Lagu Untuk Angin Yang Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 March 2017

Ruang kosong. Aku duduk di kursi besi yang panjang dengan memangku gitar kesayanganku. Di depanku ada meja kecil untuk meletakkan kopi hitamku. Ruang ini hanya berisi kursi, meja, ac yang menyejukkan ruangan, dan sebuah meja dandan dengan kaca yang besar. Kunikmati kopi hitamku sambil memainkan alunan gitar akustikku. Cuihh… aku tersentak karena yang kurasakan bukan manis lagi, yang terasa hanya pahitnya kampas kopi ini. Pahitnya membuatku teringat sesuatu, dia.

Tidak terasa aku sudah meninggalkan bangku SMA ku selama 2 bulan. Meninggalkan masa-masa yang indah, dengan skenario kehidupan yang mengukir kenangan. Kenangan yang pahit, kenangan yang manis, ataupun kenangan hambar yang tidak punya rasa. Kenangan selama 2 tahun SMA yang kulalui, kenangan dengan rasa apa ya? Apakah seperti manisnya permen ini? Ataukah seperti rasa roti hambar yang tidak punya rasa? Atau mungkin seperti kopi hitamku ini?

Kunikmati lagu band metal favoritku ini menggunakan headset. Volume yang kuat membuatku tidak bisa mendengar apapun dari luar. Lagu Sepultura ini memang paling pas kalau lagi jam istirahat, gumamku dalam hati. Tiba-tiba.. plakk!! Aku terkejut Biyu teman sekelasku memukul telingaku yang sedang memakai headset.
“Woi! Sakit, Tekk!”, gumamku dengan nada kesal
“Kau dipanggil Ibu Maini di tunggu di ruang guru”, perintah Biyu sambil tertawa kecil.
“Anying luu” ucapku sebagai rasa terima kasih. Aku pun keluar dari sarangku dan menuju ruang guru.

Hari yang cerah, hembusan angin kuat dengan awan yang tebal memadamkan panasnya matahari yang menyengat. Aku berjalan menuju ruang guru sambil menikmati pemandangan jam istirahat ini. Masyarakat sekolah terlihat menikmati jam istirahat ini untuk melepaskan penatnya belajar. Lapangan sekolah diisi para pemain sepak bola, kantin yang dipenuhi murid perut kosong, dan wc, jika masuk ke dalam akan terlihat para perok*k yang menikmati benda sumber penyakit. Sampai di depan kantor aku masuk dan menemui Ibu Maini.

“Ibu manggil saya?” tanyaku.
“Oh Nanda, Ibu nanti tidak masuk soalnya ada rapat, jadi kerjakan tugas halaman 79, jangan keluar dan jangan rebut” jawab Bu Maini
“Iya Bu terima kasih, saya permisi”
Aku pun segera keluar dari ruang guru dan menuju kelasku. Saat di koridor sekolah, aku berpapasan dengannya. Dia yang bisa disebut ‘mantan’, yang menjadi faktor pembuatan cerita fiksi ini, dia adalah Dia.
“Hey” sapanya sambil tersenyum.
“Hey” jawabku dengan membalas senyumannya. Hatiku tidak karuan, jantungku berdebar kencang. Angin lama yang pernah hinggap, masih terasa sejuknya. Hatiku bertanya, apakah dia masih merasakan hal yang sama?

Aku sampai di kelasku, pikiranku masih berisi hal yang baru saja terjadi di koridor sekolah. Semuanya menatapku dengan tatapan seperti berharahap sesuatu. Aku pun menyampaikan pesan tadi, sontak semuanya teriak senang. Aku kembali duduk di tempat dudukku di sebelah Biyu dan melanjutkan mendengarkan lagu ‘cadas’ dari Lamb of God. Belum lama duduk, aku merasakan kantung kemihku terisi penuh. Kenapa tidak dari tadi sih gumamku dalam hati. Aku pun keluar kelas menuju wc dengan raut wajah yang mengeluh.

Sampai di kelas dari wc, aku kembali duduk dan melihat Biyu sedang memainkan hp ku sambil memakai headset yang tersambung di dalam hp ku. Aku pun duduk di sebelahnya, aku membiarkan dia memakai hp ku tanpa berkata. Dia melepaskan headsetnya dan menatapku dengan raut wajah yang aneh, aku pun heran.
“Lagunya keren, Nan. Keliatan banget lagu ni untuk Dia”. Aku bingung apa maksud yang dikatakan Biyu. Aku pun paham maksudnya dan langsung merebut hp ku dari tangannya.
“Gak nyangka, Tek. 2 tahun aku duduk di sebelah kau, kirain cuman bisa main gitar ternyata juga bisa nyiptain lagu. Anjir lu keren” ucap Biyu dengan raut wajah yang masih terlihat aneh.
“Diam ah” jawabku cuek
“Aku gakkan diam kalau kau gak bagiin lagunya ke aku. Kalo kau gak ngasih bakalan aku bilang ke Dia kalau kau nyiptain lagu untuk dia” ucap Biyu dengan nada mengancam.
“Paan sih lo” ucapku dengan kesal. Akun pun memberikannya karena aku takut dia akan menceritakannya pada Dia.

Lagu tersebut memang aku ciptakan untuk Dia. Lagu yang aku ciptakan saat kami masih berhubungan, saat kami masih tertawa bersama, dan saat dia membuatku nyaman dengan perasaannya. Tapi lagu tersebut belum sempat aku nyanyikan untuknya. karena pada hari itu hubungan kami berakhir karena dia lebih memlih angin lamanya yang kembali lagi daripada aku. karena itu lagu tersebut tidak pernah lagi aku sentuh. Bahkan aku sempat lupa jika lagu tersebut masih aku simpan. Liriknya pun aku lupa. Sambil mengirim filenya ke Biyu, aku mencoba mendengarkan lagu yang diciptakan dengan ‘rasa’ itu.
Aku tidak menyangka aku bisa menyiptakan lagu yang begitu indah. Lagu yang dinyanyikan dengan penuh perasaaan ditambah suara merduku yang serak-serak basah, terdengar sangat indah. Aku sempat bertanya-tanya, sedalam inikah perasaanku padanya.

“Tek, jangan disebar lagunya”
“Kenapa, Nan? Kalo disebar kan mantap ni bro” tanya Biyu.
“Pokoknya janganlah, kau kan tau aku paling gak suka buat kontroversi”
“Oke deh broo” balas Biyu. Aku yakin dia tidak akan menyebarkannya. Bukan karena tanpa sebab, karena kami sangat akrab, dia adalah satu-satunya sahabatku.

Seminggu kemudian
Jam istirahat. Seperti hari-hari biasa aku mendengarkan music cadas setelah mengisi perutku ini. Sambil mendengarkan musik, melalui jendela kelasku, aku memandangi pemandangan sekolah favorit di kotaku ini. Sebenarnya, mataku lebih sering tertuju ke kelas ujung yang berada di sebelah kantin. Di situ adalah kelas Dia. Sudah 3 hari aku tidak melihatnya. Bermacam-macam pertanyaan muncul di benakku. Kemana dia? Apakah dia sedang sakit? Apakah dia sedang ke luar kota? Atau mungkin.. Ahh entahlah

Suasana kelasku yang seperti pasar, tiba-tiba diredamkan oleh seseorang yang berdiri di samping meja guru.
“Semuanya diam!!” teriak keras Biyu sambil memukul-mukul keras meja yang ada di sampingnya. Sontak semuanya terdiam dan mata tertuju padanya.
“Minta perhatiannya. Saya mau mengumumkan sebuah kabar, kabar baik dan kabar buruk” ucap Biyu. Semuanya heran, tidak seperti biasanya Biyu seperti ini. Biyu, anak yang tidak peduli dengan apapun yang terjadi di sekolah ini tiba-tiba membuat sejarah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya kami melihat ‘tukang tidur’ yang tidak punya niat sekolah ini berdiri di depan untuk mengumumkan sesuatu yang sepertinya sangat penting.
“Tapi.. kabar ini bukan untuk semua murid di kelas ini melainkan hanya untuk sahabat saya, Nanda” ucap Biyu sambil menunjukku yang sedang duduk di atas meja. Semua mata pun berganti arah menatapku. Aku pun terkejut dan sedikit kesal karena menurutku Biyu sedang membuat kontroversi yang melibatkanku. Dia sudah aku anggap sahabatku, dan dia pasti tau aku paling tidak suka dilibatkan dengan hal seperti ini.
“Kabar baiknya, Dia, cewek yang selama ini dipuja-puja oleh Nanda, pindah keluar kota meninggalkan Nanda hahahaa” ucap Biyu sambil tertawa keras. Sontak semuanya pun menyoraki dan menertawaiku. karena mereka tau aku masih sangat mengharapkan Dia dan mereka juga tau alasan aku sering memandangi ke kelas yang berada di samping kantin itu. Aku sangat marah, aku tidak menyangka satu-satunya orang yang aku anggap sahabatku mempermalukanku seperti ini. Aku segera turun dari meja dan meninggalkan kelas tanpa berkata-kata. Tapi aku distop oleh Biyu. Aku tetap berjalan keluar sambil menabrak badan Biyu yang menghalangiku. Tepat saat membuka pintu kelas,
“Nanda ditawari rekaman!” ucap Biyu dengan keras sambil tersenyum memandangku. Langkahku terhenti dan semuanya terdiam bingung termasuk aku.
“Nanda, sahabatku ini ditawari rekaman oleh agensi ternama dari Jakarta!” semuanya masih terdiam tanpa berkata-kata karena tidak percaya apa saja yang baru dikatakannya, termasuk juga aku. Aku mendekati Biyu,
“Apa-apaan ni, Yu? Kau jangan bercandalah aku lagi malas.” Tanya ku dengan nada kesal karena masih kecewa dengannya.
“Aku ngirim lagu kau kemarin ke teman tante aku, Nan. Dan hasilnya ini, kau ditawarin rekaman” jawab Biyu dengan girang
“Kau gak bercanda kan, Nj*ng??” tanyaku yang masih tidak percaya. Begitu juga dengan yang lainnya yang ingin melontarkan pertanyaan yang sama.
“Nggak, Pant*kkkk, kau bakalan jadi artis broo!!! hahahah” jawab Biyu sangat sambil girang sambil memelukku erat. Aku pun membalas pelukannya yang tersenyum tidak percaya yang baru saja dikatakannya. Begitu juga dengan semua teman sekelasku.

Kami pun tertawa bersama tanpa saling melepas pelukan kami. Sedangkan teman yang lain masih memandang kami heran.
Aku mendekati meja dandan yang berada di depanku. Aku berkaca melihat penampilanku. Menggunakan stelan ala cowok modis, aku merasa keren sekali. Tapi hal itu tidak membuat gugup yang kurasakan hilang. Jantungku masih berdebar kencang. Sudah secangkir kopi aku habiskan, tapi tetap saja aku masih gugup. Tiba-tiba seseorang membuka lebar pintu yang terbuka setengah itu.

“Waktunya beraksi broo” ucap Biyu dengan nada senang.
Kami berdua pun berdoa bersama-sama. Aku harus memberikan penampilan terbaik karena ini adalah penampilan pertamaku di dunia musik. Aku harus membuktikan kepada orang-orang yang tidak percaya dengan keputusan yang kami buat. Keputusan untuk fokus di dunia musik dan meninggalkan bangku sekolah.
“Gudlak broo!” ucap Biyu dengan semangatnya yang khas.

Aku hanya bisa tersenyum padanya. Aku berjalan menaiki anak tangga di belakang panggung. Terdengar banyak sekali suara orang. Aku bisa membayangkan sebanyak apa lautan manusia yang akan menyaksikan penampilan perdanaku ini. Itu baru yang menonton langsung, bagaimana dengan yang menonton melalui televisi. Jantungku semakin berdebar kencang, pikiranku pun bermacam-macam. Selangkah memasuki panggung aku berhenti, aku menenangkan pikiranku, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Hahhh! Kakiku refleks melangkah ke depan. Dan…

Selamat Malam Jakartaaaaaa!!!

Cerpen Karangan: Wandatrisky
Blog: wandatrisky.blospot.co.id

Cerpen Lagu Untuk Angin Yang Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Di Balik Buku

Oleh:
Aku Adelia biasa dipanggil Adel. Setelah dinyatakan lulus di SMP aku memutuskan untuk lanjut di SMA HEART CHOISE, sekolah terbaik di daerahku. Masa orientasi siswa, ini awal dari cerita

Langit Biru

Oleh:
Pertengahan semester ini aku pindah ke Jakarta bersama kedua orangtuaku. Karena nilai UN ku bagus, aku keterima di SMA Bani Bangsa, SMA swasta favorit di sini. “Silahkan perkenalkan dirimu!”

Tidak Tahu Diri

Oleh:
Nama gue Dinda. Gue punya pacar namanya Reno. Dia itu ganteng, walaupun gak ganteng-ganteng banget tapi udah ganteng banget di mata gue. Ya jadi, gue punya geng. Di geng

Riak dalam Dada

Oleh:
Aku terkadang melirik engkau dari kejauhan, memastikan apa yang sedang kau lakukan, apa yang sedang kau perbuat dan apa yang sedang kau lihat. Aku merasa diluar kebiasaanku ketika radarku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *