Ji Chang Wook dan Penggemar Kelas Berat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Korea, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2017

“Yeoboseyo. Halo.”
“Lisa lagi sibuk, ya?”
“Biasa, lagi nyeterika tiap minggu pagi.”
“Jam sepuluh ke rumahku, ya. Aku punya film Korea baru.”
“Film apa? Apa judulnya?”
Tut… tut… tut….

Lisa mendesis kecewa. Dian sudah keburu menutup telepon sebelum menjawab apa yang ditanyakannya. Kebiasaan Dian, kalau menelepon tidak pernah menjelaskan dengan tuntas. Mereka berdua adalah teman sekelas yang sama-sama penggemar Korea. K-wave atau gelombang budaya Korea sedang melanda dunia, termasuk di Indonesia. K-drama dan K-pop menyerbu Indonesia dan digandrungi anak-anak muda hingga tua. Budaya Barat dan Jepang yang lebih dulu datang kini punya saingan baru.

Lisa penasaran dengan drama Korea terbaru apa yang dimiliki Dian di laptopnya. Lisa tak punya laptop, jadi ia harus ke rumah Dian kalau mau nonton K-drama yang tidak bisa ia tonton di televisi. Lisa meraih smartphone, berniat mengirim sms untuk menanyakannya kembali tetapi segera teringat kalau pulsanya juga sedang sekarat.

Jam di smartphone Lisa menunjukkan pukul 09:05. Lisa buru-buru menyelesaikan seterikaannya yang tinggal sedikit. Pikirannya dipenuhi janji nonton film Korea bareng pada pukul sepuluh yang sebentar lagi tiba waktunya.

“Assalamualaikum!” Lisa berteriak di depan pintu rumah Dian.
“Eoseo oseyo! Selamat datang!” jawab dua gadis SMA di ruang tamu dengan kompak. Dian tidak sendirian. Ada Rini bersamanya. Mereka bertiga adalah trio Korean lover di kelas.
“Cepat, Lis. Kamu sudah telat lima menit. Dian tidak mau bocorin filmnya kalau kamu belum datang walau sudah aku bujuk-bujuk,” kata Rini tak sabar.

Tiga sekawan itu bergegas ke kamar Dian dengan setengah berlari. Sampai di kamar, Dian segera menghidupkan laptop. Lisa dan Rini langsung duduk di samping kiri dan kanannya dengan penasaran.

Film itu berjudul Healer. Tokoh utamanya yang bernama Healer itu diperankan oleh Ji Chang Wook. Aksi Healer yang bekerja sebagai pesuruh gelap benar-benar memukau penonton.
Lisa, Dian, dan Rini hampir tak berkedip menatap monitor laptop. Jangan sampai satu detail adegan terlewatkan.

Agenda tiap minggu ketiga gadis remaja Korean Lover itu sekarang adalah nonton Healer bareng di rumah Dian mulai pukul sepuluh pagi. K-drama Healer mempunyai jumlah episode sebanyak dua puluh episode, jadi tidak bisa ditamatkan dalam sehari. Dalam sehari mereka bisa menonton sampai tiga episode.

“Tahu tidak. Aku menahan keinginanku untuk nonton Healer sendirian agar bisa nonton rame-rame bareng kalian. Itu menyiksaku tahu,” kata Dian.
“Iya… iya…,” jawab Rini. “Yang penting, sekarang ayo nonton,” desak Rini.

Episode sembilan diputar. Lisa, Dian, dan Rini langsung mematung di depan laptop. Sesekali tertawa, sesekali terharu, sesekali berdebar-debar mengikuti jalannya cerita.

“Ji Chang Wook Oppa memang keren. Ganteng, gagah, dan aktingnya keren banget. Kapanlah aku bisa ketemu dengan Oppa yang sempurna itu,” kata Dian usai menonton.
“Terus Yogi bagaimana? Kayaknya kamu lebih cinta Ji Chang Wook daripada pacarmu sendiri,” Rini menyela.
“Kalau Ji Chang Wook nembak aku, langsung aku putusin Yogi saat itu juga,” jawab Dian cepat.
Lisa dan Rini seketika tergelak.

“Sudah… sudah… ketawanya. Ayo siap-siap ke mall, nanti kesorean,” Dian mendorong-dorong bahu Lisa dan Rini.
“Yah, Lis. Aku kan sudah bilang kemarin, kita mau ke mall habis nonton. Masa Korean lover tidak tahu fesyen,” ucap Dian menyadari penampilan Lisa. Dian memandangi Lisa yang mengenakan baju batik dan kerudung menutupi kepalanya. Sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri kalau ia adalah penggemar Korea.
“Justru ini fasyennya Indonesia,” Lisa membela diri.
“Ji Chang Wook Oppa mana mungkin tertarik dengan gaya kuno begitu. Yang modern. Gaul…” Dian menekan kalimat terakhirnya.
Lisa malas berdebat dengan temannya yang ceplas-ceplos itu.

“Yeoboseyo!” Lisa mengangkat ponsel pintarnya yang berdering. Pagi-pagi begini ada perlu apa Dian menelepon? Bukannya Healer sudah tamat ditonton dua minggu yang lalu? Apa ada K-drama bagus yang baru lagi? pikir lisa penuh harap.
“Lisa…,” pekikan Dian di seberang sana terdengar semangat sekali. “Nanti ke rumahku, ya. Ada yang mau kukatakan tentang Ji Chang Wook Oppa. Urgent!”
“Ji Chang Wook?” gumam Lisa penasaran mendengar nama aktor Korea pemeran Healer yang ia kagumi disebut.
“Kita akan mengundang Oppa ke Indonesia?” jawab Dian.
“Apa?” Lisa berseru kaget. Mencoba memastikan ia tak salah dengar.
“Kita akan mengundang Ji Chang Wook ke Indonesia!” Dian mengulangi kalimatnya.
“Jangan bercanda. Apa ada film Korea yang baru?”
“Sumpah. Percaya padaku. Datang ke rumahku jam sepuluh, okey? Cepat selesaikan seterikaanmu. Aku tunggu bersama Rini. Annyeong!” Dian memutus sambungan telepon.

Dian pun melanjutkan menyeterika setelah menggerutui kebiasaan Dian yang tak pernah tuntas kalau menelepon. Di rumah Dian ada wi-fi, jadi Dian bisa online sesukanya. Beda dengan Lisa yang kadang punya paket internet kadang tidak. Diam-diam Lisa berharap Dian tidak sedang bergurau soal mengundang Ji Chang Wook ke Indonesia meskipun itu kedengarannya mustahil. Lisa sebenarnya sama saja dengan Dian yang tergila-gila dengan Ji Chang Wook. Bedanya, Lisa tidak mengungkapkan dengan terang-terangan seperti halnya Dian. Lisa punya prinsip untuk tidak menghabiskan masa sekolahnya dengan berpacaran. Lebih baik dimanfaatkan untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Siapa tahu ia bisa terbang ke Korea berkat prestasinya.

Seperti biasa Lisa jadi yang paling telat tiba. Dian dan Rini sudah asyik menunggu di ruang tamu sambil bermain laptop. Kabar yang katanya urgent itu ternyata berasal dari sebuah blog yang berisi petisi dari para penggemar untuk mengundang Ji Chang Wook ke Indonesia. Para penggemar Ji Chang Wook di Indonesia iri melihat Ji Chang Wook jumpa fans ke Cina, Jepang, Thailand, bahkan ke Singapura yang bertetangga dengan Indonesia, tapi belum sekalipun menyempatkan diri singgah ke Indonesia.

“Ayo, kita ikut berpartisipasi dalam proyek ini. Kita tinggal pasang foto kita di instagram sambil bawa bintang besar bertuliskan ajakan datang ke Indonesia. Terus tag akun penyelenggara ini dan tag juga akun official-nya Ji Chang Wook.,” Dian menunjuk tulisan di halaman web, menerangkan kepada Lisa yang baru datang.
“Semoga Ji Chang Wook terharu dan tertarik datang ke Indonesia,” gumam Rini.
“Bikin foto sekreatif mungkin ya ya! Pokoknya kita harus bisa bikin hati Oppa terpikat,” Lisa menudingkan telunjuknya ke muka Lisa dan Rini.

Sesampainya di rumah, Lisa langsung membuat bintang besar dari kertas bufallo sesuai perintah dalam blog tadi. Di bagian tengah bintang ia tulisi besar-besar “Ji Chang Wook, please visit Indonesia” dengan spidol. Pada kelima sudut bintang ia tulisi namanya serta nama bintang Korea papan atas itu. Setelah itu ia berfoto dengan bintang besar itu. Setelah mendapatkan gambar yang terbagus dari hasil jepretan puluhan kali, ia posting gambar itu ke instagram. Tentu saja tidak lupa ia tag akun resmi Ji Chang Wook biar dilihat Ji Chang Wook. Kalau ratusan atau bahkan ribuan penggemar Ji Chang Wook di Indonesia melakukan hal yang sama, mungkin sang idola itu mau datang ke Indonesia. Lisa tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.

Liburan sekolah, Lisa dan ketiga teman Korean lover-nya berlibur ke Bali. Ketika mereka sedang berjalan-jalan menikmati alam Bali yang eksotis, tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat mereka.

“Annyeong haseyo! Hai!” sapa laki-laki itu ketika turun dari motor.
Ketiga sahabat itu terperangah. Apa mereka tak salah lihat. Seorang laki-laki tinggi, terlihat atletis hanya dengan memakai kaus singlet, wajah khas Asia Timur-nya yang tak asing lagi merekahkan senyum pada mereka.
“Ji Chang Wook!” mereka terpekik tak percaya.
Ji Chang Wook tersenyum memesona. Lalu melangkah menghampiri Lisa yang membuat kedua temannya iri.

“Siapa namamu?” tanya Ji Chang Wook membuat jantung Lisa melompat. “Kamu terlihat beda dan cantik dengan kain penutup kepala itu dan baju dengan motif kain yang unik,” lanjut Ji Chang Wook menunjuk kerudung dan baju motif batik yang dikenakan Lisa.
“Ini jilbab dan ini motif batik Indonesia,” pendek sekali jawaban Lisa. Ia kadung kikuk dengan pujian Ji Chang Wook tadi.

Ji Chang Wook menggapai bahu Lisa. Lisa reflek melangkah mundur menghindari tangan kekar Ji Chang Wook.
“Maaf. Saya muslim jadi tidak boleh berpegangan dengan sembarang laki-laki. Maaf,” kata Lisa kemudian.
Ji Chang Wook menarik kembali tangannya yang terulur. Tidak tersinggung. Justru berkata dengan sopan.
“Kamu sungguh gadis yang cantik dan beda,” membuat jantung Lisa kembali melompat.

Tapi… tapi kenapa mereka bisa mengobrol dengan begitu santai dan lancar padahal bahasa mereka berbeda. Lisa memejamkan mata dan mencubit pipinya untuk memastikan apakah ini mimpi atau nyata.

Perlahan Lisa membuka mata. Matanya terasa berat. Ternyata benar hanya mimpi. Dia ketiduran dengan lagu K-pop-nya Ji Chang Wook masih melantun dari smartphone.

Lisa meraih smartphone. Membuka instagram. Matanya terbelalak. Ia melihat foto Ji Chang Wook sedang mengendarai sepeda motor mengelilingi Bali. Ji Chang Wook datang ke Bali untuk sesi pemotretan untuk majalah Maria Claire.
Sebentar kemudian, smartphone Lisa berbunyi pop. Sebuah pesan masuk dari Dian yang berbunyi, Aaa, aku ingin ke Bali untuk menemui Ji Chang Wook Oppa…

Cerpen Karangan: Abdullah Hasan
Facebook: facebook.com/abdullah.hazzanoke

Cerpen Ji Chang Wook dan Penggemar Kelas Berat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta dalam Kalimat

Oleh:
Aku tahu dia dari temanku, Lia, waktu aku masih duduk di kelas 3 SMP. Lia bilang, dia punya pacar anak sekolah sebelah. Namanya Oci. Anak rumahan yang gagah, berkulit

Holiday With My Friends

Oleh:
Hari pertama liburan sekolah, Aku hanya tidur-tiduran di kamar sambil bermain game yang ada di hpku. Kringg!!… Kringg!!… Kringg!!… Bunyi hpku berbunyi, ada telepon dari Rahma, sahabatku. “Assalamualaikum Andyne…”

Emang Kebetulan

Oleh:
Namaku Yurenda Ainun Khofifah. Tapi aku lebih suka dipanggil Rere Senja. Bukannya nggak menghargai orangtua. Aku seneng aja pake nama itu. Aku kelas 2 SMP di salah satu sekolah

Friendzone Itu…

Oleh:
Sebenarnya friendzone itu apa sih? dan kenapa harus ada yang namanya friendzone, agak sakit juga sih kalau kita sayang sama seseorang tapi seseorang itu cuma menganggap kita sahabat, kakak

Gue Mimpi Aneh

Oleh:
Nama gue Bella, dan loe bisa manggil gue Bell atau Abel. Biasanya sih, gue lebih sering dipanggil Abel dari pada Bell. Dan kalau kalian mau manggil gue Bell kek,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *