Lose

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 May 2015

“I hate to see you with your sunset, somehow. Don’t you know why? ‘cause you forget about the rainbow.”

Aku tidak percaya dengan namanya cinta pada pandangan pertama dan apapun itu. Mana mungkin ada seseorang yang jatuh cinta ketika pertama kali berjumpa? —maksudku, bukannya dia harus tahu bagaimana kepribadian dan segalanya dari orang yang ia sukai dulu sebelum dia jatuh cinta? Karena menurutku adalah hal bodoh untuk menyukai seseorang hanya dari bagaimana ia terlihat.
Tapi, Aidid mempercayainya. Dia percaya dengan love at the first sight —or whatever it’s called (like I care!)

Ketika itu, aku datang ke sebuah festival fotografi dengan pemuda itu. Awalnya, dia memang sangat antusias dengan berbagai potret yang diambil oleh kamera-kamera para fotografer profesional itu. Berputar-putar ke sana ke mari seperti adikku yang berumur 5 tahun ketika dia berada di toko mainan. Dia dan jiwa seninya memang tidak akan bisa dipisahkan. Jadi, yang aku lakukan saat itu cuma mengikuti langkahnya sambil diam-diam mengambil fotonya ketika dia terlalu asyik memandangi sebuah foto hingga tidak sadar bahwa aku mengambil gambarnya dari berbagai pose.

Aidid kemudian berhenti di salah satu foto sambil terdiam. Kedua tangannya ia masukkan ke kedua saku celananya yang —omong-omong berwarna Beige- aku masih berdiri di belakangnya. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang dia pasang di wajahnya ketika memandangi sebuah foto siluet perempuan berambut panjang dengan latar matahari terbenam. Aidid sudah terdiam cukup lama tanpa mengatakan apapun dan tidak berpindah ke foto yang lain. “Did?” aku melangkahkan kaki untuk melihat ekspresinya. Dengan nada yang pasti, pemuda itu mengatakan sesuatu yang paling konyol yang mungkin tidak akan aku lupakan.
“Lo lihat cewek di foto ini, Gi? I found her, she’s my sunset!”
Pemuda itu tiba-tiba saja membalikkan badan. Menunjukkan raut wajah yang sulit ku jelaskan, namun yang pasti, saat itu aku benar-benar melihat ada sinar di kedua matanya. Aku mengenal Aidid nyaris separuh usiaku, aku pernah melihatnya menangis meraung di pelukanku ketika mendiang Ibundanya meninggal.
Tapi demi Tuhan, aku baru pertama kali melihat obsidiannya memancarkan kebahagiaan sebesar ini.

Pelagi sebenarnya harus jauh dari kesan cengeng dan lemah. Karena itulah aku. Aku tidak boleh mengurung diri di rumah, membolos kuliah, dan menolak untuk bertemu dengan Aidid selama beberapa hari. Tapi sungguhan, nyeri di dadaku ketika aku melihatnya bertemu dengan ‘his-f*cking-sunset’ sehari setelah melihat festival fotografi itu membuatku bingung dan aku tidak tahu cara untuk mengatasinya. Aku tidak suka melihat pemuda itu tertawa-tawa dengan perempuan yang baru dikenalnya dari cara yang paling konyol yang pernah aku tahu.

Setelah melihat foto matahari terbenam itu, Aidid memaksaku untuk menemaninya bertanya kepada sang fotografer siapa perempuan yang ada dalam fotonya itu. Dan begitulah. Pak Hanbudi —sang fotografer, memberikan secarik kertas bertuliskan sederet nomor yang dibalas Aidid dengan banyak sekali ucapan terima kasih (aku serius anyway.)

Mereka berjanjian bertemu di suatu tempat dan aku memaksa ikut karena rasa penasaranku yang sok berani dan yang akhirnya membuatku uring-uringan pada Aidid itu mengambil kesadaranku.

Eh, omong-omong, aku mendengar ponselku bergetar.
Satu pesan dari Aidid yang bertanya padaku apa dia punya salah hingga aku ngambek dan menolak untuk bicara dengannya. Oh, ayolah. Aidid memang tidak mengetahui apapun soal ini. Akhirnya pesan singkat dari Aidid itu kubalas dengan singkat yang benar-benar singkat.
‘Lo nggak ada salah, dan gue nggak ngambek.’

Aku bukannya jatuh cinta pada Aidid. Bukan itu alasanku menjadi seperti ini. Aidid adalah sahabatku yang bahkan ku anggap seperti kakakku. Hanya saja, perempuan bernama Jingga atau siapapun itu sudah membuatku merasa kehilangan Aidid.

Aidid memberitahuku sebuah daftar-daftar tempat yang akan ia kunjungi bersama Jingga itu.
I hate to see you with your sunset, somehow. Don’t you know why? ‘cause you forget about the rainbow.

Cerpen Karangan: Hilda H.
Blog: Achicatlantis.wordpress.com

Cerpen Lose merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bagaikan Pelangi

Oleh:
Tulisan ‘Lovely Camp’ seakan menyambut kedatanganku pagi ini. Aku mengikuti ini karena bosan di rumah. Aku akan camping di sini selama 1 minggu. Kau tahu? Ayah dan Ibuku bekerja

Akhir Persahabatan

Oleh:
Namaku Lia, aku merupakan sosok yang gak bisa diam dan juga bawel. Aku bersekolah di SMP Negri 1 Banjarmasin. Aku memiliki satu sosok sahabat yang sangat-sangat aku cintai, namanya

Pesan Terakhir Melisa

Oleh:
“Dia datang sepagi ini, sungguh mengherankan” heranku saat melihat Melisa menyandarkan kepalanya di meja kelasku. Tidak seperti biasanya, dia selalu terlambat masuk kelas dan hukumanlah yang selalu diberikan pak

Surat Perahu untuk Canopus

Oleh:
Aku masih menggenggam tangannya yang begitu hangat. Mataku masih menatap tajam matanya. Deraian air mata menemani kebisuan kita. Aku tak tau harus berkata apa lagi untuk meyakinkanmu, bahwa aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *