Kotak Kecil Penuh Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 February 2018

Suasana hiruk-pikuk, ramai, asap kendaraan, klakson angkutan umum dan suara bising yang ditimbulkan kenek angkot menjadi rutinitasku dan aku hampir terbiasa dengan itu di kota kecil tempat kelahiranku, kota Batam. Aku Carl Johnson, gadis muda berusia 21 tahun wajah blasteranku sering membuat orang tertipu dan mengira bahwa aku orang asing. Ibuku yang berkewarganegaraan Indonesia menikah dengan ayahku yang berkewarganegaraan Italia dan aku lahir di Indonesia dan merupakan salah satu anak korban Broken Home itu tidak membuatku merasa minder karena aku punya grandma yang bisa gantiin posisi mama sama papa. Siapa bilang anak Broken Home hidupnya berantakan? Nggak semuanya kok, including me.

“Carl!!”
Aneh seperti ada yang memanggilku tapi suaranya samar samar dan berhasil memcahkan lamunanku sedari tadi. Kulihat di kananku sepertinya tak ada yang memanggilku, kulihat di kiriku sepertinya tak a… eitt siapa gerangan yang ada di seberang jalan sana?. Seorang wanita melambaikan tangan ke arahku? Aku pergi menoleh ke belakang untuk memastikan wanita itu tidak melambaikan tangannya kepadaku, mungkin ke orang lain.

“HEI Carl Johnson what are you doing I’m here!!”
Apa? Itu namaku mengapa dia tahu namaku?. Kulihat dia semakin mendekat dan menyeberangi jalan dengan terburu buru dan tak menghiraukan klakson kendaraan yang melintas di jalan.

Alena? Itu Alena sungguhan?. Aku melihat dia membentangkan tangan isyarat ingin memelukku dari kejauhan, spontan kaki mungilku berlari kecil membawaku mendekati Alena. Kami pun berpelukkan di tengah keramaian pembatas jalan.

“Hey carl.. miss you so much..” terdengar suara Alena yang tidak terlalu jelas, akibat pelukan itu membuat seluruh wajahnya hampir terbenam di pundakku.
“Buongiorno carl johnson..” sapaan pagi Alena sontak membuatku kaget dan melepaskan pelukan kemudian memandang Alen dengan penuh keheranan.
“Ya ampun Alena sejak kapan belajar bahasa italia? oh ya sejak kapan datang ke Batam? Bukannya harus study semester ke 3 ya? Gimana pelajarannya? Oh ya ada gerangan apa princess Alena tersayang datang ke sini? Trus gim..”
“Hooam.. aduh itu pertanyaan atau wawancara sih? Banyak amat.. udah kayak lamaran kerja aja, gini deh, tu ada mall nah kita masuk aja ke sana kita pergi ke salah satu resto italia namanya GADENO nah kita ke sana aja se-pe-si-al untuk jawab pertanyaan tadi itu yuk” kemudian Alena menarik tanganku dan menuju ke salah satu mall di pusat kota yang tak jauh dari keberadaanku.

“Tada.. kita udah nyampe, nah kalo mau nongkrong atau have break time gitu nah ini tempat paling cocok apalagi cocok banget buat orang yang ada keturunan italia, like you..” Alena langsung membuka percakapan setibanya kami di resto tersebut. Tidak ada yang berbeda dari Alena fashion, gaya hidup, dan semua hal tak ada yang berubah. Gayanya yang glamour, dan fashionable tak berubah sejak 5 tahun silam ketika kami pertama bertemu dan menjalin hubungan persahabatan hingga sekarang. Tapi itu hal yang wajar karena ayahnya adalah seorang pengusaha di kota ini, berbanding terbalik dengan aku.

Tiba tiba seorang waiter datang dengan membawa list makanan ke meja kami.
“permesso..” ucap waiter tersebut yang artinya permisi, dan kemudian waiter tersebut menjulurkan list makanan di hadapan kami.
“Vorrei ordinare una pizza, per favore..” ucapku dengan lancar yang artinya memesan pizza dalam bahasa italia.
“roast baby chiken with grilled vegetables and roasted potatoes, please.” Pesan Alena sambil terus memandangi list makanan. “oh ya kita berdua minumnya lemon ice aja ya” sambungnya.

“Jadi aku tu datang ke Batam udah 4 harian, kerena kita itu di sana lagi musim salju ya itung-itung itu liburan tambahan yang kita dapat selama semester 3 ini. Soal bahasa Italia? Ya kebetulan aja aku di sana punya teman Italia dan dia nggak lancar speak English jadi ya, mau nggak mau harus tau apa yang dia bilang kalo lagi komunikasi.” Alena bercerita seputar kuliahnya di luar negeri dengan nada agak lebih keras, karena tak bisa dipungkiri di tempat keramaian seperti ini sangat bising dengan sumber suara yang sangat banyak.
Tak lama seorang waiter pun datang dengan membawa pesanan kami.

“Jadi kalo kamu gimana Carl? Sekarang udah kerja? masih tinggal sama grandma?” sambung alena yang langsung menyantap pesannanya.
“iya, kantor aku deket kok. sekitar kawasan sini lah, ya.. lumayan lah gajinya buat aku sama grandma buat keperluan sehari hari..” jawabku yang sembari menyiapkan hidangan yang telah kupesan.
“trus masuk jam berapa carl? Nggak kesiangan ntar?”. ya ampun buru-buru kubuka jam tanganku dan jam menunjukkan jam 9.30
“Ya ampun Alena.. aku terlambat sejam lebih len.” Spontan aku mengambil tasku dan mengucapkan Grazie (terimakasih) kepada Alena, kemudian kakiku berlari kecil menjauhi resto tersebut.

“CARL!! HEY CARL!” aku membalikkkan badan karena aku tahu persis itu, pemilik suara itu pasti Alena.
“CARL! ARRIVEDERCI (sampai ketemu lagi)..” kulihat Alena melambaikan tangan persis seperti pertama kali dia melambaikan tangan pagi itu kepadaku di jalan, tapi berbeda dengan raut mukanya. tampak agak masam dan tak ada garis lurus di bibirnya, aku pun membalas lambaian tangan tersebut.

Langkahku kupercepat, agar setidaknya jam terlambatku tidak terlalu lama. Aku tiba di kantor pukul 9.40, yah.. itu rekor jam terlambatku seumur hidup. Ketika aku tiba di meja kantorku, aku dipanggil seorang karyawan untuk menghadap atasanku yang katanya karena keterlambatanku ini. Ketika aku memasuki ruang atasan, aku sangat terkejut karena yang kutemui bukan atasanku tapi melainkan orang lain.

“jadi nama kamu… eee siapa tadi? Saya lupa” tanya seorang pria lumayan tampan, tapi bukan seleraku, duduk memakai jas. Layaknya seorang atasan muda yang baru.
“Carl Johnson pak..” jawabku sedikit merendah.
“kamu terlambat sekitar hampir 2 jam-an dan kamu tau untuk anak muda seusia kamu itu merupakan kesalahan yang bisa saja membuat kamu kehilangan pekerjaan.. tapi untuk kali ini saya berbaik hati dan melepaskan kamu tanpa potongan gaji.. tapi dikenakan sanksi yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan perusahaan di sini…” itu membuat sedikit kelegaan dalam batinku. Setidaknya meskipun akan ada sanski, aku tidak mendapatkan hukuman yang mengancam gajiku.

Ketika aku keluar banyak orang yang memperhatikannku, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan yang pasti aku merasa menjadi pusat perhatian pada detik itu juga.

Jam menunjukkan pukul 4 sore dan aku mendapat chat dari Alena yang berisi Alena akan pergi ke Disney besok untuk melanjutkan pendidikannnya. Aku terkejut, bukan kah Disney masih musim salju?. Aku berusaha menghubungi Alena untuk bertanya mengapa ia pulang ke Disney mendadak tapi nihil, teleponku tidak diangkat, smsku tidak dibalas. Dan aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya sepulang kantor tiba, aku mengetuk pintunya tapi yang keluar hanya bibi, pembantu rumah Alena yang sangat ramah. Bibi mempersilahkanku untuk masuk dan menemui Alena.

Aku melihat wajah Alena sembab akibat air mata yang masih tesisa di sela sela bulu mata. Aku bertanya tapi tak sekata pun ia tuturkan. Tangisnya masih terdengar bahkan seolah olah menceritakan kepedihan yang ia alami.

“Carl.. aku sakit.. aku sakit ketika lihat orang yang kusayangi lebih suka ke kamu dari aku..”
“hah.. maksudnya Len?” tanyaku yang penuh heran
“kamu tau gak aku itu datang dari Disney ke sini itu gara gara James, atasan muda baru di kantormu.”
“Hey.. Len.. don’t kidding me..”

“james itu teman aku di Disney, aku sering cerita banyak tenatang persahabatan kita ke dia. Aku tertarik sama James, ketika aku tau dia bakal gantiin posisi ayahnya sebagai atasan di kantor kamu aku datang ke sini. Dan dia pernah bilang ke aku dia tertarik sama kamu, Carl Johnson yang sering aku ceritain. Dan aku nggak tau apa arti ketertarikan yang dibilang itu, tapi sekarang aku ngerti arti ketertarikan itu sebagai kata cinta.. aku sakit carl..” tak terasa air mata tetes di pipiku membuat mascaraku luntur keteteran. Tak kusangka persahabatan kecil kami hampir putus akibat satu cowok

“Alena. maafin aku aku nggak tau ini bakalan terjadi, tapi tolong kamu jangan pergi karena alasan ini len.. grandma sering ngajarin aku persahabatan itu sama seperti kotak kecil dengan cinta, adil di setiap sudutnya, suka, duka, kelemahan dan kelebihan selalu muat di ruangan sekecil apapun hanya kasih yang dapat menutupi segalanya menjadi indah.. aku mau kamu pergi ke Disney tanpa masalah. Ayolah Len!”.

“benar Carl.. aku harus pergi ke Disney tanpa masalah.. aku nggak bakal kejar James dan aku terlalu bodoh untuk ngelukai persahabatan ini dengan hal yang nggak penting gitu dan aku nggak bakal ngebiarin hal kecil ngerusak kotak kecil kita. mungkin aku akan berangkat ke Disney besok Carl karena aku udah pesan tiket dan nggak bisa batalin keberangkatanku. And i promise to be better friend for my beloved friend, Carl Johnson”. Jawab Alena dengan membentuk garis lurus di bibir mungilnya, dan mengusap air matanya sembari memeluk diriku erat. sangat erat.

Keesokannya aku dan keluarga Alena pergi ke Bandara untuk mengantar Alena. Alena melanjutkan studynya di sana. Akhir yang indah untuk kotak kecil kami

Cerpen Karangan: Angelina Haryati
Facebook: Maslan Simanjuntak (thats my mom’s fb (anak mommy kiddo))

Cerpen Kotak Kecil Penuh Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu Sahabat Tapi Sekarang

Oleh:
Satu tahun yang lalu, sekolah kami mengadakan pembagian kelas. Pada saat itu aku mendapat kelas 8 5. Aku merasa sangat bingung sekali ingin berteman dengan siapa, karena semua temanku

Weirdest Couple

Oleh:
Hari itu hari minggu, Sandy masih terduduk di depan monitor dengan mata merahnya yang berkantung. Sambil mengenakan headphone dan kedua kakinya naik di atas kursi tempat ia duduk. “Woi!!!”

Bestfriend

Oleh:
Hari ini adalah hari spesial bagi Bennedict Noel yang berasal dari German karena ia akan tinggal di Indonesia dan juga bersekolah disini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana dia kelak

121212

Oleh:
Selasa, 11 Desember 2012 – Siang hari yang terik ini, aku tak merasakan panas itu karena aku sedang berada di dalam mesjid. Aku baru saja selesai menjalankan ibadah shalat

Kejutan Terakhir

Oleh:
Namaku Veronika Shyla, panggil saja Shyla. Aku kini duduk di bangku SMA, kelas 11. Aku adalah seorang remaja putri biasa, bukan siapa-siapa. Aku memiliki seorang sahabat, Priscilla Viona, panggil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *