Kau Temanku Hartaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Kami adalah teman yang tak pernah lepas dari genggaman. Selalu bersama itulah kami. Bukan teman masa kecil, bukan pula teman dekat rumah, dia adalah temanku semenjak masuk bangku SMA, yang rumahnya jauh dari tempat tinggalku. Tak lekang oleh waktu, tempat, atau apapun itu kami bersama hingga sekarang.

Persahabatan kami bagai rantai yang tak terpatahkan oleh apapun, renggang sedikit pun tidak. Sangat erat sekali. Canda tawa selalu menghiasi hari, tak sedikit pun terbersit banyak lamunan. Suaranya aku hapal, gerak-gerik tubuhnya selalu kuperhatikan, bahasa tubuhnya yang unik sangat kaku karena tidak terbiasa, aku hapal.

Dia murah senyum, dengan senyumnya orang lain pun mudah ikut tersenyum. Tidak pernah menampakkan kesedihan seperti berat dalam menjalani hidup, dia selalu riang, seolah tanpa masalah. Perkataannya sering membuat gelak tawa ruang kelas bergema. Tiap ada pembicaraan dia melontarkan senyumnya. Dan saking uniknya, aku sangat kasihan padanya.

Suasana persahabatan kami berubah semenjak kelas XII setelah dia berpacaran. ‘Sudahlah jangan coba-coba lagi, aku kan udah cerita hanya banyak buruknya aja’, dengan mantapnya dia menjawab ‘Sekali aja lagi di’. Pembicaraan singkat namun sudah kubulatkan tekad, aku menyerah. Apakah dia berpacaran lagi karena cerita pengalamanku? Aku yang menjerumuskannya sendiri kepada maksiat itu? Aku merasa tak berdaya lagi. Ketika mempunyai tujuan yang berbeda, untuk apa bersama kembali? Hanya membuang-buang waktu, toh dia tidak akan sevisi denganku lagi.

Hancur harapanku dari persahabatan ini. Ingin aku mengingatkannya kembali, sungguh aku tak berdaya. Betul nyatanya, berharap kepada manusia itu haruslah siap untuk kecewa. Sangat kecewa. Belajar pemrograman hilang. Menggapai cita-cita bersama hilang. Untuk berbicara pun aku hilang selera.

Tak ada tawa lagi di antara kami, paling senyum yang sinis dariku. Hanya iya dan iya, seolah aku peduli lagi dengannya. Tak ada lagi keharmonisan yang muncul, hanya tatapan tajam akan ketidaksukaan. Tak ada lagi hasrat ingin membantu, walau pun dia meminta. Ingin rasanya aku memukulnya lalu dia tersadar dalam hatiku, kalau dia tidak tersadar bagaimana? Aku mengubur dalam-dalam niat itu. Ingin melukainya, sungguh aku tak mampu. Aku membiarkannya saja dengan berharap agar waktu segera untuk cepat berlalu. Kondisi inilah yang sangat tidak aku inginkan, dengan alasan membuat waktu sia-sia tak lagi berguna.

Pada akhirnya kebencian datang, dan tanpa aku sadari aku sendiri yang mengundangnya. Tiap hari bertemu aku menghiraukannya, cuek bebek saja. Semakin kuperhatikan dalam waktu lama, semakin tidak sudinya aku karena dia berpacaran. Aku mengacuhkannya. Biarlah dia begitu, asalkan aku tidak. Maksudnya membiarkan dalam dosa? Sungguh hati berat untuk mengakui. Ketika di sisi lain ada keinginan untuk kembali mengajaknya, namun aku tertawa. ‘Udah gak ada harapan lagi, akan sia-sia aja!’ Begitulah pesimisnya aku, seolah yang telah terjadi tak kan dapat untuk kembali. Padahal tidak untuk kasus ini.

Aku menemukan celah kelemahan diriku, egois. Seakan harus sama jangan mencoba untuk berbeda. Di sinilah aku memaksakan opiniku kepadanya. Memaksakan adalah hal terlarang, karena hasil akan lebih baik jika dari pemikirannya sendiri. Aku ingin membuka kembali pikirannya, dengan tidak memaksakan kehendakku, biarlah jika jawabannya sama tetapi aku tak kan pantang menyerah. Setidaknya satu hal lagi yang ingin aku lakukan dengannya yaitu, berdiskusi. Seandainya aku mencoba mendekatinya lagi, mungkin akan menjadi cerita yang lain lagi. Mungkin saja kan? Selama masih hidup, di situ ada waktu. Waktu masih ada menandakan masih ada kesempatan. Mencoba sebelum terlambat, daripada menyesal kemudian. Dan aku sangat berharap, kami bisa sukses bersama dalam jalan kebenaran.

Cerpen Karangan: Aldi Febrian
Blog / Facebook: chotte.waper.co / Aldi Febrian (AlfaRyui)
Ini adalah karya pertama penulis yang dipublikasikan di cerpenmu.com. Penulis sangat menggemari diskusi. Bagi kamu yang ingin berdiskusi dengan penulis, kirim pesan saja langsung melalui FB penulis.
“Karena teman adalah penentu diri kita seperti apa, maka sangat penting untuk memilah dan memilihnya.”

Cerpen Kau Temanku Hartaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret of Love (Part 1)

Oleh:
Halooo.. nama gue Tania Maulida Wijaya. Nama Wijaya diambil dari nama ayah gue yang bernama Adi Wijaya. Dan Maulida nama ibu gue yang bernama Rina Maulida. So nama gue

Kawan Sejati

Oleh:
Seorang sosok wanita yang sangat baik dan rendah hati sedang mengayuh sepeda miliknya, dengan perasaan yang selalu dibawa oleh keceriaannya itu hari-harinya terasa lebih indah dan apa adanya. Riana

Sahabatku (Kimi dan Mike)

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang wanita yang cantik dia bernama Mike, dia bersekolah di SMP MUHAMMADIYAH 15. Mike orangnya sangat sombong dan pelit. Dia selalu suka pilih-pilih teman, jadi

Kado Terindah

Oleh:
“Selamat pagi, happy december” Sepatah pesan singkat yang kuterima pagi hari ini, kulontarkan senyuman penuh arti terhadap Eka, sahabatku yang mengirim pesan singkat di awal Desember yang indah. Sejenak

Welcome Exam I am Ready!

Oleh:
malam kian larut waktunyatarik selimut angin berhembus lembut ,malam yang sunyi, hanya deru kendaraan roda 2 dan roda 4 yang terdengar, lampu2 di setiap rumah masih menyala hanya pintu2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *