda motor dan lenyap di jalanan.

Dan entah kenapa situasi tidak bersahabat denganku kali ini. Kejadian pagi ini betul-betul menyakitkanku. Grup angkatanku di Whatsapp menjadi heboh karena suatu hal.
“Teman-teman. Ada kabar kalau teman kita Ribka jatuh dari tangga di rumahnya dan kondisinya sekarang sedang hilang ingatan. Kita doakan semoga Ribka cepat sembuh ya.”
“gws Ribka”
“Ribka cepaat sembuh”
“astaga padahal kemarin baru ketemu. Gws Ribka”
Kejadian kemarin ketika kuliah lapangan hilang begitu saja. Entah ditelan apa. Samar-samar pun tidak terlihat. Begitu sakitnya mengetahui kejadian kemarin lenyap dari ingatan Ribka. Lalu buat apa? Buat apa keberanian yang aku kumpulkan kemarin? Aku benar-benar menyalahkan situasi.
Ada panggilan dari Gary di handphoneku.
“Iya, Gar. Gue gapapa kok. Ini mau ke kampus, ngobrol di kampus aja ya entar.” Aku mematikan panggilan itu, lalu masuk ke mobil dan menyusuri jalanan ke kampus.

“Ya udah, kita jenguk aja gimana? Daripada kayak begini kita ga tau mau ngapain.” kata Rian memecahkan keheningan di kursi koridor jurusan pagi itu.
“Sejauh ini, masih itu yang bisa kita lakukan, Za. Ayo dong, bajingan jangan sedih gitu ah.” Gary benar-benar, benar-benar bisa saja gila di situasi begini.
Sepulang kuliah, kami pun mengajak Astrid ikut bersama kami karena kami laki-laki semua, sungkan saja jika bertemu keluarganya.

“Permisi, ini Astrid tante. Astrid bawa teman-teman kampus juga.” Astrid yang paling depan menoleh ke dalam ruang inap Ribka.
“Oh, iya masuk saja Astrid.” mamanya Ribka betul-betul mirip Ribka.
Kami semua kini sudah di ruangan Ribka. Hanya ada mamanya dan Ribka ternyata.
“Om mana tante?” tanya Astrid memecah keheningan.
“Lagi nganter Matthew sekolah, sayang. Yuk semua pada duduk. Tante buatin teh ya” kata mama Ribka sambil menuju dapur kecil di ruangan ini.
“Aduh, ga usah tante” kami semua menolak dan merasa sungkan. Tetapi, mamanya tetap saja membuat tehnya.
Aku melihat Ribka. Dia dalam keadaan sadar, tetapi dalam kondisi kebingungan. “Kalian temanku, ya?”
“Iya Ribka, aku Astrid” Astrid langsung menangis menghampiri Ribka.
Tiba-tiba suasana yang menyedihkan ini dikagetkan oleh ketukan pintu. Muncul seorang laki-laki membawa tabung gambar. Seorang mahasiwa arsitektur sepertinya. Wajahnya familiar, aku lupa kapan melihatnya.
“Tante, gimana Ribka?” tanyanya.
“Belum ada kemajuan, Jeremy. Nanti siang dokter mau periksa lagi” kata mama Ribka sambil mengaduk teh.
Jeremy ini tiba-tiba membelai rambut Ribka dan mencium keningnya, “Get well very soon, dear.” Ribka menunjukkan ekspresi bingung. Jeremy mendadak keluar, terdengar suara seperti… menangis.
Astrid tiba-tiba menuju ke arah kami lalu berbisik, “Itu calon tunangannya Ribka.”
Deg! Bisakah hari ini lebih buruk lagi? Keadaan ini sungguh aku tidak bisa terima. Tiba-tiba…
“Kamu Reza ya?” No way! Dia tiba-tiba mengeluarkan kalimat itu. Kita semua kaget.
“Iya, aku Reza, Rib.” kataku terbata-bata, “Kamu ingat aku?”
“Aku gak tahu, tapi rasanya aku ingat kamu. Aduh.” Ribka memegang kepalanya, kesakitan.
“It’s okay, Ribka. Jangan dipaksakan.” kataku dengan nafas tak beraturan. Sementara semua orang di ruangan itu melihat ke arahku.
“Jer.. Jeremy! Ribka ingat sesuatu.” teriak mama Ribka ke arah luar.
Jeremy tiba-tiba masuk lalu menghampiri Ribka. “Dia ingat apa, tante?”
Semua menoleh ke arahku.
“Dia ingat Reza. Anak ini, temannya di kampus.” Kata mama Ribka.
Aku melihat ekspresi kecewa di mata Jeremy. Matanya memandangku rendah. Lalu dia menarikku ke arah Ribka.
“Ribka, kamu inget dia, tapi ga inget aku? Ribka? Yang selalu bersama kamu siapa? Siapa?” Jeremy teriak sambil memukul-mukul tempat tidur Ribka.
Ribka sesak nafas, wajahnya ketakutan.
Bruk! Kuarahkan tinjuku ke wajah Jeremy yang gila ini.
“Za, Za, udah, udah” semua sahabatku langsung membawaku keluar seraya permisi ke mama Ribka.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: morningdew95.wordpress.com

Cerpen Ingatan Yang Pertama (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Hari

Oleh:
Hai teman-teman perkenalkan namaku Asya nabila assyifa, biasanya teman-temanku memanggilku Nabila. aku mempunyai teman akrab namanya Frizka andrianti, panggilannya Frizka. Frizka orangnya baik, cantik dan pintar tetapi suka penyendiri

Nay’s Love Story

Oleh:
“Peringkat satu diraih oleh … Ananda KEYSHA MUTIARA.” seru Bu Laila. Nay termangu. Bukan dirinya, bukan dirinya yang meraih peringkat satu kali ini. Tapi, sahabatnya… “Mut, lo hebat banget,

Nasi Goreng Plus Plus (Part 1)

Oleh:
“Woyyy, ngapain loe ngelamun di pinggir danau siang bolong kaya gini, kesambet baru tau rasa loe, hahaha”, teriak seseorang tepat di lubang kuping gue. “Ehh Kampret, bikin kaget orang

Sebuah Janji

Oleh:
“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…” Bel istirahat akan berakhir berapa menit

Dinding Sekolah Rahasia

Oleh:
Senin pagi… Tok… tok… tok… Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar. Pintu sengaja aku kunci, karena aku benar-benar gak mau di ganggu semaleman. “klara, bangun!!! Dari semalem, mama pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *