Ketika Waktu Itu Berbicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Pagi ini, minggu 26 Januari 2014, kembali lagi aku mencium aroma manis pepohonan hutan kota diterpa angin kering khas suasana kota Surabaya. Di depan hotel yang dari kemarin aku tempati, tampak terlihat beberapa orang bersepeda ria menikmati suasana pagi sekitar bundaran tugu bambu runcing Surabaya. Beberapa keluarga dengan membawa beberapa anggota keluarganya tampak riang bercanda riuh, meliak-liukkan sepeda lipatnya, yang aku taksir berharga jutaan. Aku pun teringat rengekan anakku Dinda yang meminta sepeda lipat beberapa bulan yang lalu. jujur aku katakan kepada anakku kalau papanya tidak bisa memenuhi permintaannya karena harganya yang tidak bisa aku penuhi dengan secepat itu.

Penghasilanku dan istri sebenarnya mampu untuk membelikannya, namun harus mengorbankan beberapa kebutuhan keluargaku selama sebulan. Teringat raut muka anakku yang kecewa, namun pada akhirnya aku pun membelikan sepeda mini berwarna pink muda yang aku dapatkan dari toko sepeda murah. Harganya pun lumayanlah hanya berkisar ratusan ribu rupiah. Sepeda itu pun ditenteng dengan susah payah berboncengan dengan istriku menggunakan sepeda motor. Seulas senyum mengembang di bibirku jika teringat hal tersebut. Sudah 3 hari aku tinggalkan kekuargaku dalam rangka kunjungan dinas ke solo dan surabaya.

“Woiiii, buruan naek, sebelum jalanan ditutup untuk sepeda motor,” seru Andri yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku dengan mengendarai sepeda motor. Pagi ini rencananya aku akan melakukan perjalan ke Batu Malang dengan menggunakan transportasi umum. Perjalanan pertama kami rencanakan akan ke stasiun Gubeng menggunakan Kereta Api Pangandaran jurusan Malang berdasarkan hasil mesin pencari Google, jadwal pemberangkatan ke Malang adalah Jam 7 pagi ini. Dengan tergesa-gesa pun aku segera naik ke sepeda motor yang akan membawa kami ke Stasiun Gubeng.

Tidak beberapa lama sampailah kami di depan sebuah bangunan tua bergaya arsitektur Belanda. Tidak seperti bangunan tua yang lain di beberapa daerah yang pernah aku jumpai, bangunan ini terawat dan tertata dengan baik. Pedesterian yang besar di depan gedung, pemilihan cat dinding yang tampak mencolok namun indah dipandang, tampak tulisan besar tertera di dinding depan bangunan tersebut “STASIUN GUBENG SURABAYA,”

Pagi ini sangat ramai pengunjung yang sudah akan membeli tiket, atau sekedar mengantar sanak saudara bahkan ada juga yang hanya duduk-duduk merasakan suasana pagi yang sejuk di sekitar Stasiun sambil menikmati sarapan pagi yang dijajakkan oleh pedagang asongan di tempat yang sudah ditunjuk. Andri pun memutar sepeda motornya ke arah tempat parkiran, namun belum sampai di tempat yang dituju terpampang di depan tanda yang menunjukkan tempat parkiran penuh. Aku pun segera berinisiatif untuk turun dan berlari ke arah tempat antri tiket. Benar saja antrean pun sudah mengular namun masih bersyukur karena antreannya hanya ular pendek bukan ular panjang, hehehe. Untuk memastikan bahwa antrean tersebut benar untuk membeli tiket yang hari ini, aku pun mendekati pihak keamanan.

“Pak, maaf untuk pembelian tiket kereta penataran ekspress yang ke malang, di loket yang mana ya Pak?” tanyaku untuk memastikan. Satpam tersebut tampak tersenyum menunjuk antrean yang tadi sudah aku perhatikan, “Namun Mas, tolong dibersihkan remah-remah makanan yang menempel di sekitar mulut ya Mas,” seru pak satpam menunjuk sekitar mulutku sambil tertawa. Aku pun secara refleks meminta maaf dan dengan muka merah membersihkan remah-remah bekas sarapan tadi pagi di sekitar mulutku langsung dengan telapak tangan. Setengah berlari mendekati antrean yang ditunjuk oleh pihak keamanan, kalau dihitung-hitung aku berada di urutan ke-10. lumayanlah sambil menunggu waktu dan jam pun masih menunjukkan jam 6.45 pagi. Rencana pemberangkatan kereta jam 7.10 menit, “Cukuplah dan mudah mudahan estimasinya benar,” pikirku mecoba menganalisa, walaupun dalam segi hitung-hitungan matematikaku pun aku masih terbilang jeblok.

jam 7 lewat 5 menit, antreanku baru sampai ke urutan 7. Cemas bercampur kesal melihat antrean yang lamban bergerak ke depan. Namun jika aku perhatikan, petugas tampak sangat maksimal melayani penumpang mungkin lot permintaan kursi dari calon penumpang yang berlebihan. Tampak olehku Andri datang dengan senyum terkembang, “Senyam-senyum, gak tahu apa kita bakal telat naek kereta.. ini udah jam berapa bro.. bakal bisa mundur nih dari schedule,” selaku melampiaskan kekesalanku ditambah melihat kelakuan temanku yang tampak santai seakan tidak terjadi apa-apa.

“Tenang bro, aku yang handle,” sela Andri sambil menggantikan posisi berdiri mengantre seraya menengadahkan tangannya untuk meminta ktp yang aku pegang. Dia pun melanjutkan ceritanya mengenai motor yang dititipkan ke hotel yang dekat dengan Stasiun tersebut. Tidak mengindahkan cerita Andri, aku pun segera berinisiatif mengambil tempat di jalur pembelian tiket pesanan. Rencananya aku akan membeli tiket jurusan bandung untuk 2 hari kedepan.

“Untuk jaga-jaga seruku,” sambil tersenyum ke Andri yang kesal mendengar ceritanya tidak didengar. Tidak menunggu lama, aku pun telah bergabung dengan antrean panjang di depan loket pemesanan luar kota. Sesekali aku memperhatikan Andri yang tidak bisa diam menyapa calon penumpang yang sudah membeli tiket atau berbicara seru dengan calon penumpang di depan dan belakang antreannya. Tidak beberapa lama pun dia terlibat pembicaraan yang super serius dengan calon penumpang perempuan yang antre di belakangnya, “Dasar, playboy kampung,” gerutuku dalam hati.

Pengeras suara mengumumkan bahwa kereta padanaran jurusan malang sudah akan meninggalkan stasiun. Barisan antrean Andri pun terlihat gelisah, tidak terkecuali Andri. Tidak ku sangka, ia merangsek langsung kedepan dan langsung berbicara dengan petugas loket. Bukan hanya Andri, calon penumpang lain pun yang rencananya akan ke malang pun mengular di belakang Andri. Ada beberapa calon penumpang yang tadinya berada di urutan depan keberatan atas sikapnya Andri, namun dijelaskan oleh temanku bahwa kereta jurusan malang akan berangkat. Penumpang itu pun terdiam. Karcis pun didapatkan, aku pun dengan terpaksa meninggalkan barisan antrean pemesanan, “Sudah pesan di stasiun malang saja,” seru Andri dengan senyum kemenangan namun tampak tergesa-gesa menarik lenganku. Kami pun berlari bak anak kecil mengejar layangan putus.

Kereta padanaran perlahan-lahan bergerak, ketika aku dan Andri berada di dalam gerbong sesuai dengan petunjuk yang ada di karcis. Dengan terengah-engah akhirnya ku hempaskan badanku di kursi penumpang kereta. Di depan kami, tampak tersenyum renyah dua orang ibu melihat kelakuan kami. Salah satu ibu itu tampak mengendong anak perempuan yang ku taksir berumur 9 bulan, sedangkan satunya sudah pasti nenek dari anak perempuan tersebut karena terlihat lebih tua. “Untuk perempuan bisa ditebak umur dari penampilan,” seruku dalam hati.

Aku pun membalas dengan tersenyum malu, sedangkan Andre bak orang yang sudah kenal lama, menyapa dengan sangat hangat. Ia pun terlibat pembicaraan basa-basi serta menjelaskan kenapa kami hampir saja ketinggalan kereta. Sebenarnya aku pun terhibur dengan kicauan Andre dan ikut terlibat dalam pembicaraan yang hangat tersebut. Namun perhatianku pun teralihkan ke pemandangan luar kereta. Tampak berjejer perkebunan bunga, sawah, ladang jagung dengan di latar belakangi siluet gunung arjuna, gunung lawu serta gunung gunung lainnya yang hanya bisa aku terka terka saja. Maklum untuk masalah geografis sekitar surabaya dan malang aku belum menguasai. Mungkin sehabis perjalanan ini aku akan mempelajarinya, pikirku dalam hati.

Perjalanan ini sangat berkesan bagi diriku, selain ditemani sobat lamaku yang sudah lama tidak berjumpa ditambah teman seperjalanan kami sebuah keluarga yang sangat “welcome”. Keluarga ini merupakan ciri khas orang Indonesia yang mudah bergaul, sopan, dan hangat dengan orang lain walaupun orang tersebut baru ditemui. Perjalanan yang memang tidak membosankan, ditambah Andre sangat bisa untuk mengontrol pembicaraan terkadang serius, terkadang mengundang tawa dan tidak canggung. Sang nenek juga ternyata mempunyai pengetahuan yang cukup dalam, dengan asam garam kehidupan yang sudah dilaluinya. Latar belakang perkerjaan sebagai mantan pendidik ternyata cukup menambah input pengetahuan sang nenek yang berusaha dia ceritakan ke kami juga.

Aku bersyukur kali ini perjalananku tidak sia sia, walaupun dikejar kejar waktu namun ada sedikit pengetahuan yang aku dapatkan. Secara jujur memang aku bermasalah dengan sosialisasi di luar perkerjaan. Namun secara rutinitas perkerjaanku dituntut untuk bersosialisasi lebih dengan orang toko, lobi dan entertain, namun di luar perkerjaan aku sangat sulit dan merasa canggung untuk bermasyarakat. Apalagi di tengah perjalanan dinas yang sedang aku lakukan, seperti ketika aku di dalam mobil travel, kereta, pesawat tidak ada keinginan untuk bertegur sapa ataupun mengobrol dengan teman di sebelahku atau seperjalananku. Entahlah, ada sesuatu yang membuat aku menutup diri, tidak ingin melibatkan diri dalam urusan orang lain ataupun urusan diri sendiriku di ketahui orang lain.

Akhirnya perjalanan kereta ini berakhir di stasiun besar malang. Kami pun berpisah dengan keluarga tersebut. Andre pun mengajukan pertanyaan terakhir ke keluarga tersebut. Terakhir? sok melankolis nih, kayak sinetron. Gak tahunya? “Jam berapa ya Nek kereta paling akhir?” Ujar Andre sambil tersenyum menungu jawaban spontan dari nenek tersebut. Sang nenek tersebut menjawab, “Jam 3 sore dek Andre, jangan telat lagi dan mending beli tiketnya pas turun dari kereta, biar tidak terburu buru,” seru sang ibu menasihati. Kami pun berlalu sambil tersenyum dan menunduk tanda menghormat seperti kebiasan orang muda terhadap orang yang lebih tua.

Segera aku arahkan kakiku menuju loket pemesanan untuk tujuan luar kota. Beruntunglah hidup di zaman sekarang, semuanya serba online. Pemesanan tiket bisa di mana saja, padahal jadwal keberangkatanku esok hari dari stasiun gubeng surabaya menuju bandung. Sedangkan tiket dapat ku pesan dari stasiun malang. Sukses mendapatkan tiket kepulanganku ke bandung. Kami pun meluncur ke arah mobil angkot umum yang berjejer. Dengan modal cuap-cuap bertanya akhirnya kami pun mendapatkan angkutan umum ADL yang mengarah ke terminal landung sari. Sepanjang perjalanan mataku tidak lepas memperhatikan suasana kota malang.

Rumah-rumah, gedung-gedung, taman-taman kota dan hutan kota. Semuanya memang tertata tampak rapi dan teratur. Sangat berbeda jika aku bandingkan dengan kota bandung, kota tempat tinggalku. Walaupun memang udara dan suasana yang ku rasakan di malang hampir sama seperti bandung, namun dalam penataan kota, malang lebih baik. “Mungkin karena kota malang masih kota kecil dibandingkan kota bandung, jadi pemerintah kotanya lebih fokus,” jawabku dalam hati. Namun surabaya kota kedua terbesar setelah jakarta, tapi kotanya indah, hijau, semuanya serba teratur, warganya mau menjaga kotanya, tidak karena besar atau kecilnya kota dong…debatku dalam hati.

Perdebatan ini menimbulkan berkecamuknya pikiranku dalam memikirkan perbandingan tersebut layaknya walikota, hehehe. “Jadi intinya adalah adanya kemauan antara pemerintah dan warganya disinergiskan dalam kerja nyata dan didukung oleh pemerintah dan warganya. Semuanya transparan dan demi kepentingan bersama,” nah itu jawaban yang paling bagus, pikirku sambil tersenyum. Sudut mataku menangkap sepasang mata yang memandang aneh kepadaku. Sepasang mata yang ku kenal dari zaman kuliah. Sepasang mata yang terjelek yang pernah ku kenal, hihihi. “Lo gila? Teriak Andre menatap heran. “Hampir Dre,” jawabku pendek, sambil menatap sinis dan kami pun saling pandang lalu tertawa bersama.

Landung sari, terminal pinggir kota malang yang mengarah ke kawasan batu malang. Terminal yang letaknya tidak jauh dari kampus muhammadiyah malang ini memang selalu ramai, di pinggir jalannya namun ketika masuk terminal, kosong. Hanya ada beberapa angkot yang ngetem mengantre menunggu penumpang. Selebihnya mobil angkotnya lebih banyak antre di pintu ke luar terminal dan pinggir jalan depan terminal. Kami pun naik angkot berwarna pink. “Pink” jujur baru kali ini aku melihat angkot yang berwarna pink hehehe.. lembayung juga nih angkotnya..wuiih keren bo…dan ini pun satu-satunya yang ada di kawasan malang. Beruntung kejadian langka ini aku alami walaupun pengalaman naik angkotnya hampir sama seperti naik angkot yang lain, tidak ada yang beda. Kalau gak percaya, silahkan pergi ke malang deh.

Tidak lama kami pun berlayar menuju batu malang, tidak lupa pesan pesan dan wanti-wanti ke sopir untuk turun di dekat mall batu, karena ternyata mobil ini tidak lewat di depan mall tersebut, namun hanya lewat satu blok sebelum mall. Ternyata kawasan batu malang itu berada di atas dari kota malang. Perjalanan berkelak-kelok dan mendaki merupakan suguhan yang menarik. Belum lagi pemandangan kanan dan kiri lembah dan hutan serta hotel dan villa villa peristirahatan bagi orang kota yang mempunyai dompet tebal. Entah tebalnya karena bon hutang atau uang yang banyak terpenting bisa bayar refreshing di hotel mewah, baik lewat tambahan bon hutang atau uang cash. Entahlah…

Namun kali ini ada sesuatu yang sangat menarik dan terpenting yang belum pernah aku lihat di mana pun tempatnya. Menurutku keterlaluan atau memang kebutuhan atau memang kekurang ajaran manusia. Ketika menulis cerpen ini aku berusaha untuk menebak dan mengingat ingat entah di km berapa dan apa nama kampungnya. Aku melihat tulisan besar tertera di papan persegi panjang sekitar 2m×1.5m di depan sebuah mesjid besar dengan dipenuhi artistik menarik, “DIJUAL”. Aku pun secara spontan berseru dalam hati “Astagfirullah…” aku pun berusaha untuk memberitahu Andri namun ternyata temanku sudah terlebih dahulu bertanya kepada sopir dengan spontan.

Sopir pun tertawa renyah.. “Tenang Mas, iklan itu udah lama dan tidak ada yang berani menawar ataupun membeli mesjid tersebut. Jawab sang sopir.”
“Tapi kan Mas yang punya tanah keterlaluan harus sebegitunya menjual mesjid tersebut.” Seru Andri panas..kayak yang paling soleh aja dri…pikirku melihat tingkah lakunya. Sang sopir pun hanya menaikkan bahu sebagai tanda tidak tahu menahu, “yah sifat manusia” serunya, menambahkan sambil menghembuskan napas. “Namun karena iklan tersebut, mesjid itu menjadi terkenal loh Mas. Banyak yang menyumbangkan uang di gerobak mesjid. Niatnya untuk pengurus mesjid agar bisa mengumpulkan uang untuk warga sini membeli mesjid tersebut.” Tambahnya.

Syukurlah masih ada warga yang peduli terhadap agama, pikirku, entah bagaimana jadinya kalau kita tanpa agama, tanpa tuntunan.. aku pun teringat dengan nasib mesjid bersejarah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh komunitas muslim seluruh dunia dari cengkeraman zionis yahudi. Kompleks mesjid Al Aqsa, mesjid suci kaum muslimin dan mempunyai sejarah panjang dari kisdah Isra Mirajnya Nabi Muhammad SAW sampai dengan perang salib.

Umat muslim yang selama ini dinina bobokan oleh kenikmatan duniawi yang sudah tidak peduli lagi akan nasib umat umat muslim lain di dunia ini yang tidak beruntung di bawah cengkeraman kaum mayoritas non muslim di negara lain. Apalagi palestina yang sudah diramalkan dalam Alquran juga tidak pernah bisa akur dengan yahudi sampai dengan akhir zaman. Suatu tempat bagi umat muslim untuk berjihad memperjuangkan tauhid.

Tidak beberapa lama kami tiba di tempat tujuan. Dengan bersusah payah berjalan satu blok menuju mall tempat tujuan kami. Tidak ada sesuatu yang menarik untuk dibicarakan dalam ceritaku kali ini. Hanya azas manfaat memanfaatkan Andri untuk membantu kontrolku terhadap counter rampung. Semuanya berjalan dengan semestinya, perkerjaanku pun rampung dengan dibantu oleh temanku. Istilah ku menyebutnya “diberdayakan” hehehe, Andri aku minta bantuannya untuk stock opname alhasil.

Kereta jam 3 sore untuk kembali ke surabaya, dapat angkot kembali ke malang jam 2 sore lebih 10 menit. Telat….bakal telat…kata-kata tersebut yang terngiang di kepalaku. Berputar-putar mencari solusi, bagaimana caranya bisa tepat waktu? jika tidak datang tepat waktu otomatis ketinggalan kereta, solusi apalagi yang harus kami tempuh, ke terminal cari bus ke surabaya dengan berat hati menjadi pilihan yang pasti mengorbankan uang tiket yang sudah kami beli sebelumnya. Tidak sepatah kata pun yang ke luar dari mulut Andri. Kami berdua membisu, menatap ke depan ke arah jalanan dan berseru kecewa jika angkot melambatkan laju larinya.

Aku yakin Andri pun berpikir yang sama denganku. Namun tidak beberapa lama setelah aku menanyakan jam kepada Andri. Andri pun berbicara kepada sopir permasalahan yang sedang kami hadapi. Plan C naek ojek!!!… Andre pun ternyata berpikir sama. Ia pun mengutarakan kepada sopir untuk menanyakan tempat mangkal ojek. “Mas dari pada cape-cape nyari ojek, kasih saya Rp.20.000. Tepat jam 3 kurang sampe depat stasiun, gimana?” Tawaran sopir kepada kami.

“Deal,” seruku. Andri pun sepakat. Tidak beberapa lama, kami pun seperti berada dalam lomba balap mobil. Bedanya yang kami alami hanya lomba balap kelas kampung yang lawannya hanya truk, bus, dan mobil sesama angkot. Terkadang motor pun menjadi gerah dan berusaha mengimbangi kecepatan kami. Kami pun yang di dalam mobil hanya bermodal doa berharap aman sampai tujuan. Rasa sesalku pun timbul jam 14.47….woow greaat. seruku sambil memberikan uang kepada sopir. Salah satu penumpang berteriak kepada kami sambil tertawa, “Mas, laen kali terlambat lagi ya..biar cepat juga nih angkot.” kami pun tertawa.

“Nasi goreng Mas… makan malam,” seru seorang perempuan yang tiba-tiba muncul dari sebelah kiri tempatku duduk. Aku pun tersadar dalam lamunanku dan tersadar juga bahwa sembari tadi aku tertawa sendiri sambil menatap sms Andri, “Bro, hati-hati lo ya..jangan telat naek kereta, salam untuk keluarga di bandung.”
“Boleh sama teh manis ya Mbak,” jawabku. Pramugari kereta itu pun segera mencatat pesananku lalu berkata, “Pesanannya sudah dicatat Mas dan harap menunggu. Terima kasih sudah menggunakan kereta lodaya malam jurusan Bandung..”

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Ketika Waktu Itu Berbicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Seorang Penyihir

Oleh:
Claire menghela nafas kelelahan. Seperti biasa, di hari libur ia melakukan aktifitas olahraga pagi dengan cara jogging di taman kota. Di bawah pohon taman yang cukup rindang itu, Claire

Aku dan Pelangiku

Oleh:
Ku ingin jumpa dia, berjumpa dengan mereka sahabat kecilku. Mereka bagaikan pelangi dengan lima warna yang berbeda, tapi perbedaan itu seperti saling melengkapi, aku sangat senang jika dapat bertemu

Pengkhianatan

Oleh:
“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?” Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut

Cinta Sejati Sebagai Sahabat

Oleh:
Percayakah kamu akan hadirnya cinta sejati? Semua orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing dan alasan yang berbeda pula. Perbedaan juga biasa muncul dalam topik-topik tertentu yang nantinya akan di bahas,

Best Partner-in-Crime

Oleh:
Menurut kalian semua, seberapa berhargakah seorang sahabat? Bagiku, sahabat adalah sesosok manusia yang patut diperjuangkan. Sosok yang layak untuk membuatku melakukan apapun demi dirinya. Sosok yang akan selalu kuperjuangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *