Kotak Pensil Misterius

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 December 2018

Tavita meninggal. Gadis ramah berambut kepang satu itu tak dapat bertahan dari penyakit thalasemia yang dideritanya. Teman teman sekelasnya di SD Pelita sedih. Tavita alias Tavita Maharani, memang terkenal baik hati dan tidak pelit.

Dua minggu berlalu dan kelas 5 sudah berkegiatan seperti biasa. Fafa, yang dulu sebangku dengan Tavita, kini sudah asyik duduk dengan Vania. Wajah wajah mutung kini sudah tak tampak lagi. Tetapi, masih sering ada yang nangis diam diam.

Pagi itu, Fafa masuk kelas seperti biasa. Tiba tiba…
Ia terpekik melihat mejanya tergeletak sebuah kotak pensil warna biru. Wajah Fafa memucat, memperhatikan kotak pensil bergambar frozen itu. Di bangku, belum ada tas Vania. Fafa menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung.

“Kenapa Fa?” tanya Vayla yang melihat tingkah Fafa.
“Ituuuu..!” bisik Fafa sambil menunjuk ke mejanya.
Vayla mengernyitkan kening, berpikir dan membelalak.
“Kotak pensil Tavita!” pekik Vayla.
“Iya, kenapa bisa ada di situ!” spontan Fafa mundur lalu memeluk Vayla.

“Ada apa ini?” teman teman berdatangan. Setelah tahu soalnya, mereka sama sama ketakutan melihat kotak pensil itu.

“Aku buka ya?” tanya Varez mengulurkan tangan.
“Iya, buka aja Rez!” bisik Vania. Ia juga ketakutan.
Apalagi ia duduk di bangku Tavita. Mungkin sebaiknya ia pindah ke bangku lamanya. Pelan pelan, Varez membuka kotak pensil itu. Di dalam, terdapat benda benda kesayangan Tavita.
“Benda benda yang selalu dibawa Tavita” bisik Varez.
Fafa mengintip
“Barang kesayangan Tavita!” bisik Fafa lemas.

Bu Cici, wali kelas 5, sudah mendapat penjelasan dari Varez, sang ketua kelas. Beliau duduk di meja guru bersama kotak pensil Tavita yang terbuka. Bu Cici menghela nafas panjang, memandang satu persatu wajah muridnya.
“Sekali lagi ibu tanya, siapa yang membawa kotak pensil ini?” bu Cici bertanya pelan.
Tidak ada yang menyahut.
“Apa mungkin si.. Tavita sendiri yang datang bu” suara Vayla memecah keheningan.
Anak anak langsung riuh seperti lebah berdengung.
“Hantu itu gak ada!” bantah Varez dengan suara pelan, tetapi, otaknya berputar memikirkan berbagai kemungkinan.

“Benar kata Varez, anak anak hantu itu tidak ada. Jelas kotak ini dibawa oleh seseorang. Ibu beri waktu sampai jam pulang. Tolong mengaku saja yang sudah membawa kotak pensil ini. Beri penjelasan pada ibu dan ibu tidak akan marah”
“Maksud bu Cici, salah satu di antara kita sengaja melakukannya?” bisik Chika pada Varez. Sang ketua kelas hanya mengangguk.
“Tetapi, apa tujuannya?” lanjut Chika.
“Entahlah, nanti kita pikirkan sama sama!” ucap Varez.
Sampai jam pulang sekolah, tidak ada yang mengaku membawa kotak pensil itu.

Dan keesokan harinya, kotak pensil yang sama ada di atas meja Fafa lagi. Dan lebih parahnya, Fafa menjadi pingsan. Keadaan pun menjadi heboh. Kelihatannya bu Cici marah sekali. Tetapi beliau tidak mengatakan apa apa karena sibuk mengurusi Fafa di ruang kesehatan. Anak anak sibuk bercakap cakap membahas kejadian itu.

“Kok bisa ada lagi? Isinya malah jepit rambut dan barang kesayangan si Tavita. Aku pernah melihat si Tavita bawa barang itu dan jepit rambut persis seperti itu” ucap Chika.
“Benar. Ku pernah meminjam jepit rambut dan barang itu dari Tavita” timpal Vayla.
“Padahal kotak pensil yang berisi barang kesayangan Tavita kemarin disimpan bu Cici” gumam Varez.
“Berarti si pelaku sengaja membeli kotak pensil yang sama dengan Tavita” cetus Chika.
“Pernah lihat toko yang menjual kotak pensil itu nggak?” tanya Varez.
Vayla menggeleng ragu. Chika mengangkat bahu. Varez berpikir keras hingga alisnya menyatu di kening.

Hari ketiga, tidak ada peristiwa itu lagi. Hari ke empat, kotak pensil itu kembali lagi membuat kelas 5 ribut. Kali ini, Varez berhasil menenangkan Fafa. Bu Cici duduk diam karena Varez sudah meminta waktu untuk berbicara.

“Bu Cici dan teman teman semua. Kotak pensil Tavita kembali lagi. Kali ini, isinya Jam tangan Tavita dan alat tulis berlogo Tavita. Tetapi aku dan Chika sudah tau bahwa pemilik kotak ini bukanlah Tavita. Melanikan.. Vayla.” kata Varez.
Seluruh siswa terperanjat. Lebih lebih Vayla.
“Ka.. kamu.. jangan asal menuduh dong!” teriak Vayla dengan wajah memucat.

“Selama dua hari ini, aku dan Chika sudah menyelidiki. Kami bertanya pada pak Ardi, satpam sekolah, tentang siswa yang belakangan ini, masuk pagi pagi sekali. Lalu, kemarin dan hari ini, aku dan Chika bersembunyi di balik lemari, menunggu si pembawa kotak pensil beraksi lagi. Dan hari ini, kami berhasil memotret Vayla yang sedang beraksi.” Kata Varez sambil menunjukkan foto di ponselnya.

Vayla terbelalak, lalu menangis terisak isak. Pengakuan terlontar dari mulutnya.
“Aku ingat Tavita, ia selalu baik. Kalian sering mengejekku. Tetapi Tavita enggak pernah begitu. Dua minggu ini aku masih merindukan Tavita. Sementara kalian sepertinya memganggap Tavita tak ada. Terutama kamu Fafa, kamu malah cepat sekali melupakan Tavita dan asyik bermain dengan Vania.” Vayla terisak isak.

Bu Cici mendekatinya, lalu memeluknya. Teman teman Vayla juga mendekat.
“Aku juga rindu Tavita, Vayla,” isak Fafa.
“Aku enggak pernah bisa melupakan Tavita,”
“Tidak ada yang lupa pada Tavita. Tavita akan ada di hati kita semua.” ucap Bu Cici. Bu Cici memeluk murid muridnya yang terbawa akan kenangan Tavita.

Misteri kotak pensil Tavita sudah terpecahkan. Perbuatan Vayla sudah dimaafkan. Dan teman temannya berjanji takkan mengejeknya lagi.

Cerpen Karangan: Zahra Rizqy Charissa Hutama

Cerpen Kotak Pensil Misterius merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayangan Dalam Gelap

Oleh:
Suasana malam yang gelap dan suara-suara binatang malam semakin menambah kesan seram malam itu. Luna yang pada dasarnya seorang penakut semakin menempelkan dirinya di samping Faira. “Fai, lo yakin

Tak Seburuk yang Terlihat

Oleh:
Di Rumah “Cowok itu keren banget, jago olahraga, dan dari yang kulihat dia juga setia banget sama temennya, kaya makin keren gitu kalo dia udah sama temen temennya.” Begitulah

Pertemuan Singkat

Oleh:
Sembari duduk di taman belakang sekolah dan mendengarkan musik kesukaanku, membuat perasaanku terasa lebih tenang dari sebelumnya. Akhir-akhir ini aku lebih sering duduk menyendiri dibanding bergaul dengan teman-teman di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *