Joko Dan Jaka Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 March 2016

“Tittittuiiiit.. tttuuiiiittttt.” Alunan merdu suling bambu yang setiap siangnya memberi semangat warga kampung Parigede. Alunan merdu itu berasal dari tiupan seorang pemuda tampan, pandai nan tekun di kampung ini. Dialah Joko Pratomo, putra kebanggaan parigede. Srek, srekk, srekk, satu per satu kakiku melangkah di atas rerumputan di dekat sawah. Dengan langkah mengendap-endap aku mendekati Joko dari belakang, bermaksud untuk mengagetkannya. Tetapi, mungkin Joko sudah merasakan getaran langkahku, jadinya malah dia yang mengejutkanku.

“Hayooo!!! Mau ngapain?”
“Aaaaa, hih.. kamu ini, tadinya mau ngagetin, tapi malah keduluan,”
“Hahahaha.” Kemudian kami duduk dan mengobrol sambil membawa makanan yang ku bawakan untuk menemani obrolan santai kami.

“Yu, menurutmu aku kerja di mana? Lamaranku udah diterima di dua perusahaan, tapi aku bingung pilih yang mana.”
“Lah emang di mana aja Ko?”
“Yang satu di pabrik mie di Jakarta cuma jadi bagian pengemasan. Yang satunya lagi di bali, tapi jadi supervisor di perusahaan pariwisata,”
“Ya kalau menurutku sih di Jakarta aja.. soalnya kan yang deket, biar kamunya juga biar lebih sering pulang,”
“Aku juga maunya gitu Yu, tapi msalahnya keluargaku ini keluarga susah, butuh duit banyak. Gak kayak keluargamu.”
“Ya udah terserahmu aja.” Saking keasyikannya mengobrol, kami sampai tidak sadar jika langit sudah menampakkan mega merahnya. Kami pun langsung pulang.

Siang hari yang benar-benar panas, aku duduk di depan rumahku dan berkipas-ipas dengan kipas bambu buatan ibuku. Aku menunggu alunan suling penyejuk dari Joko, tetapi sudah lewat dzuhur dari tadi, tidak juga terdengar. Aku pun menghampiri tempat biasa Joko memainkan sulingnya. Saat aku sampai di sana, aku tidak melihat Joko. Aku pun ke rumahnya.

“Kulonuwun.” melongok kedalam rumah Joko yang pintunya terbuka.
“Monggo.. ono opo nduk Ayu?”
“Joko di mana yo Pakde?”
“Oalah nduk, Joko nggak ngasih tahu kamu toh, Joko udah berangkat ke bali pagi tadi.”
“Oh.. maturnuwun Pakde.”

Hari berganti hari bulan berganti bulan. Tetapi Joko tak kunjung pulang ke kampung. Terbesit niat untuk pergi ke bali berkunjung ke tempat Joko, tetapi aku masih ragu untuk kesana. Hingga akhirnya aku berangkat ke bali. Saat aku sampai di sana, aku langsung mendatangi pantainya yang indah. Berpakaian pendek, memakai topi pantai dan juga kacamata hitam dengan rambut tergerai. Berjalan sedikit lenggak lenggok untuk menutupi identitas desaku.

Aku berdiri di tengah hamparan pasir yang penuh dengan turis-turis yang memenuhi tempat itu. Kemudian aku berjalan ke salah satu cafe untuk memesan satu perasan lemon. Dengan kaki tertumpang dan pandangan ke pantai aku menikmati perasan lemon yang ku pesan, namun ada satu hal yang membuatku langsung terkejut bukan kepalang, aku melihat Joko sedang berjalan di tepi pantai bersama seorang pria lainnya, gayanya benar-benar berubah. Aku melepas kacamataku untuk memastikan apakah dia Joko atau bukan. Lalu aku berlari menghampirinya. Saat aku berada di depannya. Aku tersenyum manis kepadanya. Namun ia terlihat pangling melihatku. Aku pun membuka kacamataku.

“Heii Joko.. ini aku, Ayu.” dengan nada medok aku menyapanya.
Dengan raut wajah kesal, sebal, dan marah. Ia menarikku dan membawaku menjauh dari pria itu.
“Ayu, di sini nama aku Jaka Pratama, Joko uda hilang kebawa laut. Yang ada sekarang adalah Jaka!! Inget Yu, Jaka!!”
“Iyo iyoo.” Tiba-tiba terdengar suara dari teman Joko.
“Ka, gue balik ya?”
“Oke bro.”

Aku benar-benar kaget mendengar logat bicaranya yang sudah berubah seratus persen. Setelah itu aku dan Joko berjalan jalan dan sedikit mengobrol di pantai. Dan saat sore tiba, aku diajak untuk pulang ke rumahnya saja. Aku pun menurutinya. Saat sampai di rumahnya, aku melihat ada temannya Joko yang tadi bersamanya. Lalu Joko mengenalkannya kepadaku.
“Hei bro, ini sohib gue dari kecil, namanya Ayu. Yu, ini temen aku kerja, namanya Angga,”
“Ayu,” berjabat tangan. “Angga.” Kemudian kami masuk. Sementara mereka berdua asyik mengobrol, aku ganti baju dan mandi. Setelah selesai, aku ikut mengobrol dengan mereka.

“Joko.. boleh ikut nimbrung nggak?” Lalu Joko menatapku dengan tatapan marah. Aku merasa terhina dengan itu. Aku pun langsung membentaknya.
“Kenapa? Nama kamu kan emang Joko, pake diubah jadi Jaka segala!!!”
“Ayu, inget Yu, inget status kamu sekarang, sekarang ini kamu cuma orang numpang di sini, jadi jangan kurang ajar!!”
“Hah?! Orang numpang??! Heh.. kalau Bapakku nggak ngasih pkerjaan ke Bapakmu, kamu gak akan ada di sini Jok, paling kamu sekarang ada sama genangan lumpur!!”
“Ayuuu!!” Hendak menampar namun dihentikan oleh Angga.

Aku benar-benar merasa terhina dan kecewa di sini. Antara Jaka dan Joko, itu benar-benar berbeda. Aku pun masuk ke kamar dan menangis tertelungkup. Kemudian aku menulis surat untuk Joko yang sekarang menjadi Jaka. “Jaka, atau aku harus menyebutmu tuan Jaka Pratama. Terima kasih atas tumpangan kamarnya. Kamarnya sangat nyaman, walaupun tak senyaman kamarku di kampung. Aku akan kembali ke kampung. Tetapi aku ingin meminta tolong satu hal padamu. Tolong jika kau bertemu dengan Joko, katakan padanya agar dia cepat pulang, kampung parigede sangat merindukan alunan suling penyejuk darinya. Ayu.”

Kemudian aku pergi dari rumah Joko. Berulang kali ia membujukku untuk tetap tinggal. Tetapi aku sudah terlanjur terhina. Haaaah.. akhirnya, setelah aku merasakan hingar bingar bali, aku merasakan kembali kedamaian di kampung parigede. Aku sangat lega telah sampai dengan selamat. Aku benar-benar merindukan sosok Joko, yang belum menjadi Jaka. Aku pergi ke tempat biasanya ia bermain suling. Aku menatap tempat ini dengan senyum pahit dan bercampur air mata rindu. Aku benar-benar merindukannya.

“Ayu!!”

Suara teriakan memecah suasana. Suara itu seperti suara Joko. Tetapi mana mungkin ia ada di sini, dia kan sibuk di bali. “Ayu, maafkan aku.. berbaliklah, aku Joko.. bukan Jaka.” Aku pun berbalik dan melihat Joko, aku melihat Joko, bukan Jaka. Ia berpakaian seperti dulu.

“Joko.. apa Jaka memanggilmu?”
“Nggak Yu, Jaka itu Joko.. mereka sama saja, dan sekarang aku telah kembali.”
“pekerjaanmu?”
“Sudah ku tinggal semuanya.”

Lalu kami duduk, dan Joko kembali memainkan sulingnya. Semuanya telah kembali. Kembali seperti semula. Seperti saat Joko memainkan sulingnya bukan Jaka yang menjadi supervisor pariwisata.

Cerpen Karangan: Khoirunnisa Aulia
Facebook: Khoirunnisa Aulia

Cerpen Joko Dan Jaka Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Pertama

Oleh:
Ini adalah kisahku, kisah yang selalu kukenang, disaat sedang berada di sekolah pertamaku yaitu pada masa TK. Haii.. this me yang menulis cerita ini dengan senang hati. Di sekolah

Key

Oleh:
Seulas senyum ramah pemilik bibir merah muda menghidupkan hati Rendy yang telah mati akan rasa cinta. Seolah terhembus angin harapan saat melihat kedua mata sipit lentik yang berbinar memancarkan

Merantau

Oleh:
Malam berlalu, ku lihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang lalu, waktu itu aku kelas

Ngap-Ngap

Oleh:
Kalau udah bicara masalah pertandingan bola, sudah pasti bicara masalah score trus club kebanggaan trus pemain idola masing-masing. Nah, rata-rata yang bakal heboh tuh cowok-cowok, pertandingan belum apa-apa mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *