Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 August 2014

Aku menyambangi kembali makam itu, berharap dapat menggali kembali setiap kenangan yang terkubur di sana, dan menyimpan semuanya dalam ruang kosong di hatiku. Sekali lagi kutatap nisan itu, yang menyimpan ribuan tetes air mata yang pernah tercucur di atasnya. Ingatan itu kembali menyergapku, menorehkan segaris luka bernama rindu, dan menimbulkan jutaan harapan yang ternyata semu. Aku jatuh sekali lagi, dan setelah ribuan kali aku bangkit, aku tetap terjatuh di tempat yang sama. Mungkin ini terakhir kalinya aku begini, terjatuh dan menangis di sini.

“Ultraman Gaia datang menyelamatkan bumi!!! Hyaaatt!!!” Bocah laki-laki itu berlari-lari mengelilingi halaman rumahnya yang luas. Di wajahnya terpasang topeng Ultraman, karakter yang sedang diperakannya dalam permainan yang sedang berlangsung. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat sapu yang disebutnya ‘pedang’, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah pistol air berwarna oranye-hijau cerah.

“Kamu curang! Ultraman kan nggak pernah bawa senjata!” Seorang bocah laki-laki gendut berteriak histeris sambil berlari kencang menghindari tebasan ‘pedang’ dan tembakan air dari ‘Ultraman Gaia’. Kostum Spiderman tanpa topeng yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, sementara wajahnya merah padam akibat kelelahan dan menahan tangis.

“Dasar cengeng! Lagian kamu kan Spiderman, kata kamu Spiderman itu sampai kapanpun tetep yang paling jago.” Balas bocah berkostum Ultraman setengah mengejek, lalu bersiap untuk kembali melancarkan serangan.

“Tapi kan kamu curaanggg…” Bocah berkostum Spiderman berhenti berlari. Napasnya terengah-engah. Ia lalu terduduk di tanah dan mulai terisak. Melihat temannya terduduk di tanah, ‘Ultraman Gaia’ menghampirinya.

“Loh, kok kamu malah nangis? Udah, udah jangan nangis lagi. Sori deh, lain kali kalo aku jadi Ultraman aku nggak bakal bawa senjata lagi.”

“Beneran?” Bocah berkostum Spiderman bertanya dengan polosnya, lalu dibalas oleh anggukan temannya.

“Iya, bener.”

“Janji?” Bocah berkostum Spiderman mengulurkan jari kelingkingnya kepada temannya. Temannya pun melakukan hal yang sama.

“Janji!” sesaat kedua bocah itu saling mengaitkan kelingking tanda berjanji.

“Oke deh, kalo gitu kita main lagi aja.” Bocah gendut itu bangkit dan mulai balas ‘menyerang’ sang ‘Ultraman Gaia’ dengan jurus-jurus andalannya. Mereka pun bermain dengan riang sepanjang sore itu, begitu asyik sampai mereka tidak menyadari kehadiran seorang gadis cilik yang setia memperhatikan mereka sejak tadi.

“Aku Gaia. Ini temenku, Peter. Kita tetangga, loh!” Gaia memperkenalkan dirinya dan temannya kepada gadis cilik di hadapan mereka dengan bersemangat.

“Gaia?” Tanya gadis cilik itu bingung.

“Iya, namaku Gaia. Keren, kan?” Jawab Gaia sambil berpura-pura menaikkan kerah bajunya, walaupun saat itu ia hanya mengenakan kaus oblong berwarna kuning.

“Kok nama kamu kayak nama Ultraman?” Tanya gadis itu lagi.

“Hehehe… Bagus, dong. Berarti aku kan kayak superhero. Nanti kalo kamu dalem kesulitan, aku pasti bakal bantuin kamu.” Ujar Gaia sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Eh jangan percaya sama dia, lagi! Kemaren aja aku digebuk pake tongkat kayu waktu main pahlawan-pahlawanan sama dia. Gimana caranya dia nolongin kamu coba, kalo waktu main aja galak begitu.” Sahut Peter setengah mengadu. Gadis itu tersenyum mendengar celotehan bocah gendut itu, seakan benar-benar tahu apa yang terjadi.

“Hehehe…” Gaia tertawa malu. “Eh, Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Aku Jani. Anjani.”

“Jani Anjani?” tanya Gaia dengan senyum usil.

“Bukan, maksudnya namaku Anjani, tapi panggilannya Jani.” Wajah Jani memerah.

“Ohh…” Peter mengangguk-anggukan kepalanya.

“Tapi aku lebih suka kalo nama kamu Jani Anjani. Aku bakal panggil kamu Jani Anjani setiap kali ketemu sama kamu.” Ujar Gaia sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi susunya yang berantakan.

“Kita lulus!!” Teriak Gaia bersemangat sambil berjingkrak-jingrak. Ia, Jani, dan Peter sedang berjalan berdampingan di halaman sekolah mereka. Baju seragam SMP yang mereka kenakan terlihat agak berantakan.

“Lo berlebihan banget, Gai.” Ujar Peter kurang bersemangat.

“Iya, Gai.” Jani menyetujui.

“Loh, emang kalian nggak seneng, apa? Sebentar lagi kita SMA!” ujar Gaia dengan lebih bersemangat.

“Kamu kelebihan energi.” Balas jani.

“Dan agak autis.” Tambah Peter kalem.

Gaia pura-pura kesal. “Oke, oke. Gue bakal lebih tenang sedikit. Emang kenapa sih, kok kalian kayaknya nggak bersemangat? Bukannya nilai kalian lebih tinggi dari gue?”

Jani menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kita berdua seneng, kok. Tapi reaksi orang kan beda-beda.” Jawab Jani mewakili dirinya dan Peter.

“Dan karena reaksi gue dan Jani serupa, berarti reaksi lo yang berlebihan.” Tambah Peter. Mendengar ejekan Peter, Gaia memasang tampang cemberut.

“Yah, terserah apa kata kalian, lah. Yang jelas gue seneng banget.” Gaia menjatuhkan pantatnya di atas rumput halaman sekolah mereka, lalu diikuti oleh Jani dan Peter. Sesaat suasana menjadi hening. Tak satu pun dari mereka yang berbicara.

“Guys, gue mau ngomong.” Suara serak Peter memecah keheningan.

“Kenapa, Pete?” tanya Gaia enteng.

“Gue… bakal pindah.” Jawabnya lirih.

“Pindah sekolah?” tanya Gaia lagi. “Ya iyalah, Pete! Masa kita mau SMP lagi.” Canda Gaia garing.

“GUE SERIUS, GAI!!” Bentak Peter tiba-tiba. Gaia terlonjak kaget. Jani apalagi. Peter tidak pernah seperti ini.

Melihat reaksi kedua temannya, emosi Peter mereda. “Sori.”

“Ka-kamu… beneran… mau pindah?” tanya Jani terbata. Matanya membulat, tidak percaya akan apa yang barusan didengarnya.
Peter mengangguk. Wajahnya lesu. “Kanada.” Kata Peter. Lirih.

Jani menahan napas. Kanada… sepertinya jauh sekali…

“Peter…” kata Jani lagi. “…kita masih bisa temenan, kan? Maksudku… kita masih bisa telpon-telponan, email, atau apapun, kan?”

Peter menoleh lalu mengangkat bahu. Wajahnya keruh, rahangnya mengeras. Memikirkan perpisahan dengan sahabat-sahabatnya adalah hal yang dihindarinya beberapa bulan ini.

Jani menatap Peter, lalu mengerti apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Tenggorokannya terasa kering seketika. Susah payah ia menelan ludah, berharap kabar buruk ini pun akan ikut tertelan dan tidak akan terdengar lagi. “Kapan, Pete?” tanya Jani kemudian.

Peter menghela napas. “Setelah kita bener-bener lulus. Gue lanjutin SMA di sana.”

Peter menatap Jani dalam. Mata Jani terlihat berkaca-kaca, membuat Peter menyadari kebodohannya. “Sori banget gue baru ngasih tau kalian sekarang. Gue… gue cuma belum siap…”

“Hahaha…” Gaia tiba-tiba tertawa sinis. Kedua temannya menoleh ke arahnya.

“Belum siap?” lanjut Gaia datar. “BRENGSEK!!” bentak Gaia. Ia kemudian berdiri lalu meninggalkan Peter dan Jani berdua. Sesaat Peter dan Jani saling bertatapan, sebelum kemudian ikut bangkit berdiri dan menyusul Gaia.

“Happy Birthday, dear Jani Anjani.” Gaia memeluk Jani dengan penuh sayang. Jani membenamkan wajahnya dalam pelukan Gaia, menyembunyikan tangis harunya agar tak terlihat orang banyak di bandara itu.

“Kamu… parah banget sih…” kata Jani di sela isakan tangisnya. Gaia tersenyum. Kejutannya berhasil.

“Hehehe… kalo nggak gitu kan nggak seru, Sayang.”

“Aku kangen kamu, tau.” Jani mempererat pelukannya. Gaia juga. Kini mereka berpelukan dengan sangat erat.

“I miss you too, Darling…” Gaia mengecup kepala Jani ringan. “Dan… Happy fourth anniversary to us…” katanya sambil mengacak-acak rambut pacarnya itu.

“Iiiihhh, Gaia! Kamu tuh ya, dari dulu nggak pernah berubah isengnya.” Protes Jani sambil mencubit pelan pinggang Gaia. Gaia malah tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang kini tertata rapi dan putih bersih.

“Ah masa, sih?” Tanya Gaia. “Tapi kamu suka kan, kalo aku begini…” Gaia melepaskan pelukannya, tangan kanannya merogoh kantung kanan celanannya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari situ, lalu berlutut di depan Jani.

“Would you marry me, Anjani Xaverina?”

Jani terkesima. Air mata haru sekali lagi membanjiri pipinya. Dengan kedua tangannya tertangkup di depan mulut, Jani mengangguk. Ia merasa melayang untuk sesaat. Kini ia telah menemukan pasangan hidupnya, seorang pemuda yang amat dicintainya. Gaia.

Gaia dan Jani lalu berpelukan, menikmati kebahagiaan yang baru mereka dapatkan. Membiarkan puluhan, bahkan ratusan pasang mata menatap mereka penuh haru.

Namun di tengah keramaian itu, Gaia dan Jani tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi tak lepas mengamati mereka dari kejauhan.

22 Oktober 2013

“Jani, Mama cuma nggak mau kamu sedih lagi.” Kata ibuku di telepon. Bahkan suaranya yang terdengar khawatir tidak mengubah apapun. Aku tetap akan ke sana.

“Jani tahu, Ma. Jani nggak lama-lama, kok.” Jawabku lirih.

“Tapi, Jani…”

“Iya Ma, Jani ngerti. Tapi Jani tetep harus pergi ke situ.” Potongku dengan cepat. Niatku sudah bulat. Walaupun akan menyedihkan, tapi aku tidak akan membatalkannya.

Ibuku menghela napas di seberang sana. “Ya sudahlah, kalau kamu memaksa.”

Aku tersenyum kecil. Akhirnya ibuku menyerah dan membiarkanku pergi. “Jani pergi dulu ya, Ma…”

“Iya, hati-hati ya, Sayang…”

“Dah Mama…” kututup sambungan telepon, kemudian mempersiapkan hati untuk menghadapi apa yang akan aku hadapi beberapa jam lagi.

Aku menyambangi kembali makam itu, sebuah makam yang memendam begitu banyak kenangan tentang hatiku. Kutatap nisannya selama beberapa saat, lalu kuletakkan sebuket bunga segar yang sengaja kubawa di atasnya.
Tak terasa air mataku menetes.

Kuusap batu nisan itu dengan lembut. Kurasakan setiap huruf yang terukir indah, namun sayangnya, tak seindah dirinya. Ya, dirinya, yang namanya terukir di sana. Sosok yang begitu sempurna, yang telah kupuja bertahun-tahun lamanya.

“Sayang, gimana kalo pemberkatannya tanggal 22 Oktober?” usulnya dengan bersemangat.

Suara itu masih terdengar dengan jelas. Suaranya yang indah, yang begitu begitu hidup dan nyata. Suara yang kurindukan.

“Kamu yakin, Say?” tanyaku agak ragu. Sebagai jawaban, ia mengangguk yakin.

“Emang kenapa, Say? Kamu nggak suka?” tanyanya.

“Ya… nggak apa-apa sih. Cuma…” aku tidak melanjutkan kalimatku. Aku menghela napas pelan. Ada yang salah, pikirku. Tapi apa?

“Kenapa sih, Say?” tanyanya lembut, namun berhasil memecah lamunankuu.

“Nggak, nggak apa-apa. Bagus kok, tanggalnya.” Jawabku akhirnya sambil memaksakan senyum. Dalam hati aku masih merasakan perasaan tidak enak itu, yang sedari tadi kucoba untuk hilangkan.

“Jani, kamu nggak ngerti. Aku sayang sama kamu!” katanya sambil menggenggam tanganku.

Aku menggeleng sambil memejamkan mata. Ini tidak seharusnya terjadi. Tidak di saat seperti ini. “Kamu yang nggak ngerti. Aku tetep nggak bisa. Aku bakal nikah sebentar lagi!” Jawabku.

“Nikah? Sama si Brengsek itu?” Tanyanya kasar, seakan ia lupa siapa yang barusan ia panggil ‘Brengsek’. “Lupain dia, Jani! Kamu layak untuk dapetin cowok yang lebih baik dari dia.”

“Yang lebih baik?” tanyaku sinis. “Siapa? Kamu?”

Pertanyaanku itu membuatnya terdiam sesaat. Namun seperti yang kubilang, hanya sesaat. Karena setelah itu ia kembali bersuara.

“Iya, Jani. Kamu bakal lebih bahagia sama aku. Aku jamin.” Kurasakan ia mempererat genggaman tangannya.

Ini gila.

“Kamu sakit! Nggak seharusnya kamu ngomong begitu!” aku kehilangan kesabaran. Kuhentakkan tangannya dengan kasar, lalu pergi meninggalkannya sendiri. Aku tidak pernah tahu akibat yang akan ditimbulkan oleh perbuatanku itu.

“Jani…!! Gaia, Janii…” isak tangis terdengar dari seberang sana. Ternyata Ibu Gaia yang meneleponku.

Hari itu tepat satu hari sebelum pemberkatan pernikahan kami. Aku sedang mematut diri di depan cermin dan mengagumi keanggunan gaun pengantin yang akan aku kenakan besok, saat aku menerima panggilan telepon itu.

“Ke-kenapa, Ma?” tanyaku panik. Rasa takut menyergapku, seakan menegaskan rasa khawatir yang selalu kurasakan belakangan ini.

“Gaia…” kata calon ibu mertuaku. Aku menahan napas, tahu bahwa ini adalah kabar buruk. “..ditabrak orang…” DEG! Jantungku berhenti sesaat. “…kondisinya kritis…” lalu terdengar suara bantingan yang keras. Calon ibu mertuaku jatuh tak sadarkan diri.

Napasku sesak.

Ini tidak mungkin terjadi…

Kakiku lemas seketika. Aku jatuh terduduk di lantai, seperti kehilangan seluruh kekuatanku saat itu juga. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu persis siapa pelakunya. Hanya saja aku tidak pernah berpikir kalau ia benar-benar serius akan melakukannya.

Tiba-tiba terdengar dering dari telepon genggamku. Aku meraihnya dengan tangan bergetar, lalu tanpa melihat siapa yang menelepon, kujawab telepon itu.

“Jani, kamu tahu apa yang udah aku lakuin demi kamu? Aku bener-bener ngelakuin itu, Jani!” kata lelaki di seberang. Lelaki bangsat itu. Dialah yang telah menghancurkan pernikahanku. Tidak, bukan hanya pernikahanku, tetapi hidupku. Seluruh hidupku.

Aku bergidik. Air mataku menetes. Rasanya sakit sekali. Aku tahu rasanya dikhianati teman, dan aku tahu rasanya kehilangan orang yang sangat kusayangi. Tapi tidak ada yang sesakit ini. Tidak ada yang semenghancurkan ini.

“Peter…” kataku pelan, tak sanggup melanjutkan. Nama itu kini terdengar begitu jahat, dan juga begitu memuakkan. Aku ingin membentaknya, menusuknya dengan kata-kata, dan membuatnya merasa tidak layak untuk hidup lagi karena kata-kataku. Aku membencinya.

Aku mengecup batu nisan itu lembut, sebagai suatu tanda perpisahan terakhir. Kubelai foto yang terpasang di makam itu, foto seorang pemuda yang sedang tersenyum lepas, foto seorang pemuda yang tak pernah tahu kalau umurnya akan sesingkat ini.

Lalu aku bangkit berdiri, bersiap untuk pergi meninggalkan makam itu. Kutatap sekali lagi batu nisan itu, sebelum aku benar-benar membalikkan badan dan berjalan pergi. Kini aku akan pergi jauh, meninggalkan semua kenangan tentang kita berdua, dan melupakan semua imaji yang kusebut ‘kita’.

Rest In Peace
Philipus Gaia Adrianto
Lahir: Jakarta, 18 Januari 1988
Meninggal: Jakarta, 22 Oktober 2011

Cerpen Karangan: Nadia
Blog: fufunna.blogspot.com
Facebook: Nadia Fu

Cerpen Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Release My Soul

Oleh:
Mungkin dari banyaknya sebuah kisah persahabatan. Tak ada yang dapat mengorbankan jiwa hanya untuk seorang teman dan mampu menanggung resikonya. Persahabatan kami dimulai sejak kami masih duduk di bangku

Sahabat Tidak Memandang Bulu

Oleh:
Di suatu kota tinggal seorang anak perempuan bernama Selma. Dia anak yang sangat rajin dan patuh kepada orangtua. Ia juga mempunya semangat belajar yang tinggi. Kedua orangtua Selma pun

Crazy Boys

Oleh:
“Oi Hayato apa kau tidak bosan begini terus” “huh? Apa maksudmu Kiota? ”maksudku, apa kau tidak ada bosannya berkelahi terus?” ”huh, mereka yang memulai duluan” ”tapi kau tidak harus

One of Moment

Oleh:
Pagi ini sih cerah, tapi kenapa aku harus ketemu sama cowok itu lagi. Cowok sok cool yang tiap paginya, nongkrong di depan gerbang sekolah dengan enam temannya yang nyebelin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kita”

  1. cerpen terbaikk ini keren banget antara persahabatan sama cinta gabung disini jadi satu,, good luck ya kak nadia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *