Kamu ya… Kamu Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 May 2015

Ya mungkin memang itulah ungkapan yang pas banget buat apa yang aku rasakan sekarang. Awalnya sih aku gak percaya dengan hal ini, karena hal ini sulit buat bisa aku pahami. Yang dulunya aku kira “someone” itu adalah dia, ternyata “someone” itu adalah kamu. Dan kamu itu adalah sahabatku sendiri. Bisa ngebayangin gak kalian kalau aku bisa naksir sama sahabatku sendiri. Ya… sebenarnya cerita cinta sama sahabat sendiri itu sudah biasa sih. Tapi bagiku, tetap saja aneh, rasanya ganjal banget. Ya maklum saja aku gak terbuka sama sahabatku ini tentang perasaanku sama cowok. Pernah sih… dulu dia selalu mendesakku untuk bercerita tentang cowok yang aku suka. Tapi tetap saja aku gak nyaman kalau harus cerita sama dia. Soalnya, sebelumnya dia pernah nembak aku, tapi aku tolak. Ya iyalah aku tolak karena waktu itu aku sedang pacaran sama laki-laki lain.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu juga hubunganku sama dia ini. Persahabatan yang aneh menurutku. Aku sama dia masih jaga jarak. Setahuku ketika kita punya sahabat kita akan lupa bagaimana cara menjaga sikap, karena lebih terkesan blak-blakan. Tapi ketika aku sama dia sedang berkomunikasi masih saja kita saling malu. Okelah kalau lewat sms atau telepon aku dan dia masih bisa bersikap konyol. Tapi yang aku heran ketika aku dan dia sudah bertatap langsung, aku seolah-olah merasa malu untuk ngomong apa, terkadang malah salting pula diriku. Tapi kayaknya sepengamatanku, bukan Cuma aku saja yang merasakan hal tersebut, tapi dia juga. Ya sungguh terlihat dari tatap mata dan gerak-geriknya.

Tak kusangka persahabatan ini telah terbina sampai sekarang. Dulu aku yang tak sengaja memperhatikanmu. Karena aku melihat ada hal yang berbeda antara dia dengan teman laki-lakiku yang lain. Aku lupa bagaimana dulu aku bisa mengenalnya. Namun masih ku ingat sekali dia dulu adalah laki-laki yang suka ngegodain cewek-cewek. Uh… sebel banget dulu aku ngelihat dia. Setiap cewek yang cantik selalu dia dekati untuk dijadikan pacar atau hanya bahan taruhan dengan temannya.

Tapi memang semua itu berawal dari ketidak sengajaan, aku mulai dekat dan mengerti dia itu sosok laki-laki yang seperti apa. Lambat laun berjalannya waktu aku dan dia semakin akrab hingga kita berdua pun sering berkirim pesan. Dengan hanya menanya kabar hari ini bagaimana. Ya… hanya basa basi saja… soalnya juga kita tiap hari ketemu di sekolah. Gak penting banget kan sebenarnya sms kayak gitu. Ya… gak penting banget!! tapi ya hal itu yang malah menjadikan kita menjadi akrab, hingga suatu saat aku bertanya soal privasinya. Ya mungkin sedikit tidak sopan, tapi bagaimana lagi aku sudah penasaran.

Aku dan dia semakin akrab, hingga kita mulai bertukar pikiran. Aku mulai mengkritik segala sikap dia yang aku anggap tidak baik di mataku. Namun sisi baiknya adalah dia tidak pernah marah ketika aku mengatakan apa saja sisi buruknya. Ya… mungkin dia memang menyadari apa saja kesalahannya. Namun… banyak sekali permasalahan yang aku temukan dalam dirinya. Aku mengenalnya memang sebagai “Trobel Boy” ya… laki-laki yang selalu bikin onar dimana-mana. Tak heran kalau banyak musuhnya. Dari situlah hatiku mulai tergerak, aku tidak ingin melihat dia selalu bersikap buruk seperti itu. Karena di sisi lain aku sadar kalau dia adalah laki-laki yang baik. Namun karena dia terbawa lingkungan yang buruk sehingga mengakibatkan dirinya jadi orang yang salah kaprah begini.

Mulai dari hati ke hati aku bicara baik-baik dengannya. Dia mulai mendengarkan nasehat-nasehat yang aku berikan. Yah… walaupun kadang dia sedikit meledekku dengan kalimat “ya… bu uztadzah”. Aku memang sedikit tersinggung jika dia bicara seperti itu. Tapi lama-lama aku sudah tidak menghiraukan omongan dia yang seperti itu. Aku tahu dia butuh proses yang lama untuk berubah. Tak mungkin dalam beberapa bulan seseorang langsung bisa berubah. Setahun, dua tahun saja itu kurang mungkin jika tidak ada niat dari dirinya sendiri untuk berubah.

Dulu waktu SMK kelas 2, aku tidak satu kelas lagi sama dia, namun kita masih sering berkomunikasi. Dulu waktu dia sedang mengejar-ngejar cewek aku tahu apa saja yang dia lakukan. Dia bisa melakukan apa saja yang dia ingin dapatkan. Termasuk dalam urusan cintanya. Dia akan berbuat apa saja untuk mendapatkan cewek yang dia incar untuk jadi pacarnya.

Entah mengapa dulu waktu dia sedang bercerita tentang pacarnya, aku merasa sedikit jengkel sama dia. Ingin rasanya aku bicara langsung sama dia “WOEE… bisa gak, gak usah cerita tantang cewek loe… aku benci banget tau!!!” ya kalimat itu yang sering banget aku pengen omongin sama dia, tapi karena aku pikir itu gak perlu aku lakukan, jadi aku gak pernah ngomong seperti itu dengannya.

Saat-saat dia mau dikeluarin dari sekolah, hal ini yang membuatku selalu kepikiran. Apa aku bisa jauh dari dia? hampir setiap hari kita ketemu. Aku pasti akan merasa kesepian jika tanpa dirinya. Ya itulah yang muncul dalam benakku pada saat itu. Aku selalu meminta pada dia untuk berani meminta maaf dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya. Alhamdulillah, dia dengan berani meminta maaf dan akhirnya kepala sekolahku memberikannya kesempatan untuk berbenah diri. Ya.. mungkin itu adalah sedikit cambukkan bagi dirinya agar dia mau berubah menjadi laki-laki yang baik.

Dari kejadian itulah dia mulai sedikit sadar, betapa Tuhan sangat menyayanginya. Aku mulai menguatkan dirinya, selalu memberikan support agar dia mau berubah. Waktu berlalu.. dan akhirnya kami semua lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan. Disinilah awal dari kita mulai merancang mimpi, aku dan dia memiliki mimpi dan cita-cita yang berbeda meskipun sebenarnya tujuannya sama yaitu menjadi orang yang sukses.

Aku sibuk mendaftar kuliah, begitu juga dia. Akhirnya kami berdua melanjutkan pendidikan di universitas keinginan masing-masing. Dia sekarang kuliah di UMS Solo dan aku kuliah di IKIP PGRI Semarang. Ya… meskipun kami jauh, tapi kami selalu berkomunikasi dengan lancar, hampir tiap hari kami bertukar kabar. Akhirnya sampai sekarang pun hubungan kami masih lancar. Dan di antara sahabatku yang lain, hanya dengan dialah aku paling merasa dekat dan tidak pernah “lost contact”. Ya… sungguh luar biasa, banyak sekali hal yang berubah dari diriku maupun dirinya.

Cerpen Karangan: Febdiana Yusnita Sari
Blog: febdianayusnita.blogspot.com

Cerpen Kamu ya… Kamu Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Bawah Langit Agustus (Part 1)

Oleh:
Entah bagaimana aku harus memulai, sebagai seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai pengagum rahasia, sampai akhirnya saat itu tiba… Jatuh cinta untuk sekian kalinya pada orang yang sama, membuat

Ikhlas Yang Ternodai

Oleh:
Di sudut ruangan kantor yang kini kosong, aku terisak memeluk lutut dan membenamkan wajah di sana sampai semua air yang mengalir perlahan tumpah membasahi bagian rok yang menutupi lutut.

Tak Kusangka

Oleh:
“Nengsih, kamu ikut Hendro!” Kata mandor Arman pada gadis itu. Aku terkejut. Antara senang dan grogi. Bagaimana tidak grogi, dari awal aku melihat dia tadi detak jantungku mendadak berdegup

Kiriman Coklat Terakhir Darimu

Oleh:
“Non Tasya ada kiriman coklat ni” “Iya bii bawa kesini aja” Namaku Tasya umurku 14 tahun, aku memiliki sahabat yang baik yaitu Gusti, Gusti adalah sahabatku dari kecil “Ini

Cinta, Jangan Buru Buru (Part 1)

Oleh:
‘Dua Hal Yang Biasa’ “Malam belum saatnya tiba namun mendung datang gelapkan alam tak kuasa hujan pun berderai tak tertahan, tercurah dari ribuan sayatan pada tubuh-tubuh awan, bumi pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *