Ku Pilih Sahabat Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Namaku Melisa Estyani, biasa dipanggil Tya. Sekarang aku duduk di kelas X salah satu SMA swasta di daerahku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah sebelumnya MOS dilaksanakan. Tepatnya di kelas X-B. Banyak teman baru yang aku dapat, jahil ada, gokil ada, pendiam ada, nah sekarang ku perkenalkan beberapa aja. Yang pertama teman sebangkuku Eva, dia ituu.. Bawel, jail, gak bisa diem, dan penyolot.

Yang kedua Nano, dia ituu.. Konyol, super nyebelin, jahil, suka ngeledek guru, ya bisa dibilang hyper aktif. Yang ketiga Sari, dia ituu.. Kecil-kecil cabe rawit, pinter, dan cerdik. Yang keempat Putri, dia ituu.. Lebay, heboh, kepoers, super PD, tapi baik. Yang kelima Riko, dia ituu.. Cuek, misterius, pinter, pendiam. Dan masih banyak temen yang lain, tapi itu aja deh yang ku kenalkan. Hehe.

Hari-hari di sekolah ku jalani dengan gembira. Hingga suatu hari saat ku berangkat sekolah. Tiba di kelas pukul 06:45. Udah ada Eva dan Putri. Seraya membuka pintu ku ucapkan salam pada mereka. “Assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh” jawab mereka kompak dan kumplit.
“Tya, anterin aku ke KM yuk.. pleasse” kata Putri.
“Ogah ah, aku aja baru dateng, tuh ama Eva aja” sambungku.
“kenapa bawa-bawa gue!” solot Eva.
“Ya udah ayo.. gitu aja pake ribut” kataku.
“Ke O..” tutur Putri.

Perlu readers ketahui bahwa KM itu singkatan dari Kamar Mandi. Hehe.. Aku mah suka sebel kalau ke KM sama Putri, pasti nanti kalau udah masuk lamaa..banget keluarnya. Bertapa kali tuh orang. Bosen. Tik tok, tik tok, tik tok. Akhirnya ke luar juga tuh manusia. Sampe kelas udah rame banget dan bel tanda masuk pun berbunyi. Jam kesatu, 2, 3, 4, 5, 6 lancar. Tapi jam ketujuh, 8 kosong, jadi borring, akhirnya rumpi-rumpi gaje aja. Eehhh tiba-tiba aku dipanggil guru suruh ke ruang guru, berhubung aku sekretaris jadi banyak urusan lah. Biasa.. mau dikasih tugas (ujub dikit ya. Hehehe..) Jadi ku lari sekencang-kencangnya aja sambil ngebenerin baju.

Tiba-tiba. Gubraakk! Ya. Aku menabrak Riko sampe kacamatanya jatuh. “maaf ya Ko, aku gak sengaja, soalnya buru-buru” kataku seraya memungut kacamatanya yang jatuh.
“cie..cie…” tiba-tiba Nano sama Eva kompak ngeledekinnya. “iya, gak apa-apa kok. Lain kali hati-hati ya” jawabnya.

“bunga-bunga cinta bermekaran… cie…” lanjut temen sekelas. Tapi aku abaikan ledekan mereka karena buru-buru.
“iya. Ya udah aku pergi dulu” ucapku. Ternyata bener, aku disuruh nulis bejibun di papan tulis, mana yang nyatet dikit doang lagi, Huh.. Sabar.

Singkat cerita, akhirnya pulang juga. Yee… Aku jalan menuju gerbang sama Sari dan Putri. Kita pisah di situ, soalnya Putri naik angkot, aku dan Sari naik sepeda. Pas di parkiran ada Riko, aku baru tahu. Ternyata Riko juga naik sepeda. “ciieee… samperin tuh Mr. Glasses lo!” kata Sari tiba-tiba. “apaan sih, samperin aja gih sono” sambarku.

Dan ternyata.. Rumah Riko searah sama rumahku, jadi sejak saat itu kita selalu barengan kalau pulang. Ya begitulah hariku di sekolah. Sampai akhirnya tiba masanya UTS, aku dan Riko satu ruangan. Di sini kedekatanku dengannya semakin bertambah. Saling contek menyontek (hehehe.. jangan ditiru ya), saling tukar pendapat, adu argumen.

Ku rasa kini aku menyukainya, bahkan mungkin mencintainya. Cinta? rasanya masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini. Belum pantas mungkin. Tapi apa artinya perasaanku ini kalau bukan cinta? entahlah. Yang pasti tatapan matanya, senyumannya, ledekannya, semuanya aku suka.

Awalnya “mencintainya” itu indah dan menyenangkan, tapi tidak setelah ku tahu bahwa sahabatku menyukainya pula. Ya. Putri, putri menyukai Riko. Saat itu ia bercerita padaku.
“Tya, aku sebenernya suka sama Riko dan aku udah gak tahan mendem perasaanku ini. Rencananya aku mau kasih surat untuk dia, biar dia tahu perasaanku padanya, menurut kamu gimana?” kata Putri bagai kilat yang menyambar tubuhku.
“ya gak apa-apa Put, coba aja” jawabku dengan berat hati.

Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus menjauhi Riko demi sahabatku? Meskipun ku tahu Riko tak merespon Putri sama sekali. Ya. Riko menolaknya. Apa aku harus senang dengan semua ini? atau mungkin bersedih? aku harus apa? menjauhi Riko demi sahabatku? entahlah, yang pasti aku tak akan menyakiti sahabatku sendiri.

Suatu sore sepulang mengikuti ekstra, aku menuju tempat parkir yang ternyata hanya ada Riko. Di parkiran hanya berdua. Aku dan Riko. Riko memulai pembicaraan.
“Tya, aku tahu jika kita adalah sahabat, kamu wanita yang buatku nyaman, kamu orang yang membuat aku berani mengungkapkan cinta, apakah kau mau jadi kekasih hatiku?” ucapnya mengagetkanku. Ternyata Riko mempunyai rasa yang sama denganku. Tapi aku harus apa?

“Aku pun menyukaimu sejak dulu Ko, tapi gimana dengan Putri?” sambungku.
“Dia pasti bakal ngertiin kok” ucapnya seraya meyakinkanku.
“Tapi maaf Ko, aku gak bisa nerima kamu untuk saat ini, aku gak mau persahabatanku dengan Putri hancur karena ini, sekali lagi maaf. Aku lebih memilih sahabatku. Yakinlah Ko, jika kita memang jodoh pasti akan bertemu. Mungkin kita tak bisa bersatu untuk saat ini, tapi mungkin di lain waktu. Oke?” jawabku seraya menghela napas panjang. “Oke Tya, aku akan menunggumu.” kata Riko kemudian.

The End

Cerpen Karangan: Windi Setyani
Facebook: Windhy Setyani

Cerpen Ku Pilih Sahabat Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Berbeda

Oleh:
Liburan akhir semester pertama, 20 Desember 2013 Aku tengah duduk di salah satu ayunan sambil memakan sebatang es krim di taman bersama sahabatku. Ah iya, kenalkan namaku Abigail Laurentz

First and Last Love

Oleh:
“Cinta? Apa itu? Semacam kue talam banjar kah?” tanyaku sinis pada Kate. PLAKK!! Sebuah tamparan jatuh dipipiku. “Kau ini! selalu saja, jika aku tanya soal cinta kau selalu jawab

Sahabat Penanti Hujan

Oleh:
Hembusan angin mulai terasa di tubuh, perlahan lahan anginnya berhembus dengan kencang hingga meliuk liukkan pohon palma di depan terasku. Terlihat dari kejauhan banyak burung pipit berteduh di bawah

Dia Dan Kamu

Oleh:
Namaku Claudya Rara Rahardi, biasa dipanggil Rara. Aku punya sahabat namanya Reno, cowok super cakep tapi bawelnya ngalahin bebek yang lagi ngoceh. Tapi gak tahu kenapa akhir-akhir ini Reno

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *