Kisah Hari Ini (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2014

Karena Dokter bilang bahwa aku harus istirahat, jadi aku tak masuk sekolah di hari Sabtu. Padahal hari itu sebenarnya banyak kepentingan yang harus aku selesaikan di sekolah. Tapi, Ibu memarahiku dan tetap harus mengikuti apa perintahnya. Jadi, ya sudahlah aku tak sekolah hari ini.

Mengurung diri di kamar dan kegiatan yang dilakukan adalah tidur, bangun, tidur, bangun, itu membuatku kesal. Terlebih aku tak boleh pegang alat apapun termasuk handphone dan Laptop. Hanya mp3 saja yang Ibu berikan padaku. Karena itu, seharian aku mendengarkan musik saja dan lalu tidur, bangun lagi, tidur, bangun lagi, hahaha… Kayak Mbah Surip aja :D.

Keesokan harinya, seluruh badanku lumayan agak enak dan tak sesakit kemarin di hari Sabtu. Ketika itu aku bangun pagi, yakni pukul 05.00. setelah bangun aku langsung mandi dan shalat Shubuh, tahukah? Badanku menjadi sangat fresh. Alhamdulillah…

Karena kondisi badanku yang sudah lumayan baik, aku langsung melakukan aktivitas biasanya, yaitu mencuci piring, baju, pel dan yang lainnya. Pokoknya pekerjaan di rumah semuanya aku lakukan. Walaupun Ibu memang tak membolehkanku untuk melakukan hal itu, alasannya karena aku masih belum pulih. Ya itu lah Ibu, ketika aku sakit wah sikapnya seperti Malaikat :D. Tapi, ketika aku sehat apa yang terjadi? Itu sangat mengerikan :D.

Setelah aku beres mencuci piring dan pakaian aku langsung membereskan rumah termasuk kamar adik dan kakakku. Dan tanpa kusangka handphoneku ada di dekat TV, ya tentu aku langsung mengambilnya, dan ternyata? Ada 10 SMS yang masuk dan 3 panggilan yang tak terjawab selama hari Sabtu kemarin. Itu semua dari teman-temanku, mereka ternyata sangat peduli terhadapku, aku senang.

Huh… sungguh lumayan menguras tenaga, tapi akhirnya selesai juga. Waktunya istirahat. Ibu tak ada di rumah, karena dia harus pergi ke Pasar.

Disaat aku menonton TV, handphone ku berbunyi. Seperinya itu sms, tapi aku tak langsung melihatnya, karena kupikir mungkin itu sms dari OPERATOR. Karena OPERATORlah yang selalu setia mengirimkan sms untukku. Haha… lumayan menyedihkan. Tapi, sms itu berdering 2 kali, siapa ya? Segera aku melihatnya, dan ternyata siapa dia? Ini hal yang mengejutkan! Dia adalah Indra, orang yang menimbulkan masalah berbelit untukku. Tumben ya dia sms ada apa ya?
“Asslamu’alaikum.” Sapanya.
“Qmsalam.” Aku membalas
“Lis, tahu tidak? Akhir-akhir ini aku sangat sedih” dia membalas lagi
“Kenapa Mister?” aku agak terkejut juga.
“sudah 3 minggu ini aku tak lihat Naruto!” katanya
“Ish kau ini.” Balasku.
“sudah nonton?” yang dia maksud adalah episode Naruto yang baru.
“ia sudah” aku jawab.
“ada kisah sedihnya tidak?” dia menanyakannya.
“tidak, hanya ada flashback tentang Itachi dan Sasuke aja. Tau tidak? Kabuto bisa Sennin Mode ular. Dia jadi hebat hayoh…” jelasku.
“aku sudah tahu hey. Ada tanduknya kan?”
“kalo sudah tahu, kenapa harus nanya? Kau ini! Tanduk? Oh, ya memang ada” aku sedikit marah.
“WOLES ajah. Ada berapa tanduknya?” dia Tanya lagi.
Huh.. dia ini sungguh aneh, perlukah aku menghitungnya? Haha.. Bodoh. “aku tak tahu ada berapa tanduknya, yang jelas Kabuto punya tanduk!” jawabku.
“suka baca chapternya?”
“aku agak benci membaca, jadi, lebih baik lihat videonya saja lah!”
“ah… sangat disayangkan. Padahal kalo chapter itu udah sangat jauh tahu!” jelasnya.
“oh, ya nanti kucoba baca. Tapi, tumben sms, emangnya nggak belajar di pesantren?” aku dengar dia masuk kelas khusus. Dan katanya lagi setiap hari minggu juga emang pasti belajar.
“kan ini hari Minggu. Kau ini! Tapi itu juga terkadang sih. O, ya katanya kalo ada sms suka di cuekin. Benarkah itu?” katanya.
“Oooooooooooo” jawabku.
“hey, apa itu benar?” tanyanya.
“sama sepertimu, ini adalah hari Minggu. Di hari minggu aku boleh melakukan kontak dengan siapapun. Lumayan lah aku tidak se-stress waktu dulu. Hehe…” jelasku.
“wah-wah-wah kau senang?”
“tentu saja!” kataku.
“Syukurlah. Lalu apa sekarang kau bisa keluar rumah tanpa izin?” tanyanya.
“hey, kau ini. Mana mungkin? Aku ini masih punya etika!” kataku.
“Walah kagum saya.”
“hah.. sudahlah. O, ya ada salam dari kelas X namanya Anisa. Sudah beberapa hari yang lalu dia titipkan pesan ini, tapi aku belum sempat bicara denganmu” kataku.
Itulah pesan singkat yang saling kami kirim. Setelah beberapa menit, dia tak balas lagi. Mungkin sudah waktunya untuk dia belajar. Aku pun harus cepat-cepat menyimpan handphoneku lagi, sebelum Ibu pulang.

Keesokan harinya, di sore hari lndra sms lagi.
“Lis, ma’af aku tak sempat membalas sms yang kemarin itu” katanya.
Karena aku tipe orang yang cuek jadi aku tak tanyakan sebabnya “y” balasku.
“kau tidak Tanya kenapa?”
“apa harus? Itu kan bukan urusanku” kataku.
“kepribadianmu berubah di hari Senin ini :p . Berbeda sekali di hari minggu kemarin”
“hahahahaha… kau ini!” aku tertawa.
“tapi, terimaksih ya untuk anak itu!”
“iya Sip!” jawabku.

Semenjak aku mengenalnya, banyak hal yang aku lalui dan terkadang membuatku sangat kesulitan. Mulai dari kesalahpahaman, sangkaan orang lain bahwa aku punya hubungan denganya, dan yang paling mengerikan adalah semua wanita memusuhiku. Haha… ini adalah hal bodoh. Kenapa bisa ya mereka lakukan ini? Padahal aku tak punya kelebihan apapun, aku tidak cantik, tak terlalu pintar dan tak seanggun mereka. Mereka terlalu cepat memvonis. Lalu Indra ini siapa ya? Kok, banyak sekali yang perhatian padanya? Tapi, yang kutahu juga imagenya agak buruk di depan teman-teman yang lainnya. Hah, anehnya…! Pertanyaan inilah yang selalu menghinggapi pikiranku sendiri. Kenapa tidak aku tanyakan langsung ya? Tapi ini hal konyol, apa harus aku tanyakan? Aku malu? Tapi, aku penasaran juga! Haduh.. bagaimana ini? Aku terus berpikir, dan keputusan akhirnya aku akan tanyakan. Lalu, kukirimkanlah pesan untuknya lagi.
“heh, boleh Tanya?” pintaku.
“siapa yang melarang?” jawabnya.
“sebenarnya, kau ini orang yang seperti apa?” aku memberanikan diri bertanya seperti itu.
Sangat lama dia tak menjawab lagi. Dan sepertinya tak mau menjawab. Baiklah aku tak akan memaksa.
“tidak mau jawab? Ya sudah lain kali saja!” kataku.
“kita bicara pada waktunya!” balasnya kembali.
Benar-benar anak ini. Aku tak habis pikir kata-katanya sangat bijak, bahkan dalam sms sekalipun. Sms-san denganya serasa sms-san dengan Mario Teguh saja. Tapi, mending kalo Mario Teguh ada humornya, la ini? Ampun deh Indra…

Come back to school, setelah 3 hari libur Idul Adha. Aku rindu teman-teman. Ketika aku masuk ruangan kelas.
“Elis..? apa kamu baik-baik saja sekarang?” yuni menyapaku terlebih dahulu.
“aku baik-baik saja sekarang. Terimakasih sudah khawatir” aku tersenyum.
“tahu tidak? Jangan lakukan ini lagi ya?” kata Hera.
“Hera.. ini itu dari Tuhan, mana mungkin aku bisa menghindarinya” semua teman tertawa.
“tanpamu, kami bisa mati tahu dimarahi Bu Lia karena tak bisa teknik Corel Draw. Untung aja Ibunya gak masuk!” jelasnya kembali.
“iya-iya.” Aku tersenyum lagi.
Hmm.. itulah mereka. tapi aku senang, tenyata banyak yang memperhatikanku sekarang.

Tiba-tiba Putri datang.
“Elis.. aku mau cerita. Kita ke tempat biasa yuk!” pintanya.
Putri merupakan teman terbaik selain Indah dan Atih, dia juga tempatku berbagi cerita. Kami saling menasehati ketika ada masalah. Dan tempat biasa yang selalu kami tempati adalah pojok ruangan di lantai 2 sekolah kami. Tempat itu lumayan Indah. Karena pemandangan disana adalah persawahan juga bukit-bukit yang masih hijau. Kalo kesana, perasaanku serasa melihat Lukisan alam yang sangat menakjubkan. Dan membuat suasana hati lebih baik, Tuhan itu Maha Kuasa. Kami berdua pun pergi kesana.
“ada apa Putriku?” aku bertanya.
“Lis, aku kecelakaan. Lihat nih, tangan dan kakiku bengkok!” sambil memperlihatkan tangan dan kakinya padaku.
“Astagfirullah. Diamana Put. Kamu ini hati-hati dong!” aku kaget.
“ia. Ini terjadi saat aku berniat mengunjungi rumah temanku Lis. Tiba-tiba aku ditabrak oleh motor pembawa barang!” jelasnya.
“apa sebelumnya kamu lakukan sesuatu?” tanyaku lagi.
“maksudmu?” dia heran.
“misalkan kamu bohong gitu sebelum berangkat?” aku menebak.
“kenapa bisa tahu? Siapa yang cerita?” dia agak panik.
“ye… ketahuan. Emang gimana itu Put?”
“yah.. ketahuan, jadi malu. Hehe..”

Begini…
Ketika malam minggu, aku lakukan kotak dengan temanku namanya Aida, dia temanku waktu dulu di Albid. Pokonya, keluarganya juga udah seperti keluargaku sendiri. Nah, dia itu mengajaku untuk bertemu di rumahnya di daerah Tenggek. Ini bisa disebut reunion juga.

Keesokan harinya, Nenekku sedang kerepotan, beresin inilah, beresin itulah. Ya aku cuek aja, lagi pula aku tak pernah beres-beres. Hehee… hobiku itu main. Sementara itu aku juga sudah mandi dan rapi, ya untuk ke rumah Aida itu. Tapi, setelah aku ingat lagi, nenekku bilang bahwa aku tak boleh kemana-mana. Katanya aku terlalu sering main sekarang. Maklum lah Lis motor baru, mubazir tahu kalo nggak dipake. Hehe…
“Uti? Kamu mau kemana? Sudah rapi begitu?” Tanya nenekku.
“mmmmm.. a.. ak.. aku…” tiba-tiba Nenekku memotong.
“jangan bilang bahwa hari ini kamu akan main-main lagi. Ayo bantu Nenek menyelesaikan semua ini!” katanya.
Wah-wa-wah? Aku harus bantu? Aduh bagaimana ini? Kalo aku berkata jujur, Nenek pasti tak izinkan aku pergi. Tapi, aku juga sudah janji pada Aida akan datang. Segera aku pikirkan alasan lain. Dan tiba-tiba lampu besar terang benderang di atas kepalaku. Hahaha… ketemu juga alasannya.
“Nek?” aku mendekatinya di dapur.
“apalagi Uti? Ayo cepat bantu Nenek!” suruhnya.
“tapi Nek? Aku harus menghadiri undangan dari temanku yang menikah hari ini? Gak enak rasanya kalo nggak menghadirinya. Terlebih aku kan teman baiknya. Nenek bisa izinkan aku pergi kan? Ya nek, Kumohon!” pintaku.
“anak bau kencur sudah ribut untuk menikah. Zaman sekarang memang zaman Edan!” sambil memasak.
Sementara Nenek bilang begitu, aku langsung ambil kunci motor dan menghidupkan motornya.
“Uti? Kamu ini benar-benar ya!” Nenek agak sedikit marah.
“ma’af Nek aku harus cepat. Ada yang menungguku!” aku beralasan.

Huh… lega bisa lepas dari sana. Aku bebas… Hahaha… Ma’afkan aku Nek… Hahaha…

Pokoknya Lis aku langsung pergi dan tancap gas, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan teman-temanku dulu. Ini adalah hal yang paling menyenangkan.
Di perjalanan, aku terus berteriak ‘aku bebas’ haha.. ini menyenagkan tahu!
Tapi, setelah sampai di tikungan, aku sedikit kehilangan kontrol dengan motorku ini. Dan dari arah berlawanan ada Motor pembawa barang, kemudian motor itu langsung menabrakku. Ketika sadar aku sudah berada di dalam jurang dan seluruh badanku di lapisi lumpur. Aku melihat ke atas, ternyata ini sangat dalam, dan aku pingsan lagi.
Ketika aku sadar kembali, aku sudah di rumah pemukiman warga disana, untung mereka semua baik. Tapi, ketika saat itu sadar bajuku sudah ganti.
“Neng, Ibu sudah mandikan kamu. Soalnya badan kamu penuh lumpur!” jelas ibu pemilik rumah.
Mendengar itu aku hanya mengangguk dan malunya minta ampun. Haduh aku dimandikan? Lalu dipasangkan baju oleh mereka? Apa? Aku malu tahu! Haduh benar-benar kejadian ini tak akan terlupakan.

Saat aku terbaring, ada seorang bapak-bapak yang datang menghampiriku.
“De, punya Hp?” tanyanya.
“ia ini Pak!”
“coba hubungi keluarnganya!” suruhnya.
Aku terdiam, karena pulsanya habis.
“tak ada pulsanya De?”
“iya Pak!” aku mengangguk.
Tiba-tiba Aida dan Ibunya datang.
“Uti? Apa yang terjadi? Ayo cepat ke rumahku!” kata Aida.
Kemudian aku dibawa ke rumah Aida. Disana, tangan dan kakiku diurut, kepalaku dikompres, dan dihidangkan Roti, Susu, juga buah-buahan. Serasa jadi Ratu, hhee.. mereka baik sekali. Tapi, ketika diurut Elis, aduh sakitnya minta ampun. Gila maen narik-narik aja, terlebih tukang urutnya juga judes amat! Aduh parah.

Huh.. di urut sudah, makan sudah. Lumayan kenyang juga. Tapi, badan sakitnya minta ampun. Setelah Itu pamanku datang menjemputku.

Sesampainya di rumah…
“Teh, gimana Undanganya?” adikku meledekku sambil tertawa.
“apa kau?” aku melet.
Tiba-tiba Nenek dan kakakku datang. Haduh, mampus gue!
“gimana Put. Sudah makan parasmannya? Kenapa bisa pulang dengan keadaan begini?” tanyanya.
Ya, mereka pasti udah tahu dari Ibunya Aida. Aku langsung jujur dan minta ma’af pada Nenek.
“ma’afkan aku Nek! Aku sudah berbohong!” pintaku.
“tanpa dipinta, Nenek sudah mema’afkanmu. Tapi, kenapa kamu berbuat seperti ini? Membohongi Nenek?”
“ma’afkan aku, aku mengaku salah!” aku menunduk.
“ya sudah, sekarang istirahat, dan jangan berbohong seperti ini. Membohongi orangtua hukumnya dosa! Dan akibatnya sudah terasa sekarang ini kan!” jelasnya.
Aku hanya mengangguk, aku kapok berbohong lagi pokoknya!.
Begitulah ceritanya Lis.
“haduh, kamu ini ada-ada saja. Jangan begitu lagi ya. Karma tuh!” aku tertawa.
“ia.. haduh lucu dan memalukan pokoknya Lis” dia tertawa.
Kami berdua sama-sama tertawa.
“O, ya Lis? Bagaimanaa dengan orang yang kamu sukai itu? Dia menghubungimu kembali?” tanyanya.
“Oh, itu. Sudahlah, aku sudah melupakannya!” pandanganku beralih.
“kenapa seperti itu? Awas deh kamu ini kan plin-plan orangnya!” katanya.
“tidak, tidak akan!” aku menundukan kepalaku.
“sesuatu terjadi?”
“kupikir, ini adalah hal bodoh Put, mengagumi seseorang selama 3 tahun lamanya. Dan tak ada reaksi apapun. Dan aku menyadari selama 3 tahun ini pula aku sudah memikirkan hal yang sangat mustahil. Aku ini Bodoh ya Put!” jelasku.
“aku ragu. Pasti ada yang terjadi, katakana apa itu? Ayolah?”
“tidak terjadi apa-apa, mungkin ini jawaban dari penantianku. Yang berakhir dengan kalimat ‘Cinta Bertepuk Sebelah tangan’. Drama sekali ya aku ini!” sedikit sedih.
“aku sih, ya gak tahu rasanya berada di posisi sepertimu ini. Tapi, pasti ini sangat sulit bagimu!” dia menegaskan.
“tidak apa!”
“tapi bagaimanaa dengan Indra?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu.
“maksudmu?” aku heran.
“perasaanmu? Lalu sikap para perempuan-perempuan itu terhadapmu?” tanyanya.
“perasaan? Hey apa maksudmu? Kau ini! Untuk sikap mereka ya, masih seperti itu Put. Sekarang aku tak mau ambil pusing lagi dengan hal itu. Jadi aku cuek saja lah kembali seperti Elis yang dulu” jelasku
“Oh, ya baguslah, ini yang aku inginkan, bukannya dipikirkan terus. Kamu bertapa ya selama 3 hari kemarin? Sepertinya ada banyak pencerahan untukmu sekarang. Hehe.. jawab saja bagaimanaa perasaanmu terhadapnya? Akhir-akhir ini kalian semakin dekat saja” katanya.
“ah.. kau ini berlebihan. Kami hanya berteman saja.” Jelasku.
“Oh, begitu ya, hahahaha…” dia tertawa.
“apa? Kamu mau bersikap seperti perempuan yang memusuhiku hah?” aku sedikit marah.
“nggak atuh lis. Gitu aja kok marah!”
“mmm… Putri-putri..” aku tersenyum.
Saat kami berdua berbincang, bel berbunyi. Kami berdua langsung masuk kelas.

Cerpen Karangan: Elis Komariah
Blog: eliskomariah.blogspot.com

Cerpen Kisah Hari Ini (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Landak Bagimu

Oleh:
Aku berlari secepat yang kubisa, berusaha tak menghiraukan tanda biru kehitaman yang ada di kakiku. Samar-samar aku bisa mendengar seseorang meneriakkan namaku dari belakang. Suara orang itu seakan memotivasiku

Rival Bohongan

Oleh:
Risa dan Evan selamanya musuh besar. Dari anak-anak kelas sepuluh, sampai kelas dua belas juga semua tahu kalau pernyataan itu benar. Kalau ditanya siapa murid yang paling sering masuk

Notebook Pengungkap Rahasia Hati (Part 3)

Oleh:
“Kamu kalau mau deketin Afif, jangan kayak gitu. Kamu itu harus…” Aku sedang bersama Dinda dan memberi tau hal yang tidak disukai dan disukai Afif. Saat Dinda mendekati Afif

Jantung Imitasi

Oleh:
Violeta Aurora, adalah gadis yang sangat baik dan pintar. Dia adalah temanku, Viola yang dianugerahi kecantikan dan sebuah bakat kecil sebagai pemain biola. Pribadinya sangat halus serta begitu pemalu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *