Kembali, Tapi Tak Sama (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 July 2015

Apakah kenangan masa lalu akan sulit dilupakan? Apa sebegitu parahnya? Berbagai macam pertanyaan menghampiriku tiap saat. Kepalaku seakan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan ini. sungguh kondisi yang paling tak ku suka. Kondisi yang membuatku seperti orang bodoh, yang sedang terhipnotis dengan keadaan sialan ini. mungkin kalau aku disuruh memilih, untuk menyelesaikan soal matematika dengan persoalan ini, aku akan lebih memilh menyelesaikan soal matematika yang memiliki nilai pasti dari pada menyelesaikan masalah yang tak pasti seperti ini.

Ponselku berdering tak jelas. Aku mengaduk-aduk tasku mencari benda kecil yang sedang menjerit itu. setelah berapa saat mengaduk-aduk akhirnya aku mendapatkan benda itu yang sekarang sudah tak berdering lagi. “Ah sial.” Sesalku. Namun ada hal aneh yang membuatku bingung. Nomor yang baru saja menelpon tidak terdaftar dalam kontakku. Tidak biasanya nomor baru masuk ke ponselku. Saat ingin menyimpan ponselku di sakuku, tiba-tiba saja ponselku berdering kembali, kulihat pada layar ponselku, nomor yang sama yang menelponku tadi. Aku tak mengakatnya. Dan akhirnya ponselku berhenti menjerit. Namun sebuah pesan pun terpampang di layar ponselku.

From: 089736111***
Pagi nyet. Kayaknya kamu lagi sibuk ya? Aku nelpon 2 kali gak diangket.
Selamat beraktivitas aja nyet. Jangan lupa sarapan ya nyet.
AL

Lagi-lagi pesan ini yang dia kirim, namun dari nomer yang berbeda. Sudah seminggu belakangan ini Al selalu mengirimiku pesan-pesan seperti ini, aku ingin memberitahukan teman-temanku, namun aku takut. Aku lebih memilih menyembunyikan dari meraka, aku merasa sudah cukup merepotkan mereka dengan masalah yang nggak tau habis-habisnya. Ku hapus pesan itu, lalu aku menyimpan ponselku dalam tas dan tak lupa ku matikan ponselku terlebih dahulu. Mungkin dengan cara itu Al berhenti menghubungiku.

Hari demi hari Al makin intens mengirimiku pesan-pesan tak jelas, hanya sekedar menyapaku, menanyakan keadaanku, dan sebagainya. Awal aku tak menghiraukan pesan-pesan tersebut, tapi lama-lama aku merasa terganggung. Al sepertinya memperhatikan gerak-geriku. Aku merasa tak nyaman. Kenapa sekarang aku yang merasa seperti buronan? Batinku.

Tepatnya pada hari minggu pagi, saat aku bersama teman-temanku sedang bersantai di taman kota, tiba-tiba ponselku berdering, dengan segera Aku menjawab telpon tersebut.

“Iya Na kenapa?! Sekarang? Mmm, mbak lagi di taman kota. Kenapa Na? Halo? Kok suara kamu gak jelas gitu sih? Dimana? Kamu dimana? Oh, berarti deket dong sama tempatnya mbak istirahat, mending kamu kesini aja. Kenapa? Sama siapa?, iya gak apa-apa. mbak tunggu ya. Kenapa lagi si? Siapa? Emangnya dia kenal sama mbak? Oh ya udah kasih aja. Iya ah bawel amat sih.” Pembicaraanku dengan Nina, kini berganti dengan orang yang menurut Nina sangat mengenaliku.

“Siapa Ki?” Tanya Meriska.

“Nggak tau Ris, katanya Nina ada yang mau ngomong sama gue.” Jelasku, lalu kembali terfokus pada ponsel yang sedang menempel di kupingku.

“Halo?” Kini ku berbicara dengan orang asing itu.

“Halo…” Suara ini? Sekali lagi ku mencoba mendengarkan baik-baik suara yang baru saja mengucapkan kata “halo” dengan pelan.

“Maaf…” Suara ini lagi. Aku membeku di tempatku berdiri. Teman-temanku mengahampiriku dengan tampang bingung.

“Yuki lo kenapa si?” ujar Vebby. “siapa yang nelpon Ki? Sini kasih hape lo?” aku pun menyerahkan ponselku. Tanganku bergetar, keringat dingin menghujaniku. Aku menangis lagi. Aku tak tau lagi apa yang terjadi dengan ponselku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ajeng berusaha menenangkanku. Namun percuma saja. Selama ini, saat Al menghubungiku melalui pesan-pesan itu, aku tidak terlalu memperdulikannya, namun disaat aku mendengar suaranya, kembali pertahananku goyah.

“Nyet?” suara yang sama persis di telpon kembali ku dengar, namun suara ini lebih dekat. Sangat dekat. Amat sangat dekat. Ku angkat kepalaku. Ku mencari sosok yang memanggilku. Namun aku tak menemukannya. Yang kulihat hanya seorang pemuda yang tak ku kenal, mengenakan kursi roda, di belakangnya seorang anak remaja laki-laki berumur 16 tahun mendorong kursinya itu. Pandangannya tak fokus. Bisa dikatanya pemuda itu buta, kepalanya licin tak berambut. Badannya kurus tak berisi. Kulihat teman-temanku yang lain berjalan mendekati pemuda itu. Aku semakin bingung. Dimana suara yang aku kenal itu? dan siapa pemuda ini? apakah yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku seperti orang bodoh? Aku mencoba menemukan jawabannya. Aku bertanya pada Ajeng dan yang lainnya, tak ada yang mau menjawab. Namun ada sesuatu yang aneh dari pemuda yang sekarang ini berada di depanku. Aku sepertinya mengenal benda yang sedang dipakai pemuda itu. Kalung! Kalung ini sama persis seperti kalung yang mama berikan untukku dan Al, tapi kenapa kalung itu bisa berada di pemuda ini? aku semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Ada apa ini? Kenapa lo semua pada diam? Kenapa?” Tanyaku. “Nina jawab mbak! Ada apa ini?” “Kalo gak ada yang mau jawab pertanyaan gue, mending gue pulang aja.” Tegasku, sembari melangkah meninggalkan taman, dan disaat yang bertepatan suara yang tak asing itu ku dengar lagi, namun betapa terkejutnya aku, saat mendapati pemuda itulah yang memiliki suara tersebut. Pemuda itu? Tidak mungkin? Batinku.

“Kenapa nyet kok diem?” ujar Al. “Disini gelap banget nyet. Jangan jauh-jauh ya, soalnya aku nggak tau, kamu di deket mana.” Ucap Al sambil tersenyum. Senyuman yang sangat aku kenal. Senyuman itu memang hanya dimiliki Al seorang. Aku pun berjalan mendekati Al, ku sentuh wajah Al dengan lembut. Wajah yang sangat aku rindukan. Aku merasa kakiku tak dapat lagi menopang berat badanku. Aku jatuh tersungkur di depan Al. Aku tak menyangka. Al yang aku kenal, Al yang gagah, Al yang kuat. Kini tak berdaya, duduk memasrahkan nasibnya pada kursi roda itu. aku tak kuat lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Al berusah keras meraihku dengan tangannya. Mengusap kepalaku yang sedang tertunduk di kakinya. Teman-temanku hanya memandang kami dengan rasa kasihan.

“Kenapa kamu gak ngabarin aku, kalo kamu sakit Al. Tau gitu aku gak perlu menghindar dari kamu.” ucapku sambi sesegukkan. Aku pun memeluk Al.

“Maaf nyet. Aku takut kamu khawatir. Aku gak tega liat kamu cemas nyet.” Ujar Al menenangkanku.

“Kenapa sih, kamu selalu aja mikirin perasaan orang lain. Kamu gak pernah mikirin diri kamu sendiri. Kamu tu sok jadi jagoan, tapi malah kamu yang jadi orang lemah.” Ujarku sambil terus menangis. “kamu tau gak, betapa susanya aku, nyari kamu. Kamu pikir, dengan menghindar dari aku, masalah kamu bakalan kelar?! Gak Al! Gak sama sekali!” Tangisku makin menjadi. Ku lihat airmata Al kini ikut mengalir.

“Maafin aku nyet, aku bener-bener, gak mau kamu kepikiran nyet. Masa depan kamu masih panjang. Lebih baik kamu mikirin masa depan kamu, ketimbang mikirin aku, yang hidupnya gak bakalan lama.” Ujar Al sambil mengeratkan pelukkanku ke dalam tubuh rapuhnya itu.

“Nggak Al, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, kamu harus kuat Al. Disini ada aku, temen-temen yang lain, orang tua kamu. Kamu harus mikirin itu Al. Kamu harus sembuh. Kamu gak boleh nyerah Al.” Ucapku dalam pelukkan Al.

“Nyet, aku pasti akan ngelakuin semua itu, tapi aku nggak bisa berharap banyak.” Ujar Al. “Tapi nyet, segelap apapun duniaku saat ini, asalkan kamu selalu ada di samping aku, aku udah ngerasa nyaman nyet. Bagi aku, kamu itu adalah penerang dalam kegelapanku saat ini nyet. Jadi aku mohon. Jangan pernah kamu menghindar dari aku lagi nyet. Saat ini yang aku mau hanya kamu nyet.”

Aku pun tak dapat menjawabnya lagi, kini hanya airmata inilah yang menjadi jawabannya. Jawaban yang tidak akan mungkin terselesaikan.

AL
Kini aku bertemu kembali dengan gadisku. Gadis yang sudah 3 setengah tahun ku tinggalkan, tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Gadis yang berhasil membuatku menjadi seorang buronan. Gadis yang membuat ku menjadi seorang pria yang pengecut. Masih ku ingat persis bagaimana gadisku itu tersenyum padaku, menyapaku dengan lembut, membawa kehangatan yang sangat kurindukan. Apakah gadisku ini akan melakukan hal yang sama padaku saat ini? Jujur, aku sangat merindukan semua ini. aku rindu melihat paras cantik gadisku. Mendengarnya menangis saat ini, membuatku semakin berdosa. 3 setengah tahun yang lalu, aku telah mengambil keputusan yang salah. Aku pikir dengan menghilang seperti itu, tak akan memengaruhi kehidupan gadisku itu, toh waktu itu kami masih SMA, dan mungkin gadisku ini dengan mudah melepasku. Namun dugaanku salah. Gadisku semakin tersiksa. Kini aku hadir dengan keadaan yang tidak sempurna, kupikir gadisku ini tidak mau lagi menerimaku, namun dugaanku salah, gadisku dengan senang hati menerimaku dengan lapang dada. Menerimaku dengan cinta, walaupun aku bukan lagi pria yang sempurna yang dapat melindunginya. Tapi aku sangat berterima kasih pada Tuhan. Terima kasih sudah mengirimkan bidadari sebaik dan secantik gadisku ini untukku. Aku berjanji tak akan pernah menyia-nyiakan dia lagi.

Yuki
Semenjak pertemuan aku dengan Al di taman yang dibantu teman-teman dan adikku itu, membuat aku semakin dekat dengan Al. Aku selalu menemani Al kemanapun dia pergi dan akhrinya aku juga tahu, alasan Al meninggalkan aku, teman-temannya, dan sekolah. Al terkena penyakit kanker pada bagian matanya dari kelas 3 SMP, selama itu pula Al menjalani berbagai macam pengobatan sampai ke Singapura. Waktu itu Al beralasan bahwa akan menghadiri upacara pernikahan saudaranya yang tinggal di sana. Namun herannya pada saat itu, Al tidak menunjukan gejala kanker sama sekali. Saat masuk SMA, sakit yang Al rasakan makin menjadi-jadi, aku akui semenjak itu Al jarang untuk masuk sekolah. Aku selalu menyakan alasan mengapa Al tidak datang sekolah, Al hanya mengatakan kalau dia bangun terlambat, bannya ngembos lah, ada banyak alasan yang akan Al lontarkan. Dan pada akhirnya Al menghilang berserta keluarganya, yang belakangan diketahui pindah ke Jogja tempat kelahiran ayahnya karena mengalami kebangkrutan akibat membiayai pengobatan Al, yang setiap kali melakukan kemoterapi memakan biaya ratusan juta.

Karena merasa tidak sanggup lagi mengobati Al dengan cara medis, akhirnya orangtua Al memilih melakukan pengobatan tradisional sampai Al sembuh. Namun usaha meraka sepertinya sia-sia, bukannya mengalami kemajuan, malahan tubuh Al semakin tak berdaya. Awalnya Al masih dapat berjalan, namun sekarang semakin hari Al tidak dapat lagi menopang tubuhnya sendiri. Matanya yang dulu masih dapat berfungsi dengan baik, kini tak dapat digunakan lagi. Sekarang kanker tersebut sudah menjalar ke daerah matanya yang akan menyebabkan Al buta untuk waktu yang tidak diketahui. Dan selama ini juga Al meminta bantuan saudaranya untuk mengetik setiap pesan yang selalu dikirimkannya untukku.

Mendengar penjelas orangtua Al, aku kembali meneteskan airmataku. Betapa malangnya Al, lelaki dengan segudang bakat ini, ditakdirkan dengan kondisi seperti ini, kondisi yang sangat tak adil untuknya. Aku masih tak menyangka, lelaki yang hampir 4 tahun menjadi kekasihku ini, kini terkapar tak berdaya, menunggu segala kemungkinan yang akan terjadi padanya. Al tak dapat berbuat banyak, kini hanya ada mulut yang dapat difungsikannya. Mulut yang akan selalu berdoa, berdoa memohon mujizat dari Tuhan, untuk menyembuhkannya dari penyakit yang amat sangat membuatnya menderita.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Dyan Kristanti
Facebook: Dhyann Kristantii

Cerpen Kembali, Tapi Tak Sama (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buih Sesalan Al

Oleh:
Al menatap gamang jauh menembus jendela kaca yang membentang luas di hadapannya, ke arah deburan ombak yang meninggalkan buih di sepanjang garis pantai. Buih kecil dan berwarna kelabu, nampak

Sahabat Cuek

Oleh:
“Hahaha!” aku tertawa riang saat bermain kejar-kejaran bersama sahabatku, Elly. Dia adalah sahabat terbaikku selamanya! Namaku Ani, sejak kecil aku sudah sangat akrab dengannya karena kami ini tetangga dekat.

Coba Relakan

Oleh:
Drtt.. Drtt… Suara handphone nias berbunyi, tanda 1 panggilan masuk.. “hallo phiie, kenapa?” tanya nias saat mengangkat telephone dari ophiie sahabat nya. “aku mau ngomong sesuatu sama kamu, jam

Surat Terakhir Viona

Oleh:
Hari ini angela dan viona pergi ke sekolah bersama, mereka berdua adalah sahabat yang tak terpisahkan, hari ini hari senin dan hari ini angela menjadi petugas bendera tetapi viona

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kembali, Tapi Tak Sama (Part 2)”

  1. Pengguna'an kata ''mukjizat'' says:

    Cerpennya bagus aku suka’…tapi Kata mukjizatnya di ganti mba’,karena mukjizat itu hanya untuk para Nabi,,,,,klo bleh ngasih saran ya,,,di ganti keajaiban aja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *