Konser Brad

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Bradley, Bradley, Bradley. Nama itu yang selalu menggema di penjuru lapangan basket yang ramai. Lapangan itu dipenuhi oleh seluruh penghuni SMA Edelweis. Siang ini, pertandingan antara kelas XII-5 melawan XII-3. Aku menaruh harapanku pada XII-5, karena mereka adalah teman sekelasku. Permainan mereka juga tak begitu buruk. Tapi kelasku sering diremehkan. Harus kuakui aku agak sebal dengan anak-anak XII-3 yang suka menindas teman-teman cowokku.

Hari ini, battle yang sebelumnya disepakati telah berlangsung selama 13 menit lebih 45 detik. Sebentar lagi akan berakhir dan kedudukan unggul anak XII-3. Aku berharap cemas. Tanganku tak henti-hentinya memegangi bibir bawahku sambil terus berdoa semoga kelasku yang menang.

Bradley, cowok itu kini memegang bolanya. Cewek-cewek di sepanjang lapangan tak henti-hentinya meneriaki namanya. Idola dari XII-3 itu selalu membuat keributan dikalangan cewek-cewek SMA Edelweis. Terutama cewek-cewek populer yang hobinya bersolek itu. Eww…

Bradley berhasil mencetak 3 angka untuk timnya. Aku menggeleng frustasi. Bukannya aku menyalahkan teman-temanku, namun aku takut Bradley akan meminta hal konyol padaku. Salahku sendiri sih, menantang Bradley untuk tanding basket dengan teman-temanku sebagai umpannya. Aku begitu bodoh menuruti emosi sesaatku yang terpancing oleh Bradley.

“So, apa yang bisa kau lakukan sekarang Vi-o-let?” Bradley mendekatiku dan memandang mengejek ke arahku. Aku bergidik ngeri dan mundur selangkah. Rambut wavy nya sangat berantakan dan wajahnya penuh keringat.
“Well…” aku berpikir sejenak, “kuakui kau hebat… masalah kesepakatan itu… aku…” aku ragu sesaat, “terserah kau saja, aku akan menanggungnya.” wow, berani sekali diriku ini. Menantang seorang Bradley yang terkenal kejam dan sadis dalam mempermainkan seseorang. Badanku sedikit gemetar, namun wajah dan gelagatku kubuat seolah aku menantangnya.
“Oke, pulang sekolah temui aku di gedung kosong belakang sekolah.” deg, jantungku seperti dikejutkan sesuatu.
“Waow….” telingaku seperti terbakar saat suara-suara menggoda memasuki lubang telingaku. Mau apa dia? Di gedung kosong belakang sekolah? Tempat itu kan angker. Tak ada yang berani ke sana.
“Kenapa? Takut?” tebakan yang benar, namun aku harus berani. Aku tak mau Bradley menginjak-injak kelasku lagi.
“Tidak!” suaraku agak gemetar, “siapa yang takut. Aku nanti akan ke sana sesuai permintaanmu.”

Dengan langkah agak takut aku menuju gedung kosong belakang sekolah. Tanganku sedari tadi mencengkeram rok pendek bermotif kotak-kotak yang kurasa mulai kusut. Debaran jantungku semakin menjadi kala hembusan angin menerpa wajahku. Ada apa ini? Tapi ini kan masih terang, hantu-hantu itu tak mungkin muncul. Rileks Violet, tak ada hantu, tak ada hantu. Langkahku semakin dekat dengan gedung itu.

“Booom..!!” seseorang menepuk pundakku, seketika aku berteriak.
“Whaaa…. setan…!!” aku bersiap berlari, namun seperti ada yang menahan tubuhku. Kuberanikan menoleh. Wajah menyebalkan Bradley memandangku mengejek. Dia terkekeh. Tangannya menarik tas coklatku.
“Hufft..” aku bernapas lega karena yang kulihat bukan setan.
“Lo takut setan ya?” dia masih terkekeh. Aku menatapnya tajam.
“Dasar!” kucubit lengannya, dia mengerang kesakitan.
“Ih, cantik-cantik galak!” apa dia bilang? Cantik? Apa nggak salah tuh. Aku menjulurkan lidahku menandakan aku tak peduli dengan omongannya.
“Apa yang lo inginkan dari gue?” tanyaku dengan nada sedikit membentak.
“Hei nona, slow down.” ucapnya. Aku semakin kesal sekarang.
“Say it now! Or…”
“Okay,” dia mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. Lho, kenapa sekarang aku yang jadi galak? Bukankah tadi aku takut dengan Bradley? Ah sudahlah, biarlah seperti ini. “Nanti malam datang ke rumahku ya, ada yang ingin kubicarakan.” wajahnya berubah serius. Sebelah alisku terangkat, Bradley terkekeh.
“Nggak usah heran gitu dong, aku ini manusia loh.” lahh, siapa yang bilang lo aliando? Eh, alien?
“Bukan begitu, untuk apa lo nyuruh gue datang ke rumah lo?”
“Nanti juga lo tau.” Bradley mengedipkan matanya lalu pergi dengan mengacak-acak anak rambutku. Apaan dia.

Sore hari sekitar pukul 4, aku telah memasuki rumah besar dan megah milik Brad. Meskipun besar, rumah ini begitu sepi seperti tak berpenghuni. Aroma citrus menusuk hidungku. Arghh… aku paling tak tahan dengan aroma citrus ini. Terlalu menyengat, I hate it!

“Udah lama lo nunggu gue?” Brad muncul dengan kaos oblong dan celana jeans. Rambut wavynya agak berantakan seperti sarang burung.
“Lumayan lah.” jawabku meliriknya yang duduk di sebelahku. “So, apa yang harus gue lakukan? Bersihin rumah lo? Atau apa?” tanyaku tiba-tiba menatapnya.
“Apaan sih lo, masa gue nyuruh lo bersihin rumah gue? Bercanda aja lo!” ekspresinya berubah kesal. Kenapa dia kesal?
“Lah terus, ngapain lo nyuruh gue ke sini kalo bukan untuk lo suruh-suruh?”
“Lo pikir gue sejahat itu?” dia menatapku lekat-lekat. “Gue nggak sejahat itu Vi, meskipun gue kalo di sekolah sok banget tapi gue nggak mungkin nyuruh cewek secantik lo, bersih-bersih rumah gue.” what? Aku nggak salah dengar nih? Lagi-lagi dia menyebutku cantik. Kesambet apaan ya nih cowok?
“Lha terus, gue disuruh ngapain?” tanyaku polos.
“Lo di sini aja ya, temenin gue.” pintanya. Kutatap bola mata birunya yang tiba-tiba diselimuti mendung. Kenapa dia?
“Lo kenapa Brad?”
“Gue ingin lo datang ke konser gue Vi, sabtu malam.” aku melotot. Datang ke konsernya?
“Ke konser lo? Sabtu malam?” dia mengangguk.
“Gue ingin lo lihat gue manggung Vi.” aku semakin tak mengerti jalan pikiran Brad. Kenapa dia ingin aku nonton dia manggung? Emang aku siapa?
“Lo nggak inget gue Vi?”
“Gue inget lah, lo Bradley.” Bradley mendengus frustasi. Dia kemudian merogoh saku celananya lalu menyerahkan sebuah gelang merah berbahan tali. Kupandangi gelang itu, terlihat familiar.
~ But if you like causing trouble up in hotel room ~
Ponselku tiba-tiba berdering, kurogoh saku overallku dan menjawabnya. Dari Mom, pasti disuruh pulang.

Beberapa hari ini aku terus berpikir tentang Bradley, di sekolah aku tak melihatnya. Gelang yang diberikannya terus kubawa. Aku pernah melihat gelang ini, tapi di mana? Aku tak dapat mengingatnya. Memori burukku memang bencana. Aku susah mengingat, entah mengapa. Kuaduk-aduk isi tasku, mencari buku matematika. Pikiranku melayang jauh, tak fokus dengan pencarianku. Sebuah foto terjatuh dari bukuku saat aku mengangkatnya. Foto apa ini? Kuambil foto itu, mengamatinya sejenak. Dua bocah lucu berhiaskan kostum kelinci dengan telinga menjulur ke atas serta orang dewasa yang anggun tersenyum pada kamera. Mulut dua bocah itu manyun dengan es krim yang belepotan di wajahnya. Aku terkekeh geli. Mataku menangkap benda berwarna merah melilit sempurna di tangan kanan kedua bocah itu. Gelang Brad. Aku mencocokkan gelang itu dengan yang ada di foto. Mirip. Gelang ini mirip dengan yang ada di foto. Otakku tiba-tiba menampilkan slide di sebuah taman dengan daun berwarna orange yang berguguran. Aku berteriak memanggil nama bocah yang berlari meninggalkanku. Tiba-tiba slidenya berganti, menampilkan sebuah bangku panjang dan beberapa murid kecil di taman kanak-kanak.
“Vi, jika aku jadi penyanyi kau harus datang ke konserku. Bawa gelang ini bersamamu. Aku dan ibu akan pergi ke Inggris. Aku akan merindukanmu Vi.”
Slide itu kabur, menjadi kepingan-kepingan puzzle yang berhamburan dalam kepalaku. Aku mencoba menyusunnya kembali, namun gagal. Aku mengambil tasku lalu keluar dari perpustakaan.

Aku menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Langit juga sudah mulai memerah. Tujuanku saat ini adalah kelas Brad. Meskipun sudah sore, beberapa kelas masih ramai dengan pelajaran tambahan.

“Ada Brad nggak?” tanyaku pada seseorang yang sedang duduk di bangku kelas Brad. Beberapa pasang mata memandangku heran. Aku baru sadar, aku adalah cewek pembawa sial bagi kelas mereka.
“Siapa lo?” salah seorang siswa memandangku aneh dan dengan tatapan jijik.
“Please, aku hanya ingin bertemu Brad. Ada yang harus kubicarakan.” mereka terkekeh dengan nada mengejek.
“Dasar orang aneh!” mereka malah melanjutkan aktivitasnya dan mengabaikanku. Aku pun pergi dari kelas itu dan berlari sekuat tenaga menuju Mading. Mungkin ada pengumuman tentang konser Brad.

Kubaca satu persatu pengumuman yang berada di Mading. Bradley, Bradley, Bradley. Hanya itu yang ada dalam pikiranku. Di mana kau sekarang Brad? Aha! Akhirnya kutemukan juga. Konser Brad, berada di Gedung Orchid pukul lima sore. OMG! Sebentar lagi. Kulirik arlojiku yang menujukkan pukul setengah lima. Masih ada tiga puluh menit lagi. Come on Vi! Alu berlari sekuat tenaga menuju halte dekat sekolah. Menunggu taksi yang lewat. Duhh… kenapa tak ada satupun yang lewat? Aku bergerak gelisah.

Aha! Ada taksi. Cepat-cepat, aku memasuki taksi itu. “Gedung Orchid Pak!” Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang. “Lebih cepat Pak!” Taksi itu melaju dengan cepat. Kuamati setiap bangunan dan jalanan. Mengukur berapa lama lagi aku akan sampai. Kulirik arlojiku, hanya tersisa lima menit lagi. Sialnya aku terjebak macet. Oh no! Dengan tak sabar, aku keluar dari taksi dan membayarnya. Tinggal sedikit lagi! Aku berlari secepat kilat menuju Gedung Orchid. Brad, I’m coming.

Gerbang Gedung Orchid terlihat. Kupercepat langkahku lalu masuk ke dalamnya. Masuk dengan tak sabaran karena antre. Aduh… semakin sesak. Aku menerobos kerumunan dengan dihujani omelan dan protes. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin bertemu Brad saat ini.

~Look at me now, I’m falling
I can’t even talk, still stuttering
This ground of mine
Keep shaking Oh, Oh, Oh,

Mata Bradley tiba-tiba menatapku, dia berhenti bernyanyi. Aku masih berdiri di dekat pintu masuk. Lalu perlahan menerobos kerumunan, menginginkan tempat paling depan. Menginginkan menatap Brad dari dekat saat dia bernyanyi. Bradley masih diam menatapku. Saat aku tiba di barisan paling depan, Brad mengulurkan tangannya. Memintaku untuk bergabung dengannya. Aku menurut dan bergabung bersama Brad. Sahabat kecilku yang sempat hilang dari memoriku. Aku tersenyum padanya. Mengingat janji kami dulu, sekarang benar-benar terwujud. Aku berada satu panggung bersama Brad. Pemimpi kecil yang sekarang menjadi bintang besar. Brad, I really proud with you.

Cerpen Karangan: Mon Yoku
Facebook: Dwi Krismonita Iryoku
Monita
18 tahun

Cerpen Konser Brad merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Aling

Oleh:
Batu tempatku berdiri ini masih sama seperti dulu, tak terkikis dengan hantaman ombak yang berulang kali menerpa. Sama seperti ingatanku akan kenangan-kenangan yang ada di pantai ini, di batu

Bertemu Idola

Oleh:
Ada seorang anak bernama Gilang. Ia sangat suka dan pandai bermain sepak bola. Ia sering bermain sepak bola bersama dua sahabatnya yang bernama Ardi dan Alex. Suatu hari Gilang,

Sahabat Sejati

Oleh:
Pada zaman dahulu kala hiduplah 3 ekor kucing yang hidup bersama sejak kecil. Walaupun mereka tidak bersaudara, tetapi mereka sudah seperti saudara karena setiap hari mereka selalu hidup bersama-sama

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *