Korban Keegoisan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 April 2018

“Hei, Ris! Apa lo nggak dengerin gue?”
Aku menoleh dengan wajah merengut ke arah Shila. “Apa, sih? Ganggu gue aja deh!” Bentakku. Shila mendengus kesal. “Lo liatin apa sih dari tadi?” Tanyanya.

Aku berfikir, apakah harus aku ceritakan tentang kekagumanku kepada Fahri anak kelas XI IPA 2? Karena Shila adalah sahabatku sejak dulu, jadi akan aku ceritakan. Aku berisyarat agar kepala Shila mendekat. “Apa?” Tanyanya.
“Gue lagi naksir dan deket seseorang lho..” Kataku sumringah. “Siapa?” Tanyanya penasaran. “Dia itu Fahri anak kelas XI IPA 2. Dia itu ganteng banget. Gue udah lama sih deket sama dia. Dari awal kita MOS dia minta nomor gue. Ya, gue kasih sih-” Pembicaraanku terhenti saat melihat raut muka Shila yang tak enak dipandang.

“Apa lagi? Dah kelar ngomongnya?” Katanya ketus.
“Lo kenapa sih, Shil kok kayaknya nggak suka gue naksir dia?” Tanyaku. “Siapa yang suka cowok taksirannya direbut sahabatnya?” Aku ternganga. Jadi, Shila juga naksir Fahri? Shila terlihat sedang berfikir keras.

“Oke. Gimana kalau kita buat perjanjian?”
Alisku mengerut. “Perjanjian apa?”
“Karena kita sahabatan dan sama sama mengincar orang yang sama. Jadi, kita berdua harus menjauh dari Fahri.” Tegasnya. “Maksudnya?” Tanyaku tak mengerti. “Yah.. lo jauhin Fahri!”
“Kok gitu?” Protesku. “Masa lo tega nyakitin hati gue? Lo juga nggak mau kan sakit hati?” Tanyanya. Benar juga apa kata Shila. Akhirnya aku mengangguk menyetujuinya. Shila hanya tersenyum. Senyum yang sulit diartikan.

Sesampainya di rumah, aku menelepon Fahri dan mengatakan bahwa aku tak bisa lagi dekat dengannya dengan alasan sebentar lagi akan ada ujian. Sebenarnya berat sih, tapi mau bagaimana lagi. Aku tak boleh egois. Fahri juga sebenarnya keberatan. Lalu aku nonaktifkan handphoneku.

Dua bulan telah berlalu. Aku berjalan bersama Shila menuju tempat parkir. Tanpa sengaja bertemu Fahri. Padahal dua mingguan ini aku berusaha menghindar darinya. Tapi mengapa hari ini harus bertemu? Fahri tersenyum ke arahku. Oh aku salah, dia tersenyum dengan Shila. Ada apa sebenarnya?

Satu bulan telah berlalu. Ujian akhir semester telah tiba. Hari ini hari ketiga pelaksanaan ujian. Ruangku dan Shila terpisah. Shila menempati ruang 3 dan aku menempati ruang 4. Bukan menurut absen, tetapi diacak.

Hingga suatu hari, Nadya, teman sekelasku berkata kepadaku. “Sabar ya, Risma.”
“Ada apa, sih, Nad?” Tanyaku bingung. “Lo nggak tau ya?” Aku hanya menggeleng. “Shila sama Fahri pacaran.”
“Apa?!”
“Iya. Ya ampun! Udah ada tiga hari yang lalu. Dari awal ujian.”

Lututku lemas. Aku terduduk lemas. Nadya mengelus punggungku. Air mataku menetes. “Sabar ya!” Aku memeluk Nadya. Nadya menenangkanku.

Tak berapa lama kemudian Shila datang, “ada apa, Nad?” Aku mendongak. Amarah menyergapku. “Ngapain lo ke sini! Belum cukup udah nyakitin gue!! Lo yang buat perjanjian, lo yang ngehancurin sendiri!!”
“Apa maksudnya?” Tanya Shila.
“Lo pacaran sama Fahri, kan?” Tudingku.
“It..itu..” Shila tergagap.
“Pergi lo!! Kita nggak usah sahabatan lagi, gue lo jadiin korban keegoisan lo!!”

Cerpen Karangan: Ida Febrianty
Facebook: Ida Febrianty
Duduk dikelas 3 SMP di SMPN 2 PETERONGAN

Cerpen Korban Keegoisan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Klasik

Oleh:
“Sorry ya. Udah nunggu lama?” Cowok yang semula fokus pada jalanan di luar sana langsung menoleh ke arahku. “Enggak kok. Baru juga.” Senyumnya selalu bisa membuat jantungku berdegup dua

Persaingan Sepak Bola

Oleh:
Hari pertama persiapan untuk memenangkan turnamen, aku akan berjuang untuk memenangkan pertandingan waktuku tinggal 5 lagi untuk memenangkan turnamen 17 agustus. Banyak sekali yang pustus asa karena pemain di

Kabut Pulau Tanpa Nama

Oleh:
Hari ini rencana anak-anak untuk menyeberang ke pulau kecil tanpa nama itu batal total. Dengan sangat terpaksa mereka tidak jadi pergi ke sana, pasalnya air laut sedang pasang. Dan

Miss Him

Oleh:
Ravi melajukan motor besarnya menuju jalan raya. Toni terus mengikutinya dari belakang. Wajah Toni tiba-tiba berseri ketika ia berhasil menemukan apa yang dipikirkannya. Motor maticnya semakin kuat di gas

Dear Friend

Oleh:
“Teman… bolehkah kau ku panggil Sahabat? Meski sikapku padamu dulu tak bersahabat!” Aku menuliskan kata itu di sebuah mading sekolah sebagai tanda isi hati sekaligus penyesalanku pada sosok teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *