Kesialan Yang Berakhir Manis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 sore. Langit di luar sana telah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Aku berhenti sejenak untuk mengelap tetesan keringat yang telah jatuh satu per satu menuruni dahi dan pelipisku. Kemudian kembali melanjutkan kegiatanku, yaitu mengepel lantai depan kelas.

Cih, aku sangat membenci nasib sial yang menimpaku saat ini. Kembali terjebak di jadwal piket menyebalkan ini, membuatku tersiksa bukan main!
Bagaimana tidak tersiksa? Aku mengerjakan semua kegiatan piket ini sendirian! Entah untuk yang ke berapa kalinya dalam bulan ini. Aku tidak tahu. Pokoknya, aku kembali terjerat di jadwal melelahkan ini!

Sebenarnya, bukan hanya aku yang mendapat jadwal piket hari ini. Ada sekitar 6 orang lagi selain aku. Namun mereka semua hilang lagi bak ditelan bumi. Mereka berenam juga tidak pernah melaksanakan piket sialan ini. Selalu saja aku. Aku!
Tapi aku hanya bisa diam saja. Tidak bisa memberitahu yang lain, terutama ke wali kelasku karena aku tidak punya bukti yang cukup kuat untuk membuat mereka terkena hukuman.
Ck, bodoh amat lah! Lebih baik aku kembali fokus mengerjakan piket ini agar cepat pulang.

Namun fokusku kembali hilang karena…
“Kau masih mengerjakan piket menyebalkan ini, Akemi?” sebuah suara yang sangat kukenal menyapa gendang telingaku.
Segera kutolehkan kepalaku ke arah pintu kelas dan terpampanglah Yurika di sana sambil bersandar di daun pintu dan bersedekap dada. Oh! Jangan lupakan juga headset mahal miliknya yang masih setia menggantung di lehernya.
“Iya, seperti yang kau lihat Yuri,” jawabku malas. Bukan karena aku sedang marah pada sahabat sekaligus senpaiku itu. Tapi karena aku masih merasa jengkel dengan nasib sial ini.
Yurika hanya diam. Aku sih tidak terlalu memusingkannya karena pendiam adalah sifat alaminya. Jadi kubiarkan saja dia dan kembali melakukan tugasku yang hampir selesai ini.

Namun keanehan tanpa terduga terjadi. Yurika tiba-tiba masuk begitu saja ke ruang kelasku dan mengambil gagang kain pel yang kupegang.
“Hei! Apa yang kau lakukan?! Aku sedang mengepel tahu!” bentakku ke arahnya dan menatapnya tajam. Kekesalanku bertambah 3 kali lipat melihat aksi frontalnya barusan.
Bukannya menjawab baik-baik, nih anak malah mengejek sambil menunjukkan seringai merendahkannya itu padaku.
“Kau bekerja terlalu lambat, Akemi-chan. Seperti kukang,” ejeknya padaku. Mendengarnya, aku pun naik darah.
“Apa kau bilang?! Asal kau tahu saja ya, ‘Senpaiku Yang Terhormat’! Aku sudah mengepel 2/3 dari kelas ini dari jam 04.15! Kelasku saja yang terlalu luas, makanya gerakku lambat! Lagipula aku juga sudah terlalu lelah! Kau malah datang membuat rusuh! Bukannya-”
“Sudah kuduga. Kau sudah terlalu kelelahan.” Tiba-tiba perempuan di depanku ini membuka mulut. Memotong ucapanku dengan seenak jidat.
“Maksudmu?” tanyaku bingung. Entah karena aku sudah terlalu lelah atau lapar atau haus, otakku jadi terkesan lemot bekerja.
“Hah~ tenagamu sudah terlalu banyak terkuras, eh? Otakmu jadi lelet menangkap ucapanku.” Lagi-lagi dia mengejekku. Tapi kali ini aku hanya bungkam sebagai balasannya.
“Ck, bahkan kau tidak membalas ucapanku. Dasar jadwal piket terkutuk. Jadwal itu bisa mengubahmu dalam sekejap seperti ini,” ucapnya kesal.
Aku geleng-geleng kepala mendengar ucapannya itu. Tanpa kusadari, aku duduk menyender di depan kelasku ini dan tertidur saking capeknya.

“Hei, Akemi. Bangun. Sudah sampai di apartemenmu, nih.”
Kubuka kedua kelopak mataku perlahan. Sedikit mengerang dan meregangkan kedua tanganku untuk merilekskan otot tangan dan tubuhku.
“Ini di mana?” tanyaku lirih sambil mengusap mata kananku.
“Ini di apartemenmu, Akemi-chan. Dan sekarang kau sedang berada di kamarmu,” jawab Yurika lembut. Berbanding terbalik dengan di sekolahku. Yurika selalu berbicara datar dan dingin ke semua anggota sekolah itu. Kecuali denganku.

Kedua bola mataku membulat. Aku langsung bangun dari tidurku dan duduk di tepi tempat tidur.
“Man, piketku tadi kan belum selesai. Aduh~ bagaimana ini, Yuri? Bisa-bisa Hoshino-sensei membunuhku besok!” seruku lumayan kencang sambil menatapnya takut.
Yurika malah tersenyum. Membuatku heran jadinya.
“Kenapa kau malah tersenyum? Kau senang kalau Hoshino-sensei beneran membunuhku besok?” ucapku sinis. Yurika menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapanku tadi.
“Bukan begitu maksudku, Akemi-chan. Tadi kau tertidur di kelasmu karena kelelahan mengerjakan piket sialan itu. Jadi kuputuskan untuk membantumu dengan menyelesaikan kerja mengepelmu itu,” jelas Yurika dengan kesungguhan yang besar yang terpancar dari kedua iris ruby-nya.
Mendengarnya, aku seperti disiram air tersejuk di dunia. Tanpa aba-aba, langsung kupeluk sosok sahabat di depanku ini dengan erat.
“Arigatou ne, Yuri! Hontou ni arigatou!” sorakku senang.
“Dou itashimashite, Akemi-chan. Akan kulakukan apapun untuk membuatmu tetap tersenyum seperti saat ini,” jawab Yurika hangat sambil membalas pelukanku sama eratnya.
Hahaha!!! Kukira kesialanku bakalanku berlanjut sampai besok. Rupanya berakhir manis seperti ini!

TAMAT

Cerpen Karangan: Miyaka Kawamura
Facebook: Windy Kartika Sipayung

Cerpen Kesialan Yang Berakhir Manis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cukup Satu Teman

Oleh:
Hmmm… aku berpikir liburan tahun ini, terasa tak berarti bagiku, bagaimana mungkin hari yang paling ditunggu tunggu oleh kebanyakan anak sekolah malah menjadi kekosongan untuk ku. Betapa tidak kosong,

Arti Jiwa Sahabat

Oleh:
Reno seorang cowok tampan yang sangat diidamkan di kelasnya menjadi primadona di sekolah SMK TUNAS TUBAN dan pernah digadang-gadang menjadi calon ketua OSIS di sekolahnya karena keahliannya dalam berorganisasi.

Sebuah Pengorbanan

Oleh:
Arti sahabat: Saat dia termenung dalam kesedihan, aku ada dan ikut dalam kesedihannya. Saat dia gembira, aku tertawa bersamanya. Saat dia bingung, aku selalu membantunya. Tapi apa yang dia

The Rainbow

Oleh:
Aku selalu berharap dia ada disini, disini bersamaku dan saling bercanda satu sama lain. Makin lama aku makin bosan menunggu cinta yang tak kunjung datang. Aku merasa sudah saatnya

Kau Berubah

Oleh:
Ku hirup udara malam dalam-dalam. Kejadian beberapa jam yang lalu kembali terputar di memoriku. Kejadian yang selalu berhasil membuatku menitikkan air mata kesedihan. Sahabat yang sudah ku anggap sebagai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *