Jalan Pintas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Ketika pagi tengah merayap merambati hari, saat itulah aku dan Amin bergegas pulang ke kampung halaman. Kampung: indah dan umum sekali kedenggarannya. Senang rasanya, setelah setahun lamanya kami tinggal di kota dengan menyewa sebuah kos-kosan, kami pun kembali ke kampung halaman. Kami membersihkan dan merapikan kosan terlebih dahulu sebelum kami pulang, tentu juga kami tak lupa berpamitan dengan ibu kos, seorang janda muda berkulit putih, berparas cantik, dan berhati mulia.

Di dalam bagasi, Amin sahabatku menggeber gas motor butut peninggalan kakeknya. Dengan pakaian terbaik, kami berangkat. Ibu kos cantik itu berdiri di depan garasi mengamati kami dan berteriak,
“Da… da… sampai jumpa!”.
“Sampai jumpa juga ibu kos…” teriak kami membalik wajah membalasnya.

Perjalanan ini sungguh sangat menyenagkan. Seumur-umur baru kali ini kami menaiki motor butut bersama dan menempuh jarak yang jauh, sungguh jadul! Di perjalanan, tak jarang kami singgah untuk mengabadikan keindahan alam dengan kamera ponsel sederhana yang aku punya. Di jalan berbatu dan sepi kami harus turun dari motor dan mendorongnya, ketika motor butut peninggalan kakeknya itu mogok.

“Kamu yakin, Min? Kita akan mendorong motor ini?”
“Yeah… mau diapalagi broo, sabarin aja lagi pula kampung kita udah dekat nih”.
“Iya juga sih… yang penting kita pulang kampung broo.” sahutku ke Amin, sambil mendorong motor.

Tiba-tiba di perjalanan Amin yang mendorong di depanku berhenti.
“Ada apa Min? kenapa kamu berhenti?”
Amin terdiam sejenak. Dan melihat ternyata ada dua jalan.
“Seingatku setahun yang lalu ngak ada jalan bersimpang seperti ini!” Kata Amin meragu.
“Kenapa kita tidak melanjutkan perjalanannya sekarang? Kalau kamu yakin kampung kita udah dekat, kenapa kita tidak jalan saja?” tanyaku sambil mendekati Amin.
“Aduh, gimana nih… aku juga lupa jalannya. Kita kan sudah lama nggak pulang ke kampung, jadi mana aku tahu mana jalan yang benar!”
“Aduh, bagaimana ini? bisa-bisa kita tersesat!” sahut Amin sangat khawatir.
“Kita jalan lurus saja. Aku juga ngak ingat jalan ke kampung kita yang mana!”.
“Baiklah, kita jalan lurus ke depan saja! semoga keberuntungan di pihak kita!”
“Ya… semoga ini jalan yang benar!” ucapku sambil mendorong motor di belakang Amin.

Setelah lama berjalan dan hari mulai sore, Kami baru tersadar bahwa tempat kami berjalan adalah jalan hutan yang dipenuhi pepohonan besar. Kicauan burung terdengar di mana-mana. Kelinci kelinci hutan berlarian kesana kemari. Mereka merasa bebas hidup di dalam hutan yang masih alami. Kera-kera pohon pun bergelayutan dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. Kiri, kanan kami lihat banyak pohon-pohon yang besar dan berdaun lebat!”.

Sambil mendorong motor butut peninggalan kakek Amin, Untuk sekedar menghibur diri seringkali kami melayangkan pandangan kesekitar jalan yang kami lalui dan melihat keindahan hutan yang masih terjaga kelestariannya ini.
“Mungkin para penebang liar belum tiba di tempat ini,” kata Amin, sambil memandangi keindahan hutan ini.
“Memang harus kuakui kalau hutan ini berbeda dengan hutan lainnya yang pernah kita datangi.”

Melintasi hutan dengan pemandangan yang hijau adalah hal yang paling mengasyikkan. Dimana kita bisa melihat bagaimana kehidupan para penghuninya. Namun ketika matahari lelah dan mulai memejamkan matanya, Kami pun telah merasa sangat lelah setelah berjam-jam mendorong motor.

“Dari tadi kita mendorong motor ini, kita juga tidak melihat ujung hutan ini. Mungkin kita sudah tersesat Ibnu!” ucap Amin memandangiku dengan wacah putus asanya.
“Ahh… jangan putus asa gitu dong! Ayoo, kita lanjutin perjalanan ini…!” kataku menyemangati Amin.
“Tapi Ibnu…”
“Ahh… ya udah, aku ninggalin kamu di sini aja yaah… keburu malam nih..!” ujarku memotong perkataan Amin.
“Jangan… Jangan… tunggu aku Ibnu!!!”.
“Ayoo cepat sini…!”

Setelah berjalan jauh sambil mendorong motor butut peninggalan ini, akhirnya kami bisa keluar dari hutan yang dipenuhi pepohonan yang lebat itu. Dan jalan yang kami lewati pun sudah tidak ber batu-batu lagi, melainkan aspal.
“Alhamdulillah Ibnu, akhirnya kita bisa keluar dari hutan itu, saya fikir kita sudah tersesat tadi”
“Ya… syukurlah kita bisa keluar, dan jalanan yang kita tempati sekarang sudah tidak berbatu-batu lagi”.
“Haha… kalau begitu kita dorong saja motor ini terus. Mungkin di depan sana ada pombensin.!” Seru Amin mendorong motor ini dengan semangat.
“Ayo… kita dorong!!!” ucapku dukung Amin.

Tak lama mendorong, akhirnya kami berada di pemukiman warga. Tak jauh kami mendorong, kamipun melihat pom besin dan segera membeli bensin. Setelah motor Amin yang mogok diminumkan bensin, akhirnya bisa menyala kembali.
“Brooomm… bum! bumm… brooomm…”
“Brooommmm…! buum…!”
Raungan motor butut itu menandakan dia siap untuk dikendarai.

Kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali ke kampung. Di perjalanan kami menyadari ternyata hutan yang kami lintasi tadi adalah jalan pintas menuju ke kampung halaman kami. Setelah berkendara cukup lama dan azan shalat Isya berkumandang kami pun singgah untuk shalat berjamaah di masjid. Di majid kami juga beristirahat sejenak. Setelah beristirhat setengah jam, kami melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

Setelah satu jam perjalanan, Akhirnya kami sampai di kampung halaman kami dengan selamat. Amin mengantarku sampai di depan rumahku. Aku menyerunya untuk menginap di rumah, tetapi ia menolak dengan alasan ia ingin segera bertemu dengan orang tua yang ia rindukan. Sampai di rumah, aku mengetuk pintu dan aku pun disambut dengan gembira oleh kedua orangtua dan adikku. Aku sangat bersyukur masih bisa dipertemukan dengan keluarga dan kembali ke kampung halaman.

Cerpen Karangan: Ibnu Rahmatullah
Facebook: Ibnu Rahmatullah
Siswa SMAN 2 Barru. Angkatan 7 (A7LAS).

Cerpen Jalan Pintas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry Ya Mblo

Oleh:
Setiap pulang kampus Caca memilih jalan memutar. Dia paling males ketemu sama 3 cowok nyebelin itu! Ketika Caca melintas di hadapan mereka, 3 cowok itu pasti bilang “penjaga gawang

Pacarku Tetanggaku

Oleh:
Setelah putus dengan Arkan, aku kembali menjalani hari-hariku dengan kesendirian dan penuh kesepian. Hari ini aku kembali berjalan sendiri menuju sekolahku. Jarak antara rumahku dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Kisah Cinta

Oleh:
Hujan. Ya! Tak asing lagi. Yang datang menyapa secara tiba-tiba. Banyak hal yang bisa terjadi. Aku sering mendengarkan kisah cinta romantis kala hujan. Jujur saja aku pernah merasakan cinta

Sebesar Biji Zarah

Oleh:
Waktu menunjukkan bahwa senja segera tiba. Di ruangan sederhana, terlihat jelas barang-barang berserakan, sudah, sangat tidak beraturan. Menggambarkan sang pemilik ruangan, persis. Belum terlalu gelap saat itu, biasan cahaya

Rasa

Oleh:
Ketika itu, ia berada di ujung jalan yang berbeda denganku. Kita belum saling mengenal. Kita tak saling menyapa. Dari jauh kupandanginya dengan tatapan sinis karena gayanya yang sombong. Sombong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *