Kembali, Tapi Tak Sama (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 July 2015

Kicauan burung-burung pagi membangunkanku yang sedang tertidur lelap. Pagi yang cerah, matahari dengan senang hatinya tersenyum padaku, berusaha mengatakan bahwa pagi ini adalah pagi yang indah. Mataku masih setengahnya terbuka, disaat aku mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Aku bangkit berdiri dari tempat tidurku dan menujuh ke kamar mandi, setelah aku membasuh wajahku dan segala macamnya, aku pun turun ke lantai bawah dan mendapati biang keributan itu.

“Nina. apaan sih, pagi-pagi udah ribut kayak gitu. Gak malu apa sama tetangga?” tegurku pada adik bungsuku ini.

“Ga mbak, aku lagi nyari sepatu yang kemarin baru aku beli itu loh mbak. Aku kan taruhnya di kamar sepatu, tapi kok gak ada, lagian aku udah telat ni mbak.” jelas Nina

“Ya ampun deh Nina, bukannya sepatu itu, kamu taruh di kamar mbak. Kemarin kan kamu sempat nunjukin ke mbak. Kamu tu ya, masih muda kok, suka lupa sih.” Omelku pada Nina.

Aku pun kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus juga. Nina mengekoriku dari belakang, untuk mengambil sepatunya. Setelah selesai bersiap, Nina pun berpamitan ke kampus. Sempat pula ku lihat, mobil Jazz milik Nina melaju dengan cepat.

“Mbak Yuki nggak ke kampus?” Tanya bi Rati, yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu sambil menenteng sarapanku yang tadi sempat ku mintai tolong untuk membawakannya ke kamar.

“Bentar lagi bi, kuliahnya jam 12, jadi ntaran jam 11 baru siap-siap bi.” Jelasku sambil menghampiri bi Rati yang sedang menaruh nampan sarapanku di meja belajarku.

“Ya udah mbak, kalau gitu bibi lanjutin kerja dulu ya, kalau ada butuh sesuatu panggil bibi aja ya mbak.” Ujar bi Rati sambil berjalan ke luar kamarku. Aku hanya mengangguk memberikan jawaban.

Aku kembali ke aktivitas awalku. Aku memeriksa kembali tugas-tugasku yang telah ku kerjakan semalam. Perfect! Udah nggak ada yang perlu dirubah lagi.

Saat ini aku berkuliah semester 5 di salah satu universitas negeri di Jakarta, letaknya tidak cukup jauh dari rumahku, jadi aku tidak perlu terburu-buru karena takut macet. Sambil menikmati sarapan yang tadi dibawa bi Rati, aku pun membuka emailku, ku buka inboxku, ternyata ada beberapa pesan yang masuk minggu ini. Ku buka satu per satu, ada dari omku, mamaku, kakakku, dan teman-temanku, ada salah satu pesan yang sempat membuat keningku berkerut. Email tak dikenal, aku tak mengenal orang itu. Karena penasaran, akhirnya aku membuka email tersebut

From: Al Christian Ghazali
Subject: Lama ga ketemu

Hai Nyet, apa kabar? Lama ya gak ketemu, rasanya udah 3 setengah tahun ya. 3 setengah taun udah jadi buronan kamu nyet, ilang tanpa kabar.
Sebenarnya aku malu untuk hubungi kamu lagi, tapi rasanya gak bisa, walaupun aku udah berusaha. Oh ya, aku udah di Jakarta lagi Nyet, aku sekarang udah menetap disini, kalo kamu punya waktu, kamu mau gak kita ketemuan? Kalo gak mau juga gak apa-apa kok. Tapi aku sangat berharap, kamu punya waktu nyet, waktu untuk buronan kamu yang gak tau malu ini.

~Al~

Setelah membaca email dari Al, aku pun terpaku untuk beberapa saat di depan laptopku yang sedang menampilkan pesan dari Al itu. Aku tak menyangka. Pria yang sudah lama menghilang kabarnya ini tiba-tiba menghubungiku, memberitahukan ku bahwa dirinya sudah berada di Jakarta, sedangkan aku, tidak tau dimana selama ini dia menghilang. Sungguh berita yang mengejutkan. Aku berusaha tak menggubris pesan tersebut, aku putuskan koneksi internetku. Aku lebih memilih bersantai di balkon kamarku. Tapi nihil, aku masih saja memikirkan email dari Al. Ternyata Al masih mengingatku.

Al Christian Ghazali lebih tepatnya Al, kekasihku dari kami duduk di bangku SMP kelas 1, sampai pada akhirnya tepat saat kami mengenyam bangku pendidikan kelas 11 SMA, Al tiba-tiba menghilang entah kemana. Aku berusaha menghubunginya, namun usahaku sia-sia. Pihak sekolah pun berusaha menghubungi keluarga Al, namun usahanya lagi-lagi gagal. Aku pun melakukan berbagai usaha untuk mengetahui keberadaan Al dan keluarganya yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Segala upaya usaha yang kami semua lakukan sia-sia. Akhirnya aku berhenti mencari tau keberada Al. Aku tak tau lagi harus berbuat apa. Hari-hariku semenjak menghilangnya Al berubah menjadi 180 derajat, aku yang dulunya periang, cerewet, usil, berubah menjadi orang yang berbeda. Teman-temanku berusaha menghiburku, namun usaha mereka tak mempan. Untungnya saja aku memiliki teman-teman yang sangat pengertian. Dan pada akhirnya kamipun lulus SMA. Masa-masa yang begitu sulit bagiku akhirnya selesai juga. Aku pun kembali menata hidupku menjadi lebih baik lagi, aku kembali pada sifatku yang dulu, aku berusaha keluar dari bayang-bayang Al. Kini aku Yuki yang baru, Yuki yang penuh akan keoptimisan. Namun tiba-tiba saja pertahananku goyah di saat aku mendapat kiriman pesan dari orang yang sangatku rindu itu.

“Mbak Yuki, ada telpon tuh buat mbak .” Ujar Nina sambil memberikanku gagang telpon itu padaku.

“Siapa dek?” tanyaku sambil menerima telpon tersebut. Nina hanya mengedikkan bahunya, lalu ngeloyor ke meja makan.

“Halo, selamat malam.” Ujarku, namun tak terdengar balasan dari sang penelpon. Akupun menggerutu kesal. Sebenarnya niat gak si nelponnya? Ujarku dalam hati.

“Nina, ini dari siapa sih? Kok gak ada yang ngomong?” Teriakku pada Nina yang sekarang sedang berada di dapur.

“Gak tau mbak, katanya mau ngomong sama mbak Yuki, makanya Nina kasihin ke mbak Yuki.” Jelas Nina.

Kerena kesal, aku pun memutuskan hubungan telponnya. Belum sempat semenit aku menaruh kembali gagang telpon tersebut, tiba-tiba telpon itu berbunyi lagi. Dengan kesalnya aku mengangkat telpon tersebut.

“Halo ini siapa si? Kalo nelpon Cuma untuk main-main, mending gak usah nelpon.” Cerocosku tanpa mendengar si penelpon mengucapkan sapaannya.

Lagi-lagi si penelpon memilih diam. Saat aku ingin memutuskan hubungan telpon tersebut, tiba-tiba aku mendengar suara yang tak asing lagi bagiku, memanggilku dengan sebutan yang hanya diketahui oleh orang terdekatku saja. Disaat itu pula, kerongkonganku seakan kering tak berair, sakit rasanya, sudah lama aku tak mendengar suara khas ini, berat dan beserak. Kini giliran aku yang terdiam. Tak satu kata pun yang keluar dari mulutku. Selang beberapa menit aku dan si penelpon hanya terdiam. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut kami. Akhirnya aku berusaha menormalkan keadaan, aku yang menyapa dia terlebih dahulu.

“Halo, maaf ya, ini dengan siapa? Apa kita saling kenal?” Ujarku pada si penelpon, yang masih saja terdiam seribu bahasa. “Halo, mungkin kamu salah sambung.” Ujarku namun tak berniat untuk memutuskan hubungan telpon tersebut. Aku mendengar helahan nafas yang panjang dari si penelpon.

“Nyet? Ini aku…” Ujarnya menggantung. Aku berusaha mengontrol emosiku yang kini perlahan mulai meluap.

“Ya siapa ini?” Ujarku memancing.

“Al, nyet.” Hanya kata itu yang dapat diucapkan sang penelpon.

Mendengar namanya diucapkan, aku pun tak dapat lagi menahan emosiku. Aku tak sanggup untuk melanjutkan pembicaraan ini. Aku tak sempat berbicara lagi, disaat air mataku menetes. Ku tinggalkan si penelpon yang mungkin masih memegang handphonenya. Nina yang melihat gelagat anehku, memilih untuk siap mendengar si penelpon yang sudah membuat aku meneteskan air mata lagi. Aku sempat mendengar samar-samar suara Nina yang masih berbicara dengan Al. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi, aku merasa semua yang berada di sekelilingku menjadi gelap. Dan akhirnya aku pun terlelap dalam tangisku.

“Ki? Yuki?” Sergap Bella, saat mendapati aku mengelamun di perpustakaan. “Yee, bukanya belajar, malah bengong dia-nya.” Ujar Bella padaku sambil mengambil posisi tepat di depanku.

“Males Bel, kayaknya jamnya Pak joko gue gak ikut deh.” Ujarku sambil membereskan buku-bukuku.

“Loh? Kenapa? Lo sakit?” Tanya Bella, yang merasa heran dengan keputusan yang baru saja aku buat.

“Nggak kenapa-kenapa kok, gue cuma males aja. Lagian ujiannya kan minggu depan, jadi nggak apalah bolos sehari doang.” Jelasku, sambil berlalu meninggalkan Bella.

“Tapi kalo ujian dimajuin hari ini gimana?” Jelas Bella yang berusaha menahanku.

Aku merasa bimbang, tapi apa boleh di kata, percuma aja, kalau ikut kuliah, tapi otak, pikiran dan lainnya malah jalan-jalan ke tempat lain, mendingan sekalian aja nggak ikut.

“Keputusan gue udah bulat. Gue nggak bakalan ikut jamnya pak Joko. Titik.” Jelasku lalu meninggalkan Bella. “Gue tunggu lo semua di kafe biasa ya.” Ujarku lanjut.

Saat sedang meniikmati minuman kesukaanku, tiba-tiba saja teman-temanku sudah berada di dalam cafe.

“Loh, nggak pada kuliah? Ini kan belum selesai jamnya pak Joko.” Ujar ku terkejut.

“Beruntung lo, pak Joko nggak masuk. Dia Cuma ngasih tugas doang.” Jelas Vebby yang sudah meminum minumku.

“Bagus deh, jadi gue gak perlu ngasih alesan ke dia kenapa hari ini gue gak masuk. Males gue harus ngeles mulu dari dia.” Ujarku sambil tersenyum. Teman-temanku bingung dengan sikapku yang akhir-akhir ini uring-uringan.

Malam harinya, kami menginap di rumah Vita. Kami bercanda, mengolok satu sama lain. Namun semua itu tak mempan bagiku, ada hal yang sedang menganjal di hatiku saat ini. Rasanya tak enak. Seperti ada bongkahan batu yang sedang menganjal dadaku. Aku memutuskan untuk menyepi dari teman-teman. Ku hembuskan nafasku sedalam-dalamnya. Berkali-kali kulakukan hal yang sama.

“Ki? lo kenapa?” Tiba-tiba saja Ajeng sudah berada di sampingku. Mengambil posisi sama persis denganku. “Mau cerita?” ujarnya.

Ajeng adalah temanku dari SMP dia tahu betul perjalan cintaku dengan Al. Anjeng juga adalah ibu kedua bagiku. Pembawaanya yang tenang dan keibuan membuatku nyaman untuk selalu menceritakan setiap masalah ku padanya.

“Ya udah, kalo emang belum bisa cerita, gak apa-apa. tapi kalo lo udah siap untuk cerita, jangan sungkan-sungkan ya cerita sama gue, atau sama yang lainnya. Kita disini untuk saling melengkapi kan.” Ujarnya begitu pengertian. Tetapi mendengar ucapan Ajeng barusan, membuat aku menitikan air mataku. Kini aku tak dapat lagi membendung ini semuanya. Cukup sudah aku menampungnya sendiri.

“Lo kenapa Ki? Ayo cerita sama gue. Kalo lo nangis, itu nggak bakalan nyelesaiin masalah lo.” Ujarnya sambil menyeka airmata yang jatuh di pipiku.

“Al udah kembali Jeng.” Ujar Meriska yang tau-taunya sudah nimbrung bersama kami.

“Kemarin malem, gue ditelpon sama Nina. Katanya Nina, waktu Yuki ningalin telponnya ngegantung, Nina nggak sengaja dengar suara yang nelpon. Dan saat Nina nanya itu siapa, dan akhirnya Nina pun tahu yang nelpon itu Al. Al mati-matian mau ngomong sama Yuki. Tapi Nina gak ijinin, soalnya dia takut kondisi Yuki memburuk.” Jelas Meriska panjang lebar.

“Apa? Si brengsek itu balik lagi? Masih punya muka dia? Enak banget ninggalin orang gitu aja, terus balik lagi kayak gak ada masalah gitu? Kambing tau nggak.” Cerocos Vebby, yang memang sangat membeci Al semenjak kejadian 3 setengah tahun yang lalu.

“Jadi, ini yang buat lo bengong, waktu di perpus itu Ki. Kenapa lo gak cerita ke gue sih? Kenapa baru sekarang?” Ujar Bella prihatin.

“Udah… udah… Kita gak boleh pake emosi dong. Mungkin aja, Al udah nyadarin apa yang dia lakuin selama ini, anggap aja ini iktikad baik dari dia. Gue rasa kita perlu kok, kasih kesempatan Al, untuk jelasin semuanya ini. kita gak boleh main hakim sendiri. Itu gak baik.” Jelas Ajeng, yang berusaha menenangkan aku dan yang lainnya.

“Tapi Jeng?…” Ucap Vebby menggantung, Vebby tak tau ingin bicara apa lagi. Vebby sepertinya merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Semuanya kini terfokus padaku. Aku berusaha untuk menghentikan tangisku. Dengan susah payah aku berusaha dan akhirnya perlahan aku dapat mengontrol emosiku juga.

“Jadi sekaranglo mau gimana Ki?” Tanya Meriska padaku.

“Gue gak tau Ris, gue rasa, gue gak bisa nerima alesan apapun dari Al nantinya. Mending gue gak usah nemuin dia, dan gue rasa, mungkin ini jalan yang terbaik.” Jelasku pada mereka semua.

“Kalau itu memang keputusan lo, dan udah mantap, kita si sebagai sahabat ngedukung aja, asalkan lo-nya mampu.” Ujar Bella.

“Yuki, segala masalah kalau lo putusin dalam keadaan kacau, lo gak bakalan nemuin solusinya yang tepat. Takutnya kalau lo udah mulai tenang, terus lo mikirin ulang, nantinya lo bakalan nyesel. Mending lo pikirin itu mateng-mateng. Mungkin aja kesempatan ke 2 itu berlaku untuk lo dan Al.” Ujar Ajeng menenangkan aku.

Memang benar yang dikatakan Ajeng, saat ini aku sedang kacau, gak mungkin aku ngambil keputusan dalam keadaan kacau seperti ini, bukannya membaik, nanti malah jadi tambah kacau.

Cerpen Karangan: Dyan Kristanti
Facebook: Dhyann Kristantii

Cerpen Kembali, Tapi Tak Sama (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hancur

Oleh:
Kenapa mereka menyebutnya ‘patah hati’? Aku tidak mengerti. Karena yang aku rasakan sama sekali bukan patah, tapi hancur. Rasanya seperti ingin meledak berkeping-keping, atau terbakar hingga menjadi abu yang

Pendaman Batin

Oleh:
Suara lonceng yang berdentang menyakiti kupingku. Kami semua bergegas ke luar kelas. Bersempit-sempitan melalui pintu yang kecil. Tubuh kami yang sudah lengket dan berkeringat saling berdempet-dempetan. Aku keluar mencari

Di Antara Dua Bunga Yang Memabukkan

Oleh:
Beberapa hari telah berlalu, sebelumnya hanya dirimulah seorang wanita yang kucinta, jika aku lebahnya maka dirimulah bunga yang sungguh membuatku terpana. Namun kini, seiring berjalannya waktu, di antara sekian

Nabila

Oleh:
“Aku mencintaimu. Aku kagum dengan seorang wanita sepertimu. Aku ingin kau menjadi pacarku.” Vino menatap Bila tajam. Bila hanya diam seribu bahasa. Perasaannya berkecamuk saat ini. Oke, dia memang

Rindu Yang Menyiksa

Oleh:
Siang itu kami sedang sibuk nonton film, entah judulnya apa yang jelas ceritanya tentang persahabatan. Saat itu dengan seriusnya aku menyimak jalan cerita film tersebut sambil bersandar di pundak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *