Jejaknya Telah Ku temui

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

Minggu malam dihiasi rembulan yang bergayut di langit biru. Sinarnya membelai cakrawala dengan kesejukan. Semburat awan putih menyapu dengan halus. Ada gemintang yang setia menemani. Malam ini cerah. Disambut dengan riang oleh dedaunan yang melambai. Kehijauannya berubah menjadi kehitam-hitaman sebab malam yang mulai merambat. Keindahan itu ada. Aku duduk di balkon kamarku menyaksikan rembulan itu. Mama papa sudah tidur sebab jam menunjukkan pukul 23:01 WIB.

Aku beralih melihat ke depan. Lampu jalan kota bersatu begitu indah. Namun semua itu hanya sekejap. Awan hitam datang menutupi rembulan. Malam mulai mengerikan. Mulai gelap. Mulai sunyi. Angin kencang berhembus menyingkap tirai jendela kamarku. Dinginnya menusuk tulang-tulangku. Aku beranjak dari tempat duduk menuju kasur. Aku berharap hujan turun. Namun aku tak suka petir yang menyambar ini. Membuatku sangat takut. Aku menarik selimut untuk menutup tubuhku. Namun mataku tak bisa terpejam, aku teringat dengan sahabat kecilku, Riko.

“Ko, Rika takut… petirnya kenceng kali,” aku merengek memegang lengannya.
“Tenang, Ka. Sini Riko peluk,” aku memeluknya erat.

Hari itu, hujan deras diikuti guntur yang menggelegar. Aku dan Riko berhenti di sebuah toko ketika papa belum menjemput, terpaksa kami harus berteduh di sana. Saat itu, kami baru berusia delapan tahun. Kami selalu pulang sekolah bersama, bermain bersama. Hujan masih deras kala itu, namun petir sudah tidak terdengar lagi. Riko melepaskan pelukannya.

“Rika… main hujan yuk,” ajaknya. Senyum manis itu yang selalu ku harapkan setiap kali bangun pagi. Senyum Riko.
“Nggak mau,” ucapku menolak.
“Lah kenapa?” tanyanya heran.
“Kata Mama, kita nggak boleh main hujan. Nanti kita bisa sakit,” ucapku polos dan manja. Riko mencubit pipiku yang tembem.
“Rika sayang, ayolah… main hujan itu seru loh,”
Belum sempat aku menjawab, Riko menarik tanganku. Kami berputar-putar. Di bawah hujan ini, aku selalu berharap bisa selalu bersamanya. Kami bernyanyi bersama.

Di bawah hujan kita menari
Semua menyambut gembira hati
Menunggu datang warna warni pelangi
Dalam indahnya bias hangat mentari…
Hahaha

Kami tertawa lepas, aku melihat bahagiaku di kedua bola matanya begitu juga bahagianya di kedua bola mataku. Dia sudah seperti kakak bagiku. Saat itulah aku menyukai hujan. Mobil papa menjemput dan akhirnya kami pulang. Di rumah aku sakit. Demam. Sudah dua hari aku tidak masuk sekolah. Riko datang dan langsung menangis. Senyum indahnya tidak terlihat hari itu. Padahal itu yang ku rindukan.

“Maafin Riko yah, Ka!” ucapnya memelas.
“Maaf untuk apa?” tanyaku.
“Kalau aja Riko dengerin omongannya Rika. Pasti Rika nggak bakalan sakit. Boleh nggak sakitnya Rika dibagi dua sama Riko. Kan Rika sakit gara-gara Riko,” jawabnya polos.
“Riko… sakit itu gak bisa dibagi. Memangnya permen?” ucap ayahnya senyum. Riko jadi senyum.
“Besok Rika udah sembuh kok. Nanti kita bisa barengan lagi sekolahnya,” Ucapku.

Dia senyum. Seperti yang ku harapkan. Hari-hari telah kami lalui bersama sampai saat itu datang. Ibunya sakit parah dan harus dibawa ke luar kota. Aku dan Riko menangis saat berpisah. Rasanya hari itu aku juga ingin ikut-ikutan pindah. Sampai-sampai aku menyuruh ayahku untuk membawa rumah kami. Mau dibawa ke mana coba rumah sebesar itu? Dan mulai hari itu aku tak pernah melihatnya lagi. Dia membawa senyum manis itu pergi. Dia meninggalkanku. Aku menarik selimutku lebih erat. Air mataku mulai mengalir entah mengapa. Malam mulai merambat jauh, aku tertidur lelap.

Pagi datang dengan cerahnya. Di sana-sini kabut tipis masih terlihat bergelantungan di sekitar jalan. Usai salat subuh, aku merasakan sejuk pagi ini. Aku membuka jendela kamarku. Ku lihat awan yang berarak seperti serat-serat putih mewarnai langit. Ya Allah… Aku menghirup udara dalam-dalam. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku ingin melihat pengumuman hasil test ikut lomba Pilar MPR Indonesia. Katanya seluruh SMA se-Indonesia akan ikut dalam lomba ini. Aku akan melihat pengumuman itu hari ini, apakah aku terpilih mewakili sekolah atau tidak. Selesai sarapan aku langsung pamit untuk pergi sekolah. Namaku tercatat di SMAN 1 Rantauprapat (edit). Rika Prasetya dan Fitri Anisa. Kami berdua akan mewakili sekolah. Aku deg-deg-an. Bukannya apa-apa, ternyata sekolah kami terpilih mewakili Provinsi Sumatera Utara.

Tanggal 17 April akan diadakan lomba itu. Berarti aku punya waktu satu bulan lagi untuk belajar. Aku selalu berusaha. Belajar dan belajar. Bersama Fitri aku juga belajar. Sampai hari itu tiba. Aku sudah berada di rumah Pakdeku di Medan. Dari Rantauprapat Ibu dan ayah merestuiku dengan doa yang tak hentinya mereka lantunkan dari bibir indah mereka. Semua doa itu milikku. Ayah dan ibu yang selalu mengatakannya. Aku berangkat ke Universitas Sumatera Utara. Di sanalah acara lomba itu diadakan. Dengan perasaan yang masih deg-degan aku melangkah masuk dan mataku menyapu seluruh sudut area.

Tak ku temukan Fitri. Ke manakah dia? Setelah sibuk mencari, aku mendengar suara pengumuman di kampus itu bahwa perlombaan akan dimulai satu jam lagi. Aku mendehem sebentar. Suasana kampus ramai. Aku melihat om Guritno. Ya aku melihatnya. Tapi sekejap saja menghilang. Aku mencari lagi om Guritno, ayahnya Riko. Untuk apa Om Guritno ke Medan? Bersama Riko kah? Ah… aku cape menduga-duga. Fitri menghampiriku. Teman terbaikku ini baru muncul setelah lomba akan dimulai. Aku harus fokus memberikan jawaban yang tepat demi nama baik sekolahku. Lomba diadakan di gedung Fakultas Teknologi Informasi. Ruangannya juga keren. Semua telah dipersiapkan. Dari mulai Host yang super cantik, dewan juri yang mungkin terhebat, serta calon generasi bangsa yang terbaik dengan kacamata minusnya masing-masing. Sekolah dari luar Provinsiku.

Pertanyaan demi pertanyaan seputar Hukum Negara Indonesia dibahas apalagi lebih fokus pada soal-soal seputar MPR. Dengan tenang dan bijak, generasi bangsa yang ada dalam ruangan itu tampak menjawab argumen demi argumen yang diajukan dengan pemikiran yang dahsyat. Raut jenius mereka terlihat di kedua wajah mereka dan apa yang telah mereka jawab dengan sangat bijak. Demikian aku dan Fitri, kami mengerahkan seluruh kemampuan yang kami miliki, pendapat yang selalu bersemayam di dalam kepala kami. Pelajaran yang kami lalui beberapa tahun belakangan. Di sinilah tempat untuk membalas dendam, bukan dendam sesama manusia lain, tapi dendam lelahnya belajar tanpa henti beberapa bulan belakangan untuk mempersiapkan diri ikut lomba ini.

Semua harus terbalaskan, tanpa jejak sedikit pun. Ada beberapa jawaban dan pendapat dari kami semua yang sempat membuat beberapa juri terperangah dengan beberapa ide-ide gila yang bersemayam di kepala kami. Lomba ini cukup menguras keringat dan otak kami. Lomba selesai dengan senyum persahabatan. Karena hanya dalam lomba kami bersaing. Namun, ke luar dari pintu ruangan, kami adalah teman. Teman yang akrab. Namun, entah mengapa aku kembali teringat sosok om Guritno yang telah ku temui tadi. Mataku tanpa sadar terus mencari. Namun tak ku temukan juga. Selesai acara itu aku pulang sendiri. Saat berada di lapangan kampus, hujan turun dengan derasnya.

Oh… God! bajuku basah. Namun aku suka hujan. Aku berjalan terus dan terus. Ku nyanyikan 4 bait nyayi itu. Aku menangis merindui sahabat kecilku. Namun tak akan ada yang lihat. I love the rain, because him. Because when i was walking under rain, no body know that i cried. And when i was walking under rain, i can falling out to missing him. Tiba-tiba saja, aku tak merasakan hujan tadi membasahiku lagi. Padahal masih hujan. Ada orang yang memayungiku. Ku lihat ke belakang. Seorang laki-laki berkacamata minus meneduhiku.

“Hei… Kenapa hujan-hujanan?” tanyanya. Aku menunduk tak mampu melihat matanya yang tajam.
“Why not?” Jawabku singkat.
“Entar kamu sakit loh. Dulu tuh aku sering main hujan dengan sahabat kecilku. Tapi, dia sakit gara-gara main hujan. Saat itu aku jadi benci hujan,” Ujarnya.
Nih anak kenal juga belum udah pake curhat-curahatan segala. Sok kenal banget. Kami terus berjalan beriringan. Seragam SMA yang dipakainya juga ikutan basah. Angin kencang berhembus. Payung yang dipegangnya terikut angin. Aku hanya diam. Begitu juga dia.

“Kamu dari sekolah mana?” ucapku memecah keheningan.
“Surabaya. SMAN 3 Surabaya,” Ujarnya lantang dan mantap. Aku melihat matanya tersenyum dengan tulus. Ramah.
“Jauh ya,” ucapku singkat.

Aku bersenandung lagu hujan itu lagi. Tapi aku kaget, dia menyanyikannya. Saat kuingin menanyakan namanya, dia langsung pamit padaku dan menaiki taksi. Aku cuma menghela napas. Aku juga langsung menaiki taksi ketika telah sampai di hadapanku. Ayah dan ibu mengatakan tadi malam kalau mereka akan sampai ke rumah Pakde pagi ini untuk menjengukku. Kata ibu, kerabat jauh kami juga akan datang ke rumah Pakde, jadi sekalian bersilaturrahmi di sana. Sampai di rumah Pakde, aku dipeluk tante Nia, ibunya Riko. Aku seneng banget, ternyata kerabat jauh yang akan datang itu adalah tante Nia dan om Guritno. Itu juga berarti, orang ku lihat di gedung USU tadi beneran om Guritno.

“Tante apa kabar?” aku langsung menyalam tangannya ketika tante Nia melepaskan kembali pelukannya.
“Alhamdulillah. Tante sudah sehat. Maaf ya.. baru bisa mampir sekarang. Tadi Riko ada lomba perwakilan dari sekolahnya,” Deg. Jantungku berdetak keras saat mendengar nama itu. Aku merindukan dia. Tapi mana dia? Ingin sekali aku menjitak kepalanya karena telah meninggalkanku selama ini. Ingin sekali aku mengacak-acak wajahnya agar hatiku puas karena telah membiarkan aku menunggu kabar darinya selama ini. Tapi, yang paling aku inginkan adalah menarik tangannya dan menari di bawah hujan seperti delapan tahun yang lalu. Dan kembali melihat senyumnya yang indah.

“Tante… Om… Riko,” ucapku sedikit gugup, tak sanggup memperlihatkan betapa aku mencarinya selama ini.
“Riko masih di hotel. Tadi dia bilang mau ke sini. Gih… ganti baju dulu,” jelas mama. Aku langsung masuk kamar. Riko datang. Sahabatku kembali… gumamku dalam hati.

Ayah, Ibu, Om Guritno, dan Tante Nia sepakat malam ini liburan di Brastagi. Sejuk menusuk jemari tanganku. Aku menyendiri di bawah rumput sekitar 10 meter di depan ayah dan ibu juga orangtua Riko. Aku duduk sendirian di sana. Aku melihat bulan, kemudian tersenyum. Belum ada tanda-tanda bahwa aku akan bertemu Riko. Mantel yang ku pakai begitu hangat. Sehingga dinginnya tidak sampai menusuk tulangku. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekatiku dan duduk di sampingku.

“Aku terlambat ya,” ujarnya. Senyum itu, datang lagi. Tapi, laki-laki ini cowok yang tadi siang.
“Siapa yang ngajak kamu ke sini? Ngapain di sini?” ujarku ketus.
“Diundang sama Mama Papa kamu,” Ucapnya. Ha? Mama papa kenal dia? Orang sok ramah ini?
“Kenalin, aku Riko… Riko Admaja,” Ujarnya pelan. Matanya tersenyum.
Ini Riko? Laki-laki berkaca mata minus ini? Setelah delapan tahun menghilang tiba-tiba saja datang seperti hantu. Aku ingin berteriak senang. Tapi aku malu.

“Apa kabar Rika Prasetya?” dia tersenyum. Senyum yang ku rindukan itu datang lagi. Aku ingin memeluknya. Tapi gak mungkin. Kan dosa. Matanya tak henti menatapku, namun yang bisa ku lakukan hanya menunduk, memandangi rumput yang tertanam di tanah. Aku tetap tak sanggup memandang tajam matanya. Aku hanya diam. Lama aku diam.
“Hey… aku sudah kembali. Apa kau tak merindukanku?” tanyanya dengan serius sambil terus lekat memandangiku. Aku hanya diam. Tak sanggup berkata apa-apa.

“Aku datang untukmu. Aku merindukanmu. Setelah tiba di Surabaya, aku terus merengek minta untuk kembali. Bertahun-tahun aku menantikan kamu, membayangkan Ayahmu mengangkat rumah segede itu ke Surabaya dan begitu saja meletakkan rumahmu dekat dengan rumahku. Lalu kita bermain bersama. Menari di bawah hujan dan menyanyikan lagu kecil kita, atau sekedar melihat bulan yang satu di taman rumah kamu. Aku sempat tertawa membayangkan betapa jagonya Ayahmu seperti Samson Betawi mengangkat rumah segede itu. hahaha,” ucapnya tertawa. Aku tersenyum dan tersipu malu. Ikut membayangkan ayahku. Aku lalu mendongak melihat bulan sabit yang melengkung, seperti senyum indah Riko delapan tahun yang lalu.

“Kemarin… Ku lihat awan-awan membentuk wajahmu. Desiran angin terus-terusan bisikkan namamu,” Ucapku pelan.
“Dan semalam… Ku lihat bulan sabit melengkungkan senyummu,” Dia tersenyum.
“Aku juga merindukanmu,” ucapku pelan sekali. Seperti suara angin yang kini tengah meniup ujung jilbabku.
“Riko sayang Rika,” ucapnya.
Aku hanya diam.

“Secepat itukah?” tanyaku menyelidik.
“Apanya yang cepat? Aku kenal kamu dari zamannya kita masih ingusan. Apa pun itu, aku sayang kamu, aku merindukanmu, aku mengingatmu, selalu. Aku melihat hujan, namun ku tahu hujan yang sering datang bukan hujan yang sama. Tapi rasanya, ketika memandangi hujan di teras rumah sambil minum teh selalu membayangkan Riko dan Rika menari di tengah hujan. Saat itu aku sadar, aku menyayangimu. Tanpa syarat apa pun. I love the way you are. I’m so serious,” ujarnya tulus. Tulus saat aku mulai mencoba berani untuk menatap matanya. Tulus ku lihat di pintu hatinya, di kedua bola matanya. Dia tetap Riko yang ku kenal dulu, Riko yang cerewet.

“Masih mau aku bagi dua rasa sakitku waktu itu?” ucapku yang ikut bernostalgia mengingat masa-masa kecil kami. Dia tertawa.
“Sekarang. Hati kamu aja yang bagi padaku,” ujarnya tersenyum.
“Oh… Lama di Surabaya. Tuan Riko Admaja jadi jago gombal yah,” ucapku ikut tersenyum.
“Masih mau bersahabat denganku, Rika sayang?” Tanyanya.
“Maaf, aku gak mau,” Jawabku singkat. Dia tertunduk dan bertanya.

“Kenapa? Ada apa?” tanya dia lembut.
“Karena kamu makin bawel dan sekarang suka gombalin orang. Bilang sayang lagi. Huh lebayyy,” ucapku ngerocos ketularan dia.
“Tapi kan aku beneran sayang sama kamu… baiklah aku akan berubah, gak bakal bawel lagi. Mau ya jadi sahabatku lagi?” Jawabnya polos seperti delapan tahun yang lalu.
“Seperti yang tadi kamu katakan, I Love the way you are. Tidak perlu berubah. Aku lebih seneng kamu seperti ini. Tetaplah jadi sahabat kecilku yang bawel. Tetaplah membuatku nyaman dengan sikap yang seperti ini. Aku nggak mau kamu berubah. Aku nggak mau kamu pergi lagi. Aku akan jadi sahabatmu. Kapan pun tanpa harus kamu minta,”

Aku tersenyum ke arahnya seperti mulai terbiasa memandang matanya yang tajam. Dia membalas tatapanku dengan ramah. Tak ada yang berubah. Tidak kemarin, tidak hari ini. Semoga tidak untuk ke depannya. Aku ingin seakrab ini dengannya. Sahabat kecil yang ku sayangi. Kemudian kami mulai menyeruput teh hangat yang diberikan mama papa dan kedua orangtua Riko. Mereka bergabung dengan kami. Bercanda bagai dua keluarga yang tak pernah bisa terpisah. Walau puluhan kilo meter jarak yang membentang. Walau bentangan laut yang terhampar luas. Tapi keakraban ini masih tetap hangat. Ku kira begitu. Sampai kapan pun.

Senyum itu kembali lagi. Aku bisa menikmati segelas teh panas bersama dia dan senyumnya saat ini. Aku berharap dia gak pergi lagi. Lomba itu dimenangkan oleh SMAN 78 Jakarta (edit), juara dua SMAN 3 Surabaya (edit) dan ketiga dimenangkan oleh SMAN 1 Rantauprapat (edit). Aku menemukannya. Jejaknya telah ku temui. Bahkan bukan dia yang pergi. Aku sadar dia tetap di sisiku ketika aku mengingatnya. Dia merindukanku ketika aku merindukannya. Dia dekat denganku bahkan sebenarnya tak berjarak. Aku tenggelam di dasar hatinya. Demikian juga dia. Malam itu kami duduk di hamparan rumput yang indah ditiup angin. Melambai-lambai… Sedang di sana. Bulan tersenyum manis dan bintang–bintang berdansa ikut merayakan bahagia ini.

Cerpen Karangan: Nur Kumala Sari Ramanda
Facebook: Kafil Khatibul Umam

Cerpen Jejaknya Telah Ku temui merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friends

Oleh:
Cuaca panas yang terik membakar anak anak SD yang sedang pemanasan untuk memulai olahraga. Mulai dari menggerak-gerakkan kepala, tangan sampai kaki. Berbagai keluhan ocehan tak luput dari mulut murid,

Love or Friends

Oleh:
Hoaaaammm.. Aku terbangun seiring dengan bunyi alarm. Aku bangun dengan langkah sempoyongan dan bergegas berjalan ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah ke jenjang berikutnya, SMA,

Women, Gossip & Reality (Part 1)

Oleh:
Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukan jam 5.14. Aku segera berangkat ke sekolah, aku bersekolah di SMP NEGERI 2 di daerah Jombang. Aku termasuk anak yang pendiam dan jenius. Aku punya

Antara Sahabat dan Cinta

Oleh:
Aku memiliki sahabat mereka riza, muna, dan dewi pada suatu hari kami didalam kelas setelah bel jam pergantian pelajaran berbunyi kami ngobrol sementara, dewi dan muna selalu ngomongin cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *