Kupu Kupu Musim Semi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 March 2016

Hari ini seperti biasa. Semua berjalan begitu saja. Aku menemukan diriku terlelap di meja, bersama tumpukan buku-buku tebal yang berada di depan mukaku. Suara gemericik air hujan yang semakin lama iramanya semakin padat, berhasil membangunkanku. “Hooaam.. oh, jam empat.” Gumanku seorang diri setelah melirik jam di dinding. Dengan lelapnya aku telah tertidur selama lebih dari dua jam. Ku langkahkan kakiku menuju jendela yang tepat berada di samping meja belajar. “Wuuusshh…” Udara dingin menerpa wajahku seketika setelah ku buka jendela.

Hujan. Hujan ini membawaku bernostalgia, mengingatkanku kepada sahabat kecilku, Enna. Masih terbayang jelas senyum Enna kecil yang manis, dan tawanya yang lucu. Hujan gerimis di awal musim gugur, lima belas tahun yang lalu. Dua gadis kecil berusia kanak-kanak berlarian di suatu taman kota. Salah seorang anak jatuh, dan menangis. Melihat temannya menangis, gadis kecil yang satunya mencoba menghibur dengan pura-pura terjatuh. Lucu sekali. Ia kemudian menggendong temannya yang masih menangis padahal ia lebih mungil. Tak lama kemudian gadis kecil yang tadinya menangis tertawa dan melupakan kejadian saat ia jatuh. Ya, Enna yang menggendongku saat itu. Aku tersenyum kecil mengingat kejadian yang telah lama berlalu. “Kapan ya, kita bisa ketemu lagi?” Tanyaku kepada diriku sendiri.

Pagi ini berkabut. Tetapi, aku harus tetap berangkat. Seperti rutinitas biasanya, aku menggunakan bus kota untuk menuju ke tempat kursus. Bus terlihat sepi, aku duduk di samping perempuan yang terlihat seusia denganku. Beberapa saat terdiam, perempuan itu menyapaku.
“Hai, mbak. Mau ke mana?” Tanyanya.
“Eeh, iya. Mau kursus.” Jawabku dengan sedikit senyum.
“Ohh, gitu ya mbak.” Ia melontarkan senyum.
Setelah diam sesaat, “Aku Emi, nama mbak siapa?” ia bertanya kembali.
“Aku Hana. Oiya, jangan panggil mbak dong, kan aku berasa tua. Kayaknya kita seumuran deh.” Jawabku.
Percakapan kami terus berlanjut hingga akhirnya terhenti karena aku harus turun dari bus. Akhirnya, kami saling bertukar nomor telepon.

Sudah dua bulan berlalu. Aku seperti menemukan sosok Enna di dalam diri Emi. Dia baik, asyik diajak ngobrol dan dewasa. Walaupun demikian, dia tetap punya cara untuk membuatku tertawa. Aku merasa menemukan sesosok sahabat lagi. Semenjak SMP aku hanya berteman dengan temanku biasa saja, tidak ada yang spesial. Aku masih belum bisa menggantikan sosok Enna, sampai akhirnya aku bertemu Emi. Siang ini kita berencana bertemu kembali. Setelah pertemuan di bus kita belum berjumpa lagi karena kesibukan masing-masing. Sampai di sebuah taman di sebuah bangku, aku menemukan Emi. Dia cantik sekali dengan dress biru setinggi lutut. Kita saling menyapa hingga akhirnya bercerita ke sana ke mari.

“Jadi, apa kesibukanmu saat ini Em?” Tanyaku kepadanya.
“Aku.. aku kerja di butik Han. Ya, butik punya tanteku.” Jawabnya.
“Wah, kapan-kapan aku boleh mampir ya!” Aku begitu antusias mengetahui ia bekerja di butik. Aku menyukai fashion dan setelah kursus aku berencana melanjutkan sekolah desain. “Eee, anu Han, butik tanteku itu di luar kota. Tapi, boleh kok kapan-kapan aku ajak ke sana. Tapi setiap weekend aku pulang ke sini. Hehehe,” jelas Emi.
“Oiya Han, kamu kursus apa sih?” Sambungnya lagi.
“Oh, itu. Kursus bahasa Jepang Em. Buat cari sertifikat, rencananya mau lanjut kuliah di sana.” Kataku dengan senang. “Hloh, bukannya kamu lahir sampe SD di sana? Kok masih ngambil kursusnya. Hahahaha.” Goda Emi.
“Iya sih Em, tapi itu udah 7 tahun yang lalu. Lupalah aku. Hahaha.” Aku membela diri. Kami terus bercerita dan bercanda. Hari itu benar-benar indah.

Setahun berlalu dengan cepatnya. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan kota ini lagi, untuk belajar di kota kelahiranku. Hubungan persahabatanku dengan Emi semakin baik. Aku memahaminya begitu juga sebaliknya. Tetapi, selama mengenalnya ia selalu enggan menceritakan tentang kedua orangtuanya. Aku tak masalah dengan hal itu, setiap orang memiliki privasi masing-masing, pikirku.

“Han, makasih ya udah mau jadi sahabatku.” Ucap Emi tiba-tiba ketika kita sedang berbaring di rumput taman kota, tempat kita biasa bertemu. “Iya Em, aku seneng banget deh punya sahabat baik kayak kamu.” Jawabku sembari menerawang jauh langit biru dengan gumpalan awan putih yang terlihat lembut.
“Janji ya Em, kita bakal sahabatan sampai tua nanti.” Lanjutku sembari mengulurkan jari kelingkingku. Emi mengikatkan kelingkingnya. Hari yang cerah, bunga-bunga dan pohon-pohon di taman menjadi saksi janjiku dan Emi.

Hingga suatu malam, ketika aku terjebak mogok dengan kakak laki-lakiku setelah membeli kenang-kenangan untuk Emi, karena lusa aku harus berangkat ke Jepang. Aku menemukan gadis mirip sekali dengan Emi berjalan dengan seorang lelaki yang menurutku sudah terlalu tua jika itu disebut pacar. Awalnya aku tidak percaya, karena gadis itu berpenampilan sangat seksi dan terlihat sedang bermanja dengan lelaki tua itu. Hingga mereka melewati mobilku.

“Emi.” Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. “Itu benar-benar Emi.” Pikirku. Emi menyadari keberadaanku, ia terlihat kaget dan langsung melepaskan pelukannya di pinggang lelaki itu. “Kenapa sayang? Hotelnya sudah dekat tuh.” Ucap lelaki tua itu kepada Emi dengan manja. Aku masih terdiam, aku tidak percaya. Emi akhirnya berjalan dengan lelaki tua itu masuk ke dalam hotel, meski sesekali ia menoleh ke arahku.
“Dek, masuk mobil! Sini daerah rawan pr*stitusi. Bahaya!” Kata kakakku setengah berteriak. Aku masih terbengong, hingga kakakku mengulanginya lagi. “Dek, kok malah bengong! Ayo masuk mobil, bentar lagi selesai nih mesinnya.” Aku tersadar, tanpa menjawab aku masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus melamun. Aku sungguh tidak percaya, jika Emi, sahabat yang selama ini aku kenal ada seorang pelac*r. Bagaimana mungkin, apa maksudnya membohongiku selama ini. Aku tidak tahu pasti bagaimana perasaanku saat ini. Kecewa, marah, tapi juga sedih. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang taat, dimana aku selalu menjaga pergaulanku, bagaimana bisa aku bersahabat dengan seorang, “Ah… ” Pikiranku benar-benar kacau. “Dek, kamu kenapa sih kok diem aja? Biasanya cerewet, ngomel-ngomel.” Sahut kakakku karena melihatku terdiam. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil yang ku paksakan.

Sesampainya di rumah, aku tak dapat lagi membendung air mataku. Ku hampiri mamaku yang saat itu sedang membaca majalah di ruang tamu. Aku langsung memeluknya dan menangis. “Kamu kenapa Nak?” Tanya mama bingung. “Hiro, kamu apakan Adikmu?” Tanya mama kepada kakakku. “Nggak tahu tuh, tadi di mobil diem aja tiba-tiba.” Kakakku menjawab yang kemudian duduk di sofa. Aku masih menangis, mamaku mengelus kepalaku dan mencoba menenangkanku. Setelah ku rasa aku mampu berbicara, ku ceritakan semuanya meski terbata-bata.

“Ya udah Nak, berarti temen kamu Emi itu jelas bukan anak baik-baik. Sudah, jangan nangis lagi.” Kata mamaku sambil mengusap pipiku. Aku hanya mengangguk. Sejak malam itu, mama menyuruhku berganti nomor dan memutuskan kontak dengan Emi. Aku menyetujuinya begitu saja, aku benar-benar kacau malam itu. Tepat pukul 9.30 pesawat yang membawaku terbang selama 7 jam, tiba di negara kelahiranku, Jepang. Setelah menyelesaikan urusan administrasi, aku melanjutkan perjalanan menuju Tokyo menggunakan kereta dari Narita.

“Welcome to Tokyo!” Kataku dalam hati ketika kereta memasuki wilayah Tokyo. Aku bahagia sekali bisa kembali ke tanah kelahiranku dan sejenak melupakan lukaku malam itu. Setelah beberapa saat kereta berhenti di Shibuya Station. “Ya Tuhan, stasiun ini sudah banyak berubah. Atau mungkin aku yang terlalu lama tidak menginjakkan kaki di kota ini lagi. Hahaha..” Pikirku dalam hati. Setelah ke luar stasiun, dengan menenteng koper yang lumayan besar aku mencari seseorang. Lalu pandanganku tertuju ke suatu objek. “Waah, patung Hachiko!” Teriakku saat itu, yang membuat beberapa orang menoleh ke arahku. Aku tak peduli, sudah lama sekali sejak meninggalkan Jepang aku tidak melihat patung Hachiko lagi.

“Excuse me. Hana?” Suara seorang yang terdengar asing menyapaku yang sedang asyik memotret patung Hachiko. Aku menoleh. Aku terbengong sejenak, “Enna! It’s really you?” Aku terkejut mengetahui siapa orang yang menyapaku tadi. Ya, dia Enna, sahabat kecilku. Dia cantik sekali, meski kami saling berkomunikasi melalui media sosial, tetapi sudah lebih dari 7 tahun aku tidak berjumpa dengannya. Sekarang ia telah menjelma menjadi bidadari cantik dengan hijabnya.

Setelah meluapkan rasa rindu dan bercanda sejenak, Enna mengajakku singgah di hotel yang ia tinggali. Setelah beristirahat sesaat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi Tokyo. Aku benar-benar melupakan Emi, benar-benar lupa rasa kecewaku saat itu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan kota ini lagi. Ku jalani hari-hariku dengan biasa. Aku mulai bisa menerima teman-teman baruku di sini. Dan Enna, dia sudah kembali ke London dua minggu yang lalu.

Dua tahun begitu cepatnya berlalu. Ku jumpai lagi musim semi yang selalu ku nanti. Di sela-sela kesibukan kuliah, Intan, teman sekamarku memberiku sebuah novel.
“Han, nih kamu harus baca! Novelnya keren banget sumpah.” Kata Indah yang begitu meyakinkanku.
“Lihat sini!” Intan langsung memberikan Novel itu. Aku mulai membaca, “Ceritanya bagus. Tentang persahabatan ya Ntan?” Sahutku sembari asyik membaca.
“Iyaa Han, jangan sampai nangis ya bacanya. Hahahaha.” Goda Intan.
Lembar demi lembar ku baca. Aku seperti merasa tak asing dengan alur cerita ini.

“Hloh, kok. Bentar-bentar.” Gumanku dalam hati. Cerita dalam novel seperti membuka lagi kenangan beberapa tahun yang lalu. Aku berusaha mengingatnya, cerita ini seperti tidak asing bagiku. Ku buka lagi cover novel itu. Ku lihat nama pengarangnya. “Emita Nuryani.” ejaku. “Emi!” Aku tersentak, mungkinkah pengarang novel ini Emi? Seseorang yang selama ini telah aku lupakan. Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika ku temukan tulisan kecil di halaman terakhir novel yang berjudul “Kupu-Kupu yang Merindukan Sayapnya.” Seketika dadaku sesak, air mata mengalir begitu saja. Mulutku kelu, bahkan aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Aku diam dengan pikiranku yang kacau.

Sudah setengah jam, di bawah teriknya matahari aku mencari alamat seseorang. Akhirnya aku menemukannya setelah bertanya ke beberapa orang. “Permisi, apa ada orang di dalam.” Kataku sembari mengetok pintu. Tak lama kemudian keluarlah seorang wanita muda yang langsung membukakan pintu.
“Maaf, Anda siapa dan ada perlu apa?” Tanya perempuan itu.
“Eh, anu. Apakah anda yang bernama Ajeng? Editor dari novelnya Emita Nuryani?” Tanyaku.
“Oh, yayaya, kamu pasti Hana kan? Ayo silahkan masuk.” Aku heran mengapa ia langsung begitu yakin kalau aku Hana.
“Maaf mbak, saya dateng ke sini mau tanya tentang Emi, soalnya waktu saya menghubungi penerbit, saya disarankan untuk mendatangi mbak Ajeng. Mbak tahu Emi sekarang dimana?” Tanyaku tanpa berbasa-basi. “Tunggu bentar ya dek.” Jawabnya yang langsung meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dulu. Setelah menunggu beberapa saat ia kembali dengan membawa sebuah kotak.

“Jadi begini Han, sekitar tiga bulan yang lalu, Emi mengirimkan karyanya ke penerbit tempat mbak bekerja. Dan akhirnya ia lolos moderasi. Selama kurang lebih sebulan mbak menemaninya mengedit tulisannya itu. Dan saat itulah Emi menitipkan kotak ini untukmu.” Jelas mbak Ajeng. “Ohh, lalu sekarang Emi tinggal di mana mbak?” Tanyaku lagi setelah menerima kotak itu. Mbak Ajeng diam sejenak, ia tampak ragu memberitahuku.
“Maaf Han sebelumnya, Emi.. Emi sudah meninggal tepat sehari setelah novelnya rilis. Dia sakit, AIDS.” Aku terkejut mendengarnya, seperti ada sesuatu yang dengan cepat menusuk hatiku. “Kenapa? Kenapa? Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa aku baru sadar sekarang?” Pertanyaan itulah yang berputar-putar di benakku saat ini. Rasanya terlalu sakit untuk menangis.

“Hai Hana, sahabatku yang cantik, bagaimana kabarmu? Pasti baik-baik saja kan? Aku yakin, suatu saat kamu pasti akan membaca suratku ini. Maaf ya Han, aku berbohong padamu tentang status dan pekerjaanku. Dan kamu tidak perlu minta maaf, aku mengerti kalau kamu pasti marah dan kecewa sama aku. Ya, aku memang wanita kotor dan tidaklah pantas menjadi sahabatmu. Kamu tahu Han, kamu adalah orang pertama yang mau dekat denganku, mau menjadi sahabatku, meskipun aku harus berbohong.”

“Aku kangen banget sama kamu Han, sudah berkali-kali aku datang ke rumahmu tetapi yah, aku sadar aku siapa. Dua tahun terasa lama sekali, berharap aku dapat bertemu denganmu lagi. Hingga akhirnya aku mencoba menuliskan sesuatu agar kelak bisa kamu baca. Hana, di dalam kotak ini ada mainan masa kecilku, hanya itu yang aku punya dari kedua orangtuaku, hehehe kenang-kenangan yang buruk bukan? Rasanya banyak sekali yang ingin aku ungkapkan, tetapi aku pasti butuh banyak sekali kertas. Hana, aku sayang kamu, sahabatku yang cantik. Sukses jadi desainer yaa, salam rindu dari jauh. Emi.”

“Emiiii… maafkan aku! Maafkan aku!” Tangisku meledak setelah membaca surat itu. Aku menyesal, aku kecewa dengan diriku sendiri. Harusnya aku tahu, sakit dan kecewanya aku saat malam itu tidak lebih sakit dibandingkan apa yang Emi rasakan. “Kenapa sih, hidup harus ada yang seperti ini? Kenapa sih, aku harus merasa jijik dengannya, bukan! Aku jijik dengan pekerjaannya. Kenapa? Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa hidup seakan membuat seorang pelac*r itu adalah makhluk yang hina. Padahal, banyak dari mereka yang tidak menginginkannya? Kenapa?” Aku menangis sejadi-jadinya. Mbak Ajeng memeluk dan mencoba menenangkanku.

Dua minggu berlalu, aku sudah kembali ke Tokyo. Musim semi masih berlangsung. Indahnya bunga sakura yang berterbangan bersama angin membuat setiap pengunjung Ueno Park yang menikmati hanami, jatuh hati padanya. Cantik sekali, “Andai Emi di sini.” Gumamku dalam hati. Ia pasti akan menari-nari di antara bunga-bunga yang indah ini. “Selamat tidur sahabatku, selamat tidur di tempat yang lebih nyaman. Bagiku kamu adalah kupu-kupu musim semi yang cantik. Yang bisa memberi warna dan mengetuk hati setiap orang yang mengenalmu. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku sangat merindukanmu. Hana Yoshida. Japan, 10 April 2015.”

Cerpen Karangan: Rika Alif Firda
Blog: unnoyoine.wordpress.com
Hai, aku suka nulis, meskipun belum sempurna yang ingin berkenalan denganku bisa menghubungiku lewat email catatan.tanpa21[-at-]gmail.com atau follow igku @rikalifirda terima kasih.

Cerpen Kupu Kupu Musim Semi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

Kata Terakhirku Untuk Ibu

Oleh:
“Pergi kamu! kamu bukan anakku..” Seorang ibu berkata kasar pada seorang anak perempuan yang memiliki kekurangan pada fisiknya Yaitu fay. Faylina tasya atau lebih akrab dipanggil fay, adalah anak

Hingga Akhir Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kasihan Naaa Kak Ramly, aku melihat sendiri mukanya babbak belur dan darah mengucur deras di mulutnya.” “Liiin, sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tak akan mengungkitnya di hadapanmu.

Sahabatku Mencintai Pacarku

Oleh:
Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani.

Moncirroon (Part 1)

Oleh:
Ku berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berusaha mencari jalan lain yang bisa membuatku lebih cepat untuk sampai ke tempat tujuanku. Di sana di pertikungan jalan ada lorong kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *