Ketika Mantan Jadi Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 February 2014

Semua barang-barang sudah masuk ke dalam bagasi taxi yang akan mengantar kami ke sebuah kota yang akan jadi tempat kami mengabdikan diri selama satu bulan. Je, Riz, Lid dan Arie sudah masuk ke dalam taxi duluan dan siap untuk berangkat.
“Dea!!! lama kali, buruan.. masih mau ikut gak?” Terdengar teriakan bawel dari Nee yang sedang berdiri di depan pintu menunggu Dea. “Iya.. iya bawel”, sahut Dea yang baru saja muncul dari balik pintu sambil mengangkat sebuah koper kecil di tangannya. Mereka pun segera bergegas menuju taxi. “Dea.. Dea..kamu mau pindahan atau mau ngapain sih? Bawa barang kok segitu banyaknya”, ujar Riz sambil tertawa. Kemudian disusul suara tertawa riuh teman-teman yang lainnya yang telah menunggu di dalam mobil. Sementara Dea terlihat manyun sambil mengambil posisi tempat duduk yang tersisa. Tidak ada pilihan selain di tengah antara Arie dan Nee. “Semua sudah siap kan? Sudah yakin gak ada yang ketinggalan lagi.” ujar si pak supir kemudian. “Iya pak sudah bisa berangkat”, jawab je. Sebuah taxi atau yang lebih akrab disebut travel yang bermerk Avanza itu pun melaju meninggalkan pelataran rumah bercat hijau itu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar delapan jam akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Sebuah Avanza yang berwarna hitam itu pun berhenti tepat di depan sebuah rumah sekaligus ada warnet juga. Kami berenam keluar dari dalam taxi disambut beberapa orang kerabat atau saudaranya Lid yang telah dikonfirmasi sebelumnya atas kedatangan kami. Semua barang-barang pun turut kami keluarkan dari taxi lalu membawanya masuk ke dalam rumah itu. Pertama kali menginjakkan kaki di kota kecil itu, dingin menjalari sekujur tubuh kami berenam. Brrr dingin. “Dan bersiaplah untuk satu bulan ke depan haha” ujar Lid menambah momok yang seolah menyeramkan bagi kami kami semua. Kami mencoba untuk pasrah ketika tubuh kami mulai menggigil. Untuk sementara, malam itu kami menginap disana.

Je dan Riz akan tinggal di rumah masing-masing saudaranya. Itulah keputusan yang kami dengar siang esoknya. Lid juga berencana demikian atas saran saudarnya tempat kami menginap. Tinggallah aku, Nee dan Arie yang nasibnya sedang terkatung-katung harus nge-kost dimana apalagi kami sama-sama pendatang tidak kenal dengan siapa-siapa disini. Tapi akhirnya Lid memutuskan lebih memilih pertemanan kami daripada harus tinggal bersama saudaranya itu lebih baik. Kami pun akhirnya dapat tempat kos yang dibutuhkan selama satu bulan ke depan.

“Untuk beberapa hari ini kita makan terbang aja ya”, ujar Lid. Itulah yang sedang terjadi diawal kami nge-kost sehubungan belum adanya persiapan bekal kami.

Untuk hari selanjutnya kami merencanakan untuk makan dan minum bersama sama. Dea yang biasanya tidak suka masak, Lid yang susah bangun, Arie yang biasanya makan siap saji harus memulai beradaptasi. “Untunglah ada chef Nee sang penyelamat bagi kita hehe”, ujar Lid mencairkan suasana kebingungan. “Enak aja tapi asal bayarannya lumayan sih gak apa apa”, sahut Nee kemudian. Kemudian kami berbagi tugas seperti: masak, nyuci piring, nyapu, ngepel dan lain lain. Kemudian mengumpulkan uang belanja, juga berjanji akan saling bantu, susah senang harus dijalani bersama. Dimulai sejak pagi itu Nee yang sukarela memasak untuk kami, Lid yang berusaha untuk bangun pagi lebih awal dari kebiasaannya harus beres-beres rumah. Sementara Arie satu-satunya kaum adam penghuni kos itu masih enak-enakan molor. Je dan Riz juga sering datang ke kosan sepulang dari sekolah tempat pengabdian kami. Mereka membuat suasana makin ramai di kosan. Tapi ketika suara adzan berkumandang, mereka harus kembali ke rumah saudara tempat mereka menginap. Tinggallah Dea, Lid, Nee dan Arie melewati malam sambil membenahi persiapan bahan untuk praktek pengabdian di sekolah besoknya.

Dua minggu kemudian waktu tidak selalu berjalan dengan mulus. Pertemanan kami berenam mulai diuji. Jef dan Riz mulai jarang datang ke kosan kami. Nee dan Lid sedang ada masalah dengan Arie. Ketika aku baru saja bangun siang terdengar suara ocehan dari Nee. Ia kesal dengan Arie sepertinya mereka baru saja ada masalah. Begitu juga dengan Lid. Inilah resiko kalau beberapa orang yang berbeda karakter tinggal di dalam satu atap rumah yang sama. Masalah kecil pun bisa jadi panjang ceritanya. Mulailah karakter ataupun tabiat kami masing-masing keluar aslinya.

Suasana beberapa hari kemudian pun semakin berbeda dari sebelumnya. Nee dan Lid telihat tidak ada komunikasi dengan Arie. Aku yang tidak ada masalah dengan mereka hanya bisa berdiam kebingungan dan tak ingin ikut campur. Setelah aku mencoba untuk mencairkan suasana tapi usahaku sia-sia mendamaikan mereka. Situasi masih memanas di antara mereka.

Pagi ini kita tidak sarapan. Gas kita habis tidak sempat untuk mengisinya. Jadi untuk sarapan dan makan siang nanti menjadi urusan masing-masing. Kalimat itu disampaikan oleh Nee sebelum kami berangkat ke sekolah.

Siang itu aku bersamannya di sebuah rumah makan. Sembari kami duduk menunggu pesanan, seorang bayi mengalihkan perhatian kami. Dia lucu, imut, mungil, menggemaskan dan rambutnya kriwil-kriwil. Si mungil tertawa riang dan tersenyum ramah menggoda sejak tadi kepada Arie yang duduk tak jauh dariku. Si Bapak yang sedang menggendongnya ikut tersenyum. “Anaknya lucu ya pak..”, sahut Arie kemudian. “Kecil-kecil udah tau yang cakep genit nih”, ujar si Bapak tersebut sambil mencubit lembut pipi si bayi. Lantas membuat suasana jadi ramai dengan suara tertawa kami.

Tak lama kemudian si ibu yang jadi koki pesanan kami pun datang dengan membawa bungkusan makanan pesanan kami. “wah.. wah.. rame nih ada apaan ya?”, sahut si Ibu dengan menenteng dua kantong plastik pesanan kami. kemudian si Bapak tersebut menjelaskan perihal tadi pada si Ibu. Si ibu pun ikut tertawa.

“Ngomong-ngomong kalian abang-adik ya nak?”, sahut si Bapak. Sambil tersenyum dan tau maksud pertanyaan si Bapak Arie pun menjawab, “ah gak kok pak”. “masa sih nak, tapi wajah kalian beneran mirip loh”, tambah si ibu lagi. Memang begitulah hal yang sering kami alami berdua bersama Arie. Seringkali orang menyangka kami berdua saudaraan tapi nyatanya bukan. Kami sudah terbiasa degan hal ini dan kami menanggapinya pun sudah terbiasa. Bahkan tak sedikit orang yang kami jumpai menyebut kami jodoh.

Setelah mendapatkan dua kantong plastik berisi bakmie pesanan kami, kami pun kembali ke rumah berhubung cacing kami berontak tak sabaran karena lapar.

Nee dan Lid mencari makanan bersama. Belakangan ini situasi makin terlihat runyam, mereka bertiga masih belum juga baikan. Aktivitas kami pun terpisah. Biasanya kami selalu berangkat ke tempat pengabdian bersama, sekarang aku harus selalu duluan berangkat dengan Arie. Arie mengajakku berangkat, sementara Lid dan Nee selalu menyuruhku berangkat duluan saja bersama Arie. Mereka tidak mau berangkat sama selalu ada saja alasan mereka menghindar.
“Baiklah.. aku berangkat duluan. Kalian cepat nyusul ya”, sahutku setelah merapikan blazerku di depan cermin sambil menenteng tasku.
Ketika bertemu dengan Je dan Riz mereka sepertinya salah sangka dengan kebersamaan kami belakangan ini.
“Ehm.. ehm.. sepertinya ada yang CLBK nih!!”, sahut Je mengawali pembicaraan di suatu pagi ketika kami baru saja sampai di pelataran sekolah.
“Iya nih.. gak bilang-bilang. Sejak kapan rie, dea?”, tambah Riz menambah kacau suasana. Aku dan Arie sekilas hanya saling memandang dan kebingungan. Itu belum seberapa. Belum lagi orang-orang di sekitar kami mulai bergosip ria dan salah paham dengan kedekatan kami. Ditambah lagi malam minggu ketika itu. Aku bertengkar hebat dengan Juno. Juno marah-marah ketika tau aku sedang keluar sampai lewat jam dua belas malam bersama Arie. Padahal ketika itu aku sedang ada tugas yang harus diselesaikan malam itu juga. Besok paginya sudah harus selesai dan siap untuk dipresentasikan di sebuah acara seminar. Tak ada yang bisa membantuku selain Arie. Ketika aku butuh bantuan Arie selalu ada dan siap membantuku. Aku jadi merasa berhutang budi padanya. Tapi mengapa jadi mengundang tanggapan lain dari orang-orang.

Arie yang sedang dilanda masalah dengan Nee dan Lid dan aku yang selalu butuh bantuan Arie otomatis membuat kami menjadi dekat. Dua orang yang selalu dekat, beraktivitas bersama, saling membantu ketika butuh bukankah itu wajar disebut sahabat? Tapi terserahlah apa kata orang lain.
Meskipun aku sudah berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya pada semua orang tetap saja aku tidak bisa menghentikan argumen mereka.

“Juno, dengarkan aku. Malam itu aku memang bersama Arie sampai lewat jam 12 malam. Tapi itu karena aku ada tugas. Dan berikutnya aku memang selalu bareng dia tapi karena situasi di kosan sedang ada masalah dan kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. percayalah”. Mungkin sampai mulutku berbusa pun ia sepertinya tidak akan percaya. “Tuhan apa yang harus kulakukan dalam situasi ini?”, batinku. “Masalahnya bukan sekedar hanya itu Dea. Dia bukan sekedar sahabatmu tapi dia itu mantanmu juga. Mungkin kamu bilang tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Dan kamu juga bilang kamu sudah tidak ada rasa lagi padanya. Tapi apa kamu bisa jamin dengan perasaannya. Bagimana kalau kebersamaan kalian menumbuhkan rasa kembali di hatinya? Apa saja bisa terjadi Dea. Aku tidak mau kehilangannmu”, tegas Juno. Kata-katanya membuatku berpikir. “Apa salah jika sepasang insan manusia yang telah jadi mantan tidak boleh bersahabat?” sementara yang lain tidak begitu peduli dengan kami. Bahkan Juno sekalipun karena saat ini dia tidak ada di sampingku. Ia jauh disana dan tidak melihat situasiku.

Akhirnya setelah melewati sebulan masa pengabdian kami di kota itu, kami pun kembali ke kota tempat kami seharusnya. Suasana di antara kami semua terlebih Arie, Nee dan Lid sudah lumayan mencair. Tapi tetap saja persepsi orang tentang aku dan Arie menjadi beban tersendiri dalam pikiranku. Di kampus suasana perkuliahan pun berjalan seperti biasa. Aku berusaha untuk menghindar darinya ketika bertatap muka. Bahkan aku selalu menolak bantuannya sekalipun ketika aku butuh darinya. Aku tidak tau apa yang dipikirkannya setelah itu. Mungkin saja dia heran dan bingung atas sikapmu yang berubah. Seolah-olah aku seperti kacang yang lupa akan kulitnya tapi maaf Arie ini harus kulakukan demi kebaikan kita.

Cerpen Karangan: Dewi Samosir
Facebook: Dewi Xam

nama: dewi samosir/dewi xam
profesi: mahasiswi di Amik Medicom Medan
alamat: Medan
hobby: “menulis, membaca n selalu ditemani secangkir coffee”

Cerpen Ketika Mantan Jadi Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Relakan Semua

Oleh:
Di luar masih hujan. Aku hanya berdiam diri di dalam kamar, terbaring lemah dengan selimut tebal yang nyaris menutupi seluruh tubuh. Sudah dua hari aku tak masuk ke sekolah,

Kisah Sepotong Kue Brownies

Oleh:
Andai kejadian ini tak terjadi, dia pasti tak akan bersikap seperti ini padaku. Andai dulu kisah ini tak terukir, pasti dia tak kan meninggalkanku berlarut dalam sepi. Kini kebersamaanku

Jagalah Mataku

Oleh:
Apa kamu mendengarku. aku ingin sekali menyentuhmu, berbagi cerita tentang masa yang hilang.. aku ingin melihatmu seutuhnya. berikan aku cahaya untuk melangkah, Berikan aku tangan yang menuntunku kuat. apa

Kisah Persahabatan Tasya

Oleh:
Anastasya Anandra Putri Annetya atau biasa dipanggil Tasya adalah murid kelas 4 SD, dia sekolah di SD Angkasa Merdeka, Tasya adalah anak tunggal. Tasya adalah anak yang baik hati,

Pertemuan Sahabat SD

Oleh:
Namaku Ilean Febiola, aku bersekolah di Icthus International School, saat di SD aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Jose Christian. Namun jarak yang memisahkan kita. Setelah lulus SD Jose

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Mantan Jadi Sahabat”

  1. dinbel says:

    Waaah, waah waah, cemburuan bangets ya cowo nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *