Kisah Kelam Di Pondok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Di teras rumahnya, Ahzam merenung di tengah hujan lebat yang mengguyur kota malam ini. Dia mengingat ingat, apa yang menimpanya sehingga dia menjadi seperti sekarang ini. Kejadian yang sangat membekas bersama seorang sahabatnya. Irsyad.

Irsyad dan Ahzam adalah seorang sahabat yang sangat amat dekat. Mereka dekat sejak awal masuk SMP. Mereka ada di sekolah yang sama. Dan sama sama pondok di pondok yang sama. Mereka pondok, karena mereka sadar akan pembelajaran Al Qur’an yang sudah banyak ditinggalkan anak anak sekarang.

Sore itu, Seperti biasanya Irsyad nampak riang. Sedangkan Ahzam, dia tampak sedang marah dan tak enak hatinya. Kala itu, Irsyad yang periang dan terkesan ceplas ceplos menghampiri Ahzam dan memanggil dengan nama ayahnya. Ahzam sangat tidak senang, jika ia dipanggil dengan nama ayahnya.

Seketika juga, Ahzam marah. Ia menendang Irsyad hingga terjatuh dan terguling guling. Irsyad kesakitan, dan bukannya minta maaf, malah semakin memanasi hati Ahzam dengan bertanya, tapi menggunakan nama ayahnya. Ahzam makin marah. Ia kembali memukuli Irsyad. Darah mulai mengucur dari mulut dan pelipis Irsyad.

Irsyad sudah meminta maaf, tapi Ahzam tak peduli. Dia sudah kehilangan ruh baiknya. Akhirnya, Irsyad pingsan. Mulut dan pelipisnya berlumuran darah. Ahzam mulai sadar, dirinya memukuli sahabatnya sendiri. Ahzam mulai membangunkan Irsyad, tapi Irsyad tak kunjung sadar.

Ahzam menyesali perbuatannya. Dia menangis melihat kondisi sahabatnya yang dia pukuli sendiri. Ahzam menunggu hingga Irsyad sadar. Tangis penyesalannya membuat tubuh Ahzam berpeluh keringat.

Akhirnya Irsyad sadar. Seketika Ahzam memeluk Irsyad. Ahzam meminta maaf kepada Irsyad yang masih tampak kesakitan. Tampaknya lukanya cukup parah. Ahzam tampak semakin menangis. Dia meminta tolong salah satu Ustadz di pondok untuk mengantar Irsyad ke Rumah Sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Ustadz menanyai Ahzam tentang apa yang terjadi. Ahzam menjawab dengan tersedu sedu. Dengan kenyataan yang sangat jelas, raut ustadz nampak berubah. Akan ada sesuatu yang membuat Ahzam bertanggung jawab atas perbuatannya. Yang akan membuat Ahzam tampak menyesali perbuatannya.

Keesokannya, Irsyad kritis. Tulang rusuknya patah. Ahzam makin menyesali perbuatannya. Dia menyalahkan dirinya terus menerus. Ustadz mencoba menenangkan Ahzam, namun Ahzam sangat amat menyesali perbuatannya.

Malamnya, Irsyad meninggal. Tepat pada malam jumat. Irsyad meninggal karena tubuhnya sudah tak berdaya menahan banyak luka dan patah tulang rusuknya. Ahzam menangis melihat sahabatnya itu. Sahabat yang meninggal karena ulahnya.

Paginya, Irsyad dikubur. Ahzam tampak berdiri menangis menyesali perbuatannya. Ketika semua sudah pulang, ahzam dudu di sisi nisan Irsyad dan mendoakan kebaikan untuk irsyad.

Selepas Sholat Jumat, Ahzam dipanggil oleh pengurus pondok. Pengurus meminta ayah Ahzam untuk datang ke pondok keesokan hari. Ayah Ahzam datang, pondok memberi surat keterangan berisi sesuatu yang membuat Ahzam semakin menyesali perbuatannya. Ahzam dikeluarkan dari pondok.

Namun, Ahzam sekarang sudah bangkit. Dia masih mengingat ingat kesalahannya. Namun dia tidak terlarut larut untuk memikirkan sahabatnya. Dia hanya bisa berdoa, agar temannya masuk surga. Ahzam bertekad untuk mewujudkan cita cita bersamanya dengan Irsyad. Yakni menjadi Hafidz Qur’an.

TAMAT

Cerpen Karangan: Muhammad Hafiyyan NQ
Facebook: Muhammad Hafiyyan NQ

Cerpen Kisah Kelam Di Pondok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pancake and Milkshake

Oleh:
Alexa sedang berjalan-jalan bersama mom dan dad-nya di sebuah mall di Los Angeles, As. “Mom, aku mau beli ini” kata Alexa manja. “Ya ambil saja” balas Mom. Alexa mengambil

Tengkleng Solo

Oleh:
“Yakin tidak ada yang tertinggal,” Tanya Bang Rey ketika aku memasukkan satu buku kecil ke dalam saku tas. Aku menggeleng, mengangkat tas rangsel dan menggendongnya di punggung. Penerbangan masih

Tak Cinta Tak Harus Benci

Oleh:
Teng… teng… teng Bel masuk sekolah telah berbunyi, aku segera berlari menuju gerbang pintu masuk. “Ratna…!” aku terhenti mendengar ada seseorang yang memanggilku. “Tidak usah lari, masih persiapan apel

Tentang Kita

Oleh:
Tutt tuuttt, suara kereta menandakan hendak berangkat ke tujuan. Gue dan sahabat gue duduk di gerbong ke tiga. Temen gue yang satu ini cukup the best. Kalau aja rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *