Ketika Cinta Melukai Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 December 2014

“kapan lo mau punya pacar ly?” tanya satu gadis. “gue lagi nunggu seseorang yang udah gue sayang dari dulu dan gak pernah lost contact dari gue. Dia udah janji sama gue saat dia kesini nanti, dia bakalan nembak gue dan milikin gue selamanya” Jawab gadis yang lain. “oke, kapanpun, siapapun, dimanapun dan bagaimanapun, saat kita ditembak sama seorang cowok, kita harus saling cerita dulu sebelum kita jawab ya atau tidaknya, ya” ucap salah satunya. Sebuah perjanjian pun mengikat pada tiga gadis sekawan ini.

“si Emily gak sabaran banget sih!” gerutuku. Sebenarnya aku malas sekali untuk pergi hari ini tetapi karena ia adalah sahabatku dan berhubung Tania sedang dating dengan pacarnya yang kesekian, aku jadi harus menemani gadis berwajah sentuhan bule ini.

Rupanya Emily sudah standby menungguku di parkiran mall tempat kami janjian. Dia tidak berhenti mengoceh tentang teman masa kecilnya Darrell, yang akan kami temui hari ini. Kami duduk di sebuah food court selama setengah jam dan minuman yang kupesan pun hampir habis tapi tak tampak juga tanda kehadiran Darrell yang berkata bahwa ia memakai sweater coklat dengan kupluk coklat. Dan setelah sekitar satu jam setengah kami menunggu, Emily berteriak “rell!”. Aku menoleh kebingungan dan sedikit celingukan mencari siapa yang ia panggil. Kamudian sosok Darrell pun menghampiri kami, Emily memperkenalkanku pada Darrell “Yola” ucapku sambil meraih tangannya, kami berjabatan tangan. –Darrell ini ternyata cukup tampan, dengan wajah yang tidak jauh seperti Emily, bule. kurasa aku suka padanya, coba saja, dia adalah teman kecilku, akan ku pamerkan pada teman teman di sekolah, termasuk dua sahabatku—

Emily membeli minuman dan kami pun mengobrol –sebenarnya bukan kami, hanya Emily dan Darrell. Aku hanya senyam senyum mendengarkan celotehan mereka– ternyata Darrell sudah fasih bahasa indonesia. Hanya saja logatnya masih ke bule-bulean.

Usai mereka melepas rindu, Emily mengajak kami ke rumahnya agar Darrell bisa bertemu dengan mamanya. Dalam perjalanan aku mendapati sms dari mama yang memintaku menemani ke rumah temannya. “Ly, Rel, kayanya gue gak bisa nerusin ke rumah lo deh, gue disuruh balik nih”. Emily tampak kecewa tapi ia mengiyakan juga. Jadi setelah turun di stasiun busway aku pulang dijemput kakakku.

Malamnya ketika aku sedang asyik mention twitter bersama teman teman club vocal ku, Kak Yanda bilang bahwa Tania menungguku di bawah dan aku memintanya untuk menyuruh Tania ke kamar. “makasih ya kak” ucap Tania pada kakakku. “sok manis lo!” celetukku pada Tania. Si cantik play girl ini memang menyukai kakakku sudah sejak lama.

“tumben lo kesini malem malem? Ada apa Tan?” tanyaku sinis. “yeee gak suka gue dateng kesini? Ya udah gue balik” sahutnya emosi. “ya udah sana balik” jawabku. Dia nyengir dan mulai bercerita. Mulutnya tidak jauh seperti Emily yang gemar mengoceh. Dia curhat bahwa ia hari ini putus dengan dimas pacarnya. Dia datang ke rumahku tidak untuk menangis ataupun galau tapi dia malah senang dan ingin mentraktirku makan burger di depan kompleks. “gue males ah sama dimas, dia terlalu sayang sama gue, kasian, ya udah gue putusin jadi sekarang gue jomblo” jelasnya. Aku tidak percaya dengan ucapannya bahwa ia jomblo, setahuku Tania tidak pernah berpacar satu. Tapi katanya dia serius jomblo. Entahlah.

Setelah dia kenyang bercerita dan aku kenyang perut oleh 3 burger yang aku habiskan, kami pulang ke rumah masing masing. Aku menutup pintu dan menguncinya, Kak Yanda menghampiriku dan mengajakku mengobrol basa basi. “ada apa? Mau apa kakaku tersayang?” sindirku. “minta nomornya temen lo yang tadi dong” bujuknya. Aku terkejut dengan permintaan kak yanda, tak pernah ia menoleh sedikitpun teman temanku yang datang ke rumah sebelumnya. Dengan berbagai imbalan aku pun memberinya nomor hp Tania dan tentunya besok aku pun akan meminta hal yang sama pada Tania. Yuhuuu

Ting! Kurogoh segera kantung celanaku, pesan dari Emily: “La besok kita berenang ya bareng Darrell, ajak juga Tania.”

Esoknya setelah bersiap dan membawa sejumlah peralatan untuk berenang, aku pergi ke rumah Tania diantar Kak Yanda. Tentu saja dia mau karena ternyata semalam tadi dia sudah melakukan pendekatan. Ketika aku sampai di rumahnya, Tania menyambut kami. Aku langsung memberantaki kamarnya sedangkan Tania dan Kak Yanda berbincang-bincang. rumah sebenarnya Tania ada di medan. Dulunya Tania tinggal di dekat rumah Emily, tetapi karena papanya meninggal dan ia harus meneruskan sekolahnya yang tinggal setahun lagi di Jakarta, Tania menyewa kamar kost dan mamanya yang seorang bussiness woman pindah ke medan. jadi sekarang ia tinggal hanya bersama bi sarah, pembantu dan pengasuh setianya disaat Tania masih kecil.

Bi sarah menyediakan minuman untuk kami. Aku mereguknya dalam sekejap karena cuaca sangat panas yang cukup membuat tenggorokan ku kering. Setelah puas mengobrol, Kak Yanda berpamitan pulang pada Tania. “udah deh lo jadian aja sama kakak gue, biar dia baik terus sama gue Tan” saran jahatku. Tania hanya nyengir mau tapi malu. Tak lama kemudian Emily menelepon Tania, dia bilang mereka sudah tiba duluan di tempat yang akan kami tuju. Tentunya aku sangat kesal. Kami kira Emily akan menjemput kami di rumah Tania. Jika kami menyusul tentunya akan lama karena kami harus berjuang melawan macet dan panas. “gue punya ide!” ujarku.

“makasih ya kak” ucap Tania dengan senyum manis menggodanya. Kak Yanda mengangguk membalas dengan manis juga. Ide ku berhasil dengan memanfaatkan Kak Yanda untuk mengantarkanku dan Tania. Setelah Kak Yanda memutarkan motornya dan pergi, kami tertawa puas. “bener lo, karena gue, kakak lo bisa berhati dewa gitu La, biasanya kan jemput lo kalo balik sekolah juga susah” ujar Tania. Kami pun begegas masuk ke wahana berenang yang biasa kami kunjungi bertiga dan terlihat Emily sedang berdiri menepuk tangani Darrell yang menunjukkan kemahirannya berenang. Aku masih ingat cerita Emily saat di mall kemarin bahwa Darrell pernah menjuarai turnamen renang di Jerman.

Setelah kami berganti pakaian, Emily melambaikan tangan pada kami yang tandanya kami harus menghampirinya disana. Tapi tak sengaja ada seseorang yang menyenggolku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kolam. Aku panik kurasa aku sudah menelan banyak air, aku mulai sesak dan mataku perih. Aku mencoba menggerak gerakkan kakiku tapi ini tidak membuatku terangkat dari air.

Aku terbatuk dan membuka mata. Tanganku meraba lantai yang tempatku terbaring dan ternyata basah, tersadar aku berada di pinggir kolam renang dan dikelilingi banyak orang. “are you okay?” tanya Darrell yang tepat berada di sampingku, kelihatannya dia terengah-engah. “gue gak apa apa” ucapku diiringi batuk yang membuat dadaku sakit. Saat aku menoleh ke arah Emily, ia langsung pergi dan meluncur ke kolam yang tidak terlalu dalam.

Orang-orang yang mengelilingiku tadi mulai berbubaran kembali berenang. Tania membangunkanku. Kemudian aku dibawanya ke pendopo dan menenangkanku. “udah sana lo renang aja, gue udah gak papa ko, udah biasa.” ujarku pada Tania. Tania pun menyusul Emily yang sedari tadi asyik mengepakkan tangannya di perairan.

Hari makin sore, Emily, Tania dan Darrell berganti pakaian ke semula. Aku sudah mengganti bajuku sedari tadi. Kami pun hendak pulang dan sebelumnya kami memutuskan untuk makan di café tempat aku, Tania dan Emily biasa tongkrongi. Emily yang asyik dengan BB nya tidak memakan makanan yang dia pesan. “Ly, kok makanannya gak dimakan, sayang tuh!” sahut Tania. Emily menoleh dan tidak menggubris omongan Tania. “kamu kenapa?” tanya Darrell. “I’m fine Rell” jawabnya singkat. Setelah kami menghabiskan makanan kami kecuali Emily, kami bergegas pulang. Aku meminta Kak Yanda untuk menjemputku. Tapi karena berlawanan arah, Tania menolak untuk bersama di motor Kak Yanda. Akhirnya aku pulang terlebih dahulu.

Mama membawakanku semangkuk air hangat dan merendamkan anduk kecil ke dalamnya, kemudian meletakkannya di keningku. Hari ini mama melarangku untuk sekolah. aku pun hanya bisa berbaring di bawah selimut seharian. Sore harinya, Tania dan Emily menjengukku ke rumah. Tania berkata bahwa minggu depan akan dilaksanakan TO, jadi aku harus lekas sembuh. Kulihat Emily hanya diam saja seperti sebal. Aku pun bertanya padanya apa ia baik baik saja, dia mengangguk tapi tak lama kemudian ia pamitan untuk pulang duluan karena mamanya menyuruhnya untuk pulang. Hingga tinggal Tania yang menemaniku di rumah.

“Emily kenapa sih? Dari kemaren cemberut terus?” tanyaku. “gak tau tuh, tapi pas karaokean kemaren biasa ajak kok, seneng seneng malah kemaren” jawab Tania polos, dia membelalakkan mata dan menutup mulutnya. “oh tidak!” ujarnya. dasar Tania, ternyata dia keceplosan. Aku terkejut kenapa mereka tidak mengajakku karaokean. “siapa yang mengajak?” tanyaku lagi. Ternyata Emily yang mengajak mereka. Kenapa Emily tidak mengajakku juga? Aku mulai berpikir pasti ada yang salah denganku. “kemaren pas gue tenggelem, gue diselametin sama siapa?”. “Darrell La” jawab Tania. apa mungkin Emily cemburu.

“sebenernya kemaren ada yang lebih parah lagi La” ujar Tania. “kemaren Darrell ngasih lo nafas buatan” tambahnya. “hah? Nafas buatan?” teriakku. Tapi aku senang juga, Darrell mau berbaik hati menyelamatkanku. Sudah tampan, baik hati pula. Tak lama kemudian Kak Yanda datang dan melihat ada Tania. Mereka pun mengobrol di balkon kamarku.

Ketika Tania sudah pulang diantar kakakku. Aku menggapai handphone ku di atas meja belajar yang memutarkan lagu bruno mars favoriteku yang kujadikan nada dering.
Gue: halo
On line: yola, ini gue Darell, Lo gak apa apa kan? Katanya lo sakit?
Gue: oh lo Rell, ya, gue baik baik aja ko, Cuma demam biasa
Percakapan berlanjut, Darrell meneleponku hingga malam tiba. Kurasa Darrell memang orang yang sempurna, dia tampan, baik hati dan juga perhatian.

Setelah beberapa minggu, Emily akhirnya berubah juga. Dia sudah tidak bermimik kesal lagi saat dekat denganku. Kami kembali bersama sama dan menghabiskan waktu baik di sekolah atau di luar sekolah. begitu juga dengan Darrell, seminggu ini dia lebih perhatian dan lebih baik lagi padaku. Terkadang juga aku bertemu dan jalan bersama dengannya. Atau sekedar nonton beberapa film di rumahku. Tapi aku tak pernah bilang kepada Emily maupun Tania. Selalu saja ada halangan saat aku hendak mengajak mereka, seperti pulsaku habis, handphoneku mati atau alasan lain.

Seperti hari ini, Darrell mengajakku ke café yang sangat ingin aku kunjungi karena band favoritku tampil disini. Lagu yang terputar sangat romantis. Aku terkejut saat Darrell meraih tanganku dan menggenggamnya. “I love you La, would you be my girl friend?” bisiknya. Aku lebih terkejut lagi. Rasanya ingin langsung menjawab ya, tapi aku sudah berjanji dengan dua gadis lain, jadi aku harus menepati janjiku. “em… tapi rell, gue udah janji sama Tania, sama Emily buat cerita dulu sama mereka tentang kita, baru bisa gue jawab, ya?” jawabku sambil tersenyum manis padanya.

Sepulang dari kencan dengan Darrell, aku mengajak Tania dan Emily untuk bertemu di basecamp kami, yaitu rumah Tania. Kami memilih rumah Tania sebagai basecamp karena disana tidak pernah ramai oleh orang-orang dan kami bisa bebas.

“ada apa lo ngumpulin kita la?” tanya Tania. “gue ditembak” jawabku riang. Mereka mulai menampakkan wajah penasaran dan gembira. “siapa La? Kok gue gak tau sih lo deket sama cowok itu?” tambah Emily. “sorry ya, selalu aja ada alesan kalo gue mau ngajak kalian saat gue mau jalan. Sorry banget, tapi kalian udah tau kok orangnya siapa” jelasku. “Darrell!” tambahku riang. Tania terlihat terkejut dan Emily, matanya berkaca kaca. “lo kenapa Ly?” tanyaku lebih heran. “La, sebenernya…” jawab Tania. “sebenernya gue… gue envy sama lo La, lo udah punya pacar, Tania udah hampir jadian sama kakak lo, gue kapan ya? Hahaha” sambungnya sambil terisak. Dalam hati aku jadi tidak enak dengan Emily, harusnya aku pacaran diam diam saja hingga Emily menemukan seseorang, jadi kami bisa double atau triple date. Tapi aku sudah terlanjur membicarakan ini. “sudah, nanti akan gue cariin cowok yang tepat buat lo ya Ly, atau, kita minta stok dari Tania aja, hahaha” hiburku.

Kini kami berlima, aku, Darrell, kak yanda, Tania dan Emily, selalu pergi bersama. Aku senang karena Kak Yanda menyatakan perasaannya pada Tania menyusulku dengan sangat romantis. Oleh karena itu, tiga gadis sekawan sekarang beranak menjadi lima, kemanapun kami selalu bersama hanya tinggal menunggu Emily mencari cinta sejatinya menyusul aku dan Tania.

“yeeeeees!!” teriak tiga gadis sekawan ini. Kehangatan mereka tularkan melalui satu pelukan di antara mereka. Rupanya mereka telah melewati ujian nasional dengan lancar dan lulus. Kini setelah mereka menghiasi baju mereka dengan banyak tulisan berwarna, mereka merundingkan masa depan mereka dengan dirinya sendiri. Kini, Tania, si gadis cantik berkulit putih dan halus dengan perawakan tinggi langsing akan kuliah di bandung dengan mengambil desain interior juga ia akan menerima beberapa tawaran menjadi model. Yola, dia akan terus menyalurkan bakat fotografinya dan menjual beberapa hasil karyanya kebeberapa perusahaan. Tapi Emily hanya terdiam. Janji baru pun terucapkan dari mulut salah satu dari mereka “setelah ini, kita gak boleh jauh jauh, gak boleh lost contact dan harus ketemu sebulan sekali!”

Handphone Emily berbunyi, setelah dia menjauh dari kerumunan dan mengangkat telepon dari orang di luar sana, dia kembali menghampiri kami. “temen temen, gue mau bilang sesuatu sama kalian” ucapnya ragu. Aku kebingungan dengan mimik Emily yang sangat takut dan ragu, begitu juga dengan Tania. “gue hari ini mau packing buat pergi ke jerman besok pagi. Gue baru dikasih tau hal ini dua minggu yang lalu sama oma gue. Jadi maaf kalo gue gak bisa nepatin janji kita. Gue sayang kalian, gue bakalan rindu kalian, maaf gue mendadak bilang ini.” Jelasnya singkat. Aku dan Tania sangat terkejut dengan semua ucapan Emily, aku mulai meneteskan air mataku. Tania lebih deras. Kami berpelukan. Kurasa ini terakhir aku bisa memeluk Emily untuk beberapa tahun kedepan. Selamat jalan Emily. We love you. Dimanapun kita, kita masih tiga gadis sekawan.

*Emily p.o.v.*
“Emily, ada Darell di ruang tamu” teriak mama dari dalam kamarnya. Aku terkejut Darrell datang. “ada apa Rell?” tanyaku. “kenapa kamu gak bilang sama aku kalo kamu mau pergi?” tanyanya. “kenapa Rell? Gue bukan siapa siapa lo lagi? Buat apa gue bilang sama lo? Lo emang kesini, jauh jauh dari jerman. Tapi itu bukan buat gue! Lo udah ingkarin janji lo yo! Gue udah muak sama lo! Gue coba tegar di hadapan yola karena dia sahabat gue! Udah sana pergi!” teriakku. “sorry tan, tapi gue suka sama dia waktu gue liat dia pertama kali.” Ucap Darrell. “gue juga minta maaf, gue juga udah sayang banget sama Darrell saat gue ketemu dia tan” tambah yola yang tiba tiba muncul. “ngapain lo berdua kesini?! Mau so sweetan bilang kalo kalian itu sama sama cinta pada pandang pertama?! Mau nambah sakit hati gue?! Udah cukup!” ujarku.

“gue kesini mau minta maaf tan, Darrell udah ngingkarin janjinya karena gue. Gue minta maaf, plis maafin gue. Gue udah sayang banget sama Darrell tan!” tambahnya sambil berlutut. Aku memang sangat sakit hati mendengar Darrell menyatakan perasaan kepadanya saat itu dan aku sekarang sakit hati juga mendengar yola benar benar menyayangi Darrell. tapi aku mulai luluh. Aku tak kuasa melihat tangisnya. Aku meraihnya dan mengajaknya duduk. “oke La, sorry gue emosi, gue bakalan relain kok, lo sama Darrell. Darrell emang salah udah ingkarin janjinya, tapi gue rasa dia punya alesan yang pasti buat ngelakuin itu dan milih lo. Mungkin gue bukan yang terbaik buat dia, mungkin rasa sayang gue gak bisa dia rasain.” Kataku sambil menitikkan air mata. “Darrell, gue pengen lo ngejaga Yola, ya” aku mengarahkan tatapanku pada Darrell yang hanya bisa terdiam. Ia mengangguk pasti.

Cerita tentang Darrell sederhana, Papaku dan papanya yang bersahabat di jerman, mendirikan usaha di indonesia dan mereka jatuh cinta juga menikah dengan wanita-wanita indonesia. Akhirnya kami pun lahir. Hingga saat kami hendak SMA, Darrell harus pindah dan mengurusi usaha orangtua kami di jerman dan sekarang orangtua kami bertukar tempat. Awalnya aku tidak ingin ikut kembali ke Jerman, tetapi setelah mendengar Darrell berpacaran dengan sahabatku sendiri, kurasa aku tidak akan bisa bertahan melihat mereka berdua menjalin hubungannya. Oleh karena itu aku putuskan untuk ikut pergi ke jerman bersama papa dan hanya kembali untuk memperpanjang visa.

Akhirnya aku bisa pergi ke jerman tanpa ada ganjalan di hatiku. Biar sajalah Yola dan Darrell saling menyayangi. Apa boleh buat, rasa sayangku tetap tak akan bisa memisahkan mereka karena mereka sudah sangat menyayangi satu sama lain. Walaupun cinta dan hatiku terluka, tapi tak apa demi sebuah cinta yang baru dan bersemi, aku relakan. Khususnya untuk sahabatku sendiri.

SELESAI

Cerpen Karangan: Yuniza
Blog: Alluthfia.blogspot.com

Cerpen Ketika Cinta Melukai Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Batalkan SMS ini!

Oleh:
Yaaa… siang panas seperti biasa, untungnya sih ada AC. Yang membuatnya gak biasa adalah tiba-tiba kepala gue ketiban ide buat melanjutkan hobi gue akhir-akhir ini. Seketika itu juga gue

Cerita Lama

Oleh:
Seorang gadis dengan longdress cokelat tuanya berdiri menghadap barisan rak buku perpustakaan bertema IPTEK. Tangannya lincah mencari buku tentang mekanika, dari satu rak ke rak lainnya. Tanpa disadari tangannya

Aku Cinta Mereka

Oleh:
Suara ayam pagi ini mengejutkannya dari mimpi, pukul 05.00 saat itu. Adi namanya, salah satu siswa SLTA di kota Arjosari. ABG berambut hitam lebat ini adalah salah satu cowok

Hujan (Part 2)

Oleh:
Sesampainya di kamar Kost, Hanni pun memikirkan apa yang dibicarakan Sherly saat bertemu dengannya tadi. Apa benar karena sebuah rasa benci yang terpendam dihatinya yang menyebabkan Hanni menjadi pendiam

Di Balik Senyum Mantanku

Oleh:
Ketika orang yang kita sayang merelakan kebahagiaannya untuk sahabat terbaiknya dan kita menjadi korbannya, rasanya itu sakit, perih, panas. Kisah ini dimulai dari kisah cintaku dengan Andre yang berujung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *