Itu Dirimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 December 2013

Aku ingin seperti merpati, terbang bebas bersama pasangannya. Terbang dan berlabuh bersama, meski pasangannya jauh disana, tapi dia akan setia menunggu dan bahkan mencari pasangannya. Dia tidak akan mencari pasangan lain kecuali pasangannya meninggal. Namun pertanyaan yang menggelitik muncul di benakku sekarang, siapa yang akan menjadi pasanganku?

Rio sahabat terbaikku, sejak SMP hingga di bangku kuliah saat ini. Dia sosok yang periang dan layaknya kakak buatku, lelaki flamboyan yang digandrungi banyak wanita. Baik di kampus maupun di tempat kerja. Rio sudah bekerja.

Sabtu sore..
“Waaah, gak terasa ya uda malam minggu lagi. Ngapelin siapa ya enaknya malam ini? Punya usul gak Ta?” Rio menoleh ke arah ku.
“Siapa aja boleh.” jawabku singkat, acuh karena gak suka aja liat Rio mainin perasaan wanita-wanita itu.
“Sewot.. sewoot…!!! Ta, kamu kok gak pernah ada yang ngapelin sih? gak laku ya? hahaha…”
“Enak aja. Ada lah.. masa iya cewek manis kaya aku gak ada fansnya, hehehe.”
“Tapi gak pernah ngapel tuh. Penakut ya dia.”
“Emang aku nya yang gak mau. Cukuplah lah ketemu di kampus atau telfon dan sms.”
“Gak asyik donk…, gak bisa…”
“Gak bisa apa…? fiktor ya kamu…?”
“Iiih, kamu tu yang fiktor… hahaha. Orangnya gimana Ta? aku kenal gak?”
“Kenal kok. Ntar kalau udah waktunya aku kenalin, oke. Dia itu.. baik, gak sombong, pinter, sopan, oke banget deh pokoknya.”
“Waah… kalah donk aku kalau gitu.”
“Iya bisa jadi.. bisa jadi. Hahaha”

Aku seakan terbang di awang-awang, melintasi katulistiwa, melampaui cakrawala kalau kata syahrini. Dia hari ini menghabiskan waktunya bersamaku, tanpa ada yang mengganggu. Banyak hal gila yang kami lakukan, yang ternyata memang banyak kesamaan antara kami. Kami seakan lupa pada usia kami yang menginjak usia 22 tahun, kami tersulap layaknya anak ABG usia 17 tahun. Masa bodoh dengan bisik-bisik sekeliling kami, buatku aku bahagia hari ini, entah dengan dia.
Terkadang aku merasa bertepuk sebelah tangan, seperti tak ada sambutan yang sama darinya, namun anehnya seakan otakku menepis semua bisikan hati penuh ragu itu tatkala ia ada di sampingku. Syaraf otakku putus tentang takut tak terbalaskan cintaku, memory otakku mendelete semua ketakutan-ketakutan tak berarti, yang ada hanya data-data cinta, bahagia, berdua.

Ini adalah hari spesialku, hari ulang tahunku yang ke-22 tahun. Dia bersamaku, merayakannya. Dia mengajakku ke tempat yang menurutku sangat spesial, sebuah perkebunan teh dengan puncak bukit yang menghijau, tak kuperdulikan lagi jalanan terjal, kuseret kakiku dengan sendal di tangan, ku daki perbukitan teh yang indah. Dipersiapkannya juga kejutan kecil untukku, yang justru dahsyat bagiku. Sebuah boneka lucu berwarna hijau, warna kesukaanku, boneka yang lama kuidamkan. Refleks ku peluk dia, happy.. sangat.

Suatu yang kukira terjadi ternyata tak kunjung juga. Aku kira dia akan mengungkapkan suatu hal yang sama seperti yang kurasakan selama ini, ternyata tidak. Dia hanya menemani hari ulang tahunku, merayakannya bersamaku, mempersiapkan hadiah untukku, titik. Tak ada yang lain. Pupus sudah harapanku untuk memiliki seorang kekasih di usia ke-22 tahun ini. Tangisku pecah sesampainya di kamar, aku merasa menjadi manusia bodoh yang terlalu berharap lebih. Hal yang aku justru tak mengerti adalah perlakuannya kepadaku, perlakuan terhadap orang spesialnya. Aku mungkin bisa saja bertanya kepadanya, tapi tidak kulakukan. Ini cinta pertamaku, aku tak berpengalaman untuk menunjukkan rasa yang kupunya padanya. Jika tak kan sampai impianku, mungkin ada baiknya rasa ini kupendam saja, entah sampai kapan, mungkin sampai membusuk. Tapi, apa bisa kupendam saja, sementara aku hampir setiap hari melihat matanya. Aahh, fikiranku buntu dengan semua ini. Kalau saja besok bukan giliranku presentasi depan kelas, aku cabut dari jadwal kuliah.

Masih dengan rasa malas, ku ayunkan kakiku dengan irama tak menentu. Hingga akhirnya aku menabrak sesuatu, kudongakkan kepalaku, Rio.
“Heh, kenapa sih? jalan kok melamun, kesambut loh.”
“Hmmm..”
“Sariawan ya? atau semalem begadang?”
“Nggak. Lagi males aja.”
“Males kenapa?”
“Nggak tau.”
“Nggak lagi sakit kan? Rio menempelkan punggung tangannya ke keningku.
“Ngaaakk… apa-apan sih!!” Kutepis tangan Rio.
“Ya udah, ntar pulang ikut aku. Sekarang masuk dulu, ada dosen tuh.”
“Iya, dah aku masuk dulu.”

Aku memang banyak teman wanita, tapi tidak semua hal aku ceritakan dengan mereka. Hanya Rio tempat ku mengadukan keluh kesahku, termasuk tentang “dia”. Pulang kuliah Rio mengajakku ke pantai, tempat kami biasa bercerita, tentang apa saja, kuliah, kerja, keluarga, sahabat dan cinta.
“Eh Ta, gimana kabar fansmu, yang sering kamu ceritain itu?”
“Baik.”
“Haa, lagi ribut ya, gak semangat gitu.”
“Nggak tau juga, aku bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Aku bertepuk sebelah tangan.”
“Ah yang bener? mungkin hanya perasaan kamu aja”
“Iya, aku rasa bukan hanya sekedar kata cukup lama kami saling mengenal, bahkan sangat lama, tapi sampai sekarang dia nggak pernah bilang apa-apa, atau mau dibawa kemana hubungan kami.”
“Kamu udah coba tanya, ya biar kamu lega aja. Dari pada gantung gini kan?”
“Gak ah, kamu tau kan ini cinta pertama aku. Mana mungkin aku punya nyali untuk bilang duluan terang-terangan. Tapi, semakin aku pendam, rasanya aku semakin bisa gila.”
“Hhhh, mungkin dia bukan tipe cowok bernyali besar untuk mengungkapkan begitu saja Ta. Karena cowok yang bener-bener sayang sama cewek, gak mudah untuk bilang sayang dan cinta.” Rio mendesah sambil berucap lirih…
“Mungkin ya.., berarti bisa jadi dia sayang banget sama ku Rio.” Mataku berbinar menatap Rio.
“Bisa jadi Ta.”
“Tapi, aku ragu. Dia sebenernya play boy.”
“Oh ya? tanda dia benar-benar sayang sama kamu adalah dengan tetap memprioritaskan kamu, meski punya banyak pacar. Dia gitu nggak?”
“Sepertinya iya, soalnya waktu aku ulang tahun dia kasih kejutan buat aku. Dia ngajak aku ke perkebunan teh, dan kasih boneka idaman aku yang warna ijo itttu…” aku menutup mulut dengan tanganku, refleks. Aku keceplosan saking semangatnya menceritakan dia, wajahku serasa terbakar, mungkin seperti udang rebus, merah.
“Tunggu.. tunggu… maksud kamu, dia itu…?” Rio menatap wajahku yang kurasa sudah berubah seperti bukan wajahku lagi.
“Ehmmm, iya. Dia itu… kamu.” Kemudian aku langsung berlari meninggalkan Rio, aku malu, sumpah. Tak kuperdulikan lagi teriakan Rio memanggilku, tak kuperdulikan lagi tasku yang tanpa kusadari tertinggal.
“Tania…!!!”.
Aku berhenti sejenak dari aksi langkah seribuku, kutolehkan wajah ku ke arah Rio yang sedang melambai-lambaikan tasku, sambil berkata…
“Aku cinta kamu, dari dulu. Selalu cinta Tania, nggak berubah, nggak akan pernah…!!!”
Aku tersenyum sembari air mataku menetes. Langkah lariku semakin cepat, bukan malu lagi yang ku rasa, tapi ah entahlah apa namanya. Aku tersenyum tapi menagis, dari 10 tahun yang lalu kata-kata itu kutunggu, hingga hari ini baru kudengar.

Hatiku berbisik, “iya Rio, dia itu kamu, kamu yang selama ini tempat kubercerita tentang dia, dia itu kamu yang selama ini tempat aku menagis karena dia yang tak kunjung mengucapkan sayang padaku, dia itu kamu yang hari ini mengucapkan sayang untukku.

“THE END”

Cerpen Karangan: U_lie
Facebook: youlie sandy af-faiza
Saya salah seorang mahasiswi disalah satu perguruan tinggi kota lubuklinggau, sumsel.
ini adalah cerpen pertama yang saya kirim di cerpenmu.com, menulis cerpen adalah hobi baru saya.
semoga berkenan

Cerpen Itu Dirimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Not My Older Brother

Oleh:
Aku menatap layar laptopku sembari menghela nafas. Bosan, benar-benar bosan. Minggu, senin, dan selasa. Sudah tiga hari aku bertahan. Perlu berapa lama lagi? Ponselku akhir-akhir ini menjadi lebih ramai.

Semua Karena Nasihat Nasihatnya

Oleh:
Aku adalah orang yang biasa-biasa saja dan lebih biasa diantara teman-temanku. Namaku Alya. Aku hidup sangat sederhana. Walau begitu, aku bersyukur bisa makan dan minum juga sekolah. Tapi, aku

Kamu Itu Teman Ora?

Oleh:
“Halo? Ono opo?” ucapku malas “Hei, La. Lo dimana? ini anak anak udah pada nungguin elo. Lo masih baru bangun ya?” ucap seseorang dari seberang telepon. “Haaa? Astaga maaf

Cinta Yang Tetap Tinggal

Oleh:
Hy sayang, apa kabar? Kau baik bukan. Aku sedang memikirkanmu di sini. Menikmati setiap hembusan angin yang membuat tubuhku menggigil. Apa kau masih ingat? Dahulu kau mencintaiku bukan? Sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Itu Dirimu”

  1. Good Job! Cerpennya bagus dan menarik… terus menulis ya? 😉 (y)

  2. Cahyanaa says:

    Baguss banget ada kejutan nya gitu deh cerpen nya . Jempol deh (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *