Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 December 2013

Kuakui, mengenal dia seorang gadis Muslim yang cantik dengan pakaian khas muslimahnya membuatku sedikit meliriknya. Bagaimana dia dengan tutur katanya yang lembut serta pembaannya yang baik dan sopan membuat seisi kelas memngaguminya. Dialah zahra gadis yang selalu hadir di mimpiku bak princess nan jelita.

Pelajaran geografi telah dimulai seperti biasanya perasaan bosan dan kantuk pun melanda. Aku yang duduk di bangku ketiga terus berusaha menahan kantuk sambil sesekali menyimak Ibu Guru yang sudah hampir 2 jam menjelaskan itu. Entah apa yang ku fikirkan, wajah zahra tiba-tiba hadir di lamunanku! Dia cantik sekali dengan tasbih yang selalu hadir di tangan kanannya dan tersenyum padaku. Aku pun membalasnya dengan senyuman termanis. Terus kubayangkan wajahnya yang bagaikan princess di Negeri impianku.

(Tenggg… Teng… Teng…) bunyi bel itu menyadarkanku dari lamunan indah tentang Zahra. Kumulai membereskan peralatan tulis menulisku, dan setelah itu ke kantin mengisi perut yang sudah dari tadi keroncongan. Di sudut kelas kulihat seorang siswa perempuan dengan tasbih di tangannya “Yah dia pasti Zahra” Ujarku dalam hati. Kulangkahkan kakiku menghampirinya “Hay Zahra?!” Ujarku menyapanya. “iya, kenapa yah?” jawabnya dengan wajah yang heran memandangku menyapanya. “ke kantin yuk?” Ujarku mengajaknya. Dia tampak bingung, terlihat dari raut wajahnya. “jadi, mau atau enggak nih? Kemarin ada yang habis kesurupan loh!!!” Kataku mengingatkannya. Kulihat wajahnya semakin ketakutan dan terus memegang erat tasbihnya. “Ya’aa u’udaah ayo” Ujarnya dengan nada yang sedikit gagap.

“Its WOW” bisa ke kantin bareng princess idamanku sungguh membuatku tak karuan. Sepanjang jalan Aku hanya diam tak punya nyali memulai percakapan. Hingga dia memecah keheningan saat itu dengan pertanyaan yang menurutku bodoh. “Niel? Itu yang kamu pake kalung apa yah?” sambil menunjuk kalung salib pemberiaan Ibuku. “Oh, ini namanya kalung salib! Baru liat yah?” Ujarku seraya tersenyum padanya. “Oh Gitu” jawabnya singkat.

Sesampainya di kantin kami pun terpisah. (Tenggg… Teng… Teng…) bel pertanda masuk pun telah berbunyi, kupercepat langkahku menaiki setiap anak tangga. Tetapi, ada sesuatu yang menghambat langkahku. Kuambil benda itu dan kuamati baik-baik itu tasbih! “Apakah ini milik Zahra?” pertanyaan itu terus bermunculan di benakku. Kusimpan benda itu di saku celanaku dan kembali melanjutkan langkahku.

Sesampainya di kelas Ibu Guru Sejarah memberi tugas kelompok tentang asal muasal manusia. Yah, masa bodoh lah siapa teman kelompokku toh semuanya sama saja pikirku. Tapi, ternyata aku sekelompok dengan Zahra, OMG! Baru kali ini aku bersemangat belajar sejarah. Yang kerennya lagi satu kelompok itu Cuma berdua. Serasa kayak melayang ke langit ke-7, WOW!!!. Sempat terlintas di benakku, mungin jodoh kali yah! Ahahahaha… sungguh pemikiran yang sangat bodoh.

Dan kerja kelompok ini menyita waktuku bersama Zahra sekitar 2 minggu. Karena terlalu senang aku lupa mengembalikan tasbih milik Zahra. Kuambil benda tersebut dan kupandangi satu persatu tiap bijinya. “ini benda apa ya? Kayak biasa aja! Tapi kenapa ya Zahra sering megang ini sambil nyebut-nyebut sesuatu gitu! Ah, sudahlah mungkin ini bagian dari Agamanya.

2 minggu telah berlalu dan tugas klipping kami pun telah selesai dan mendapat nilai yang sangat memuaskan. Yah.. yah!! kulihat Zahra sangat senang sampai-sampai dia memegang tanganku sambil menari-nari. “yeyeeyeye! Kita behasil Niel” Ujarnya padaku. Aku hanya mampu terpaku menatapnya dengan terheran-heran. Dan berkata dalam hati “ternyata Zahra tak secuek dan sejutek yang aku kira selama ini”.

2 minggu tersebut membuatku semakin dekat dengan Zahra kalau bisa di bilang sahabatan lah. Kami sering bareng entah itu ke kantin, kerjain tugas, bahkan pulang pun sering bareng. Peningkatan yang luar biasa dari usahaku mengenalnya lebih jauh lagi.

Setahun bareng dia, dari pertama masuk SMA sampai sekarang kelas 3 SMA sungguh membuatku tak bisa menahan perasaan yang telah lama terpendam ini. Curhatannya tentang cowok yang menaksirnya membuatku sedikit takut jika harus kehilangannya dan melihatnya bahagia dengan orang lain. Hari ini tepatnya pengumuman hasil UN SMA yang cukup mendebarkan, cukup membuatku tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Terlihat dari kejahuan seorang gadis berjilbab berjalan menghapiriku dan berkata “Woy, Sob! kita LULUS men!” “Ha? Kamu serius Zahra?” Ujarku. “enggak percaya?! Liat ajah di mading sekolah!” “Enggak usah, Aku percaya kamu kok” Kataku seraya tersenyum padanya.

Seperti biasanya coret-coretan, pilos-pilosan tak terlepas dari acara adat istiadat kelulusan. setelah semua baju telah penuh coret-coretan dan pilos-pilosan, aku pun memberanikan diri mengungkapkan semuanya. “Zahra?” Ujarku memanggilnya yang sedag duduk menikmati teh kotak pemberianku. “iya, ada apa Niel?” Jawabnya seraya menatapku. “hmm.., Aku punya kejutan buat kamu, sobatku yang paling cantik, imut dan ngangenin” Ucapku smbil mencubit pipi imutnya. “Apaan sih kamu, Sakit tau” Ucapnya dengan nada sedkit manja. “ikut aja, pokoknya surprise” kataku membuatnya semakin penasaran. “oke, aku ikut” Jawabnya mengikuti ajakanku.

Disinilah kumulai berfikir, akankah Aku dan Dia dapat bersatu dengan banyak perbedaan, perbedaan yamg bukan saja tentang keperibadian tetapi juga tentang keyakinan. Kukuburkan dalam-dalam hipotesis-hipotesis yang ada di fikiranku. Sampailah Aku di sebuah taman, yah taman yang selalu menjadi tempatku mengerjakan tugas sekolah bersama Zahra. “mana kejutannya?” Ujarnya mencari sesuatu yang menurutnya adalah kejutan. “ini kejutannya, Rahh!” Ujarku seraya mengeluarkan tasbih dari saku celanaku. “ha? ini kan tasbih yang hilang 3 tahun yang lalu, kamu yah yang mengambilnya?” Ujarnya dengan wajah heran bercampur marah. “Tidak Zah, Aku menemukannya terjatuh di tangga sekolah dan baru saat ini ku ingat utuk mengembalikannya kepadamu.” Ujarku meluruskan permasalahan ini. “jadi, tujuan kita kesini untuk apa?”. Kubuka kalung salib yang melingkar di leherku kudekatkan pada tasbihnya dan berkata padanya “Zahra, jujur!! Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku menyukaimu, sudah sejak lama ku pendam perasaan ini, sudah sejak lama aku mengagumimu dalam diamku. Aku sadar kalung salibku berbeda dengan kalung tasbihmu. Tapi, Aku sangat mencintaimu walaupun kita berbeda. Biarlah tempat yang sederhana ini menjadi saksi tulusnya aku menyayangimu seorang gadis muslimah yang selalu hadir di setiap mimpi-mimpi indahku” kata-kataku itu membuat suasana menjadi hening.

Kupandangi wajah Zahra yang terheran-heran, mungkin juga tak percaya dengan apa yang telah kuucapkan. “Aku tak bisa, pebedaan kita telalu besar melebihi cinta kita. Cukuplah kita menjadi sepasang sehabat.” Ujarnya memecah suasana yang sudah dari tadi hening. “Tapi…” baru ingin ku lanjutkan ucapanku dia menghentikannya dan berkata “Ku tau, ketulusanmu, ku tau kau sangat menyayangiku, Aku pun demikian tapi, takdir kita berbeda. Tasbih dan Salib merupakan sesuatu yang tak mungkin dapat tersatukan dalam sebuah pernikahan. Aku tau ini berat, tapi percayalah kau masih bisa menyayangiku sebagai sahabat, yah hanya sekedar sahaabat.” Ucapannya sungguh membuatku sadar, yah sadar kalau perbedaan ini tak mungin dapat tersatukan.

Ku genggam erat tangannya bersama tasbih serta kalung salib ini seraya meyakinkannya kembali “kita mungkin tak dapat besatu dalam cinta karena perbedaan keyakinan. Tapi, Aku harap kita masih bisa bersatu sekarang ini, detik ini, menit ini, jam ini, hari, ini, bulan ini, tahun ini, dan selamanya sebagai sepasang sahabat biarlah 2 benda berbeda ini menjadi saksi persahabatan kita yang akan menjadi sebuah kisah teromantis yang pernah ada.” Ucapku sambil menantapnya. Kulihat ada tetesan air mata di kelopak matanya yang indah. “pasti kawan, Generasi kita di masa yang akan datang pasti bangga dangan kamu, dan kisah yang pernah kita torehkan.” Ujarnya dengan diiringi derai air mata haru. Dan sejak saat itulah Aku mengerti arti dari sebuah perbedaan. Bahwa tak semua perbedaan dapat disatukan dalam ikatan suci pernikahan, akan tetapi dapat tersatukan oleh dalam ikatan kuat sebuah persahabatan.

~ SEKIAN ~

Cerpen Karangan: Ira Wahyuni Salam

Nama: Ira Wahyuni Salam
TTL: Maros, 02 Agustus 1998
Alamat: Jalan Mawar No.12 Maros, Sulsel
Agama: Islam
sekolah:SMA NEGERI 1 SSN Maros, Sulsel
cita: Guru
Hobi: mengarang
kutipan: menulis telah menjadi bagian dari hidupku, telah menjadi pengemangat hidupku dan telah menginspirasiku untuk lebih maju 🙂 🙂

Cerpen Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampur Terakhir

Oleh:
Lina mematikan musik lalu duduk di sebuah bangku. Raut wajahnya menampakkan dirinya sedang tidak bersemangat. Rifa yang melihat Lina bertingkah aneh akhir-akhir ini lalu menghampiri Lina. “Kamu ini kenapa

Dukun

Oleh:
Aku mematung seperti kena tenung. Ku lihat perlahan jari tengahnya merapikan poni rambutmu, terus memutar ramah di lengkungan telinga kirimu sampai akhirnya keempat jari yang lain turut ambil bagian

Aku Tak Akan Melupakanmu

Oleh:
Apa yang kamu rasakan kalau pacaramu adalah orang yang tepat dalam hidupmu? Dia tulus menerimamu apa adanya, tulus mencintai dan menyayangimu dengan segala kekurangan yang kau miliki. Dia yang

Cinta Tak Berbalas

Oleh:
“Gimana, enak gak minumannya?” tanyaku pada Sheila. “enak dong, ini kan minuman kesukaanku” jawab Sheila, sambil meminum jus dari sedotannya. “Pulang yuk, sudah kenyang nasi goreng nih” kataku. “ya

Skate Love

Oleh:
Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu”

  1. Fajri says:

    Kereeeennn:-)

  2. Fatwa says:

    Bagus bgt ceritanya , 🙂

  3. Annisaa says:

    Ini Cerpen cinta beda agama yg pertama kali gw baca pas liburan kelulusan kelas 9 dan sebelum memasuki kelas 10… jujur gw waktu itu gk mengerti dan gk terlalu peduli ama cinta beda agama karena gw ini berasal dari sekolah yg emg semuanya orang muslim dan belom pernah sekali pun masuk negri dan baru sekali ini gw masuk sekolah umum… pas baru 3 bulan di SMU ada cowok beda agama yg nembak gw dan akhirnya gw terima (sebenernya gw gantungin 2 minggu dulu sih) dan sejak saat itu gw mengerti apa yg dimaksud nih cerpen :”v
    When you tau ada cowok beda agama yg nembak lu and you berasal dari sekolah muslim dari sd sampe smp you bakal kelojotan ampe kayak cacing kepanasan :”””v #TrueStory beda2 sih pendapat org :3

Leave a Reply to Fajri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *