Inspirasi Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

Arif dan Raymon adalah dua anak manusia yang menjalin persahabatan sejak kecil. Mereka saling mengenal saat masih duduk di bangku kelas 1 SD. Latar belakang kedua anak ini berbeda jauh. Raymon lahir di keluarga konglomerat. Ayah dan ibunya sama-sama pengusaha, sedangkan Arif lahir di keluarga yang kurang mampu. Kedua orangtuanya hanyalah buruh tani. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang bagi persahabatan mereka.

Waktu demi waktu telah berlalu, kini keduanya sama-sama duduk di bangku SMA dan berada di sekolah yang sama. Suatu ketika Arif hendak berangkat ke sekolah. Seperti biasa berpamitan dan mencium tangan kedua orangtuanya menjadi salah satu hal utama saat ia hendak berangkat ke sekolah.

“Ayah, ibu, aku berangkat dulu ya?”. Ucap Arif sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
“Iya nak, ibu dan ayah selalu berharap agar kamu mendapatkan ilmu yang bermanfaat di sekolah”. Ucap sang ibu sambil membelai rambut Arif.
“Iya bu. Aku juga ingin membahagiakan ibu dan ayah”. Ucap Arif sambil tersenyum semangat.
“Perjalanmu ke depan masih sangat panjang rif… Belajar dan berdo’a itu penting. Jangan membuang-buang waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna”. Sahut sang ayah sambil menyiapkan sepeda untuk menuju ke sawah.
“Iya yah, Arif berjanji akan terus berjuang menggapai cita-cita Arif. Kalau begitu Arif berangkat dulu ya! Assallamu’alaikum!” Ucap Arif sambil menaiki sepeda.
“Waallaikumsalam”. Sahut kedua orang tuanya.

Pada saat yang sama, Raymon juga akan berangkat sekolah. Diapun juga melakukan hal yang sama dengan Arif sebelum berangkat sekolah, yakni berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya. Berbeda dengan Arif, Raymon pergi ke sekolah dengan sepeda motor mahal. Meski demikian, Raymon bukan anak manja, pemalas, bahkan sombong. Dari kecil orangtuanya selalu mengajarinya menjadi pribadi yang baik hati, ramah, taat beribadah, dan peduli terhadap sesama.

“Raymon, uang saku yang ayah berikan jangan dihabiskan begitu saja ya!. Kalau bisa sebagian ditabung”. Ucap ayah Raymon sambil mengambil tisu.
“Pastilah Ayah!. Mana mungkin Raymon menyalahgunakan uang pemberian ayah. Raymon sudah bisa mengatur keuangan. Jadi, ayah tak perlu khawatir”. Balas Raymon.
“Bagus kalau begitu, itu baru anak ayah”. Sahut ayah Raymon.
Giliran ibu Raymon memberi nasehat. “Kamu harus jadi generasi penerus bangsa yang terbaik nak. Kamu satu-satunya anak ibu dan ayah. Kamu harus membuat kami bangga punya anak yang sukses”.
“Iya bu… Raymon akan selalu menuruti nasehat ibu dan ayah. Dan tak lupa Raymon juga terus giat belajar dan taat beribadah”. Ucap Raymon dengan penuh semangat.
“Ya sudah, kalau begitu segera siap-siap berangkat ke sekolah. Ayah dan ibu juga siap-siap berangkat ke kantor”. Ucap ayah Raymon,
“Baik yah. Raymon juga mau siap-siap berangkat. Kalau begitu ayah, ibu, Raymon berangkat dulu ya, Assallamualaikum!”. Ucap Raymon.
“Waallaikumsalam!”. Balas orangtua Raymon.
“Hati-hati ya nak, jangan ngebut di jalanan”. Sahut ibu Raymon lagi.
“Oke bu”. Balas Raymon sambil menyalakan sepeda motor.

Di tengah jalan kedua sahabat ini bertemu.
“Hai, sahabatku”. Teriak Raymon.
“Akhirnya ketemu kamu juga di jalan”. Balas Arif.
“Sampai kapan kamu rif… menolak ajakanku ke sekolah bersama naik sepeda motorku”.
“Maaf mon, kan aku sudah bilang berkali-kali kalau aku tidak mau merepotkan kamu”.
“Aku tidak merasa direpotkan kok. Justru aku senang sekali bisa selalu bersama dengan sahabat baikku”.
“Tapi…”. Ucap Arif sambil berfikir.
“Cukup!. Tidak ada tapi-tapian. Mulai besok aku akan menjemputmu. Titik!”. Sahut Raymon.
“Iya deh… aku mau. Terima kasih ya sahabat baikku”.
“Nah… begitu dong”.

Tak terasa waktu terus berlalu. Akhirnya mereka naik ke kelas 2 dan tetap satu kelas. Hari pertama semester baru pun dimulai. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. Gurunya pun tiba di kelas. Namun guru tersebut datang bersama gadis berparas cantik dan anggun. Rupanya gadis dia murid baru di sekolah ini.

“Selamat pagi anak-anak”. Sapa sang guru.
“Selamat pagi pak”. Jawab semua serentak
“Baik, sebelum kita mulai pelajaran, bapak akan memperkenalkan teman baru kalian. Elis, silahkan kamu perkenalkan dirimu!”. Perintah pak guru.
“Baik pak”. Ucap Elis dengan hormat.
“Selamat pagi teman-teman. Perkenalkan nama saya Elisa Putri. Biasa dipanggil Elis. Usiaku 18 tahun. Sekarang saya tinggal di Perumahan Anggrek. Hobi saya gemar membaca novel, terutama novel dari novelis-novelis terkenal. Sekian perkenalan saya, terima kasih”.
“Mungkin ada yang mau bertanya?”. Ucap pak guru.
“Elis sudah punya pacar belum?”. Tanya seorang siswa.
“Huuu…”. Teriak seluruh sisiwa.
“Sudah, sudah. Kalau begitu mari kita mulai belajar. Elis, silahkan kamu duduk di bangku kosong itu”. Ucap pak guru.
“Baik pak”. Jawab Elis singkat.

Sudah tiga bulan lebih Elis menimba ilmu di sekolah barunya itu. Diapun juga sudah akrab dengan Arif dan Raymon. Suatu ketika Arif sedang pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Setibanya di sana dia bertemu dengan Elis.

“Hay rif”. Sapa Elis.
“Eh kamu lis. Ada perlu apa kamu kesini?”. Tanya Arif penasaran.
“Biasa… lagi cari novel. Disinikan banyak novel yang bagus-bagus”. Jawab Elis sambil tersenyum.
“Wah… novel terus yang dibaca. Sekali-sekali dong buku pelajaran”. Sindir Arif.
“Ooo… kalau pelajaran aku tidak bakalan lupa kok, aku baca novel pas ngisi waktu luang saja. Oh iya, kamu sendiri ada perlu apa kemari”. Balas Elis.
“Aku mau mengembalikan buku nih!”. Jawab Arif.
“Ooo… kalau begitu aku duluan ya. Assallamu’alaikum!”.
“O iya-ya Wa’alaikumsalam”.

Sepulang sekolah Elis mendapatkan sms dari ayahnya. Ternyata ayahnya tidak bisa menjemputnya karena ada rapat mendadak. Terpaksa Elis harus naik angkot. Tiba-tiba datanglah Raymon yang berboncengan dengan Arif.

“Hey lis, kok kamu masih di sini. Ayahmu belum datang ya”. Tanya Raymon.
“Iya, aku lagi nunggu angkot. Ayahku tidak bisa menjemputku. Dia lagi ada rapat”. Jawab Elis.
“Kalau begitu kamu bareng Raymon saja”. Pinta Arif.
“Terus kamu bagaimana rif?”. Tanya Raymon.
“Ah… tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri kok. Biar aku saja yang naik angkot”. Jawab Arif.
“Baiklah, kalau begitu ayo lis naik ke motorku”. Kata Raymon.
“Jangan ah, kalian pulang duluan saja. Aku tidak masalah kok kalau naik angkot”. Tolak Elis dengan lembut.
“Tidak apa-apa kok lis, kami tidak bisa membiarkan kamu pulang sendirian”. Ucap Arif.
“Iya lis, kami senang membantumu kok”. Sahut Raymon.
“Aduh, jadi ngerepotin nih. Terima kasih ya bantuannya”. Ucap Elis.

Raymon dan Elis pun pergi meninggalkan Arif. Entah mengapa ada sedikit perasaan tidak suka di hati Arif saat melihat Raymon dan Elis pergi bersama. “Ada apa denganku ya? Mengapa aku tiba-tiba tidak begitu suka melihat mereka pergi bersama”. Ucap Arif sambil berfikir. Kemudian sebuah angkot datang dan hendak melintas di depan sekolah. “Angkot-angkot”. Teriak Arif sambil menuju ke arah angkot.

Waktu pun terus berlalu. Begitu pula dengan persahabatan ketiga anak ini. Rupanya baik Arif maupun Raymon sama-sama menyukai Elis. Tapi mereka berdua tidak saling mengetahui jika mereka sama-sama menyukai Elis. Suatu ketika Arif tidak sengaja melihat Raymon dan Elis duduk di kursi taman. Arif pun penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Diam-diam dia mengintai mereka dari balik semak-semak.

“Lis, kamu suka coklat tidak?” tanya Raymon sambil tersenyum.
“Iya aku suka sekali sama makanan yang satu ini”. Balas Elis.
“Kalau aku traktir coklat di kantin?”. Tanya Raymon lagi.
“Ehmmm… boleh, satu kardus ya! ha… ha… ha… maaf-maaf cuma bercanda kok.”
“Waduh, itu namanya melorotin uang orang dong. Masa cantik-cantik rakus kaya gitu”.
“Iya, iya, maaf. Kan tadi aku sudah bilang kalau aku cuma bercanda”.

Melihat keduanya bercanda begitu akrab, hati Arif pun mulai panas. Benih-benih kebencian terhadap Raymon mulai merasukinya. Arif pun meninggalkan mereka begitu saja. Beberapa hari kemudian giliran Raymon yang tidak sengaja melihat Arif dan Elis. Mereka berdua sedang ngobrol di depan papan mading.

“Mengapa Arif dan Elis lagi ngobrol berduaan? apa yang sedang mereka bicarakan?”. Gumam Raymon penasaran. Dia pun mengawasi mereka.

“Rif, kamu punya kenalan penjual novel-novel bekas tidak?”. Tanya Elis.
“Iya sih ada. Namanya bang Kusno. Dia jualan buku-buku bekas, termasuk novel-novel lama “. Jelas Arif.
“Kenalin dong! aku ingin lihat koleksi buku-bukunya”. Pinta Elis.
“Oke tenang saja, nanti aku kenalin”. Jawab Arif.
“Terima kasih ya…. kamu sahabat yang baik deh…”.
“Iya, iya. Sama-sama.”

Melihat keduanya begitu akrab, hati Raymon pun merasa tidak senang. Dia pun ingin bicara empat mata dengan Arif setelah pulang sekolah nanti.

“Rif, tadi kamu ngapain ngobrol berduaan sama Elis?”. Tanya Raymon dengan nada bicara yang cukup lantang.
“Lo, memang salah kalau aku ngobrol berduaan sama Elis?. Lagian kamu kan juga pernah ngobrol berduaan sama dia”. Jawab Arif dengan sedikit jengkel.

“Iya, memang”. Ucap Raymon dengan sedikit ketus.
“Kamu kok jadi agak ketus sih sama aku?”. Tanya Arif dengan sedikit jengkel.
“Oke, oke. Jadi begini ya”. Belum selesai bicara Elis tiba-tiba datang menghampiri mereka.
“Hey kalian”. Seru Elis.
“Elis”. Ucap Arif dan Raymon dengan cukup kaget.
“Kalian lagi ngobrol apaan?. Tadi aku lihat dari kejauhan kelihatannya serius sekali”. Tanya Elis penasaran.
“Tidak apa-apa kok lis, kita cuma bahas pelajaran Matematika tadi kok”. Jawab Arif.
“Iya-iya benar, cuma pelajaran kok. Oh iya aku duluan ya!. Rif maaf, aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku harus ke rumah saudara keponakanku dulu. Assallammu’alaikum!”.
“Waallaikumsalam”. Jawab Arif dan Elis.
“Benar nih cuma bahas pelajaran?”. Tanya Elis lagi.
“Eee… iya lis benar, benar”. Jawab Arif sambil mencoba tenang.
“Ya sudah kalau begitu, aku duluan ya rif, Assallammu’alaikum!”.
“Waallaikumsalam”.

Keesokan harinya Arif dan Raymon melanjutkan pembicaraan. Seusai dari parkiran, mereka tidak langsung ke kelas, tapi ke taman.

“Rif, ikut aku ke taman”. Ajak Raymon.
“Memang ada apa?”. Sahut Arif.
“Sudahlah… ikut saja”. Akhirnya mereka sampai di taman.
“Jadi begini. Aku ingin menjelaskan yang kemarin”. Ucap Raymon.
“Oke, oke, apa yang ingin kamu jelaskan?”. Sahut Arif.
“Dengan menghela nafas, Raymon berkata “Terus terang aku mencintai Elis”.
“Apa kau bilang? itu tidak mungkin”. Ucap Arif dengan sedikit kaget.
“Kau jangan bercanda mon, jujur aku juga mencintai Elis”. Tambah Arif.
“O… rupanya kamu juga mencintai dia. Aku tidak bercanda, aku benar-benar mencintainya. Maka dari itu, aku tidak ingin dia begitu dekat denganmu”. Ucap Raymon.
“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita bersaing mendapatkan cinta dari Elis!”. Tantang Arif.
“Aku terima tantanganmu. Elis lebih pantas jadi milikku”. Balas Raymon.
Keduanya tiba-tiba langsung ke kelas dengan berbeda jalan.

Beberapa hari kemudian, sekolah mengumumkan jika semua guru dan kepala sekolah ada rapat, jadi semua siswa diminta belajar sendiri di rumah. Arif pun kini sudah tidak berboncengan dengan Raymon. Dia kembali memakai sepedanya sendiri. Saat ke luar dari parkiran, tiba-tiba ngreng… ngreng… suara sepeda motor Raymon dari arah belakang Arif. Kemudian Raymon mencegah Arif.

“Apa-apaan ini! singkirkan motormu yang menghalangi jalanku ini!”. Bentak Arif.
“Ooo… begitu ya… rupanya kamu terhalangi motorku ini. Sebelumnya aku cuma mau bilang kalau mulai detik ini kita bukan sahabat lagi. Kau sudah aku anggap sebagai musuh. Aku akan menjauhimu selamanya”.
“Baik kalau begitu musuhku. Silahkan kau pergi dari kehidupanku. Anggap saja kita tidak pernah bersahabat”.
“Cukup!”. Tiba-tiba saja suara membentak datang ke arah Arif dan Raymon. Keduanya pun menoleh ke sumber arah itu.
“Jadi selama ini kalian bertengkar di belakangku gara-gara kalian sama-sama bersaing mendapatkan aku”. Ujar Elis dengan berlinang air mata.
“Elis, sejak kapan kau ada disini?”. Tanya Arif dengan sedikit gugup.
“Dari kemarin-kemarin aku memata-matai kalian karena hubungan kalian akhir-akhir ini tidak begitu baik. Maka dari itu, aku cari tahu apa penyebabnya”.
“Lis dengarkan dulu!”. Ucap Raymon.
“Mengapa kalian tega mengorbankan persahabatan kalian cuma gara-gara aku. Asal kalian tahu, sebenarnya aku juga mencintai kalian semua, tapi itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Kalian sudah memberiku inspirasi jika persahabatan itu tidak pandang bulu, baik kaya ataupun miskin. Kalian juga mengajariku berbagi kebaikan satu sama lain. Persahabatan kalian adalah persahabatan terindah yang pernah ada di hidupku. Sekarang kalian tega menghancurkan persahabatan yang indah itu? Kalian begitu kejam!”.

Elis langsung pergi meninggalkan mereka sambil menangis terisak-isak. Arif dan Raymon hanya bisa terdiam dan langsung meninggalkan sekolahan. Sehari kemudian, kegiatan sekolah kembali dimulai. Ketika jam istirahat, tiba-tiba saja
“Raymon, tunggu!”. Teriak Arif dari belakang Raymon.
“Arif, ada kamu memanggilku?”. Tanya Raymon dengan wajah yang masih sedikit tidak suka.
“Ikut aku ke taman sekarang!”. Ajak Arif.
Raymon hanya terdiam sambil mengikuti Arif ke taman. Dan sesampainya di taman,
“Mon, selama ini hubungan kita memang tidak begitu baik. Selama ini kita hanya mengejar keinginan yang tidak sesuai dengan harapan. Persahabatan yang kita mulai dari kecil hancur berantakan. Jujur saja, aku ingin kita seperti dulu. Bisa bersama melewati suka dan duka. Kau adalah sahabat terbaik di hidupku”. Jelas Arif.
“Kau benar rif, aku sebenarnya tidak ingin kehilangan persahabatan kita. Kita sama-sama belajar menjalani kehidupan ini dari kecil. Kau juga sahabat terbaik di hidupku”. Ucap Raymon.
“Kalau begitu maukah kau membangun lagi persahabatan kita?”. Ajak Arif.
Tiba-tiba saja Raymon memeluk erat Arif sambil berkata “Iya rif, aku mau, aku mau membangun persahabatan kita lagi. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah berpisah. Maafkan aku ya rif atas kesalahanku selama ini”.
“Iya rif, aku juga meminta maaf padamu”. Ucap Arif yang juga memeluk erat Raymon. Keduanya pun berlinang air mata. Tiba-tiba saja ada suara tepuk tangan. “Prok… prok… prok…”. Kemudian Arif dan Raymon sama-sama melepaskan pelukan karena suara tepukan tangan itu yang ternyata adalah suara tepuk tangan Elis yang sejak dari tadi mengintai mereka.
“Benar-benar indah sekali. Persahabatan yang sudah gugur kini mekar kembali. Inilah yang aku harapkan dari kalian. Kalian benar-benar luar biasa. Sahabat-sahabat yang istimewa”. Puji Elis sambil tersenyum.
“Lis, maafin kita ya jika selama ini kita punya salah sama kamu”. Ujar Arif.
“Iya lis, maafin kita berdua ya!”. Tambah Raymon.
“Iya, iya, tentu aku maafin sahabat-sahabatku yang istimewa ini”. Ucap Elis.
“Kalau begitu, mulai sekarang kita semua akan terus menjadi sahabat sejati selamanya”. Seru Raymon.
“Ya, aku sangat setuju”. Ujar Arif.
“Kalau begitu, mari kita semua melangkah ke depan menyongsong kehidupan ini”. Tambah Elis.

Akhirnya persahabatan sejati mereka bertiga berlanjut kembali. Persahabatan sejati yang sangat berarti dan menginspirasi. Tiada hari tanpa persahabatan.

SELESAI

Cerpen Karangan: Septian Agus Jatmiko
Blog: blogseptian2.blogspot.com
Cerpen Karangan: Septian Agus Jatmiko
Email: septianjatmiko90[-at-]gmail.com
Twitter: @septian_jatmiko

Cerpen Inspirasi Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roommate

Oleh:
Sinar mentari pagi menelisik ke dalam kamar baru ku, membuat aku terbangun dari tidur yang lelap. Ya, kamar baru, karena aku sekarang tinggal di kota Bandung. Aku sangat bersyukur

Karena Aku Dia Pergi Darimu

Oleh:
Hari-hari yang dulu kujalani sangat suram, sekarang menjadi cerah karena kehadiran mu. justin, kakak kelas XII dia adalah pria yang memikat hatiku saat pertama aku menginjakkan kaki di SMA

Cinta Sahabatku

Oleh:
Pagi ini, seperti biasa aku terbangun pukul 04.30, aku bergegas merapikan perlengkapan sekolah.. Sarapan dan lain lain. Suara motor ninja di depan rumahku, yapps itu rafa, pacarku, aku dan

Aku atau Dia

Oleh:
Pagi hari yang cerah, burung berkicau pohon-pohon menari-nari, ada dua gadis remaja yang sangat cantik duduk di bawah pohon… “Hai kenalin gue Reza” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *