Jadi ini Akhirnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 August 2013

Senja pun telah bergulir, berganti pekatnya malam berhiaskan gemintang perak menggantung di hamparan langit hitam. Sirius mulai menampakkan diri ditemani bola kuning bercahaya, rembulan. Drama manusia dikejar jadwal kian melenggang, maklum ini malam minggu waktunya bersantai. Dua cangkir latte menemani kami, ditambah cemilan khas anak muda. Disesapnya lintingan tembakau yang ujungnya telah disulut api, ciptakan asap penat membumbung ke udara. Ia nikmati racun yang menggerogoti paru-parunya.

Malam itu, mata kami begitu terhipnotis oleh sepasang kekasih yang sedang dibuai candu asmara. Mungkin dewa cupid telah ribuan kali memanahkan panah berujung hati itu pada mereka berdua. Begitu mesranya mereka hingga tak menyadari ada dua pasang manik hitam yang sedari tadi mengamati tiap lakunya.
“Sayang, aku senang bisa keluar sama kamu malam ini. Rasanya malam ini adalah malam terindah untukku. Kau begitu cantik, sayang,” rayu si pemuda yang terlihat lebih tua sekitar lima tahun dari kekasihnya. Rona merah pun seketika merebak dari kedua pipi perempuan di hadapannya, bahkan ia sampai meremas-remas roknya sendiri. Entah apa yang dirasakannya. Pemuda itu memang bisa dibilang beruntung bisa membawa perempuan secantik itu nge-date malam ini. Sungguh perempuan itu begitu cantik untuk pemuda seperti dia. Tinggi, kulitnya putih tanpa celah, lesung pipinya yang menggemaskan, ditambah penampilannya yang begitu modis dan bersepatu hak membuatnya semakin terlihat jenjang. Kami pun terkekeh saat pemuda ingin meraih tangan perempuan itu namun gagal. Mungkin perempuan cantik itu begitu pemalu.

“Sialan, cowok model dia aja bisa dapat cewek! Masa iya aku kalah,” umpat Erwin. Aku makin terkekeh. Erwin sudah lama menjomblo, entah karena alasan apa. Aku geli melihat sikapnya yang seperti orang kebakaran jenggot itu. “Liat deh, Win. Cowoknya alay banget,” kataku sambil tertawa. Mata Erwin menghunus tajam pada lelaki itu. Untung pengunjung kafe ini sedang ramai jadi kami bisa berkamuflase, kan gak lucu juga kalau sampai mereka tau aku dan Erwin sedang mengamatinya. Nanti dikira aku sama Erwin iri lagi, aduh gak lucu. “Sayang…, kamu begitu cantik, sayang,” ujar Erwin mencolek daguku sambil menirukan gaya si pemuda itu yang dibuatnya berlebihan. Akupun langsung mengerjap kaget melihat aksi spontannya. Rasanya seperti bukan pujian dari seorang laki-laki kalau Erwin yang mengatakannya, mungkin lebih mirip seorang banci. Aku makin terbahak melihat tingkah laku Erwin.
“Udah sayang, kita pulang aja yuk. Panas disini, masa kita kalah mesra sama tetangga,” godaku membuat akting Erwin semakin menjadi-jadi. Erwin malah menggandeng pinggangku seraya memamerkan pada sepasang kekasih itu saat kami melewatinya. Mungkin mereka menganggap kami ini gila. Kelamaan berteman sama Erwin memang membuatku sedikit gangguan jiwa. Entahlah kami sering bercanda layaknya pasangan kekasih, namun tak pernah ada ikatan yang resmi. Aku pun bingung, dianggap apa aku dengannya. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kami jalani. Awalnya kami berteman berempat, ada Ambar dan Deni. Namun mereka berdua selepas lulus dari seragam putih abu-abu melanjutkan kuliah di luar kota. Tinggallah aku dan Erwin yang masih setia menetap di kota ini.
“Apaan sih, Win? Lepasin tanganmu dong,” ujarku risih.
“Ah, udah deh biarin. Biar kelihatan mesra, sayaaang,” Erwin merajuk manja sambil mengedipkan satu matanya.
“Udah deh, biar apa coba? Lepasin atau aku cubit nih?” ancamku sambil melotot.
“Aduh, sayangku marah nih. Iya deh iya,” jawabnya dengan logat manja seraya melepaskan tangannya dari pinggangku, aku hanya menggeleng, terkekeh melihatnya. Kerasukan setan apa nih anak malam minggu gini, batinku. Kami tahu sepanjang jalan menuju parkiran banyak pasang mata yang melihat kami jijik, ini memang ulah si Erwin yang kelewat gila. Mereka bisa saja mengira Erwin adalah lelaki hidung belang dan aku adalah perempuan gampangan. Memang sinting Si Erwin, gerutuku dalam hati. Asal tau saja Erwin bukanlah lelaki hidung belang, dia lelaki baik-baik hanya kadar humornya yang melewati batas. Jangankan orang asing, teman-teman sekampusku juga banyak yang mengira aku dan Erwin adalah pasangan kekasih maka tak heran jika sampai detik ini kami berdua betah dengan status single. Sejujurnya aku sendiri bosan jomblo, namun apa mau dikata bisa dibilang tak ada lelaki yang mau mendekatiku gara-gara Erwin. Aku tak mungkin marah padanya, karena dia telah begitu baik padaku. Begitu perhatian dan selalu menjagaku seperti adiknya sendiri dan aku mulai merasa nyaman itu semua.

Seperti biasa, Erwin selalu mengantarku pulang setelah kami pergi bersama. Akhir-akhir ini aku merasa Erwin berubah, dia menjadi lebih perhatian, sering mengirim pesan, menjemputku setelah jam kuliah selesai, mengajakku makan. Yah mungkin dia lagi baik kali ya sama aku. Motor yang kami naiki berhenti tepat di depan rumahku. “Makasih ya, Win. Mampir yuk, masih jam delapan nih?” ujarku setelah menuruni motor matic milik Erwin. “Boleh,” Erwin mengiyakan dan kami duduk di teras depan rumahku. Kebetulan malam minggu gini semua penghuni rumah sedang keluar. Mama sama papa biasanya keluar jalan-jalan sendiri, katanya cari hiburan jenuh seminggu memikirkan pekerjaan terus. Yah, beginilah nasib anak tunggal yang selalu kesepian sepanjang hidupnya.

“Mau minum apa? Yang hangat, biasa, apa pake es?” tawarku pada Erwin yang sibuk mengetik pesan singkat di handphone-nya.
“Gak usah repot-repot sayang, kan tadi kita juga udah minum. Duduk aja deh disini, kita ngobrol-ngobrol sayang,” goda Erwin dengan wajah imut yang dibuat-buat. Hampir saja aku lempar sepatu flatku padanya kalau saja aku tidak ingat dia telah mengantarku pulang malam ini.
“Erwin! Udah dong bercandanya. Jadian beneran syukurin lho!!” bentakku asal.
“Hehehe, iya ya kita bercanda terus kapan jadiannya ya?”
“Gara-gara kamu nih, Win kita berdua jadi kelamaan jomblo,”
“Kok bisa? Ada yang salah ya?”
“Iya lah, anak-anak tuh ngira kita jadian,”
“Eh gitu ya, ya udah kita jadian beneran aja yuk?”
“Ngaco, males ah. Bercanda terus deh anak ini”
“Kalau aku sayang beneran sama kamu gimana? Kita pacaran?” Deg. Jantungku seperti berhenti sejenak mendengar ucapan itu dari mulut Erwin. Kami berdua kemudian saling membisu seperti baru saja mengeluarkan kalimat terlarang. Kikuk. Suasana berubah menjadi kaku. Apa Erwin berharap padaku? Apa selama ini semua perhatiannya itu ada niat tersendiri yang tak pernah aku sadari?

Terlalu lama bungkam membuat Erwin memutuskan pulang, meninggalkanku sendiri dengan satu pertanyaan yang tak mungkin ku tanyakan padanya malam ini. Apakah dia serius atau tidak? Selama berteman dengannya sungguh hal tersulit adalah membedakan antara omongan Erwin yang serius dan tidak. Gayanya yang tak pernah serius membuat kami berempat suka bingung sendiri. Yah, seperti malam ini aku dibuatnya bingung. Nanti kalau aku anggap dia bercanda ternyata dia serius kan kasihan Erwin. Pasti dia kecewa, dikira aku manusia yang gak punya hati. Tapi kalau sebaliknya, berarti sama saja aku menganggap Erwin memberiku harapan palsu, sama saja aku berprasangka buruk padanya. Sebenarnya mudah saja tadi aku bilang ‘iya’, toh selama ini aku nyaman bersama Erwin. Tapi kalau dia Cuma bercanda aku kan bisa malu berat, ketangkap basah kalau aku berharap lebih padanya. Aduh, bagaimana ini?

Semalaman aku tak bisa tidur, aku terjaga dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ku jawab sendiri. Entah sudah berapa putaran aku berjalan mengelilingi pinggiran ranjangku yang belum ku sentuh sedikitpun, padahal jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam. Handphone-ku bergetar, ada pesan singkat masuk. Erwin. Ia menanyakan apakah aku sudah tidur apa belum. Degup jantungku seakan terpacu seperti genderang perang. Kenapa ini? Kenapa aku begitu gugup? Aneh. Ku balas pesan singkat itu, ku katakan bahwa aku belum tidur. Apa dia akan menertawakanku kalau tau aku masih terjaga selarut ini gara-gara memikirkan omongannya tadi? Apa dia mengerjai aku? Handphone-ku bergetar lagi, lama, sebuah panggilan masuk. Tertera nama Erwin di layarnya. Lama ku biarkan layar itu berkedap-kedip, aku gugup. “Ha.. hallo, ada apa, Win?” tanyaku canggung, susah payah aku menekan degup jantung ini agar tidak terdengar oleh seseorang di seberang sana.
“Hm.., gak ada apa-apa sih. Kamu kok belum tidur, Net?”, tanyanya dengan nada perhatian. Astaga, yakin anak ini malam-malam telepon cuma buat menanyakan kenapa aku belum tidur? Jangan-jangan anak ini bener-benar kerasukan atau tadi pagi dia salah makan obat. Tak bisa ku sangkal lagi jantungku berdegup makin keras dan seulas senyumpun tersungging di antara kedua bibirku. Aku masih terdiam, menikmati kejadian dan rasa aneh yang diam-diam menyusup ke dalam hatiku. Sungguh aku tak pernah mengharapkannya seperti ini, aku tau dia begitu peduli denganku tapi aku tak pernah menduga ia akan menelponku seperti ini. Hingga suara Erwin menganggetkanku.

Acara telepon malam-malam itu praktis membuat mataku makin terjaga. Setengah jam sudah aku berbincang dengannya sampai baterai handphone-ku terasa hangat di pipi. Mulai dari bercanda, saling ejek, sampai ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, selalu saja ada yang bisa diobrolkan. Mulutku rasanya telah berbusa menanggapi semua ucapannya, tapi tak apalah aku senang. “Udah tengah malam, Net. Kamu tidur ya, gak baik anak cewek tidur kemaleman,” ujarnya lembut. Sebenarnya, berat untuk mengiyakan permintaannya. Aku tak mengapa mengobrol denganmu sampai Subuh pun, Win, batinku. Tapi dia benar juga, bisa-bisa besok aku bangun tepat saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun dan mama akan ngomel seharian karena anak gadisnya tidur gak tau waktu. “Good night, Janet. Have a nice dream”, kalimat terakhir Erwin sebelum sambungan telepon seluler ini diputus olehnya. Malam ini, aku pasti akan tidur dengan senyum seperti orang mabuk. Yah, dimabuk cinta atau apalah namanya.

“Net, aku mau ngomong sesuatu,” ujar Erwin pada sebuah saluran telepon, tepat dua puluh empat jam setelah kejadian yang membuatku hampir insomnia itu. Apa sekarang Erwin akan menyatakan perasaannya? Mengatakan tentang rasa itu, tapi mengapa harus lewat telepon seperti ini? Seperti anak ABG yang baru dimabuk cinta, menyatakan perasaan secara tidak langsung karena takut hal buruk di luar dugaan akan terjadi. Mungkin tidak, Erwin itu dewasa mana mungkin dia melakukan hal sebodoh itu. Aku menjadi gugup lagi, menanti apa yang akan dikatakannya sebentar lagi.
“Aku cuma mau bilang mending kita sahabatan aja terus, aku gak mau ntar kita jadi musuhan terus gak mau berteman lagi. Aku senang punya teman kayak kamu. Kita gak usah macam-macam, cukup seperti ini aja ya. Di luar sana pasti banyak yang suka sama kamu, banyak yang nungguin kamu,” jelas Erwin panjang dan di luar dugaanku. Aku sulit mencerna tiap kata yang diucapkannya, seperti kata-kata asing yang aku tak begitu mengerti maksudnya apa. Buat apa orang lain di luar sana suka sama aku kalau yang aku suka itu kamu, Erwin, batinku geram. Aku hanya bisa terpaku mendengarkannya, bukankah kemaren dia begitu baik padaku? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Apa aku salah ngomong kemarin? “Maaf, Win. Maksud kamu? Aku gak ngerti kamu lagi ngomong apa?” tanyaku lugas. Mendadak aku menjadi geram padanya. Dia bukan lagi remaja putih abu-abu yang bisanya labil, dia harusnya telah bermetamorfosa menjadi lebih dewasa. Tidak sedrastis ini berubah.
“Aku cuma mau menjaga persahabatan kita berempat, yah mungkin Ambar sama Deni ada di luar kota, jauh. Tapi gak seharusnya kita ngerusaknya kan? Maaf ya, kemaren aku ngomong macam-macam ke kamu. Aku pengen jagain kamu, Net. Jagain kamu sebagai seorang sahabat yang bakal jadi selamanya. Itu yang aku pengen,” jelas Erwin dan hatiku pun rasanya bagai diterbangkan ke angkasa kemudian sekarang di banting ke dalam inti bumi. Apa aku berhak marah dengan Erwin? Erwin yang mempunyai niat sebaik itu padaku? Apa rasa ini sudah salah tumbuh?
“Makasih ya, Win. Aku tahu kamu memang cowok baik. Kamu benar. Win, maaf ya aku lagi banyak tugas. Lain kali kita ngobrol lagi ya,” jawabku mengakhiri sambil menekan tombol merah handphone-ku. Seketika itu juga air mataku meleleh membasahi kedua pipiku. Apa aku kecewa? Apa selama ini tanpa aku sadari telah menyimpan harapan pada sahabatku sendiri? Aku bingung. Jadi selama ini, inilah yang aku tunggu. Jawaban dari semua perhatian dan kepedulian Erwin, semua candaannya. Lalu sekarang aku harus seperti apa terhadap Erwin?

Cerpen Karangan: Asri Nur Aisyah
Facebook: https://www.facebook.com/asri.n.aisyah
Twitter: @asrinura (difollow ya, klo mention pasti follback 😀 )
makasih sudah baca cerpen ini 🙂

Cerpen Jadi ini Akhirnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kota Mati

Oleh:
Udara ini berubah di kota mati Seperti kisah masa lalu Kini membisu Sialan. Sebuah lagu terputar di handphone kunoku. Lagu yang sudah setahun belakangan ini kuhindari. Iya, lebih baik

Duo Galau

Oleh:
Pukul 12 siang adalah jam kritis bagi setiap orang. Seperti yang terjadi di dalam sebuah kelas pada perkuliahan. Semua sudah mulai grusah-grusuh melirik ke arah jam. Tampak sepasang manusia

Sahabat Sejati Tak Sejati

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Namaku Ulfah, aku seorang anak perempuan yang sangat suka dengan kata Sahabat. Tapi selama enam tahun di Sekolah Dasar

To Whom May It Concern

Oleh:
Tak habis pikir aku merasakan tak enaknya menjadi pengangguran intelek. Kau tahu pengangguran intelek itu apa? Ya, seorang sarjana muda yang tidak punya pekerjaan. Peraih predikat terancam cumlaude saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jadi ini Akhirnya”

  1. chyllow april rusmana says:

    waaahhh . cerpennya bagus .. apalagi nama tokoh cowok di cerpen ini .. hihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *