Jangan Diam Diam Suka, Sahabatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 August 2015

Pagi mulai tiba, kicauan burung pun ikut meramaikannya tak lupa pula embun pagi dan udara sejuk yang membuat pagi ini terasa indah. Aku mulai terbangun dari tidurku, kulangkahlan kaki menuju kamar mandi setelah itu bersiap-siap untuk sekolah. Tak terasa kini telah pukul 06.45 waktunya aku berangkat.

Kini aku telah tiba di sekolah, ku masuki lorong-lorong sekolah. “masih sepi” gumamku dalam hati.

Hari pun makin siang murid-murid telah ramai berdatangan termasuk sahabat-sahabatku. Kringgg, kringgg, kringg bel masuk telah berbunyi. Seluruh murid termasuk aku pun mulai memasuki kelas.

Hari ini adalah jam pelajaran PKN, karena hari ini guru PKN enggak masuk jadi kami hanya diberikan tugas. Dari awal aku mengerjakan tugas aku mulai tidak konsen, karena sedari tadi Afra temanku bergurau dengan Pratama. Karena tugas yang aku kerjakan telah selesai dan malas akhirnya Afra aku ganggu.

“Cieee ekhem dari tadi bercanda mulu..” ucapku dengan isengnya.
“Isss Alina apa-apaan sih?” Afra dengan malu-malu menoleh ke arahku.
“Cemburu ya?” jawab Pratama.
“apa-apaan sih enggak tuh,” jawabku dengan nada sedikit alay.

Kring.. kring.. kring.. kring bel tanda istirahat mulai berbunyi membuat seluruh murid di kelasku panik karena tugas mereka belum selesai. Dengan tenangnya aku mengumpulkan tugas disusul oleh sahabat sahabat dekatku. Aku, Hilda, Tya, Shara, Dhila dan Afra pun berjalan bersama menuju kantin.

“Pesan apa?” Tanya Hilda saat kami telah tiba di kantin dan duduk di bangku kosong di kantin.
“Nasi goreng” jawabku dan Dhila bersamaan.
“Aku bakso” jawab Tya, Shara, Afra dan Hilda
“Minumannya teh ya..” ucapku.
“Oke” jawab mereka kompak.

Setelah selesai makan kami pun menuju kelas, saat hendak menuju kelas aku melihat Pratama sedang berada di ruang guru. Kulirik Afra tengah melihat Pratama dengan sedihnya.

“alina anterin ke koperasi yuk..” ucap Dhila.
“Ayoo..” jawabku.

Lama kami berada di koperasi hingga bel masuk berbunyi. Aku dan Dhila pun bergegas menuju kelas. Saat pelajaran dimulai Hilda berkata padaku bahwa Pratama menyukaiku. Namun aku tak percaya karena biasanya Hilda sering menggangguku.

3 hari pun berlalu, kini di antara persahabatan kami sepertinya berubah. Afra tak seperti biasanya ia sering marah padaku seperti ada dendam dalam dirinya. Kini aku, Hilda, Shara, Dhila dan Tya tengah mengobrol Hhilda berkata padaku. “Alina kamu tahu enggak Afra itu marah sama kamu karena Pratama naksir kamu.” Ucap Hilda.
“Kok Afra gitu banged sih..” ucap Shara dengan nada marah.
“Apa Afra diam-diam suka dengan Pratama?” Tanyaku dalam hati.

Ucapan Hilda membuatku bingung dan bertanya-tanya. Saat hendak menuju kelas aku mendengar ucapan Afra yang membuatku sakit hati dan melabraknya. Keributan mulai terjadi hingga membuat kami berdua memasuki ruang BP.

Di ruang bp adu mulut pun mulai terjadi. Saat ditanya oleh kepala sekolah dan kepala sekolah meminta bukti aku diam mematung. Tiba-tiba Tya datang membawa tape recorder. Saat itu kepala sekolah berserta guru-guru yang lainnya mendengarkan tape recorder Afra mulai panik, bahkan saat mengelak pun ia tetap bersalah. Saat itu guru pun memberikan surat dan bertanda stabilo merah yang berarti orangtua harus dipanggil.

Setelah terbukti aku tak bersalah aku pun mulai ke luar dan menghampiri teman-temanku yang dari tadi menunggu di luar. Rasa ceria dan gembira aku pun mengghampiri teman-temanku.

Saat aku tengah asyiknya mengobrol karena aku terbukti tak bersalah Afra lewat di depanku, kukejar Afra hingga aku pun mulai menghadangnya. Aku pun mulai bertanya padanya.

“Afra.. kamu kenapa enggak bilang sih kalau kamu suka sama Pratama?!” Tany ku dengan nada heran. Afra tetap diam mematung tanpa suara sedikit pun.
“Kamu diam-diam suka ya Afra.” Ucapku
“Ak-ak-aku..” ucap Afra dengan terbata-bata. Ia tahu bahwa di dalam persahabatan kami tidak boleh diam-dian suka.

“Jujur saat mendengar Pratama menyukaimu, aku mulai marah padamu. Namun aku sadar aku salah. Aku tak pantas melakukan itu.” Ucap Afra.
“Afra.. kamu kalau suka bilang lagian aku sama sekali enggak suka sama Pratama” jawabku.
“Iya karena sakit hati aku begini..” jawabnya.
“Sudah, yang harus kau tahu, kau jangan diam-diam suka Afra sahabatku.” Ucapku sambil menenangkan Afra.

“Aku salah menilaimuku kira kau tak sebaik ini. Saat di ruang bp ku kira kau mendendam namun aku salah. Kau adalah sahabat terbaikku Alina.” Ucap Afra sambil memelukku.
“Lain kali kau jangan diam-diam suka sahabatku.” Ucapku lagi. Afra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini Afra tak lagi diam-diam suka, saat ia menyukai seseorang, ia selalu cerita. Di antara kami ada ucapan yang kami selalu ingat. Di mana saat kita menaksir seseorang janganlah kita diam-diam suka.

Cerpen Karangan: Belinda Dwi sukma putri
Facebook: Belsa Putriie

Cerpen Jangan Diam Diam Suka, Sahabatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kencoran Squad

Oleh:
Suatu hari di sekolah, Praaya, Ridho, Farel, Nada dan aku telah mengambil bekalnya masing-masing. Dan mereka pun pergi ke aula untuk makan bersama. “oi! kalian inget gak, hari ini

Kamu, Aku, Dia Adalah Kita

Oleh:
Bila waktu mempertemukan kita lebih awal mungkin aku yang akan menjadi sahabatmu yang pertama. Tapi, tak apa lah aku tetap menyayangimu dan begitu pula mereka. Alsya adalah anak yang

Inspirasi Sahabat

Oleh:
Arif dan Raymon adalah dua anak manusia yang menjalin persahabatan sejak kecil. Mereka saling mengenal saat masih duduk di bangku kelas 1 SD. Latar belakang kedua anak ini berbeda

Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

Sahabat Atau Lebih

Oleh:
“Kamu mau nggak jadi pacarku?” kata-kata itu masih terdengar jelas di telingaku dan terus berputar-putar di kepalaku dan seakan akan mengganggu sistem kerja otakku, atau mungkin aku yang bersikap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *