Jauh Lebih Dekat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 December 2018

Sahabat? Apa itu sahabat?. “Astrid ayo ke kantin, nulis mulu lu, udah waktunya istirahat nih” menarik tangan astrid dan berjalan keluar “iya bentar azam” menutup buku dan memasukkan buku ke tas. “ayo lama amat lu, gua udah laper nih mau makan, belum sarapan di rumah” sahut Ziran yang pura-pura memegang perutnya keasakitan “iya, ayo”.

Azam dan Astrid bersahabat sudah lama sejak kecil rumah mereka berseberangan rumahnya Azam dan Maura XI IPS 2, Astrid dan Ziran XII IPA 1.

“oiya 3 minggu lagi liburan akhir semester, mau pada ke mana?” sahut Maura sambil mengunyak makanan yang berada di mulutnya “belum ulangan, udah pikir ke liburan aja” jawab Azam yang meminum es yang ada di tangannya “nggak papa sekalian pikirin aja jadi liburan langsung pergi, ya nggak?” jawab ziran naik turunnya alis yang tebal itu “boleh juga tapi jangan lupa ulangannya dipikirin juga seminggu lagi loh” sahut Astrid mencerahkan Maura dan ziran “oke ibu yang cantik” jawab Ziran senyum miring sambil menghormat ke Astrid layaknya bendera merah putih. “gua punya ide, gimana kalau ke gunung” jawab Azam yang nyengir-nyengir “oke” jawab bareng Ziran, Astrid dan Maura.

3 minggu berlalu mereka dengan serius belajar agar naik ke kelas 3 Sma. Dan yang ditunggu-tunggu pun datang saatnya liburan ke gunung papandayan dan 4 sahabat itu baru pertama kali ke gunung, wilayah garut dan itu juga untuk permulaan. 4 sahabat itu sampai di alun-alun cisurupan Ziran dan Azam memarkirkan motor dan membayar untuk pendakian gunung dan membayar uang parkiran. Di pos 1 Astrid, Maura, Ziran, dan Azam mulai mendaki yang jalannya bebatuan yang cukup menanjak. Astrid dan Maura cukup cape dan istirahat sejenak dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan dan memilih jalur normal karena kita baru permulaan naik gunung sampai di pos 2 dan langsung melanjutkan ke pondok saladah tempat camping cukup luas dan banyak pilihan.

Astrid, Maura, Ziran dan Azam kami beristirahat sejenak di dekat kebun Bunga edelweiss sebelum menuju puncak dan Setelah menikmati pemandangan Astrid, Maura, Ziran dan Azam melanjutkan menuju tegal alun dan harus melewati hutan mati “ini apa sih serem amat pohon kaya nggak ada daunnya gitu” sahut Maura menyeringit “ini namanya hutan mati” jawab Ziran degan melihat pemandangan hutan mati “serem banget namanya sama kaya tempatnya” Maura memeluk badannya sendiri “ udah ayo lanjutin lagi” jawab Azam langsung berada di depan barisan “aw sakit” Astrid meringis kesakitan “lu kenapa trid?” Tanya Maura khawatir memegang bahu astrid yang sudah setengah berdiri memegang kakinya “kaki gua kena ranting pohon” jawab meringis kesakitan “lu bisa jalan trid” Tanya Ziran dengan membungkukkan badannya dan menatap astrid “ya nggak bisa lah gimana si lu ran?” jawab Maura ketus “selow aja kali jawabnya” membalas dengan sinis “ya udah sini gua gendong belakang aja” tanpa basa-basi Azam langsung menggendong belakang Astrid dan melanjutkan perjalnan mereka.

Setelah sampai di tegal alun yang merupakan surganya edelweiss, menikmati panorama indah Edelweis yang begitu banyak berhamburan ia berempat manatap penuh takjub sampai tidak bekedip “suatu saat kita tidak bersama lagi, kalian harus ingat bahwa kita pernah ke sini bersama sahabat-sahabatku yang paling kucintai dan akan menjadi sahabat selamanyaaa” sahut Azam yang tak berhenti memandang pemandangan alam semesta yang tuhan berikan, sementara Astrid, Maura, dan Ziran mengagukan pertanyaan Azam.

Hari sudah semakin siang, mereka melanjutkan pendakiannya “udah sampai sini aja zam dikit lagi mau sampai puncak kasian lu kecapean gendong gua yang berat” langsung menurunkan badannya dari punggung Azam “nggak papa lagi sama sahabat tercinta ini” mengambil ancang-ancang bersiap untuk menggendong Astrid lagi “udah nggak papa lagian udah nggak terlalu sakit lagi kok, makasih ya lu emang sahabat yang paling baik” tersenyum ke arah Azam “maksud lu gua juga nggak baik nih?” tiba-tiba Ziran nyerocos tanpa diundang “lu baik, lu semua sahabat gua, seperti keluarga bagi gua” menggenggam tangan Maura dan Azam “uww… makin cinta deh sama kalian” bergandengan makin erat dengan Astrid dan Ziran “udah nggak sampe-sampe dah nih ke puncaknya?” melepaskan genggamannya ke Ziran dan Astrid “iya-iya oke bos Azam” Maura memberi hormat tersenyum ke arah Azam yang langsung melanjutkan menuju puncak dan disusul Maura “trid sini gua bantu gandeng ke puncaknya biar nggak jatoh lagi” tersenyum ke arah Astrid dan mengadahkan tangan “dengan senang hati sahabat tercinta” mengambil tangan Ziran dan mereka melanjutkan sampai ke puncak.

Sampai di puncak sore hari matahari ingin beristirahat dan dilanjutkan dengan bulan yang siap mengeluarkan cahaya terbarunya dan saat itu Astrid, Maura, Ziran dan Azam sudah sampai di puncak dan ada beberapa pendaki yang lain “wah… luar biasa… luar biasa..” Ziran menatap kagum melihat pesona di atas gunung “sumpah gua baru pertama kali mendaki gunung rasa cape langsung hilang setelah sampai di puncak” ucap Maura dengan sangat senang sampai berkaca-kaca “gua juga baru pertama kali dan rasa sakit kaki gua udah nggak kerasa sampai di puncak” Astrid kagum dengan dan tak berhenti-hentinya melihat di sekitarnya dengan kagum “seneng kan gua ajak ke sini?” sahut Azam menaik turun alis satu dengan tersenyum miring “nggak salah lu pilih buat liburan ke sini brohhhh…” merangkul Azam dengan bangga “iya gua seneng bisa liburan ke sini bareng sahabatku tercinta” sahut astrid menggandeng tangan Ziran dan Maura “jauh lebih dekat dengan alam Indonesia dan persahabatan kita, gua bahagia bisa mempunyai sahabat tercinta” dengan bangga Ziran mengucapkannya “gua juga bahagia banget bisa terlahir mempunyai sahabat-sahabat seperti kalian” Astrid tersenyum haru meneteskan air yang terus berjatuhan di pipnya “gua juga, rasanya gua ingin waktu berhenti dan lebih lama dengan kalian di sini” ucap Maura tersenyum melihat pemandangan dan meneteskan air matanya membasahi pipi.

Setelah lama bercanda dan berfoto ria kini saatnya turun dari puncak gunung papandayan dan melewati pandang edelwis “eh ran jangan di ambil ini salah satu tanaman yang dilindungi pemerintah” ucap Maura dengan tegas, Ziran terhenti saat ingin mengambil bunga edelweis “nggak papa lah satu doang nggak bakal habis kok tanamannya” Ziran dengan tidak ada rasa bersalahnya dan menatap Maura “ih tetep aja nggak boleh” jawab Maura dengan sinis ke arah Ziran “eh udah ayo jangan berantem melulu tuh si Azam udah duluan” ucap astrid yang langsung pergi meninggalkan Maura dan Ziran dan disusul Maura “ah, ya udah dah, baik-baikya di sini edelweiss” sahut Ziran dengan mengusap kasar wajahnya dengan nada kesal dan menepuk pelan tanaman edelweiss dan akhirnya tidak mengambil bunga edelweiss itu.

Karena sudah semakin malam kami memutuskan untuk menginap dan memasang 2 tenda di pondok saladah yang ramai para pendaki “makasih ya lu udah ke sini, ini pengalaman paling berharga buat gua” sahut Maura denagan memegang secangkir teh hangat “iya gua juga seneng liburan yang paling berkesan bersama sahabat-sahabat tercinta” ucap Astrid yang tersenyum sangat cantik “iya sam-sama gua juga seneng ke sini bareng kalian para sahabat yang paling gua sayang” sahut Azam sambil meminum segelas kopinya “kapan-kapan kita naik gunung lagi yuk, tapi gunung yang lain kita coab semuanya, oke sahabat-sahabat?” sahut Ziran yang kegiranagan mengangkat tanan mengancungkan jempol “okeh Ziran kita coba jelajahi Indonesia, udah ah gua ngantuk tidur dulu, trid tidur yuk” ucap Maura menarik tangan Astrid “udah duluan aja gua masih mau nikmatin pemandangan” sahut Astrid melihat ke arah Maura “ya udah gua duluan ya” langsung meninggalkan Astrd, Azam, dan Ziran “mau gua temenin tidur ra?” sambil berjalan ke arah Maura “ogah” Maura ketus langsung masuk ke tendanya “ya udah si, nggak usah kaya gitu juga kali, udah ah gua tidur dulu yak para sahabatku.. dah…” sahut Ziran melambaikan tangannya “iya dah, tidur nyenyak ya” jawab Azam bercanda menempelkan kedua tangannya ke pipi kanan.

“lu nggak tidur trid?” melihat ke arah Astrid “ntar aja gua belum ngantuk” jawab Astrid sambil menyeruput teh yang ada di tangannya “ya udah gua temenin dah sampe lu ngantuk” tersenyum mengarah ke Astrid “makasih Zam, pemandangannya indah ya?” tanya Astrid mengelus lengan kiri dan tangan kanan memegang gelas “lu dingin, nih pake jaket gua aja” jawab Azam dan memakaikan jaket ke Astrid “makasih zam” tersenyum ke arah Azam “udah ah makasih melulu lu kan sahabat tersayang gua” tersenyum menaikkan alis ke arah Astrid “iya dah lu paling sahabat gua tercinta, emm… gua masuk dulu ya temenin Maura kasian dia sendiri” dengan gugup mengatakan ke Azam “oh… iya” jawab Azam gugup dan terus manatap Astrid. Dan pukul 9 pagi mereka turun gunung dan sampai di pos 1 tempat mereka memarkirkan motor.

Cerpen Karangan: Fitri Dwiyanti
Blog / Facebook: Fitri dwiyanti

Cerpen Jauh Lebih Dekat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku (Salah Paham)

Oleh:
“Pagi semua..” Icha muncul dan setengah berlari menuju tempat duduknya. Tak lama kemudian ikut berkumpul bersama para sahabatnya. Rio, Anggita, Rasty dan Icha sudah bersahabat sejak lama. Rio memiliki

Dari Senyum Itu

Oleh:
Pertemuanku pertama kali dengan seorang peri, begitu aku menyebutnya hingga detik ini, adalah ketika hari pertama perkenalan masuk SMA atau biasa disebut MOS. Ketika para siswa baru merasakan berbagai

Merindu Randi

Oleh:
Sore belum sangat menyata, baru sebatas merubah warna langit menjadi sedikit kekuningan. Mentari mulai menggelincirkan diri. “Aku pulang..” ujarku setelah sampai pada gerbang rumah. Tak ada yang menyahut. “Bu…

Ku Ingin Namaku di Hatimu

Oleh:
Awalnya kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tak memungkinkan kita bertegur sapa, hanya melihat dan mendengar sentakan kaki mu saat engkau lewat di hadapan ku. Senyumanmu membuat hatiku hilang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *