Love and Letters

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 March 2015

Sehabis pulang sekolah biasanya aku mampir ke sebuah warung di dekat sekolahku. Warung tersebut tak terlalu besar, tapi menurutku sangat nyaman. Biasanya aku di sana bersama Edgar, sahabatku sejak di sekolah dasar dan Lusi, sahabatku yang kukenal sejak masuk SMA ini.
Edgar adalah tipe orang yang mudah bergaul. Sejak pertama aku mengenalkannya dengan Lusi, ia dan Lusi bisa dengan mudahnya akrab seperti sudah lama kenal. Tentu saja hal itu bertolak belakang denganku yang bisa dibilang sulit untuk beradaptasi.

“Apa? Kamu mendapat surat misterius lagi?” tanya Edgar kepadaku dengan nada yang terkejut.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan kembali meminum jus yang telah ku pesan. Memang, beberapa minggu ini aku mendapat surat misterius serta setangkai bunga mawar orens yang kutemukan di depan pintu rumah.
“Kali ini, isi suratnya apa?” Lusi nampak penasaran dengan surat misterius itu.
“Ya biasa deh. Inti kata-katanya gak terlalu berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Aku heran, kapan orang itu meletakkan surat tersebut di depan pintu rumahku.”
“Boleh ku baca?” Lusi kemudian mengambil surat yang sedang berada di tanganku dan kemudian segera membacanya.
Edgar yang sedang asyik melahap mie instan, kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Lusi yang sedang memegang surat dari pengirim misterius. “Lus, bisa tolong bacakan isi surat si pengaggum rahasia?”
“Oke.. oke. Akan aku bacakan.”

“Love isn’t like a math
sometimes it’s so difficult
but you don’t need any formula
You just need to be brave, believe, and faithful”

“That’s so sweet, Griz!” Lusi kemudian menyerahkan kembali surat itu kepadaku sambil tersenyum sendiri setelah membaca isi surat itu.
“Apanya yang manis? That’s awful, you know?.” Ucapku yang kemudian memasukkan kembali surat itu ke dalam tas.
“Di mana sisi awfulnya sih, Griz? Hari gini udah jarang banget yang kayak begitu. Orang romantis versi kayak gitu pasti udah kayak satu banding seribu. You’re lucky, girl.” Ucap Lusi sambil tersenyum lebar ke arahku.
“Zaman sekarang, kalau suka ya bilang langsung aja sih! Tembak secara langsung diringi lagu, bunga, atau apa kek yang keliatannya sweet. Menurut kacamata lelaki, si pengirim surat orang yang kayak gimana, Gar?” aku menepuk bahu Edgar yang sedang asyik melahap mie instan.
Edgar menghentikan suapannya dan kemudian memandang ke arahku dan Lusi. “Hem.. Gimana ya? Memang sih sudah jarang banget yang ngirim-ngirim surat kayak gini. Mungkin orang ini mau menyatakan sesuatu sama kamu, tapi dia gak berani. Biasa, menyatakan cinta itu gak semudah menamatkan game plants vs zombies.”
“Waduh, kayaknya Edgar lagi jatuh cinta ya?” goda Lusi yang berada di sebelahnya.
Aku tak pernah menyangka Lusi dan Edgar dengan mudah bisa akrab. Keakrabannya terkadang melebihi keakraban Edgar denganku. Padahal mereka baru bertemu sekitar satu setengah tahun yang lalu. Terkadang, aku berpikir bahwa seperti ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang mereka coba sembunyikan. Sesuatu yang aku belum tahu kepastiannya.
“Tidak, dan bila suatu saat “iya” aku takkan memberitahu dua troublemakers kayak kalian. Aku masih ingat bagaimana kalian hampir menghancurkan rencana saat aku akan menembak Elsa anak Ipa 1. Kalian hampir membuatku frustasi.”
Aku dan Lusi kemudian tertawa mendengar Edgar yang sedang flashback ketika ia ingin menembak Elsa sekitar setahun yang lalu. Memang saat itu, kami berdua ditunjuk sebagai tim sukses untuk membantu rencananya. Namun, bukan membuat berhasil, kami justru hampir menggagalkan rencana yang telah ia susun.
“Ya udah Gar. Emang kamu ditakdirin untuk Jomblo. Elsa kan ternyata udah punya pacar di Malaysia.” Ujarku dengan nada yang sedikit meledek Edgar.
“Ya udah back to topic. Kembali ke si pengaggum rahasiamu itu, Griz.” Ucap Edgar seperti mengalihkan pembicaraan agar tidak membicarakan hal-hal tentang dirinya.

Tiga hari kemudian,
Pengirim surat misterius itu kembali mengirimkan surat yang berisikan tentang curahan perasaannya. Entah apa yang harus ku rasakan. Senang bahwa aku memiliki seorang penggagum yang senantiasa memperhatikanku atau kesal karena merasa hidupku terganggu.
Aku membicarakan hal ini kepada Edgar. Aku harap dia tahu apa maksud sebenarnya dari pengirim surat misterius ini. Namun kali ini aku harus menelan kekecewaan. Nampaknya, Edgar kurang mempedulikan si pengirim surat tersebut. Dari jawaban-jawaban yang ia lontarkan, bisa kusimpulkan dia menganggap santai tentang surat-surat yang sering dikirim oleh pengirim surat.
Akhirnya aku menelpon Lusi untuk sekadar mengadu akan kejenuhanku menghadapi si pengirim surat misterius itu. Kedengarannya aku sedikit berlebihan, namun Lusi dapat memaklumi. Setelah hampir tiga puluh menit aku berbincang dengannya, dia pun menyarankanku agar aku membalas surat dari si pengirim surat.
“Hah! Balas suratnya? Aku sama sekali gak tahu siapa pengirimnya Lus. Lantas bagaimana bisa aku membalas surat tersebut? Tanyaku pada Lusi melalui telepon.
“Dia mengirim surat tersebut melalui apa? Meletakkan begitu saja di depan pintu rumahmu, bukan? Ya sudah, lakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan?”
“Meletakkan surat balasanku di depan pintu rumahnya? Aku kan tidak pernah mengenalnya Lus.”
“Hih Griza!” Terdengar suara Lusi yang nampaknya cukup kesal ketika mendengar jawabanku. “Jika dia berkali-kali meletakkan surat, itu artinya dia akan meletakkan kembali surat untukmu. Ya sudah, letakkan saja surat balasanmu di depan pintu rumahmu. Jadi, saat dia meletakkan surat yang baru, dia akan menemukan suratmu.”
Ide yang terdengar cukup bagus. Apabila pengirim surat misterius itu meletakkan surat yang baru, tentu dia akan menemukan surat balasan dariku. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil secarik kertas dan juga pulpen yang berada di atas meja belajarku, lalu menuliskan surat balasan yang kuharap akan ditemukan oleh pengirim misterius itu. Kemudian kuletakkan di tempat pengirim tersebut meletakkan suratnya.

Dear Mr/Ms. No Name
Terimakasih telah meluangkan waktumu untuk menuliskan beberapa surat untukku. Terimakasih juga untuk beberapa bunga yang telah kau kirimkan. Namun, tidakkah perbuatan itu meletihkanmu? Jujur saja, aku jenuh. Aku jenuh harus menemukan suratmu, membukanya dan sesekali membacanya. Surat dari orang yang tak pernah kuketahui siapa pengirimnya. Bukankah itu sungguh membuang waktu?
From : Griza Cantika

Sudah beberapa hari sejak kuletakkan surat balasanku, aku tidak pernah mendapat surat dari si pengirim misterius. Aku rasa ide Lusi untuk kali ini berhasil. Namun, rasanya sedikit aneh. Jika biasanya hampir setiap hari kutemukan surat di depan pintu rumahku, untuk beberapa hari ini aku tak menemakannya.
Aku tak percaya. Ini seperti telah menjadi kebiasaan dan rutinitasku. Menemukan surat dan kemudian membacanya, terkadang memaki si pengirim yang tak pernah kuketahui identitasnya. Hal bodoh seperti itu bisa kurindukan.

Sudah tepat seminggu aku membalas surat dan seperti yang ku bilang sebelumnya, si pengirim misterius sepertinya enggan membalas suratku. Lusi dan Edgar nampaknya lega karena setelah beberapa pekan aku selalu membahas tentang surat misterius tersebut, kini sudah tidak.

Sabtu selalu memiliki pagi yang indah menurutku. Entah cuaca panas atau hujan, di sabtu pagi aku bisa melanjutkan tidurku kembali. Namun kali ini aku sudah berjanji menemani Ibu untuk jogging mengelilingi komplek yang masih sepi. Setelah membuka pintu, aku melirik ke suatu sudut tempat di mana biasanya surat misterisu diletakkan. Masih seperti kemarin, tak ada di sudut itu. Namun kualihkan kembali pandanganku. Sebuah kertas bewarna cokelat nampaknya mengundang perhatianku.
Aku segera menghampiri dan mengambil kertas yang bewarna cokelat tersebut dan kemudian membaca kata-kata yang tertulis di dalamnya.

“Pertama, kuucapkan “sama-sama” atas ucapan terimakasihmu untuk bunga yang telah aku berikan. Kedua, Maaf telah mengganggu harimu. Terkadang ada rasa yang sulit diungkapkan namun rasa tersebut selalu meluap dan rasanya ingin terus meluap hingga tak ada lagi cara yang bisa kulakukan. Pasti kau mengerti apa yang aku maksud. Jika kau letih dengan caraku ini, bagaimana jika kita bertemu? Sore ini aku tunggu kamu di taman. Btw, aku suka panggilan darimu. “Mr. No Name”. Terdengar bagus, bukan?”
-Mr. “No Name”

Aku masih berdiri di depan pintu hingga akhirrnya suara sapaan Ibu membuatku kembali sadar dari lamunanku. Aku segera memasukkan kertas cokelat tersebut ke dalam saku celana trainningku.

Sepanjang jalan komplek, aku masih sibuk dengan lamunanku tentang pengirim misterius itu. Dia ingin menemuiku. Bukankan dari awal memang aku yang menantangnya agar ia menampakkan jati dirinya? tapi kenapa saat dia menerima tawaranku, justru aku yang takut. Aku rasa, aku harus memberitahu Lusi dan Edgar agar mereka bisa menemaniku. Tidak. Aku rasa Lusi saja cukup. Mungkin jika aku mengajak Edgar, dia hanya akan menjadi pengacau.

Sepulang jogging, aku meminta Lusi untuk mengunjungi rumahku. Namun, kali ini dia menolak tawaranku padahal aku sudah coba untuk membujuknya dengan kue brownies buatan ibuku. Sepertinya Lusi saat ini sedang sibuk di rumahnya.
“Apa? Jadi si pengirim surat rahasia itu mengajakmu untuk bertemu sore ini?” nampaknya Lusi cukup kaget ketika mendengar aku membacakan surat balasan pria tersebut.
Aku hanya mengangguk saat ia bertanya. “Kamu mau temenin aku? Aku gak tahu, tapi rasanya aku kok takut ya? Bagaimana jika aku batalkan saja?”
“Duh, jangan dibatalkan gitu saja dong. Dia saja sudah mau menunjukkan jati dirinya. Ini kesempatanmu. Kalo orangnya menyeramkan, kamu kabur saja.”
Walau Lusi tak bisa melihatku, sekali lagi aku menganggukkan kepalaku. Ada rasa takut bercampur dengan rasa penasaran yang berkecamuk di hatiku. “Ya sudah aku akan bertemu dengannya. Tapi kamu temenin aku ya?”
“Aku sih mau banget. Apalagi aku juga penasaran sama pria itu. Tapi hari ini sepupuku berulang tahun, jadi siang nanti aku harus pergi ke Bogor. Kenapa kamu gak coba hubungi Edgar? Siapa tahu aja dia bisa.”
“Edgar? Aku sih juga berpikir akan mengajaknya. Tapi kenapa aku gak yakin ya Lus? Aku takut nanti dia akan membuat kekacauan.”
Terdengar suara Lusi yang berdeham dan sepertinya sedang menimbang-nimbang apa yang ia akan katakan. “Ya, kamu berdoa aja semoga kali ini Edgar tidak membuat kekacauan. Aku yakin dia orang yang flexible. Kamu sudah mengenal dia lebih lama daripada aku, pasti kamu tahu Edgar yang sebenarnya.”
“Oke jika kamu berpikir seperti itu. aku akan menelponnya. Bye Lusi.” Aku pun mengakhiri panggilan dan menutup telepon kemudian segera menekan nomor Edgar. Aku merasa akhir-akhir ini Lusi seperti sudah sangat mengenal Edgar dibandingkanku. Padahal, akulah yang lebih lama mengenal Edgar ketimbang Lusi.

Beberapa detik setelah nada sambug berbunyi, kemudian terdengar suara di ujung telepon. “Halo”.
“Gar, I wanna ask you something.”
“Iya ada apa Griz?”
Aku mengambil napas sejenak untuk bersiap-siap mengatakan sesuatu yang kuharap Edgar tidak menganggapnya sebagai lelucon. “Bisa temenin aku nanti sore?”.
Edgar terdiam sejenak. Aku harap ia bisa menemaniku. Setelah Lusi, ia harapanku satu-satunya untuk menemaniku sore ini.
“Emmm, gimana ya Griz? Sore ini, Mamaku memintaku untuk mengantarnya ke acara pembukaan salon temannya.”
“What? Salon? Acara itu pasti bakal nge-betein Gar. Mending kamu ikut aku aja.” Pintaku yang coba membujuk Edgar agar bersedia menemaniku.
“Emang mau ngapain sih? kayaknya acara penting ya?”
“Emmm… Gak terlalu penting sih. tapi, please temenin aku dong Gar! Setelah kamu nganter mamamu, kamu bisa menemaniku, kan?” bujukku yang sedikit memaksa kepada Edgar.
“Yah gimana ya Griz? Mamaku minta aku buat stay di sana. Takut-takut ada sesuatu yang perlu aku bantu. Aku juga melakukan ini demi uang jajan yang dijanjikan mama akan dinaikkan.”
“Huh, dasar cowok matrealistis!”
Dari ujung telepon hanya terdengar suara tertawa yang sepertinya tak mempedulikanku yang sedang berusaha membujuk dengan sedikit memaksa. “Hahaha. Masa wanita aja sih yang boleh matrealistis.”
Setelah mengetahui kesimpulan Edgar yang tetap tak bisa menemaniku, akhirnya aku menutup telepon dan berpikir untuk tetap datang atau justru membatalkan pertemuan nanti.

Di Taman, 17:00 sore
Setelah mempertimbangkan keputusanku selama setengah hari, akhirnya aku memutuskan untuk ke taman, menemui orang yang sering mengirimiku surat. Datang seorang diri untuk menemui seseorang yang tak ku kenal. Aku tak tahu ini keputusan yang benar atau keliru.

Sesampainya di taman yang cukup ramai pada sore itu, aku mengalihkan pandanganku ke sudut-sudut taman. Aku rasa aku telah membuat keputusan yang keliru kali ini. Aku bahkan tidak mengetahui ciri-ciri si pengirim surat. Bagaimana bisa aku mengetahui bahwa dia datang dan berada di taman.

Aku rasa aku harus kembali ke rumah. Ini tindakan bodoh. Sebelum pulang, aku duduk di bangku yang berada di salah satu sudut taman yang sepi dibandingkan sudut taman yang lain. What is that? Aku melihat sebuah boneka Teddy Bear dengan sebuah surat di ujung bangku yang kududuki. Aku rasa ini milik salah satu pengunjung taman.

Sebelum aku ingin menyerahkan ke petugas taman, dengan cermat aku perhatikan boneka dan surat yang tersangkut di pita leher boneka tersebut. “To: Griza Cantika”. Setelah membaca tulisan tersebut, aku mengernyitkan alis. Kemudian aku membuka surat yang aku rasa diperuntukkan untukku.

To : Griza Cantika
Would you mind bringing Mr. Teddy to the fountain?

Setelah membaca isi surat yang terlihat seperti petunjuk, tanpa pikir panjang aku segera menuju ke air mancur yang ada di taman. Kali ini aku rasa aku telah benar-benar dibutakan oleh rasa penasaranku. Kakiku melangkah begitu saja walau sepertinya belum aku perintahkan untuk melangkah.

Dengan langkah kaki yang kurasa lebih cepat dari biasanya, aku pun sampai di sebuah air mancur di taman yang sudah dikelilingi balon-balon dengan warna pastel. Aku memalingkan pandangan ke sekelilingku. Nampaknya tak ada seseorang yang sedang menungguku.

Aku menemukan secarik kertas yang diikat dengan setangkai bunga mawar. Aku rasa itu petunjuk selanjutnya. Kemudian, aku membuka dan membaca isi kertas tersebut yang ternyata bertuliskan “Please, press the chest of Mr. Teddy!”

Setelah membaca kata perintah itu, tanpa pikir panjang aku segera menekan bagian dari dada boneka teddy bear itu dan terdengar rekaman suara seorang lelaki yang menyanyi diiringi dengan gitar.

“Have i told you lately that i love you?
Have i told you there’s no one else above you?
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my trouble that’s what you do…”

Suara itu. Suara lelaki yang menyayikan lagu have i told you lately dari Rob Stewart itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Mungkinkah dia orangnya? Oh Tuhan, ini pasti keliru.

Di sela-sela kebingunganku, aku menangkap ada sebuah bayangan dari belakang pohon. Bayangan yang kian mendekat diiringi langkah kaki yang terdengar semakin dekat seakan membuat jantungku ikut berdegup sangat cepat. Apa itu si pengirim surat misterius? Apa dia adalah… entahlah, aku hanya bisa menerka-nerka sedangkan kakiku semakin kaku saat bayangan itu terus maju menghampiriku.
Sosok yang semakin mendekat kini berdiri di hadapanku. Matanya menatap ke arahku yang berdiri mematung dengan degup jantung yang kencang. Edgar! Oh My God! Is He Edgar?

“Kamu tahu bukan, bahwa aku gak terlalu bisa nyanyi? Jadi sedikit deh yang aku rekam.” Ucapnya sambil tersenyum simpul. Edgar seakan menjawab salah satu pertanyaan yang belum aku lontarkan kepadanya.
“Maaf, kalau selama ini aku udah buang-buang waktu kamu. But, aku gak pernah tahu cara untuk ngungkapinnya. Aku selalu dihinggapi rasa takut yang berlebihan. Rasa takut yang mengalahkan segala rasa yang selama ini aku simpan. Terserah kamu mau nganggep aku pengecut, gak gentleman, atau apalah istilahnya.”
Belum sempat aku membuka mulut, Edgar kemudian melanjutkan kalimatnya yang sepertinya terpotong karena napasnya yang aku rasa sedikit tak beraturan. Dingin. Entah mengapa sore yang hangat ini terasa begitu dingin bagiku.
“Tapi semenjak Lusi tahu semuanya, dia justru marahin aku. Dia jengkel dengan semua caraku. Cara yang aku kira bisa memudahkan jalanku, namun ternyata membuatmu geram.”
“Aku gak ngerti sama apa yang kamu maksud Gar! Kamu dan Lusi? Apa yang sudah Lusi tahu tentang kamu, tapi aku gak tahu? Apa Lusi tahu tentang kamu lebih dari aku?” aku berbicara dengan nada yang sedikit membentak. Seolah kalimatnya tentang Lusi membuat darahku naik. Wanita itu, Sahabatku lebih tahu tentang Edgar dibanding aku.
“Iya. Lusi tahu sesuatu hal tentang aku yang gak kamu tahu.” Edgar menjawab singkat.
Lantas, aku menengadah menatap wajah lelaki yang lebih tinggi dariku itu. menatap matanya dengan wajah heranku yang penuh dengan beragam pertanyaan yang ingin kulontarkan. “Apa?” tanyaku singkat.
“Lusi tahu kalau aku..” Edgar berusaha mengatur napasnya yang sedikit tertahan lalu berusaha membuka kembali mulutnya yang sempat tertutup. “Kalau aku… cinta kamu.” Edgar tertawa kecil sambil menunduk, memalingkan tatapannya dari mataku. “Ya, aku cinta kamu. Ini gila bukan? Sudah hampir sembilan tahun kita bersahabat, dan aku justru menjatuhkan hati padamu.”
“Iya ini Gila!!!”
Lalu, ia menggengam sebelah tanganku yang tidak memegang apapun sambil kemudian ia berkata “Aku cinta kamu. Bukan seperti cinta seorang sahabat kepada sahabatnya, bukan seperti cinta seorang kakak kepada adik perempuannya, atau seorang teman kecil kepada teman yang selalu ada untuknya. Tapi seperti cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan yang ia cintai. Dan, maaf aku gak pernah tahu cara yang tepat untuk ngungkapin ini semua.”
“Griz, Would you like to be mine?”
“Gar! You know, this is so crazy!!! But, you have to know that… that i wanna be yours.” Aku tersenyum sambil menatap mata lelaki yang sedari tadi lebih dulu menatapku dengan tatapan yang dalam.
Kemudian Edgar tersenyum. Lalu ia memelukku dengan erat. Sangat erat. Dan aku tenggelam dalam pelukannya yang erat itu. ini bukan pelukan pertama yang terjadi di antara kami. Namun ini pelukan pertama yang menurutku sungguh hangat dan sangat nyaman. Sebuah pelukan erat namun membuat napasku menjadi lega. Selega ketika kau terbang di antara burung-burung dan awan-awan di langit yang berlomba satu sama lain.
“Caramu konyol Gar! Norak! Tapi aku suka.” Bisikku kepada Edgar yang masih memelukku dengan erat.
Kemudian Edgar melepaskan pelukan yang mampu membuatku merasa sangat nyaman itu. “Kita harus segera menghubungi Lusi. Dia sangat berjasa untuk ini. Dia yang mengajariku cara untuk bisa mengalahkan rasa takutku untuk mengungkapkan semua ini. Aku juga sudah berjanji untuk meneraktirnya jika ini semua berhasil.”
Aku hanya tersenyum sambil menggengam tangan Edgar, dan tanganku yang lainnya memegang teddy bear dan bunga. “Iya. Aku setuju.”
Edgar kembali memelukku dengan pelukan yang nyaman itu. Kemudian aku mendengar bisikkan lembut keluar dari mulutnya. “I love you, Griz. And i don’t wanna lose you.”
Aku yang masih tenggelam di dalam pelukannya hanya mampu tersenyum dan berkata “I love you, too. And you’ll never lose me.”

Senja seakan menjadi saksi atas segala yang sudah terjadi di antara kami. Aku dan Edgar. Aku gak pernah nyangka Edgar akan memiliki rasa yang sama seperti yang kurasa. Rasa yang sebelumnya kuanggap konyol ketika ia hadir, namun rasa yang tak bisa kami kontrol. Mengalir begitu saja. Mengalir lembut bagai rintik hujan yang dengan pasrahnya jatuh ke tanah dan mengalir ke hulu sungai hingga akhirnya bermuara di laut.

Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah1995.blogspot.com
Facebook: www.facebook.com/ziahnuraisyah
Follow my twitter: @ZiahNurAisyah
Sumber gambar dari google.com

Cerpen Love and Letters merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pole In Love (Tiang Cinta)

Oleh:
Matahari mulai meninggi dengan sendirinya, Udara yang tadi hangat kini mulai perlahan panas, semerbak wewangian yang tak asing di hidungku terus menyengat. Ya, wewangian ini memang parfum alami dari

Best Friend Forever

Oleh:
Pertama kalinya bagi aku dan sahabat-sahabat ku berpisah setelah menerima surat kelulusan dari sekolah, aku, Lyta, Mely dan Ari kita bersama-sama sejak SD, jalani suka duka bersama. tapi, tidak

Dejavu

Oleh:
Sungguh. Mungkin aku adalah satu-satunya anak di negara bagian ini yang membenci hujan. Aroma rumput yang diterpa hujan seolah menjadi latar belakang kenanganku yang kini tervisualisasi dalam butir hujan.

Cukup Kamu Jujur

Oleh:
Usai bermain fun game di kawasan bermain mall, aku dan fitri melangkah ke luar dari kawasan itu dan menjelajah gerai makanan yang berderet di sepanjang lantai dua. Dengan bergandeng

Antara Masalah Dan Kebersamaan

Oleh:
Hidup… Selalu saja ada masalah dan rintangan yang biasanya menghalangi kita untuk berbuat sesuatu. Terkadang masalah datang silih berganti. Dan jika masalah telah datang, kita tidak bisa menunda masalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Love and Letters”

  1. Uliana says:

    So sweet

  2. Dinda says:

    So romantic 😉

  3. Ziah says:

    Uliaba & Dinda: terimakasih sudah meluangkan waktu 🙂

  4. Luluk safitri says:

    Ahh so sweettt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *