Kita Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Liburan akhir semester pertama, 20 Desember 2013
Aku tengah duduk di salah satu ayunan sambil memakan sebatang es krim di taman bersama sahabatku. Ah iya, kenalkan namaku Abigail Laurentz dan sahabatku yang duduk di sampingku ini bernama Vino Febriano dia adalah sahabatku sejak kecil. Saat ini kami sedang liburan akhir semester ganjil. Aku senang karena liburan sekolah yang aku rindukan kini hadir namun aku juga merasa sedih karena harus berpisah sejenak dengan sahabat terbaikku ini. Vino dan aku bersahabat sejak kami masih kecil jadi kami sangat akrab sampai sekarang. Dia adalah satu-satunya sahabat terbaik yang aku punya walaupun terkadang aku kesal dengannya. Jika sifat jahil Vino muncul maka dia akan mejahiliku membuatku kesal bahkan sampai aku menangis terisak, tapi setelah itu dia meninta maaf padaku dan membelikan es krim kesukaanku.

“vino kamu gak ada niatan gitu buat nganter aku ke bandara besok siang?” ucapku sambil menatap vino yang asyik tengah memakan es krimnya.
Lalu vino menatapku dan mengangkat kedua bahunya. “eungh … gatau.”ucap vino sambil menyengir.
Lalu aku langsung cemberut mendengar jawaban dari Vino dan mengayunkan ayunan yang kududuki secara perlahan-lahan.
“ail jangan marah dong, aku Cuma bercanda kok, iya aku janji besok aku akan mengantarmu ke bandara.” ucap Vino tulus.
“makasih vino.” ucapku sambil tersenyum.
“vino dorongin ayunan aku dong, tapi pelan-pelan aja ” ucapku lalu vino mendorong ayunan yang kududuki pertama vino mendorong ayunanku secara perlahan-lahan namun lama-lama ayunan itu semakin kencang.
“VINOOOO!! Pelanin ayunannya. SEKARANG!” ucapku ketakutan karena ayunannya yang kencang. Dan Vino tertawa melihatku ketakutan. Lihat bukan Vino memang jahil. Vino menyebalkan.

Liburan akhir semester pertama, 21 Desember 2013
Vino mengantarkanku sampai di bandara, karena semua keluargaku sudah berangkat ke Kanada duluan jadi aku menyusul mereka sekaang ke Kanada.
“hati-hati okeh, sudah sana masuk, jika kau terus disini bersamaku kau akan tertinggal pesawat hahaha…” ucap vino sambil tertawa.
“jika aku sudah sampai di Kanada dengan selamat aku akan mengabarimu, bye.” ucapku lalu melangkah meninggalkan vino. Vino melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lebar, senyum yang akan kurindukan pada saat aku di Kanada nanti, dan senyum yang akan selalu kuingat selama hidupku.

Liburan akhir semester pertama, 22 Desember 2013
Seperti yang sudah ku katakana di bandara saat Vino mengantarku kemarin, aku akan mengabarinya saat aku sudah sampai di Kanada dengan selamat. Aku sudah di Kanada lebih tepatnya aku baru sampai setelah menempuh perjalanan panjang selama 20 jam berada di pesawat.
Aku mengirimi Vino pesan singkat

To: Vino
Aku sudah tiba di Kanada dengan selamat. Lebih tepatnya aku baru memasuki taksi menuju rumah ommaku.
*Cling*
Handphone Vino berdenting ketika mendapati pesan singkat masuk. Ternyata dari Ail.
From: Ail
Aku sudah tiba di Kanada dengan selamat. Lebih tepatnya aku baru memasuki taksi menuju rumah ommaku.
To: Ail
Syukurlah kau telah sampai dengan selamat. Istirahatlah ketika kamu sudah sampai di rumah omma mu Ail.
*cling*
Abigail mendapati handphonenya berdenting ketika ada pesan masuk. Ternyata dari Vino.
From: Vino
Syukurlah kau telah sampai dengan selamat. Itirahatlah ketika kamu sudah sampai di rumah omma mu Ail.
To: Vino
Baiklah aku akan istirahat setelah sampai di rumah omma nanti.

*Cling*
Handphone Vino berdenting ketika mendapati pesan singkat masuk. Ternyata dari Ail.
From : Ail
Baiklah aku akan istirahat setelah sampai dirumah omma nanti.
To: Ail
Bersenang-senanglah di Kanada walaupun tanpa aku:D. Aku juga akan bersenang-senang di sini tanpamu, Ail :D.
*Cling*
Handphone Abigail berdenting ketika mendapati pesan singkat masuk. Ternyata dari Vino.
From: Vino
Bersenang-senanglah di Kanada walaupun tanpa aku:D. Aku juga akan bersenang-senang disini tanpamu, Ail :D.
To: Vino
Baiklah aku akan bersenang-senang di Kanada.
*Cling*
Handphone Vino berdenting ketika mendapati pesan singkat masuk. Ternyata dari Abigail.
From: Abigail
Baiklah aku akan bersenang-senang di Kanada.
Setelah membaca pesan singkat dari Abigail. Vino mematikan handphonenya dan dia beranjak untuk melakukan sholat dzuhur.

Liburan akhir semester pertama, 25 Desember 2013
Hari ini aku merayakan hari raya yang kutunggu-tunggu. yaitu natal.
Kini di rumah omma ku ramai akan saudara-saudaraku, kami bersenang-senang saat perayaan natal seperti ini.

*cling*
Tiba-tiba hamdphoneku berdenting menandakan pesan masuk, lalu kubaca pesan itu. ternyata dari Vino.
From: Vino
Selamat merayakan hari kebahagiaan hari ini. maafkan aku karena aku tidak boleh ikut merayakannya. tapi sekali lagi selamat.
Abigail tersenyum senang membaca pesan singkat dari Vinno.
To: Viino
Terima kasih atas ucapanmu, tidak apa-apa aku mengerti agama kita berbeda vin. tapi itlah hebatnya kita, kita saling menghargai.
*Cling*
Handphone vino berdenting, vino tau pasti pesan masuk tersebut berasal dari Abigail
From: Ail
Terima kasih atas ucapanmu, tidak apa-apa aku mengerti agama kita berbeda vin. tapi itulah hebatnya kita, kita saling menghargai.
Vino hanya membaca pesan singkat itu. entahlah apa yang akan ia lakukan pada liburan kali ini.
Bahkan Vino tak berniat untuk merayakan tahun baru nanti. Ia terlalu malas pada saaat tidak ada Abigail di sisinya.
Entahlah perasaan apa yang Vino rasakan saat ini. Bukankah mereka berdua hanya bersahabat baik, tapi kenapa saat berada di dekat Abigail jantungnya berdetak tak karuan. bahkan jika Vino jatuh cinta kepada Abigail, cinta itu tak akan sempurna. karena perbedaan agama itulah yang membuat cinta mereka tak sempurna.

12 mei 2014
Hari-haripun berlalu dengan cepat mereka sudah melaksanakan UN dan mereka dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan. Mereka berdua tersenyum bahagia.
Abigail dan Vino merayakan hari kelulusan dengan memakan es krim di taman sambil duduk di ayunan.

“vin kamu setelah ini akan melanjutkan kemana lagi?” Tanya Abigail.
Vino yang ditanya seperti itu langsung menolehkan kepalanya kea rah Abigail.
“aku ingin mendaftar kuliah dan mencari bea siswa.” ucap Vino.
“waaaah bagus itu vin.” ucap Abigail dengan semangatnya.
“vin mungkin ini adalah terakhir kali kita akan makan es krim di sini dan menduduki ayunan ini.” ucap Abigail.
“apa maksud kamu, ail?” Tanya Vino dengan nada tak mengerti.
“aku akan berkuliah di Kanada, bahkan aku akan menetap di sana dan menjadi warga negara sana vin.” jelas Abigail.
Entahlah ada sedikit perasaan kehilangan saat Abigail mengucapkan kalimat itu.
“aku tau pasti kamu lagi bohongkan? kamu pasti sengaja bilang gitu biar aku terkejut kan? kamu pasti lagi bercanda kan samaku, ail? udah deh bercandaan kamu itu udah basi banget ail, istilahnya udah kolot lah ya.” ucap Vino sambil tertawa garing sangat garing.
“vino aku serius, aku sama sekali gak bercanda, aku berangkat dua hari lagi vin.” ucap Abigail.
“kamu bakal ninggalin aku sendirian di sini?” Tanya vino sambil menatap Abigail.
“iya aku bakal ninggalin kamu, dan aku sendiri gak tau kapan aku bakalan balik lagi ke sini buat nemuin kamu.” ucap Abigail dengan nada serak dan setetes air mata meluncur dimatanya.
Vino tertegun mendengar ucapan Abigail, vino tidak tau apa yang harus ia ucapkan pada saat itu.

“apa ada yang pengen kamu omongin di sini?” ucap Abigail. lalu jeda sejenak. “sebelum aku pergi.” ucap Abigail lagi.
“iya ada, ail, entahlah mungkin perasaan aku ke kamu ini adalah salah tapi aku tetap ingin mengatakannya.” ucap Vino. ada jeda sejenak pada ucapannya.
“Ail, aku jatuh cinta padamu, ail.” ucap Vino.
Lalu ail menatap ke arahku.
“aku sadar akan perasaanku, perasaanku ini salah bahkan sangat salah. Tapi aku tetap akan mengatakannya, karena aku tau kita memiliki perbedaan, agama kita berbeda, ail, jika aku memendam perasaanku terus, aku takut hati ini akan sakit.” ucap Vino.
“vino” air mata Abigail memeleh begitu saja mendengar ucapan Vino.
“kita tidak bisa melanjutkan kehubungan yang lebih serius. Sebenarnya aku juga mencintaimu lebih dari sahabat, tapi aku sadar akan agama kita vin, Tuhan melarang kita memiliki hubungan yang berbeda agama” ucap Abigail. lalu diam sejenak. “vino aku juga mencintaimu sungguh aku tidak berbohong hiks hiks hiks …” ucap Abigail sambil menangis.
“sebenarnya aku juga tak ingin meninggalkanmu, aku juga tak ingin pergi jauh dari mu Vin, sungguh aku tak berbohong, apakah aku sudah membalas ucapan cintamu tadi? walaupun kita tak boleh memiliki hubungan khusus.” ucap Abigail sambil mengusap air matanya.
“ail, aku sungguh minta maaf padamu, aku tak ingin melihatmu menangis ail, maafkan aku yang bodoh ini, aku yang bodoh karena telah mengucapkan kata-kata seperti itu. Berjanjilah jika kau sudah di Kanada nanti jangan menangis seperti ini. Kau harus tetap tersenyum walau tanpaku. Jika kau sudah selesai dengan urusan perkuliahanmu di Kanada jangan lupa untuk sempatkan waktumu bertemu denganku. Jangan lupakan sahabatmu yang telah jatuh cinta kepadamu ini. Sekarang ayok kita pulang.” ucap Vino. Lalu menggandeng tangan Abigail.

Setelah keberangkatan Abigail pada tanggal pada tanggal 14 mei 2014 hari-hari pun dilalui Vino dengan tetap tersenyum dan semngat menyelesaikan kuliahnya sampai ia lulus kuiah dan mendapatkan IPK tertinggi di kampusnya dan ia mulai menata usahanya membuka bisnis kafe di kawasan Bandung.

Vino tetaplah vino yang masih mengingat Abigail dan memikirkan Abigail. Ia sudah tak bertemu Abigail selama 7 tahun lamanya. Entahlah, yang jelas ia merindukan Abigail, ia merinduka tawa Abigail, ia merindukan duduk di ayunan berdua bersama Abigail. Terkadang Vino pergi ke taman sendiri dan memakan es krim yang biasa dia dan dulu Abigail makan.

‘ting’ lonceng di kafe berbunyi pertanda ada pelanggan yang hadir.
Saat Vino ingin kembali ke lantai atas. tempat dimana kantor vino yang berda di kafe. Vino mendengar suara yang sangat ia kenal.
“cappuccino satu dan Americano satu lalu dengan cake red velvetnya 2.” ucap seseorang yang memesan pesanan tersebut.
“baiklah silahkan ditunggu.” ucap salah satu pelayan di kafe vino.
Vino terdiam sebentar, ia lalu menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal.
Betapa berkejutnya Vino saat ia mengetahui siapa yang datang ke kafenya.
“Ail” ucap Vino dengan nada tak percaya.
Lalu Abigail menoleh kan kepalanya ke suara tersebut yang memanggilnya dengan kata “Ail”.
Abigail tak percaya menatap Vino, ia bahkan tak menyangka akan bertemu Vino di tempat ini.
Lalu vino berjalan menghampiri Abigail. Ia tampak kikuk saat Abigail menatapnya. Sudah 7 tahun tak bertemu dan akhirnya mereka di pertemukan kembali .
“Ail” “vino” ucap mereka berbarengan.
Tak lama kemudian mereka tertawa bersamaan.
“heeem apa kabar ail?” ucap Vino.
“aku sangat baik vin, aku mendengarkan ucapanmu, aku sama sekali tidak menagis saat aku berada di Kanada selama bertahun-tahun.” ucap Abigail.
“aku kira kamu gak akan kembali ke Bandung. Jujur aku merindukan sahabat ku ini.” ucap Vino.
“aku juga merindukanmu. Oh iya, aku mau kenalin kamu sama pacar aku vin.” ucap Abigail.
Senyum di wajah vino luntur sesaat pada saat Abigail ingin memperkenalkan pacarnya pada Vino.
“oh iya di mana pacarmu ail?” Tanya Vino dan menerbitkan senyumnya kembali.
“itu dia yang duduk di sana, dia melambaikan tangannya ke arah ku vin.” ucap Abigail. Lalu Abigail juga melabaikan tangan kearah sang kekasihnya.

Abigail dan Vino pun melangkah ke meja dimana tempat duduk pacarnya Abigail
“kenalin gue vino sahabat ail, maksud gue Abigail, gue sahabatan sama Abigail udah dari kecil, gua pemilik kafe ini.” kata vino sambil menjabat tangan pacar Abigail.
“kenalin gua Frans pacarnya Abigail, lebih tepatnya calon tunangannya Abigail.” kata Frans.
Vino sebisa mungkin untuk tersenyum menyembunyikan rasa cemburunya.
“oh iya vin, aku ngundang kamu secara pribadi ngundang kamu dating ke acara tunangan aku sama Frans minggu depan.” kata Abigail. terlihat sekali bahwa Abigail sangat bahagia bersama Frans.
“insyaallah aku usahain bakal dateng ke acara tunangan kamu, ail” kata Vino.
“oh iya Frans gue boleh gak ngajak ail, maksud gua Abigail ke taman, hanya sebentar” kata Vino meminta izin kepada Frans.
“kalau gua sih boleh aja.” kata Frans
“makasih bro.” kata Vino yang langsung mengajak Abigail ketaman yang sering mereka kunjungi dulu.

Di taman mereka duduk di ayunan seperti biasa.
“gak ada yang berubah ya dari taman ini, ayunan yang sama, tempat duduk yang sama, bahkan masih ada tukang es krimnya.” ucap Abigail sambil sedikit terkekeh.
“iya gak ada yang berubah semenjak kamu pergi, ail.” ucap Vino pandangannya lurus kedepan.
“selamat yah.” sambung vino.
“untuk apa?” Tanya Abigail.
“untuk semuanya. Apa harus aku menyebutkan satu per satu?” ucap Vino yang kali ini melirik ke arah Abigail.
“hahahaha gak perlu kali Vin.” ucap Abigail.
“dan terima kasih, ail.” ucap Vino.
“tapi kali ini aku minta penjelasan deh atas ucapan terima kasih kamu itu vin.” ucap Abigail sambil menatap kea rah Vinno.
“Ail terima kasih telah menjadi sahabatku sejak kecil, terima kasih untuk tidak menjaga jarak padaku walaupun aku mengatakan perasaanku yang sejujurnya, terima kasih karena tersenyum dan bahagia tanpa aku, terima kasih kau tidak melupakanku, dan terima kasih telah kembali walaupun kepulangan mu bukan untuk bertemu denganku dan pertemuan kita ini karena hal yang tidak disengaja.” ucap Vino panjang lebar sambil menatap Abigail.
“kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku, karena kita adalah sahabat Vin, aku tak mungkin melupakan sahabatku ini.” ucap Abigail sambil menatap Vino.
Vino lalu berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Abigail.
Lalu Abigail menjabat tangan Vino.
“selamat yah kamu menemukan pria yang membuatmu tersenyum selain sahabatmu ini.” ucap Vino lalu Abigail mengangguk dan tesenyum manis.

Hari ini adalah hari pertunangan Abigail dan Frans.
Vino datang dengan mengenakan kemeja putih dan tuxedo berwarna hitam

(Vino POV)
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah Abigail.
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagi Abigail.
“lima menit lagi acara pertunangannya akan dimulai” ucap mc tersebut.

Lalu tak berapa lama Abigail dan Frans muncul dan berjalan dengan Frans menggandeng tangan Abigail. Suara riuh tepuk tangan pun terdengar.
Aku melihat Abigail memasukkan cincin ke jari manis tangan kanan Frans dan Frans pun sebaliknya kepada Abigail.
Suara riuh tepuk tangan pun terdengar kembali.
(Vino POV END)

Tuhan yang menciptakan perasaan cinta itu muncul
Jadi mencintai seorang sahabat tidaklah salah
Bahkan ketika aku mencintaimu
Kita bersahabat
Namun yang membedakan adalah agama kita
Aku tidak bisa memaksakan perasaan mu kepadaku
Bahkan jika aku terus memaksakan perasaanku
Mungkin hatiku ini akan sakit
Dan juga aku tak mau melanggar perintah agamaku
Tapi wajarlah jika aku mencintaimu
Tapi aku sekarang bahagia
Kau dapat menemukan pria yang sangat baik padamu
Benar apa kata orang yah
Tuhan akan selalu menemukan orang yang tepat di saat waktu yang tepat
Sekarang adalah waktunya aku juga harus ikut bahagia atas kamu
Kamu yang dulu pernah aku cintai
Dan sekarang kamu sudah bersama orang lain
Aku tetap bahagia
Dan mendoakan atas kamu bersamanya
Agar kamu dan dia selalu bahagia
Bairlah aku disini mengenang akan kebahagian yang pernah kita buat dulu
Tidak ada salahnya bukan?
Selamat berbahagia sahabatku

ENDING

Cerpen Karangan: Nurul Auliya
Facebook: Nurul Auliya

Cerpen Kita Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Bersamanya

Oleh:
Ketika sore tiba, aku selalu bergegas mengambil sepeda dan mengayuhnya dengan cepat. Lelah akan terasa ketika aku berhenti tepat di depan rumahnya. Aku tidak perlu mengetuk pintu atau memanggilnya

Karena Aku Tak Tahu

Oleh:
Malam ini malam Minggu, aku janjian makan malam dengan Luna di sebuah restoran di pinggir pantai yang lumayan jauh dari rumahku. Kami janjian pukul 7 malam. Aku sedang bersiap-siap.

Kesialan Yang Berakhir Manis

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 sore. Langit di luar sana telah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Aku berhenti sejenak untuk mengelap tetesan keringat yang telah jatuh satu per satu

Ruth Nomor 3 Apa?

Oleh:
Gadis kurus berkulit putih itu namanya ruth veronica kami biasa memanggilnya dengan sebutan ruth. Ruth artinya menantu yang baik dan perempuan yang setia, mungkin harapan orangtuanya memberi nama ruth

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kita Berbeda”

  1. dinbel says:

    Hmmmmmssss, jadi sedih deh baca nya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *