Kisah Sendal Jepit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 October 2015

Iin berjalan sendirian. Dari kedua matanya tampak bekas air mata yang sudah mengering. Di tangannya memegang sebuah bungkusan tas plastik warna hitam, entah apa isinya. Hari sudah siang, matahari sangat menyengat. Seolah-olah ingin membakar permukaan bumi. Iin masih terus berjalan. Untungnya dia memakai alas kaki, ya meski hanya sepasang sendal jepit yang sudah usang dan jelek, tapi setidaknya kaki Iin enggak kepanasan.

Tak lama kemudian Iin sampe rumah. Lalu dia ke kamar Ibunya. Dalam kamar, terlihat Ibu yang lagi terbaring lemah. Wajahnya pucat seperti menahan sakit. Iin mengeluarkan isi bungkusan plastik itu yang ternyata adalah obat untuk Ibunya.
“ini obatnya bu diminum ya?” kata Iin pelan. Ibu hanya tersenyum, namun sedetik kemudian raut muka Ibu berubah.
“mata kamu kenapa in?” tanya Ibu.
“emmm… anuu… gak apa-apa bu. Tadi kepanasan, makanya jadi berair” jawab Iin berbohong. Iin lalu pergi ke luar kamar.

Di bawah pohon belakang rumah, Iin duduk termenung. Dia keinget kejadian pas di toko obat tadi. Gimana teman-teman pada mengejeknya. Gimana sakitnya saat sendal jepitnya jadi lempar-lemparan. Iin jadi sedih lagi. Air matanya jatuh lagi. Tapi mau gimana lagi? itu satu-satunya alas kakinya sehari-hari. Mau minta yang baru juga gak mungkin. Iin hanya terdiam. Air matanya tak berhenti mengalir.
“Iin… maen yuk..” teriak seseorang dari kejauhan yang ternyata adalah Ginna sahabatnya. Iin buru buru hapus air matanya.
“maen kemana gin?” tanya Iin.
“Ke sungai maen pasir” jawab Ginna. Dan mereka pun pergi ke sungai di belakang desa.

Di sana merek maen sepuasnya. Untuk sesaat Iin bisa melupakan kesedihannya. Hari udah sore, mereka pun pulang. Di tengah jalan kaki Iin kesandung batu, akibatnya dia terjatuh. Gak sakit sih tapi sendal jepit Iin putus.
“kamu gak apa-apa in?” tanya Ginna.
“gak apa-apa sih… tapi sendal aku putus” jawab Iin pelan.
“ya udah buang aja..” kata Ginna.
“ehhh.. jangaann…” teriak Iin spontan.
“kenapa?” tanya Ginna.
“emm gak apa-apa kok. Udah ah yuk pulang Udah hampir gelap nih” kata Iin. Dan mereka pun lanjutkan perjalanan.

Di pertigaan jalan, mereka berpisah. Ginna berhenti sejenak sambil menatap kepergian Iin. Sejuta tanya hadir dalam benaknya. Entah apa itu, yang pasti dia langkahkan kaki ke arah rumah Iin. Dengan hati hati Ginna memasuki pekarangan rumah Iin. Dia mengendap-endap di dekat dinding rumah Iin. Dari dalam rumah, Ginna mendengar pembicaraan Iin dan Ibunya. “bu… sendal Iin putus.” Kata Iin. Sejenak Ibu menatap sendal usang di tangan Iin.
“ya udah buang aja…” kata Ibu.
“belIin ya bu..” kata Iin. Ibu diam, sebenarnya beliau kasihan melihat anaknya memakai sendal jepit yang udah usang. Tapi buat beli, uang dari mana? sedangkan Ibu sendiri masih belum bisa kerja.
“tunggu Ibu punya uang ya nak..” jawab Ibu. Iin diam, dia tahu Ibu gak mungkin bisa beliin.
“aaahhh.. andai aja Bapak masih ada.” Batin Iin. Dia lalu pergi mandi.
Di luar, Ginna yang mendengar percakapan tadi jadi tahu kenapa Iin gak mau membuang sendalnya. Dia pun tinggalkan rumah Iin.

Sampai rumah udah magrib. Akibatnya Ginna dimarahi Ibunya. Tapi Ginna hanya cuek. Dalam hatinya dia berkata, “aku harus melakukan sesuatu untuk sahabatku.” Usai mandi Ginna salat terus belajar bersama adik nya. Dela namanya.
“Kakak dari mana? kok pulangnya malam banget…” tanya Dela yang masih duduk di kelas 5 SD.
“dari rumah temen aah!!! udah ah ayo belajar!” jawab Ginna. Mereka lanjutkan belajar.

Setelah belajar. Mereka pada makan.
“bu… boleh tanya gak?” tanya Ginna pada Ibunya.
“ada apa?” tanya Ibu balik.
“emm harga sendal jepit tuh berapa ya?” kata Ginna.
“sendal jepit buat apa kak?” timpal Dela.
“adek diem deh!!” Kata Ginna. Dela langsung diem sambil lanjutkan makannya.
“harganya 20 ribu nak. Kenapa?” kata Ibu.
“hehehe… gak apa-apa kok” jawab Ginna.
Selesai makan, mereka pun tidur. Dalam kamar, Ginna membuat rencana. Dia akan sisihkan sebagian uang sakunya. Dan sebelum pejamkan mata. Ada senyum yang tersungging di bibir Ginna.

Hari-hari selanjutnya, Iin dan Ginna masih bermain seperti biasa, Iin masih aja pake sendal usang itu yang ternyata bawahnya ditancepin paku melintang, sehingga masih bisa dipake. Sementara simpanan uang Ginna makin hari makin banyak. Dan seminggu kemudian, tepatnya hari minggu pagi. Iin di suruh Ibunya buat beli minyak goreng. Iin siap berangkat, tetapi untuk sesaat dia menatap pada sendal jepitnya yang sudah parah dan hampir gak bisa dipake.

“hmm… mungkin udah saatnya aku pergi tanpa alas kaki” batin Iin. Iin lalu buka pintu, dan dia kaget, di depan pintu ada sepasang sendal yang bagus dan masih baru.
“Ibu!!!” teriak Iin. Ibu langsung ke luar.
“ada apa nak?” tanya Ibu.
“Ibu beiIin sendal buat aku ya?” tanya Iin balik
“enggak tuh..” jawab Ibu. Mereka jadi bingung sambil celingukan.
“itu dari aku in…” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik rerimbunan.

“Ginnaaa!!” kata Iin setengah gak percaya.
“Iya.. itu dari aku, aku sengaja beli buat kamu” kata Ginna lagi. Iin diam, dia bingung gak tahu apa yang harus dilakukan.
“Udah… gak usah bengong!! Ayo dipake dong…” ucap Ginna. Iin lalu memakai sendal itu. Dia tersenyum kemudian tertawa senang. Ginna ikutan tertawa.
“makasih gin,” kata Iin.
“iya.. sama-sama, eh.. kamu mau kemana?” kata Ginna.
“Beli minyak..” jawab Iin.
“ya udah.. aku ikut… tapi entar temenin aku maen di rumahku ya sebab Ibu sama Dela lagi pergi..” kata Ginna.
“sip..” kata Iin. Mereka pun pergi. Ibu hanya tersenyum mengantar kepergian mereka, hatinya lega. Ya, satu masalah sudah terselesaikan.

Tamat

Cerpen Karangan: Cak Alien
Blog: blogorangnganggur12345blogspot.com

Cerpen Kisah Sendal Jepit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Dodi

Oleh:
Di siang yang panas, di mana matahari bersinar dengan teriknya. Di saat Dodi akan pulang dari sekolah menuju rumahnya yang tak jauh dari sekolahnya itu. Sambil berjalan Dodi mengeluh

Buku ini Aku Pinjam

Oleh:
Beberapa hari lagi sahabatku Iren akan berulang tahun, selang waktu seminggu kami beserta Azam sang pujaan hatinya sibuk mencari kado. Malam 3 hari sebelum Iren ulang tahun, Azam meminta

Mawar Putih

Oleh:
Aku duduk di taman sekolah. Aku sedang memandang sebuah bunga yang sedari tadi menarik perhatianku. Bunga mawar, berwarna putih. Bunga kesukaan aku ini mengingatkan aku pada seseorang. Tiba-tiba seseorang

Klik Si Pemurah Hati

Oleh:
Kring… jam beker di kamar Klik berbunyi Dan Sinar mentari pun sangat menyengat “Sepertinya Sudah pagi” Kata Klik Klik pun bergegas pergi menuju toilet dia pun mandi dengan bersih

Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kisah Sendal Jepit”

  1. me, says:

    Bagus bgt! Hanya berharap semoga karakter Ginna tidak sombong, karna sudah membantu temannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *