Janji Tahun Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 August 2017

Asap putih keluar dari dalam kopiku. Menandakan kalau kopi ini masih panas. Dan secara tidak langsung memerintahkanku untuk menunggunya sedikit lebih lama agar dingin dulu baru bisa meminumnya. Tapi pada saat ini hal itu tidak berlaku sama sekali. Dinginnya hujan mengalahkan panasnya kopi ini. Saking dinginnya malam berhujan ini, badanku yang sudah diselimuti jaket tebal, tetap saja terasa tertusuk-tusuk oleh jarum es. Walaupun begitu tetap saja aku belum mau mengusik kopi ini sama sekali.

Pandanganku hanya terpaku menatap pantai melalui jendela kaca kafe ini. Gerombolan orang yang berada di pantai sekarang sudah tiada lagi. Mereka samua dipaksa bubar oleh hujan yang datang secara medadak. Sepertinya perayaan malam tahun baru yang biasanya dihiasi oleh hujan kembang api, sekarang akan berganti dengan hujan yang sesungguhnya. Dan hasilnya kafe yang semula lengang, menjadi penuh oleh gerombolan orang-orang yang ingin menghangatkan diri. Dan sialnya aku juga termasuk dalam gerombolan orang-orang ini.

Detik demi detik jam tanganku terus berjalan. Mungkin seperti inilah rasa bosan karena menunggu. Mungkinkah mereka tidak akan pernah datang? apa mereka sudah melupakan janji yang mereka buat itu? Pikirku. Semua pertanyaan itu terus bermunculan di dalam otakku, berkecamuk tak menentu dan semakin membuat malam ini terasa semakin dingin. Jika sudah seperti ini aku hanya memilin-milin rambut panjangku dengan jari, untuk sekedar membuang rasa bosanku.

“Kita akan berkumpul kembali di sini, untuk bertemu. Kita akan bertemu setiap malam tahun baru.” begitulah bunyi janji kami. Aku sangat ingat sekali akan janji tersebut, yang diucapkan oleh salah satu temanku saat itu. Tentu saja kami semua mengiyakan janji yang dibuat ketika liburan kelas untuk merayakan kelulusan kami dari SMA. Lima tahun janji ini berjalan. Memang pada tahun pertamanya janji ini melihatkan keampuhannya. Namun semakin lama sebuah janji dibuat semakin lemah pula kekuatannya. Dan semakin bertambah tahun demi tahun semakin usanglah janji tersebut. Kemudian itu terbukti pada tahun lalu. Semua temanku tidak datang sama sekali. Mereka semua berkilah bahwa mereka memiliki urusan lain, seperti urusan keluarga, ada acara keluarga atau sedang ada kerjaan. Mereka tidak lagi menepati janji mereka. Sekarang kekuatan janji itu sudah hilang, benar-benar hilang tak berbekas sama sekali.

Aku ingat sekali seperti apa malam pergantian tahun 2016. Mereka, teman-temanku tidak ada satu pun yang datang. Mereka hanya membuatku lelah menunggu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa kulupakan pada saat itu. Apu pikir hanya aku sendiri yang mengalami. Tetapi tidak, seseorang juga memiliki nasib yang sama denganku.
Aku sangat ingat sekali. Laki-laki itu berdiri mematung memandang laut yang gelap. Sekilas aku lihat, dia seperti orang yang pernah aku kenal. Jadi kuputuskan untuk menghampirinya dan melihat dia dalam jarak dekat. Tidak, tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya, pikirku. Walau aku sudah sedekat ini, dia juga tak terusik dengan keberadaanku.

“Kau menunggu seseorang?” tanyanya membuatku kaget.
“Ehm” anggukku kecil memberikan jawabnya padanya “teman-temanku.”
“Apa mereka akan datang?” tanyannya lagi.
“Sepertinya mereka tidak akan datang.” simpulku.
“Kamu?”
“Sama, aku juga sedang menunggu.”

Setelah obrolan singkat itu, tidak ada lagi perkataan yang keluar dari mulut kami berdua. Kami benar-benar terdiam mendengarkan ratusan suara orang yang sedang berkicau di telinggaku dan suara deburan ombak menghempas pantai. Jika dari obrolan sebentar tadi aku menilainya, maka aku mengangap laki-laki ini adalah orang pediam. Itu terbukti karena dia tidak begitu banyak bertanya padaku. Beda dengan setiap orang yang aku temui selama ini.

Tapi terlepas dari sifat pendiamnya itu, dia adalah orang yang sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol. Memang baru sebentar kami bertemu, tetapi dia begitu akrab denganku. Sehingga dia dengan mudah mengatakan semua yang dipikirkannya padaku, dan begitu juga aku. Karena hal itulah obrolan kami berdua ini lebih terlihat seperti curhat.
Tentu saja aku mengatakan padanya tentang kekesalanku, karena teman-temanku tidak dapat menepati janji mereka. Tetapi yang membuat aku tertarik adalah curhatannya padaku. Dia berkata padaku, bahwa sebenarnya dia tidak tahu sedang menunggu siapa.

“Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang aku tunggu.”
“Kenapa?” tanyaku meminta penjelasan. Dia menjelaskannya padaku, bahwa sebenarnya dia sering melupakan seseorang, jika dia tidak bertemu dalam waktu yang lama. Hal itu sering mengganggunya. Karena itulah dia tidak tahu siapa yang akan datang.
“Sudah pernah bertanya ke dokter?” tanyaku padanya. Dia hanya menganguk kecil sambil tersenyum tipis di wajahnya. Kembali dia melanjutkan ceritanya, mengupas lebih dalam tentang kekurangannya. Yang lebih membuatku tertarik dengan kekurangannya ini adalah dia hanya melupakan orang. Atau lebih tepatnya, dia hanya melupakan tentang orang-orang yang berada di sekitarnya saja. Yang dia luapakan dari mereka seperti siapa nama meraka dan seperti apa wajahnya. Kekuranganya memang aneh, tapi bagituku sangat unik dan membuatku tertarik padanya.

“Sepuluh… sembilan… delapan…” teriak semua orang menghitung dengan jarinya. Hanya hal itu yang dapat menghentikan obrolan kami berdua. Semua orang baru saja menghitung mundur untuk menuju tahun baru. Terlebih lagi ini adalah momen yang sangat aku tunggu saat tahun baru.
“Tiga… dua… satu..” suara terompet bergema di seluruh tempat. Disusul oleh puluhan kembang api yang meluncur dari tempat persembunyian mereka. Terbang membentuk garis cahaya indah di langit, kemudian meledak membentuk bunga mekar yang begitu indah dipandang mata. Ledakan-ledakan cahaya di langit sudah sangat cukup untuk mengalihkan perhatianku. Tanpa aku sadari orang yang mengobrol denganku sudah tidak ada lagi di sampingku. Tanpa basa-basi dia menghilang begitu saja. Belum sempat aku berkenalan dengannya.

Sudah satu tahun sejak saat itu. Jarum jam terus begerak dan menunjukan pukul setangah sebelas malam. Sepertinya janji itu memang sudah tidak ada lagi. Mungkin sudah saatnya melupakan semua janji tersebut, seperti teman-temanku. Bukannya aku menyerah tanpa usaha, tapi semua usahaku selama ini tidak membuahkan hasilnya. Aku selalu menghubungi semua temanku yang terikat janji. Sekedar mengingatkan mereka tentang janji yang kami buat. Tapi semuanya sia-sia, mereka seperti ditelan oleh bumi. Hilang tak berbekas.

Foto kami sekelas inilah yang menjadikan obat kekecewaanku. Aku selalu menyusuri setiap wajah mereka di foto ini. Sekedar mengingatkanku pada teman-teman yang sekarang sudah terpisah jauh. Memulai dari sisi kiri lalu kanan, aku selalu melihat wajah mereka dan mengingat namanya. Aku sangat mengingat wajah dan nama mereka, walau sudah dalam hitungan tahun tidak bertemu dengan mereka. Namun jariku terhenti pada seorang siswa di foto ini.

“Boleh aku duduk” minta seseorang padaku. Aku mengiyakannya dengan senyum pada laki-laki yang basah oleh hujan tersebut. Dia melihatku dengan penuh heran di wajahnya.
“Apa kita pernah bertemu atau kenal?” tanyanya padaku. Tapi aku tetap membalasnya dengan senyumanku.
“Namaku Kirana Elma Putri” menjulurkan tangan padanya.
“Namaku Arianto Mulyana” kenalnya, menjabat tanganku.

Mungkin janji itu telah usang dimakan waktu. Akan tetapi janji itu terus berjalan seiring waktu, hanya saja janji tersebut terkikis oleh lupa. Dan aku bersyukur janji tersebut terus berjalan sampai saat ini. Hanya aku saja yang tidak menyadarinya.

Cerpen Karangan: MHI

Cerpen Janji Tahun Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat atau Cinta?

Oleh:
Pagi yang mendung, aku segera merapikan dasiku. yang ber-motif kotak-kotak warna biru. dangan kemeja berompi kotak-kotak biru, dan rok di bawah lutut kotak-kotak biru juga. Di rompi nya terdapat

Antara Aku, Kau dan Dia

Oleh:
Kriiinggg!! Bel tanda istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar kelas, tetapi tidak denganku… aku masih terdiam di kelas sambil memandangi awan di luar jendela dan membayangkan masa-masa yang pernah

Luthfi Arrahman

Oleh:
Aku cepat-cepat meraih tasku, “nggak makan dulu, Anya?” tanya Mama yang sedang mengoles roti dengan selai “Nggak sempat, Ma, sudah telat, Anya pamit ya, assalamu’alaikum” aku setengah berlari menuju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *