Lebih Berharga Dari Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 July 2016

“Diandra!” panggil Sofie sambil melambaikan tangannya. Dari kejauhan, nampak seorang gadis remaja seumurannya menoleh. Matanya tampak berbinar diterpa cahaya mentari pagi.
“Sofie! Bentar, ya!” jawabnya sambil berlari mendekat. Jarak keduanya semakin dekat.
“Dra, kita ke kelas bareng, yuk!” ajak Sofie sambil menggandeng tangan Diandra. Diandra hanya mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan seperti anak TK. Padahal usia mereka sudah 17 tahun.
Mereka berjalan dengan senyum merekah di wajah mereka. Sampai saat tiba-tiba seseorang menabrak Sofie hingga terjatuh. Kacamatanya terjatuh. Dia tidak bisa melihat apapun selain gambar buram.
“Eh, sorry, ya?” ucap seseorang. Sofie masih mencari-cari kacamatanya.
“Nih, kacamata kamu,” orang itu menyerahkan kacamata Sofie. Sofie memakainya dan langsung berdiri. Dia menatap cowok di depannya. Cowok di depannya tersenyum.
“Aku Gilang. Cowok pindahan dari Jakarta,” ucap cowok bernama Gilang itu sambil mengulurkan tangannya. Tangan kirinya memperbaiki kacamatanya.
“Sofie,” Sofie menyambut uluran tangan Gilang. Setelah agak lama berjabat tangan, Diandra melepas jabatan tangan mereka berdua.
“Diandra!” seru Diandra sambil mengulurkan tangan pada Gilang. Gilang membalas uluran tangan itu dan menyebutkan namanya. Dengan segera, dia lepaskan jabatan tangan itu.
“Sof, boleh minta nomer hp kamu?” tanya Gilang sambil mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Sofie hanya mengangguk lalu menyebutkan nomor ponselnya.
“Aku sekalian, ya?” tawar Diandra.
“Kaya’nya nggak usah deh,” jawab Gilang pelan-pelan, takut Diandra tersinggung. Diandra memasang raut masam.
“Eh, Sof, kamu tahu kelas 11 IPA-1 nggak?” tanya Gilang. Sofie hanya mengangguk lalu memberi aba-aba pada Gilang untuk mengikutinya. Gilang mengikutinya dan dengan segera menyejajarkan posisi berjalannya dengan Sofie. Diandra berjalan di belakang mereka berdua. Hatinya dongkol. Sesaat kemudian, dia sudah sampai di dalam kelasnya. Dia lihat Sofie dan Gilang sedang bercengkrama karena bangku mereka yang bersebelahan. Bunyi bel yang nyaring membuyarkan lamunan Diandra. Sesaat kemudian, guru pun masuk ke dalam kelasnya.

Hari demi hari berlalu. Sofie dan Gilang semakin dekat. Sementara Diandra semakin cemburu dengan kedekatan mereka berdua. Dia berfikir keras, bagaimana cara agar Gilang mau meliriknya.
Akhirnya dia temukan dua kelebihan miliknya. Dia cantik dan dia kaya. Gilang tak mungkin menolak cewek cantik seperti dirinya.
“Aku kan lebih cantik daripada Sofie. Meski aku nggak sebaik dan sepintar Sofie, tapi aku kaya dan cantik itu kan bisa jadi alasan Gilang pacaran sama aku,” gumam Diandra.

Dua bulan berlalu. Hubungan Sofie dengan Gilang semakin dekat. Hingga Gilang berfikir untuk menjadikan Sofie pacarnya. Dan hal itu pun terjadi.
Di koridor sekolah yang sepi, Sofie berjalan sendirian melalui laboratorium IPA. Sampai Gilang datang dan memecah keheningan.
“Sof, ada yang pingin aku bicarain sama kamu,” ucap Gilang lalu menatap mata Sofie.
“Apa?” tanya Sofie.
“Sof, kita kan udah lama deket, jadi…” Gilang menggantung ucapannya. Dia berhenti sebentar lalu menggenggam tangan Sofie di depan dadanya.
“Kamu mau nggak jadi pacar aku?” lanjut Gilang sambil menatap mata Sofie dalam-dalam. Sofie terkejut. Matanya melebar. Mulutnya menganga seakan tak percaya apa yang tadi baru didengarnya.
“Ka.. kamu..”
“Aku serius, Sof! Aku nggak main-main! Aku mau kamu jadi pacar aku. Aku jatuh cinta sama kamu, Sof! Aku cinta!” tegas Gilang sambil menunjuk dirinya. Sofie terdiam, berfikir. Sesaat, mereka ditemani keheningan.
“Lang, jujur. Sebenarnya, aku juga cinta sama kamu,” ucap Sofie yang menjadi jawaban atas pertanyaan Gilang. Mata Gilang melebar, berbinar. Dia tersenyum. Nampaklah lesung pipinya yang membuatnya tampak manis.
“Kamu serius kan, Sof? Kamu nggak bercanda, kan?” tanya Gilang. Sofie mengangguk meng-iyakan. Gilang spontanitas memeluk Sofie.
“Mulai sekarang, Sof, kamu jadi milik aku. Dan aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu,” lirih Gilang di telinga Sofie sambil mengelus lembut rambut Sofie.
“Aku juga, Lang. Nggak akan ninggalin kamu,” balas Sofie. Tiba-tiba, kepalanya terasa sakit. Dia memegang kepalanya. Dari hidungnya keluar darah.
“Kamu kenapa?” tanya Gilang setelah melepaskan pelukannya. Sofie hanya menggeleng. Tiba-tiba, tubuhnya ambruk. Namun, dengan sigap, Gilang menangkapnya.

“Bagaimana dok, kondisi anak saya?” tanya Tante Miranda, ibunda Sofie.
“Sebelumnya, saya harap ibu jangan terlalu tertekan. Anak ibu menderita Leukimia. Kanker darah,” jawab Dokter Agus dengan nada penyesalan. Tante Miranda terkejut. Air matanya langsung mengalir deras. Sedangkan Gilang berdiri terpaku menatap Sofie yang masih pingsan. Ini adalah kali kelima Sofie pingsan sejak mereka berpacaran.
“Nggak! Dokter bercanda, kan? Ini Cuma bohong, kan?!” wajah Gilang merah padam menahan amarah. Sedangkan dadanya sesak menahan tangis. Dokter Agus hanya terdiam menunduk.
“Dokter jawab! Ini Cuma bohong, kan?!” Gilang menarik leher jas Dokter Agus ke atas.
“Sabar, Gilang. Sabar!” Tante Miranda berusaha menenangkan Gilang. Namun Gilang terlanjur emosi.
“Maaf, Gilang. Namun, ini adalah kenyataan. Hasil laboratorium menyatakan bahwa…” ucapan Dokter Agus dipotong oleh Gilang.
“Kenyataan apa?! Kenyataan bahwa Sofie menderita penyakit mematikan?! Iya?! Itu yang dokter sebut kenyataan?! Hasil laboratorium apa?! Ini nggak ada gunanya!” Gilang semakin emosi. Emosinya meledak-ledak. Dan akhirnya, air mata yang berusaha dibendungnya menetes juga.
“Gilang,” panggil Sofie lemah. Gilang menoleh. Emosinya reda seketika.
“Aku menderita penyakit mematikan apa?” tanya Sofie berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
“Jawab Gilang. Apa?” Sofie memaksa Gilang. Dia lalu memakai kacamatanya yang ada di meja sebelah ranjangnya. Namun Gilang membisu, enggan menjawab. Jangankan. Untuk menatapanya saja dia tidak mampu.
“Bunda, aku sakit apa?” pertanyaan Sofie beralih ke bundanya. Namun bundanya juga sama. Hanya diam tak mau menjawab.
“Jawab, bun!” paksa Sofie. Air matanya mulai mengalir.
“Sofie sayang, Sofie nggak apa-apa, kok. Sofie nggak sakit,” ucap Tante Miranda lembut sambil mengelus lembut rambut Sofie, lalu memeluknya.
“Jawab, bun! Aku sakit apa?” paksa Sofie. Air matanya mengalir deras.
“Sofie yang sabar ya, nak? Sofie sakit Leukimia,” bisik Tante Miranda di telinga putrinya. Sofie terkejut. Tak mampu mengatakan apa-apa. Jari-jarinya menutup mulutnya.
Leukimia. Penyakit yang telah merenggut kakak terkasihnya. Dan sekarang, penyakit itu ditimpakan padanya.
“Bunda! Bunda!” Sofie menjerit. Tante Miranda melepaskan pelukannya. Gilang mendekati Sofie. Dibelainya rambut Sofie lembut. Lalu ditatapnya mata Sofie. Menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Kemudia, dipeluknya sang kekasih.
“Sof, kamu bisa. Kamu nggak boleh nangis. Kamu pasti bisa menerima kenyataan ini. Dan kamu harus yangkin kalo kamu bisa sembuh. Percaya, Sof. Aku akan selalu di samping kamu apapun yang terjadi. Aku sayang kamu, Sof,” dengan berlinang air mata, dan dengan isak tangis yang terdengar sangat jelas, Gilang berbisik pada Sofie.
Sofie masih tak terima. Hatinya berontak, menolak kenyataan ini. Dia masih menangis di pelukan Gilang.
“Sofie pasti kuat. Sofie nggak boleh berkecil hati,” ucap Tante Miranda pelan. Dielusnya rambut Sofie dari samping.
Sofie melepaskan pelukan Gilang lalu menatap bundanya.
“Tapi, bun, kakak…” ucap Sofie pelan. Suaranya bergetar.
“Allah sayang sama kakak. Makanya Allah memanggil kakak duluan, supanya Allah bisa deket sama kakak,” jawab Tante Miranda yang mampu membuat Sofie berhenti menangis.
Gilang menyeka air matanya. Juga air mata Sofie.
“Pokoknya, Sofie harus semangat! Harus optimis! Yakin bisa sembuh!” Gilang menyemangati. Sofie tersenyum. Lalu sekali lagi, Gilang memeluk Sofie.

“Sofie kemana, sih? Kok udah berhari-hari nggak masuk?” tanya Winda pada Diandra. Diandra melirik tajam pada Winda.
“Mana aku tahu! Emang aku ibunya?” jawab Diandra ketus.
“Tapi, kamu kan sahabatnya. Mustinya ngerti dong dia kenapa!” tegas Winda.
“Sekarang nggak lagi!” jawab Diandra kesal. Winda mengerutkan kening berusaha berkata ‘kenapa’.
“Dia udah ngerebut Gilang dari aku!” ucap Diandra kesal. Winda hendak menjawab, namun sosok yang dinantinya datang.
“Sofie, kamu kemana aja sih? Kok udah lama banget nggak masuk?” tanya Winda menghampiri Sofie di pintu bersama Gilang. Wajahnya terlihat agak pucat.
Gilang hendak menjawab. Namun dicegaholeh Sofie.
“Aku nggak apa-apa, kok. Cuma masuk angin biasa,” jawab Sofie kemudian tersenyum. Gilang menoleh pada Sofie. Sofie berbohong. Dia tahu itu. Tapi Sofie hanya menanggapinya dengan senyum.
Gilang menghela nafas. Tidak tega melihat orang yang dicintainya itu sekarang seperti itu.

Satu bulan setelah Sofie divonis dokter menderita Leukimia, keadaan Sofie semakin memburuk. Namun Sofie berusaha menutupinya dengan keceriaan dan senyumannya.
Di dalam kelas 11 IPA-1, sudah sepi. Tinggal Sofie, Diandra dan Gilang yang ada di sana. Sesaat kemudian, Gilang keluar dari kelas. Saat Sofie hendak keluar, Diandra menahannya.
“Sof, aku pengen bicara sama kamu,” ucap Diandra dingin. Sofie tersenyum lalu mengangguk lalu berusaha melepaskan cengkraman tangan Diandra.
“Cuma kita berdua,” Diandra memelankan laju bicaranya. Sekali lagi Sofie hanya tersenyum lalu mengangguk. Dia lepaskan genggaman tangan Diandra.
Sofie berjalan kearah pintu lalu menghampiri Gilang.
“Lang, kamu ke tempat parkir duluan, ya? Nanti aku nyusul,” ucap Sofie pada Gilang. Gilang hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Sofie.
Setelah yakin Gilang sudah pergi, Sofie kembali memasuki kelas.
“Sof, persahabatan kita, putus!” ucap Diandra dengan penuh amarah. Sofie terkejut. Matanya membulat besar.
“Kenapa?” tanya Sofie.
“Kamu udah ngerebut Gilang dari aku!” Sofie mengerutkan kening tanda tak mengerti.
“Maksud kamu?” Sofie masih tak mengerti.
“Kamu pacaran sama Gilang. Sedangkan kamu aja tahu kalo aku suka sama Gilang!” jawab Diandra semakin emosi.
“Ka.. kamu suka sama Gilang? Sejak kapan?” Sofie begitu terkejut. Tak menyangka bahwa sahabatnya menyukai pacarnya.
“Halah! Nggak usah pura-pura nggak tahu! Kamu sengaja, kan, nerima Gilang jadi pacar kamu supaya aku cemburu?!” wajah Diandra merah padam menahan amarah.
“Ce… cemburu apa? Aku nggak ngerti maksud kamu! Sama sekal nggak ngerti!” ucap Sofie meyakinkan Diandra.
“Sejak awal, aku udah suka sama Gilang. Tapi kamu ngerebut dia dari aku! Sebagai sahabat kamu harusnya peka!” amarah Diandra makin meluap.
Darah keluar lagi dari hidungnya untuk yang kesekian kalinya.
“Pokoknya, jangan pernah panggil aku sahabat lagi!” ucap Diandra lalu meninggalkan Sofie sendirian.
Pandangan Sofie berkunang-kunang. Lama-kelamaan, semua menjadi gelap. Tubuh Sofie ambruk ke lantai.

Sudah lebih dari setengah jam Gilang menunggu Sofie. Namun Sofie tak kunjung datang. Akhirnya dia putuskan untuk menyusul Sofie.
Sampai di kelas, dia terkejut melihat Sofie yang tergeletak di lantai dengan hidung yang terus mengeluarkan darah. Segera, dia keluarkan ponselnya lalu menelefon ibunda Sofie.

Dua hari sudah berlalu. Namun Sofie tak kunjung sadar dari pingsannya.
“Perkembangan kanker di tubuh Sofie sudah mencapai stadium akhir. Jika tidak segera dioperasi, akan membahayakan Sofie, bahkan nyawanya,” ucap Dokter Agus. Tante Miranda merenung sesaat. Gilang yang menguping di balik pintu terkejut. Kanker kekasihnya begitu membahayakan. Air matanya menetes.
‘Ya Allah, kenapa tak Kau timpakan saja penyakit itu padaku? Kenapa harus Sofie? Dia hanya gadis polos yang baik. Jangan ambil dia ya Allah. Aku belum siap untuk kehilangan dia,’ batin Gilang. Air matanya sudah tak terbendung lagi.
Gilang berjalan menuju ke ranjang tempat Sofie terbaring di rumah sakit. Dia genggam tangan Sofie lalu mencium kening Sofie.
“Sof, aku belum siap kehilangan kamu. Aku masih pingin sama kamu. Masih pingin mencintai kamu. Masih pingin menjaga kamu. Masih pingin berada di samping kamu,” Gilang terisak. Air matanya mengalir deras. Sesekali dia seka air matanya.
“Sof, kamu harus bertahan demi aku. Demi bunda. Aku sayang kamu, Sof. Bunda juga. Temen-temen juga. Semua sayang kamu, Sof. Semua,” ucap Gilang diselingi isak tangis. Dia membelai lembut rambut Sofie. Gilang menatap tangannya. Ada beberapa helai rambut Sofie yang rontok di tangannya. Dia sadar, rambut Sofie tak selebat dulu.
Perlahan, mata Sofie terbuka. Dia melihat Gilang yang menatap nanar dirinya.
“Gilang…” panggil Sofie lemah.
“Sofie? Kamu udah sadar? Bunda! Sofie sadar, Bunda! Sofie sadar!” teriak Gilang histeris. Segera, Tante Miranda berlari menuju ke ranjang Sofie. Sofie tersenyum. Ditatapnya bergantian Ibundanya dan kekasihnya. Sofie meraih tangan Gilang.
“Lang, aku mau, kita putus,” ucap Sofie kemudian tersenyum. Gilang tercengang.
“A… Apa?! Sof, kamu bercanda kan? Kamu nggak serius, kan? Atau, kamu belum sepenuhnya sadar?!” pertanyaan aneh yang terlontar dari mulut Gilang membuatnya tersenyum. Dia menggeleng lemah.
“Aku serius, Lang. Aku mau, kita putus,” ucap Sofie sekali lagi, meyakinkan Gilang bahwa yang saat ini didengar Gilang adalah nyata adanya. Gilang menggeleng.
“Ta.. Tapi, Sof…” Sofie menempelkan jari telunjuknya di bibir Gilang. Sofie pun menjelaskan kejadian dua hari lalu. Saat dia dan Diandra berada di dalam kelas sepulang sekolah.
“Jadi, aku pengen, kita putus. Dan kamu jadian sama Diandra,” jelas Sofie.
“Nggak, Sof! Aku Cuma cinta sama kamu! Bukan sama Diandra!” tegas Gilang. Sofie tersenyum. Dia genggam erat tangan Gilang.
“Lang, kamu harus bisa mencintai Diandra seperti kamu mencintai aku,” ucap Sofie lemah.
“Nggak bisa, Sof! Aku terlanjur cinta sama kamu! Nggak ada cinta yang sama!” tegas Gilang tetap pada pendiriannya.
“Gilang, kalo kamu mau mencintai Diandra seperti kamu mencintai aku, maka aku bakalan bahagia banget. Aku bakal ada di diri Diandra. Meski aku pergi, tapi kamu bakal bahagia sama Diandra. Anggap Diandra itu aku. Maka kamu pasti bisa mencintai dia sama kayak kamu mencintai aku,” jelas Sofie yang mampu membuat Gilang terdiam.
“Sofie, Sofie jangan ngomong gitu, dong. Sofie kan udah bilang, Sofie pasti bisa sembuh. Sofie nggak bakalan pergi. Sofie selalu ada di sini,” ucap Tante Miranda mengusap pelan pipi Sofie.
“Sofie, bentar, ya? Nanti aku balik lagi,” setelah berkata itu, Gilang meninggalkan Sofie di ruangannya.
Dia bergegas menuju ke tempat parkir Rumah Sakit. Dalam perjalannya menuju ke tempat parkir, dia merogoh saku celananya lalu mengambil ponselnya. Segera dia cari nama kontak yang sebenarnya, dia sangat enggan untuk menyimpan nomor itu.
“Halo, Dra? Temuin gue di taman kota sekarang juga. Gue tunggu 10 menit ato gue dateng ke rumah lo,” ucap Gilang, singkat dan tanpa membutuhkan jawaban dari Diandra.

“Dra,” panggil Gilang setelah melihat Diandra baru muncul setelah 15 menit dia menunggu. Gilang hampir saja akan pergi ke rumah Diandra saat itu juga. Namun, yang dinantinya sudah datang.
Diandra menoleh. Segera, dia mendatangi Gilang.
“Sorry, ya, Lang? Tadi di jalan…”
“Lo jahat ya, Dra! Tega lo ama Sofie!” sembur Gilang begitu saja yang tentunya membuat Diandra heran.
“Tega? Tega gimana?”
“Lo ancem Sofie supaya mutusin gue. Sedangkan gue harus jadian sama lo. Ya, kan?!”
“A.. Apa maksud kamu? A… Aku… Aku nggak ngerti maksud kamu!”
“Sofie sakit. Sedangkan lo ngejauhi dia. Itu yang namanya sahabat?”
“Tunggu. Sofie sakit? Sakit apa?” tanya Diandra.
“Jadi lo nggak tahu apa-apa?! Sofie kena Leukimia!” kata terakhir yang diucapkan Gilang membuatnya tercengang. Leukimia, penyakit yang telah merenggut kekasihnya. Dan kini, penyakit itu ditimpakan pada sahabatnya yang tak lain adalah adik dari kekasihnya. Jari-jarinya menutupi mulutnya yang menganga.
“Gilang, kamu… kamu bercanda, kan?” badan Diandra gemetaran.
“Gue nggak bercanda! dan gue nggak aka bercanda soal keselamatan bahkan nyawa Sofie!” jawab Gilang.
“Lang, bawa aku ketemu Sofie,” ucap Diandra yang disusul dengan anggukan dari Gilang.

“Sof,” panggil Diandra. Sofie menoleh. Dia tersenyum. Wajahnya pucat. Air mata Diandra menetes melihat keadaan Sofie. Dia berlari mendekati Sofie lalu memeluknya erat.
“Sof, aku… aku minta maaf. Aku salah paham sama kamu,” ucap Diandra terisak. Tangan kiri Sofie membelai rambut gelombang Diandra.
“Dra, aku udah maafin kamu, kok. Aku juga udah mutusin Gilang. Jadi, kamu bisa jadian sama Gilang,” ucap Sofie lalu tersenyum.
“Nggak Sof,! Aku nggak akan milih Gilang. Aku lebih milih kamu! Nggak ada yang bisa gantiin posisi kamu!” tegas Diandra. Sofie melepaskan pelukan Diandra.
“Dra, kamu tahu, apa yang lebih berharga dari pada cinta?” tanya Sofie. Diandra menggeleng pelan.
“Persahabatan, Dra. Buat apa kita pertahanin cinta kita buat Gilang kalo itu Cuma bikin persahabatan kita putus?” ucap Sofie lalu menyeka air mata Diandra.
“Jadi, apa kamu masih mau jadi sahabat aku lagi?” tanya Diandra. Sofie mengangguk lalu tersenyum.
“Makasih, Sof,” sekali lagi, Diandra memeluk Sofie.
“Maafin aku, Sof. Aku sayang sama kamu,” bisik Diandra.
“Aku.. juga.. sa..yang sama ka..mu, Dra..” balas Sofie lalu tertidur. Tertidur namun tidak untuk bangun kembali.
“Sof,” panggil Gilang sambil menepuk pundak Sofie. Tak ada jawaban. Diandra melepaskan pelukannya. Sofie terlihat dingin, kaku.
“Sof! Bangun, Sof!” panggil Gilang sambil mengguncangkan bahu Sofie. Diandra pun melakukan hal yang sama.
“Sofie, bangun, nak! Bangun!” teriak Tante Miranda. Diandra terduduk lemas di lantai. Tak berdaya. Dia tak percaya dengan segala yang dia lihat saat ini.
“Sofie!!!”

Mereka berdua menatap makam yang tanahnya masih merah. Ditemani keheningan. Hingga Gilang memecah keheningan.
“Dra,” panggil Gilang. Yang dipanggil menoleh. Dia menatap Gilang.
“Sebelum Sofie pergi, ada amanah yang Sofie titipin ke aku,” ucap Gilang. Gilang tak butuh pertanyaan balik dari Diandra.
“Sofie nyuruh aku buat jadian sama kamu,” ucap Gilang pelan. Nyaris tak terdengar. Diandra masih menatap Gilang.
“Dra, aku mohon,” ucapan Gilang digantung. Dia memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali. Dia menghela nafas panjang.
“Jadi pacar aku,” itu pertanyaan. Bukan pernyataan. Yang tentu saja membutuhkan jawaban dari yang ditanya.
Diandra terdiam. Dia menghela nafas. Lalu memejamkan mata. Ditariknya nafas dalam-dalam, seakan mengumpulkan keberanian. Dia membuka matanya. Lalu mengangguk pasti.
“Makasih, Dra,” lirih Gilang lalu memeluk Diandra.
‘Sof, aku akan belajar mencintai Diandra seperti aku mencintai kamu,’ pikiran Gilang melayang membayangkan Sofie sedang tersenyum di sana.

~END~

Cerpen Karangan: Fatimatuzzahra Purnama Putri
Facebook: Fatimatuzzahra Purnama Putri

Cerpen Lebih Berharga Dari Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miracle

Oleh:
Attha fina insani (attha) Ia adalah seorang pelajar yang kini sedang menyelesaikan study nya di high school miracle’s, ia bukan lah anak yang pandai, ibu nya telah lama meninggal

Cinta Suciku

Oleh:
Ini adalah kisahku yang mempercayai bahwa dia adalah CINTA SUCIKU yang akan kembali kepadaku. Aku senang bisa mendapatkannya kembali, karena kami sudah lama berpacaran dan hubungan kami kandas karena

Kini Tugasku Telah Selesai (Part 2)

Oleh:
Bruukk, aku terjatuh.. motorku menabrak polisi tidur yang ada di jalanan.. motorku terseret dan kaki tanganku luka.. beruntung ada banyak warga menolongku.. mereka membantuku untuk berdiri, aku langsung naik

Jomblo Bukan Kutukan

Oleh:
Cinta itu seperti perang, mudah dimulai namun sukar diakhiri. Begitulah kata pepatah yang pernah kubaca pada sebuah novel. Bagiku, pepatah tersebut memang benar adanya. Karena aku adalah seorang cewek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *