Kerelaan & Ketulusan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 June 2013

Pagi yang cerah, membuat suasana damai, sang surya’pun mulai menampakan sinarnya disela-sela awan yang menyelimutinya.. ketika hembusan angin menembus rongga-rongga hidung, emmm sungguh nikmat rasanya suasana pagi hari..
“One, 21 guns
Lay down your arms
Give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms into the sky,You and I..”
nada alarm yang di pasang Grein berbunyi, song milik Green day ini memang favoritnya, gak rugi juga karena namanya hampir mirip dengan band idolanya ini. Gadis cantik dan imut inipun akhirnya membuka perlahan matanya.
“selamat pagi dunia!!” ucapnya sambi beranjak dari tempat tidur.

Hari ini Grein harus mengikuti Ujian Akhir semester IV di Universitas Bogor. Kampus idaman grein sejak SD, dan akhirnya setelah tamat SMA dia berusaha agar masuk universitas ini.. usahanya pun tidak sia-sia, dia dapat menjadi mahasiswa universitas Bogor.

Setelah sampai di kampus, grein mulai mencari sohibnya yaitu Rena, rena adalah teman grein sejak SMP.
“Rena!” teriaknya setelah melihat rena, rena tengah asyik mengobrol dengan seorang cowok, sehingga tak mendengar teriakan grein, greinpun berlari menghampiri rena. Sampai grein berada di dekat rena, rena baru sadar.
“hey, grein tumben dah datang, biasanya kan lo telat?” sambil memberikan proposal Tugas.
“iih elo, gue telat lo binggung, nggak telat juga bingung” ucapnya sambil melihat cowok yang mengobrol dengan rena tadi.
“o iya grein, kenalin ini arvio temenya Roy sepupu gue itu lho”
“hay, gue Arvio” ucap cowok itu sambil mengulurkan tangannya kepada grein, greinpun membalasnya.
“Grein” ucapnya singkat.
“Ar, gue sama grein ke kelas dulu ya, bye” rena dan grein pergi meninggalkan arvio.

Arvio adalah mahasiswa pindahan dari Surabaya, dia temenya roy sepupunya rena, karena masih asing dengan suasana di bogor, jadi roy meminta rena buat menemani arvio. Seiring berjalanannya hari, rena dan greinpun jarang hang out berdua karena ada arvio, apalagi rena lebih sering bersama arvio di banding grein. Awalnya grein mencoba biasa karena mungkin arvio butuh adaptasi disini, dan dia selalu percaya pada rena, Grein sudah mengenal rena lama, jadi dia tak pernah khawatir kalau rena akan melupakannya. Dan lagi rena mempunyai penyakit yang cukup parah dan sedikit orang mengetahuinya.. sehingga grein selalu memperhatikan kondisi rena.

Setelah beberapa minggu, akhirnya grein bete juga dengan rena.
“eemmm, sekarang gue di lupain deh, ada nggak ya yang mau jalan ama gue” ucap grein berlagak nyindir rena, rena yang baru datang mendengar ucapan grein malah tersenyum…
“sorry.. sorry, bukan maksud gue kok”
“iya gue tau kok” masih menunjukan ekspresi bete. Rena mencubit pipi grein yang tembem.
“o ya nanti hang out yuk” bujuk rena
“gitu dong, jam berapa?” grein mulai bersemangat
“habis ini, tapi gue ajak arvio juga”.. haah grein bete lagi mendengar kata-kata arvio.” tapi janji deach, dia gak akan ganggu acara hang out kita, ocey?” ucap rena memohon, greinpun hanya mendengus kesal. Tapi rena tau grein nggak akan marah padanya.

CAFFE STAR, mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Seperti biasa meja no.10 langganan mereka.
“hey Ar, nunggu lama ya?” sapa rena pada arvio yang udah nongkrong duluan. Ini adalah meja kekuasaan rena dan grein tapi sekarang milik arvio juga.
“enggak juga kok” jawabnya sambil menatap grein “hey grein” sapa arvio sambil tersenyum pada grein.
“hey juga” sambil menarik kursi

Sembari menunggu makanan yang mereka pesan, mereka mengobrol. Disela-sela mengobrol grein juga mencuri padang pada arvio, dia juga memperhatikan sahabatnya dari mata grein dia tau rena suka pada arvio.

Setelah hampir 2 jam nongkrong di cafe, merekapun memutuskan untuk pulang. Arvio mengantar grein dan rena, awalnya grein menolak tapi karena rena tetep ngotot, akhirnya grein ikut. Rumah rena terletak lebih dekat dari cafe daripada rumah grein jadi rena turun lebih dahulu.
“Dah,hati-hati ya,” ucap rena setelah turun dari mobil, sambil melampaikan tangan. Dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Sekarang yang ada di dalam mobil hanya ada mereka berdua, jarak rumah Rena lumayan jauh, jadi gak mungkin dong selama perjalanan hanya diem-dieman. Grein tak pernah mengharapkan situasi seperti ini. Tapi mau diapain lagi.
“so, tinggal kita berdua” ucap arvio sambil melirik grein. grein hanya diam pandanganya lurus memandang mobil-mobil yang ada di depan.
“rumah kamu no berapa?” tanyanya
“No.10 jalan anggrek, gue turun di depan gang aja.” Jawab grein
“kenapa sih kamu suka angka 10?”
“darimana loe tau gue suka angka 10, pasti rena” ucap grein. sebal
“pastinya, rena kan selalu cerita tentang kamu. Greine Saraswati no absen kelas selalu 10, alamat rumah no 10, lahir tanggal 10 bulan 10, untung aja gak lahir di tahun 1910.. hehehe” arvio menjelaskan. Grein mendengus kesal
“loe tau gak, loe itu cantik” lanjut arvio. grein menatap arvio. Maksudnya? Pikir grein
“iya, lo itu cantik tapi sayang jutek!”
“haah” hanya kata itu yang keluar dari mulut grein “so, masalah?” lanjutnya.
“gak juga sih, tapi masalahnya gue tertarik sama loe” arvio pun mengungkapkan perasaannya.
“apa?” gila, pikiran grein jadi kacau.. kok jadi kayak gini. Jantung grein bedeguk kencang wajahnyapun memerah.

Malam semakin larut tapi grein tak bisa tidur, dia masih teringat ucapan arvio. Kenapa jadi begini, padahal dia kira arvio tertarik sama rena, apa yang harus dia lakukan. Dia takut, terlalu takut kalau rena tau hal ini, bagaimana jika rena marah padanya. Sungguh tak pernah terbayangkan akan terjadi seperti ini.

Keesokan harinya seperti biasa rena, grein dan arvio. Terlihat jelas rena sangat menyukai arvio, wajah cerah selalu hadir ketika rena bersamanya, mungkin rasa sakitnya pun dapat dikalahkan, tapi apakah arvio gak tau betapa berartinya dia bagi rena. Grein masih terus berfikir.
Hingga akhirnya rena mengatakan pada grein bahwa dia menyukai arvio, Deg jantung gein langsung berdeguk kencang mendengar ucapan rena, entah perasaan apa yang ia rasakan, cemburu kah? Atau merasa bersalah. Dia juga tertarik dengan arvio apalagi dengan sikap arvio yang perhatian padanya tanpa diketahui rena. Oh Tuhan
“Grein gue benar benar suka sama dia, gue harus gimana?” ucap rena, dengan rona wajah yang bahagia
“emmm… ya terserah loe,” jawab grein. Dia sendiri juga tak tau harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini
“gue takut kalau ternyata dia gak suka sama gue” ucap rena lirih. Grein yang melihat ekspresi sedih rena. Terasa dirinya ikut sedih, ia pun mendekati rena
“gak ada yang boleh buat sahabat gue sedih, gue yakin arvio suka sama loe” ucapnya sambil memeluk rena
“aku harap iya ”
“percayalah, aku jamin loe akan bersama arvio selamanya”
“e’em”. Dalam hidup grein, rena adalah segalanya, hanya dia sahabat yang dia punya dan membuat hari-harinya berharga, apalagi setelah kepergian orang tua grein saat dia menginjak bangku SMP. Saat itulah rena hadir datang sebagai penyelamat keterpurukannya. Orang tua rena juga sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

Setelah pulang dari rumah rena, grein berjalan sambil menunggu taxi yang lewat.
“tiiin.. tiiin” suara klakson mobil menghentikan langkah grein
“grein, gue antarin pulang yuk?” ucap si pengendara mobil, yang tak lain adalah arvio
“vio!, nggak usah deh” jawabnya
“ayolah, udah malam. Nggak da taxi. Emang loe mau jalan kaki sampai rumah, enggak kan?” bujuk arvio. Grein pikir-pkir, bener juga sudah jam 9 lebih mana ada taxi yang lewat, akhirnya greinpun masuk mobil arvio.

Dalam perjalanan grein masih terus teringat oleh rena, teringat bahwa rena mencintai cowok yang sekarang duduk disampingnya. Ya Tuhan…
“kenapa grein, kok diem aja sih”
“eh, gak apa-apa kok”
“gue boleh ngomong sesuatu gak? Tanya arvio.
“ngomong aja?” grein mulai bingung dengan sikapnya. Apa yang mau dia katakan
Dengan sedikit gugup, dan sambil menyetir mobil…
“loe mau gak jadi pacar gue?” ucapnya
“apa?” sentak grein kaget mendengar kata-kata itu
“kenapa, loe gak suka?”
“bukan begitu… hanya saja..” Grein menyukai arvio, tapi bagaiman dengan rena.
“hanya saja apa? Tanya arvio
“maaf gue gak bisa” akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut grein, air di kelopak matanya mulai menggumpal ingin menetes
“tapi kenapa?” iapun menghentikan mobil. Suasanapun menjadi hening
“karena… karena gue gak mau” ucapa grein. Air matanyapun menetes, vio yang melihat sikap grein jadi bingung sendiri
“apa karena rena?” tanyanya menyimpulkan
“iya” ucapnya, sambil menatap arvio… arvio hanya diam
“gue suka sama loe, tapi maaf..” lanjut grein
“gue ngerti kok, tapi gue cinta sama loe”
“kalau loe cinta sama gue, pliss jauhin gue dan loe sama rena, kumohon.” Pinta grein, dengan seribu tetesan air mata membasahi pipinya. Arvio hanya terdiam.

Setelah kejadian malam itu, arvio tak pernah lagi menghubungi grein, apakah dia menuruti ucapan grein. Beberapa hari kemudian.
“Grein, gue jadian sama vio” ucap rena sambil memeluk grein
That’s right seperti yang di pinta grein pada arvio
“benarkah?” jawab grein, matanya berkaca-kaca. Entah dia bahagia atau sedih
“loe kenapa grein, gue janji walaupun gue sudah sama vio, kita tetep bisa kemana-mana bareng kok?” ucap rena
“enggak kok, gue senang liat loe senang”
“thanks ya grein, ini karena dukunganmu juga”.
“iya” grein mencoba menerima, dia menatap langit-langit. menahan air matanya, Arvio thanks. ucapnya dalam hati. Perasaanya hancur, tapi akan lebih hancur lagi kalau rena tau yang sebenarnya.

… ^_^…

4 bulan berlalu, hubungan Rena dan Arvio lancar. Tapi semua berubah 180 derajat ketika rena tau bahwa arvio menyukai grein. Rena sangat sedih mendengar semua itu. Grein mencoba menjelaskan tetapi tidak ada hasilnya.
“Ren, aku bisa jelasin” ucap grein
“gak ada yang dijelasin, aku yang bodoh” ucapnya menatap arvio yang berdiri disebelahnya, air mata renapun mengalir, arvio mencoba menenangkan rena.
“Ren, kumohon” pinta grein
“Grein, aku sa..yang sa..ma ka..mu” ucap rena terbata-bata, tubuhnya lemas, dingin wajah pucat terpancar. Dia berlari meninggalkan grein dan arvio.. “Rena” panggil arvio, mereka berduapun mengejar rena. Rena masih berlari sampai keluar Cafe, dia berlari sempoyongan, jantungnya berdetak 10x lipat, nafasnya terpenggal-penggal. “Ren, berhenti!” teriak grein, yang berlari di belakang rena. Rena tak menghiraukan teriakan grein, hingga sebuah klason mobil terngiang-ngiang mengingatkan rena untuk minggir.
Bruuuukkk… mobil itu menghamtam tubuh manusia sampai terjatuh beberapa meter. “Rena!” teriak arvio. Diapun berlari menghampiri rena, dia memeluk rena yang tak sadarkan diri. Tak ada luka yang di terima rena, mobil itu bukan menabrak rena tetapi grein. Grein mendorong tubuh rena sehingga tubuhnya yang tertabrak. Arviopun meminta pertolongan untuk membawa mereka berdua ke rumah sakit. Grein mengalami pendarahan yang cukup banyak, sehingga harus ditangani secepat mungkin, sedangkan rena langsung ditangani oleh dokter pribadinya, arvio bingung harus menemani yang mana, akhirnya iapun mengikuti grein. Grein masih sadar, hanya saja tubuhnya lemas..
“kenapa loe lakui’in ini? Tanyanya pada grein, grein tersenyum
“aku mau rena bahagia” jawabnya. Arvio hanya bisa menundukan kepala, penyebab utama kejadian ini semua adalah dia.
“kumohon… jaga rena untuk aku” pintanya pada arvio. Arvio memandangi wanita yang dicintainya ini. Greinpun memegang tangan arvio. Arviopun mengangguk. Suasana memburuk saat seorang dokter berbicara keras dengan seorang suster.
“kita harus cari pendonor jantung rena” ucapnya
“tapi bagaimana bisa secepat ini” jawab seorang suster.” akan saya coba hubungi ruma sakit pusat” ucapnya kemudian. Grein yang mendengar semua itu tak dapat membendung kesedihannya.
“terlalu lama rena bensembunyi di balik penyakitnya” ucap grein. Tubuh arvio lemas tak berdaya. Kenapa tuhan harus melakukan ini semua. Dia mencintai grein tetapi dia juga mencintai rena.
“semua salah aku” arviopun menyalahkan dirinya sendiri
“bukan… gak ada yang harus disalahkan” suara grein semakin lirih menahan rasa sakitnya.. air matanya mengalir. “cintailah rena sepenuhnya” pintanya pada arvio. Arvio menggeleng. Grein hanya tersenyum.

Jam 19.20… arviopun harus melepaskan kepergian grein untuk selama-lamanya. Dia mendonorkan jantungnya kepada rena. Sakit, perih mungkin itu semua perasaan arvio, iapun duduk lemas menahan semua air mata yang hendak menerobos. Tapi sia-sia sekuat apapun arvio menahan air mata itu akhirnya keluar juga.

1 minggu setelah kepergian grein, Rena sudah diperbolehkan untuk keluar rumah sakit. Arvio menjemput rena di rumah sakit. Dia memeluk rena dengan erat. Dia tak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.
“grein mana?” Tanyanya pada arvio, tak ada yang bersuara. Orang tua rena tak bisa menjawab apa-apa. Ibu rena nampak sedih mendengar pertanyaan anaknya
“ibu, rena mana?” tanyanya lagi. Hingga akhirnya ayahnya menjawab dan menjelaskan semuanya. Sontak rena shock, diapun menangis.. dia memegangi jantungnya. Dia ingin berteriak dan menangis tetapi jantungnya seakan-akan bilang “jangan”… “maafkan aku grein” ucap grein dalam hati..
“arvio..!!!” teriak rena memanggil arvio.

2 bulan berlalu, arvio mencoba mengubur kenangan tentang grein.
“ren jangan lari” teriak arvio pada rena. Renapun berdiri didepan arvio, nafasnya sedikit terpenggal-penggal
“kamu gak apa-apa?” tanya arvio penuh kekhawatiran. Rena menggeleng “jantung grein lebih kuat” jawab rena dengan tersenyum. Arvio memeluk rena.
“aku benar-benar mencintaimu ren” ucapnya pada rena.. “dan juga grein” tambah rena. Arvio hanya tersenyum dan memepererat pelukanya. Rena menatap langit, dia melihat wajah grein tersenyum pada mereka.

Selesai (Ganbatte!!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari
Facebook: Anitrie Ganbatte Pholephel

Cerpen Kerelaan & Ketulusan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Syal Tuk Yang Tersayang

Oleh:
Jam dinding di kelas sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, saatnya istirahat. Seiring bel berdentang tiga kali, semua siswa keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung ke kantin, ke kamar

Maaf Menyakitimu

Oleh:
Aku gak tau harus mulai semua ini darimana, yang aku tau aku harus menyelesaikannya sekarang, entah itu baik atau buruk bagiku dan bagimu. Berat memang mengakuinya, setelah sekian lama

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
“Jangan Cuma bisa berani di depan aja dong, ndry. Buktiin kalau kamu bisa ngomong itu ke Reni.” Itulah kata Doni yang selalu muncul di pikirannya Andry. Andry sudah meyukai

Someday Will Be

Oleh:
Ini adalah sekelumit cerita tentang sebuah mimpi, cinta dan persahabatan. Semua tersurat dari tangan tangan 2 sekawan, dion dan zahira. Dua anak manusia berbeda gen ini, memiliki sejuta mimpi,

Alunan Gitar Kenangan

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, dan sinar matahari yang mulai masuk ke celah-celah jendela kamarku. Aku pun terbangun karena cahaya itu. Dan tepat sekali orang yang tidak lain adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *