Katatonia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 November 2017

Pedih dan letih, itulah yang kurasakan. Aku kembali kehilangan teman dan sahabat. Di tempat baru ini aku benar-benar merasa sendiri. Tak ada satu pun orang yang kukenal. Rasa takut menghantuiku. Aku benci hidupku. Aku benci semua hal yang telah membuatku berada di tempat ini.

Sampai detik ini aku belum memutuskan untuk berteman. Aku memang tak ingin membuat ikatan pertemanan. Percuma saja membuat ikatan bila akhirnya harus dipatahkan.
Satu-satunya hal yang dapat menghiburku di tempat yang masih asing ini adalah jendela kamarku. Dari jendela besar ini aku bisa menikmati desir angin tipis yang membelai wajahku lembut. Meresapi petrikor di sela-sela gerimis yang datang tiba-tiba. Menggoyangkan ranting pohon yang menjulur di dekat jendela untuk menggoda burung gereja yang hinggap di sana. Mengagumi taman milik tante Maya yang selalu dipenuhi bunga yang bermekaran tanpa lelah. Aku dapat menghabiskan waktu berjam-jam di balik jendela ini.

Hari ini ada yang lebih menarik dari jajaran bunga gladiol yang bermekaran indah di bawah sana. Di balik vitrage tipis jendela kamar rumah tante Maya yang berkibar ditiup angin, ada sebuah sosok yang mematung di kursinya, duduk berjam-jam tanpa lelah dengan posisi yang sama. Sementara aku telah mondar mandir dan naik turun tangga, dia yang di sana masih saja berdiam tak bergerak di balik jendela lebar yang membingkai kesunyiannya.

Genap satu pekan ini aku menjadi pengamat yang sangat sabar. Sabar memperhatikan sosok di bawah sana yang masih saja mematung tak bergerak. Terkadang aku melihat tante Maya duduk di sisinya, memandanginya dengan wajah muram. Bila senja tiba, sosok itu pun menghilang meninggalkan gelombang lembut pada kain vitrage yang ditarik perlahan.

Aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tidak biasanya aku mau melakukan hal yang tidak biasa yaitu mengantarkan kue buatan mama ke rumah tetangga. Sebuah nampan berisi Milky Raisin Mamon telah ada di tanganku, siap dikirim ke rumah tante Maya.
Pada ketukan ketiga, sebentuk wajah tirus nan ayu menyembul dari daun pintu yang terbuka. Tante Maya terlihat sangat cantik dengan balutan sackdress putih bermotif polkadot hitam. Wajahnya terlihat semringah ketika melihatku.

“Ini pasti Ralin ya?”
Aku mengangguk dengan tidak lupa menyunggingkan senyuman terbaikku di hadapan wanita bertubuh semampai itu.
“Ayo masuk.”
Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah bercat putih itu. Aroma butter bercampur wangi nanas sekonyong-konyong menyapa hidungku lembut.
“Kebetulan, tante baru saja selesai memanggang kue kesukaan Jen, tunggu sebentar ya.” Tante Maya tersenyum lalu berlalu.

Saat ini aku merasa bahwa mataku mulai memberontak untuk dapat menemukan sesuatu yang selama ini bergelung di pikiranku. Otakku mulai mengirim sinyal kepada leherku untuk mulai menjulur kesana kemari. Dan tanpa memakan waktu yang lama, aku pun menemukan sosok itu. Duduk mematung di dalam ruangan yang sering aku tatap dari jendela kamarku. Ruangan itu sejajar dengan ruang tamu berbatas tirai yang terbuat dari kerang-kerangan pipih berwarna broken white.
Karena terlalu sibuk dengan apa yang aku lihat, aku tidak menyadari kehadiran tante Maya yang kini telah berada di sampingku dengan membawa nampan berisi satu toples kue nastar.

“Itu Jen, Jendra. Kamu mau berkenalan dengan dia?”
Aku terkesiap. “Err, saya …”
“Kalau tak mau juga tidak apa apa kok.” Tante Maya tersenyum tipis.
“Mmmm Jen yang suka kue nastar itu kan, tante?” Aku menunjuk toples yang masih berada di tangan tante Maya dengan malu-malu.
Tante Maya tertawa dan mengangguk, lalu membimbingku ke arah sosok yang masih saja duduk mematung di depan jendela lebarnya.
“Tante tahu, kamu memang berbeda.”
Aku tak mengerti dengan apa yang tante Maya katakan.
“Jen, ini Ralin, tetangga baru kita.”
Dia yang disapa Jen, tetap diam membisu bahkan tidak bergerak sama sekali.
“Ralin, ini Jendra, putra tante satu-satunya. Tante berharap kamu mau berteman dengannya. Jen kamu mau kan mempunyai teman lagi?” Tante Maya bertanya kepada Jen, namun Jen tetap dalam posisinya, kaku tak bergerak.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, sekonyong-konyong aku menjadi sama kakunya dengan Jen.
Kini di pikiranku sudah menumpuk banyak pertanyaan yang tak mungkin aku tanyakan kepada tante Maya.

“Jen itu mengidap katatonia.” Mama berkata pelan.
“Katatonia? Seperti nama grup band kesukaan kakak?”
“Hush, yang ini bukan grup band tapi sebuah keadaan yang bikin dia jadi begitu, diam, kaku dan tak bergerak.”
“Itu dari bayi mam?”
Mama menggeleng “Sejak dua bulan yang lalu.”
“Karena apa, gak mungkin kan tiba-tiba seperti itu?”
“Tante Maya bilang karena kesalahan dia.”
“Hah?”
Mama membekap mulutku dengan tangannya. “Maksudnya secara tidak langsung.”
“Ah mama berbelit-belit.” Aku merengut.
“Tante Maya terlalu sibuk berkarir, dan Jen merasa diabaikan. Kebetulan dia masuk ke lingkungan pertemanan yang buruk.”
Aku mengangguk-angguk.
“Jen over dosis, jiwanya nyaris tak tertolong.”
Aku membelalakan mataku.
“Setelah beberapa hari koma, dia bangun tapi tidak dapat bergerak kecuali dengan bantuan.”

Tante Maya membelai kepalaku lembut. “Tante tidak lama kok, kalau saja bik Nani ada, tante pasti tidak akan meminta pertolongan kamu untuk menjaga Jen.”
“Gak apa apa Tan, aku senang tante percaya kepadaku.”
“Terima kasih sebelumnya ya.” Tante Maya memelukku.

Bagai maling takut ketahuan, aku mengendap-endap di balik punggung Jen. Aku ragu untuk menampakkan batang hidungku di hadapan pemuda itu. Tapi bagaimanapun juga aku harus terlihat dan memberitahunya bahwa ada seseorang yang menemaninya di rumah besar nan sepi ini. Tante Maya berkata, walaupun Jen diam dan tidak merespon segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan gerakan, ia masih dapat merasakan dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi, dalam arti otaknya masih bekerja dengan baik. Aku jadi teringat dengan kakek, beliau pernah mengalami hal seperti ini setelah terkena serangan stroke beberapa tahun yang lalu.

“Hai Jen, masih ingat aku kan? Aku Ralin, aku akan menemani kamu sampai mama kamu kembali.” Aku menatap mata coklat dengan tatapan kosong itu.
Aku duduk di samping kursi rodanya, seketika mataku menangkap sebentuk rak buku yang menjulang megah mengelilingi setengah dari ruangan itu. Bagai menemukan harta karun terpendam, aku pun mulai meloncat dari rak satu ke rak lainnya sambil mengoceh tanpa henti, membaca judul-judul buku itu dan mengatakan kepada diriku sendiri alih alih Jen bahwa novel yang tengah ada di genggamanku sekarang adalah salah satu novel klasik kesukaanku, dimana dulu aku pernah memilikinya namun dihilangkan oleh salah seorang temanku.

Aku membuka lembar demi lembar kertas berwarna krem itu dengan hati-hati, lalu melirik Jen dengan ujung mataku.
“Novel klasik yang ditulis Laura Ingalls Wilder ini seru loh, aku bacakan untuk kamu ya?” Tanpa menunggu persetujuan dari Jen yang juga entah bagaimana caranya, aku pun mulai membaca dengan suara keras yang lama-lama membuat tenggorokanku kering.

Tiba-tiba tante Maya telah ada di sampingku, di tangannya ada nampan dengan dua gelas berembun yang berisi lemon mojito. Aku pun menjadi salah tingkah.
“Maafkan aku tan, lancang telah meminjam novel ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tapi aku sudah bilang kepada Jen kok.”
Tante Maya tertawa, “Ya ampun Ra, gak apa apa. Mau kamu baca atau pinjam semua buku-buku itu juga tante gak keberatan kok. Tante senang ada yang mau menyentuh buku-buku koleksi tante sejak remaja dulu.”

Bagaikan magnet yang sangat kuat, kumpulan buku itu telah membuatku kembali dan kembali lagi. Setiap hari aku membacakan beberapa lembar isi novel Farmer Boy yang bercerita tentang masa kecil suami Laura Ingalls, Almanzo James Wilder, kepada Jen lalu aku membaca novel lainnya untuk diriku sendiri. Setelah sesi membaca selesai, aku pun mulai mengoceh tentang hari-hariku di sekolah. Secara tak sadar aku mulai membangun sebuah ikatan pertemanan dengan Jen, walau aku tak tahu apakah Jen mau berteman denganku.

Hari ini aku merasa risau dan kesal sekali, alih-alih pulang, aku malah membuka pagar kayu rumah bercat putih itu.

“Jen ada di tempat biasa, masuk saja Ra.” Tante Maya berteriak diantara pot-pot yang tengah ia atur. Aku mengangguk dan bergegas. Sore itu, di hadapan Jen, aku menumpahkan seluruh perasaan tak nyaman yang beberapa hari ini menggumpal di hatiku.
“Dia selalu membayangiku, memaksaku untuk mau diantar pulang lah, mengajak ke bioskop lah, makan siang lah, aku gak suka dengan segala paksaannya, Jen. Kamu tahu kan bagaimana rasanya dipaksa apalagi oleh seseorang yang gak kita sukai. Aku takut sekali Jen, barusan dia ada di belakangku, menguntitku. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.” aku berkata lirih sementara mata coklat itu berkedip berkali-kali dengan cepat.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat ketika menyadari bahwa Randy, kakak kelasku yang selama ini selalu membayangiku dengan terang-terangan itu mengikutiku. Ketika aku melintasi rumah tante Maya, mataku menangkap wanita itu tengah kepayahan mengeluarkan Jen dari kendaraannya. Tanpa pikir panjang, aku pun melesat menuju ke sana.
“Makasih ya Ra, tapi boleh tidak kalau tante minta tolong sekali lagi saja?”
Aku mengangguk.
“Bisakah kamu mengajak Jen duduk-duduk di taman sebentar? Sepertinya Jen perlu udara segar barang sesaat. Terapinya agak sedikit melelahkan.”
Aku tersenyum dan mengiyakan.

Aku mendorong kursi roda Jen melalui bebatuan granit yang dibentuk menjadi sebuah jalan menuju taman bunga tante Maya yang indah. Aku letakkan kursi roda Jen di hadapan bangku taman yang aku duduki. Lalu aku pun menunjuk jendela kamarku yang tertutup rapat di atas sana dan mulai bercerita bahwa setiap hari aku selalu memandangi taman bunga ini dari jendela kamarku itu.
“Jen, jendela itu telah membawaku kepadamu.”
Aku menatap wajah Jen sejenak, lalu mengerjap-ngerjapkan mataku untuk memastikan bahwa apa yang baru saja aku lihat bukanlah sebuah halusinasi semata.
Aku melihat Jen tersenyum.
Ada sebongkah harapan yang menggelegak dalam hatiku. Harapan akan kesembuhan dari teman baruku ini, ya seorang teman. Teman yang kini masih asik dalam dunianya sendiri. Teman yang telah membuatku merasa lebih baik di tempat yang masih asing ini.
Awan kelabu bergumpal di langit, aku bergegas membawa Jen melalui jalan berbatu granit itu. Tiba-tiba sebuah suara lantang mengoyak telingaku yang seketika menghentikan langkahku.

“Ooh, jadi cowok seperti ini yang telah membuat kamu menafikan aku?”
Aku membalikan badanku, pintu pagar kayu itu telah terbuka dengan Randy berada di antaranya.
“Aku tidak menyangka, Ralin yang selama ini aku sukai lebih memilih cowok yang tidak bisa melakukan apa-apa seperti dia.”
“Maaf, aku tidak suka kamu berada di sini.” Aku menghampiri Randy yang kini tertawa nyaring.
“Lihat dia Ra, apa yang kamu harapkan dari dia? Dia tidak bisa bergerak, iya kan? Dia tidak bisa berbicara dan mungkin tidak bisa mendengar. Dia itu nol, kosong, tak ada artinya sama sekali.”
“Dia temanku dan dia sangat berarti bagiku.”
“Hah, omong kosong!” Randy tersenyum sinis.
“Ayolah Ra, sekali saja, ada tempat makan baru di ujung jalan sana.”
Aku menggeleng, namun tiba-tiba Randy mencengkram lenganku lalu menarikku dengan paksa. Aku terkejut dan berusaha melepaskan cengkramannya dengan mengibaskan tanganku berkali-kali. Namun Randy lebih kuat, dia berhasil menyeretku beberapa langkah.
“Betul kan apa yang aku bilang tadi, teman kamu itu tidak bisa melakukan apa-apa.” Randy menunjuk Jen dengan dagunya.
“Randy, lepaskan aku.” Aku histeris.
“Lepaskan? Sudah tertangkap untuk apa dilepaskan.” Randy kembali tertawa nyaring.

“Lepaskan dia.” Sebuah suara mengejutkanku bahkan Randy karena tiba-tiba ia melonggarkan cengkramannya.
“Jangan pernah mengganggu Ralin, atau tinjuku akan memporak-porandakan wajah tampan kamu itu.”
Aku berdiri kaku di tempatku, ketika aku tahu dari mana suara itu berasal.

Cerpen Karangan: Ika Septi
Facebook: Ika Septi

Cerpen Katatonia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Filly Sahabatku

Oleh:
Namaku Ariana yuni syarofah yang biasa akrab disapa Riana. aku sekarang bersekolah di SMP N 4 BUNTA. kisahku ini tentang masa lalu ku bersama sahabatku yang bernama FILLIAWATI PRADIWI

Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan

Oleh:
Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera

Sahabat Sejati

Oleh:
Pada saat ana pulang sekolah, dia melihat sebuah keluarga yang pindah rumah. Ana melihat seorang anak perempuan yang kelihatan pintar. Ana mencoba menyapa anak itu. Ana ingin anak itu

Cinta Sebatas Sahabat

Oleh:
Hari baru dan awal baru untukku karena sekarang aku naik ke kelas 9. Begitu pula dengan sahabatku. Sekarang aku mempunyai 8 orang sahabat yang sangat pengertian dan menyayangiku apa

Cinta Sejati (Part 1)

Oleh:
21 Agustus 2016 Di suatu SMP terdapat siswi yang terkenal tetapi sombong karena kecantikan dan kekayannya. Ferylona namanya. Dia akrab dipanggil Fery. Banyak cowok yang mendekatinya. Namun hanya ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *