Love Hurt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 January 2018

Hujan. Air bening itu turun dari awan yang pekat. Membasahi seluruh bumi. Menemani gadis itu yang termenung di dalam kamar. Sebuah headset putih tergantung manis di kedua telinganya. Matanya mengikuti pergerakan titik-titik air yang jatuh dari balik kaca jendela. Berkali-kali Ia menghembuskan napasnya pelan. Namun, rasa sesak itu tak pernah hilang. Rasa itu selalu muncul dan selalu menghimpit dadanya. Seakan mendesak pertahanannya agar semua luruh dan terjatuh sia-sia.

“Gue gak boleh gini terus” katanya lesu. Ia menutup matanya sejenak, menikmati dan menghayati setiap lirik lagu yang didengarkan.
“Loe pasti bisa, Sha”

Hai.. selamat bertemu lagi
Aku sudah lama, menghindarimu
Sialku lah, kau ada di sini…

Dengan langkah yang sedikit gontai, Ia masuk ke dalam kelasnya. Kini Ia sudah menyandang predikat sebagai anak kelas 3 SMP. Yup! Itu berarti, Ujian Nasional sudah menunggu di depan mata. Karena itu, Ia harus menyiapkan diri sebaik mungkin. Ia bertekad akan meraih nilai yang semaksimal mungkin.

“Hai, Sha!” sapa Vio, teman sebangku Vesha.
“Hai, Vi. Sekarang enggak ada PR kan?” Vio mengangguk dengan riang. Vesha memandang sahabatnya bingung.

“Kenapa loe seneng banget sih?!”
“Gue punya hot news! Dan gue yakin, kalau loe denger berita ini, loe bakal jingkrak-jingkrak kegirangan!” kata Vio dengan senyum lebarnya.
“Apaan emangnya? Justin Bieber pindah ke sekolah kita?” tanya Vesha bergurau.
“Ahh.. itu mah lewat!! Ini lebih hot dari yang terhot!” Vesha tertawa kecil melihat keantusiasan sahabatnya itu.

“Jangan ketawa, Sha! kalau loe tahu, loe pasti langsung diem dan senyum-senyum gak jelas! Gue yakin 1000 persen!”
“Dih.. yakin banget loe Vi. Emang apaan?” kata Vesha penasaran.
“Loe tahu gak…”
“Enggak! Kan loe belum ngasih tahu” sahut Vesha langsung sebelum Vio menyelesaikan perkataannya.

“Vesha!!!!! Loe dengerin gue dulu, jangan dipotong omongan gue!” Vesha hanya bisa menunjukkan sederet giginya yang putih nan rapi.
“Ya terus, kenapa? Cepetan deh.. udah mau jam olah raga nih”
“Oh iya, entar aja deh. Loe pasti tahu sendiri dari apa yang gue maksud tadi” kata Vio sembari menunjukan senyum yang amat misterius di mata Vesha.

“Sok misterius loe!”
“Udah! Sekarang, kita capsus ke lapangan!”

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya, tak ingin bernapas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuk jantung ini, melawan cinta yang ada di hati

Mata gadis itu terpaku pada satu titik. Bukan senyum manis yang terukir di wajahnya kini. Ke mana senyum itu? Biasanya, senyum itu selalu muncul setiap gadis itu melihatnya. Tapi, kali ini tidak. Senyuman memiriskan itu yang muncul dari paras cantiknya. Tidak ingin membuat dadanya semakin terhimpit.

“Sha, kenapa?” tanya Vio pelan.
“Gue gak apa-apa kok”
“Eng.. sebenarnya, tadi gue mau bilang kalo..”
“Kalo dia olahraga bareng sama kelas kita, iya kan?” tebak Vesha tepat pada sasaran.

“Sha…”
“Udahlah, Vi. Gue baik-baik aja” kata Vesha meyakinkan sahabatnya itu.
“Loe gak senang ya?” tanya Vio lagi. Gadis itu tahu perubahan ekspresi dari sahabatnya. Ia tahu kalau sahabatnya itu sedang menahan sesuatu.
“Senang? Untuk apa? Gak ada yang perlu gue banggain” Vesha melangkah mendekat kearah kelompok barisan kelasnya. Tepat disampingnya, berdiri seorang pemuda yang sedang menatapnya sejenak. Sedetik kemudian, tatapan itu beralih.

“Sha… Sha” bisik Vio sembari menyenggol tangan Vesha.
“Apa sih?”
“Itu… eng.. itu lhoo” Vesha mengikuti arah pandang Vio. Betapa terkejutnya Ia saat menyadari pemuda yang ditatapnya tadi, berdiri tegap di sampingnya. Kakinya seketika lemas. Ingin sekali rasanya Ia pergi saat itu juga.

“Vi, ganti posisi dong. Gue di sana, loe di sini” bisik Vesha. Vio menurut saja, gadis itu tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya.
“Loe gak bisa menghindar, Sha. gimanapun, jangan sekali-kali loe coba bohongin perasaan loe itu” Vesha tercenung mendengar bisikan sahabatnya, Vio.

Dan, upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Apabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi…

“Gimana caranya gue bisa lupain dia, Sha? gue bisa setiap hari ketemu sama dia!” frustasi Vesha. Vio mengelus-elus pundak sahabatnya itu.
“Gue harus apa, Vi? Perasaan ini gak mau hilang. Seberapa besarpun gue mencoba, tapi gagal terus” lanjut Vesha.
“Loe tahu gak, Vi. Gue suka sama dia dari gue SD. Dan apa sekarang perasaan itu hanya sekedar suka? Enggak, Vi! Gue makin sayang sama dia, bahkan cinta”
“Loe yang sabar, Sha. Kalau gue jadi loe, gue bakalan berusha untuk lupain cowok gak peka kaya dia! Mending nih, loe lupain dia. Jangan sekali-kali loe coba untuk nginget dia. Lama-lama juga loe pasti lupa” kata Vio menggebu-gebu.

“Gitu ya? Tapi Vi, dia kaya ngasih kode sama gue. Ini jujur, gue ngerasa kalau dia lagi merhatiin gue” kata Vesha memelas.
“Persetan sama kode itu! kalau emang dia suka juga sama loe, dia pasti gak cuek dan se-dingin ini sama loe! Come on, Sha! apa loe gak capek nunggu dia dari dulu? Gue yang cuman jadi penonton aja apek! Gue kasihan sama loe nya, Sha”
“gue harap, move on itu gampangnya kaya balikin telapak tangan” keluh Vesha. Vio menatap sahabatnya iba.
“Gue sangat mendukung kalau loe mau move on dari dia. Tapi, jangan loe paksain, Sha. dan ingat! Lebih baik loe jujur sama perasaan loe, daripada nantinya loe nyesel gak ngungkapin perasaan loe yang sebenarnya” kata Vio memberi nasehat.

“Maksud loe, gue harus bilang ke orangnya langsung kalo gue cinta sama dia?” sinis Vesha.
“Engg… bisa jadi!!! Hahaha” tawa Vio meledak saat itu juga. Ia tak bisa membayangkan kalau Vesha menyatakan langsung perasaannya kepada cowok yang gadis itu cintai.

“HUWAAAAA… mana ada cewek yang bergerak duluan!!!”
“Ada kok”
“Siapa?”
“Elo..!!”

Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila

Jika kau ada dan ku Cuma bisa..
Meradang menjadi yang disisimu
Membenci, nasibku yang tak berubah….

Hari ini adalah hari yang dijadikan sebagai ajang refresing bagi semua murid kelas 9, setelah selama 3 hari berkutat dengan soal-soal Ulangan Tengah Semester. Yup! Hari ini, seluruh anak kelas 9 berserta para guru akan melakukan tour ke Jawa! Seru bukan?

“Vi, kita dapat bus 2 nih” kata Vesha sembari menunjuk ke papan pengumuman pembagian bus.
“Astaga!!! Apa loe jodoh ya sama Rhaka?!?!” pekik Vio sedikit berbisik. Vesha tercengang mendengar nama cowok yang diucapkan sahabatnya. Sesak itu kembali datang setelah sekian lama Ia tak pernah memikirkan nama itu lagi.
“Eh.. yaaah, maaf, Sha. gue lupa” mohon Vio.
“Haha, santai aja kali, Vi. Yuk kita ke bus” kata Vesha dengan semangat. Wlaupun begitu, tak dipungkiri bahwa jantungnya sudah loncat kesana kemari.

Dan, upayaku tahu diri tak selamanya
Apabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi…

Kerumunan orang-orang di taman hotel, membuat Vesha dan Vio menjadi penasaran. Mereka ikut bergabung dalam kerumunan orang-orang itu yang sebagian besar adalah anak-anak kelas 9.

“Ehm.. maaf nih, ada apa ya?” tanya Vio kepada salah satu siswa.
“Itu, ada anak kelas sebelah yang mau nembak cewek”
“Hah? Siapa emangnya?” kali ini, Vesha yang bertanya.
“Siapa ya?! Bentar.. Din! Dinda! Siapa sih yang mau nembak si Alya malam ini?” tanya siswa itu kepada temannya yang bernama Dinda.

“Itu loh, Liv. Si Rhaka, anak kelas B” kata Dinda kepada Olivia, siswa tadi.
“Oh iya. Itu si Rhaka mau nembak Alya” kata Olivia kepada Vio. Pada saat itu, Vesha sedang fokus mengambil handphonenya yang tidak sengaja terjatuh.

“Oh, makasih ya” kata Vio. Dengan cepat, gadis itu menarik lengan Vesha untuk kembali ke kamar hotel.
“Apaan sih, Vi?! Siapa yang mau nembak sih?” tanya Vesha penasaran.
“Udahlah, gak penting juga. Mending kita di sini aja” kata Vio gusar.
“Ah.. di sini gak asik, Vi. Mending keluar aja yuk” Vesha baru akan melangkahkan kakinya keluar, namun dicegah oleh Vio.

“Jangan!! Maksud gue, temenin gue di sini!” pinta Vio. Vesha memandang sahabatnya dengan tatapan menyelidik.
“Ada… yang loe sembunyiin dari gue?” Vio menggigit bibir bawahnya pelan.
“Udah aah, gue mau lihat sesi penembakan di taman” kata Vesha tidak terlalu memusingkan ekspresi Vio.
“Sha! gue ikut!!” Vio dan Vesha menuju taman dengan suasana hati yang berbeda. Kini, vio menjadi gelisah dan sangat ingin menarik sahabatnya itu kembali ke kamar, sedangkan Vesha, gadis itu sangat penasaran sekali dengan proses tembak-menembak dan siapa gerangan tokoh yang akan melakukan itu.

“Permisi.. Misi… Ups, maaf. Permisi ya” kata Vesha dan Vio yang mencoba masuk ke dalam kerumunan orang.

“Would you to be my girlfriend?” pekik seorang cowok yang ada di tengah-tenga lingkaran kerumunan.
“Yes, I would!” jawab gadis di depan itu. Semua bersorak gembira. Vesha, gadis itu menahan semua rasa sesak di dadanya. Melihat langsung orang yang dicintainya menyatakan cinta kepada orang lain, bagaimana rasanya? Sakit bukan? Vesha sangat ahli memainkan ekspresi wajah. Dalam waktu yang seperti ini pun, Ia masih bisa bersorak dan memberi tepuk tangan.

“Hy, selamat ya, semoga langgeng sama Alya” kata Vesha dengan ceria kepada Rhaka. Cowok itu sempat menatap Vesha sejenak, lalu tersenyum dan menjabat tangan gadis itu.

“Yuk Vi, balik ke kamar” Vesha hanya bisa diam dan mengikuti langkah kaki sahabatnya.

Berkali-kali kau berkata, kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji, menyerah…

“Loe gak bisa bohong sama gue, Sha” kata Vio kepada Vesha yang ada di sampingnya. Gadis itu sedang memejamkan mata dan mendengarkan lagu dari I-podnya. Sebuah headset putih, yang selalu menemaninya tergantung di salah satu telinganya, sedangkan telinganya yang satu lagi tidak Ia tutup dengan headsetnya.
“Bohong? Gak ada yang perlu gue sembunyiin dari loe” kata Vesha santai.
“Loe bisa bohong, Sha. tapi enggak untuk gue. Kita sahabatan udah berapa lama sih, Sha? 3 tahun! Apa yang gue gak tahu dari loe?! Bahkan, ekspresi loe yang bisa tipu semua orang kalau loe kelihatan lagi bahagia, semua itu, di mata gue hanya topeng. Dan sekarang, loe lagi makai topeng itu kan?”
“Haha.. loe peka juga, Vi” kata Vesha menyerah. Ia melepaskan headsetnya.

“Gue tahu, dari tadi loe nahan air mata loe kan? Loe nangis aja, Sha. gak ada yang ngelarang loe buat gak nangis. Gue temenin” Vesha menggeleng pasrah dan menekuk kedua lututnya. Kepalanya Ia tenggelamkan. Isakan demi isakan mulai terdengar di telinga Vio. Miris sekali.

“Apa cinta gue sia-sia, Sha? Apa rasa cinta gue sejak dulu sampai sekarang enggak ada gunanya lagi?” isak Vesha.
“Udah, Sha. Loe gak salah, cinta loe gak salah, mungkin waktunya belum tepat” kata Vio sedikit sesenggukan.
“Gue gak tahu harus apa, Vi! Hiks.. hiks..”

“Cobalah untuk ngelupain dia, Sha. gue tahu, loe pasti bisa. Jangan buat diri loe semakin terpuruk, perjalanan loe masih panjang. Masih banyak yang sayang sama loe”
“Makasih, Vi. Loe emang sahabat gue yang paling baik” kata Vesha sembari tersenyum.
“No problem lah.. itu gunanya sahabat!”

Dan.. upayaku tahu diri,
Tak selamanya, berhasil
Apabila… kau muncul terus begini

Tanpa pernah, kita bisa bersama
Pergilah.. menghilang sajalah
Pergilah… meghilang sajalah, pergilah..
Menghilang sajalah, lagi..

The End

Cerpen Karangan: Jubaidah
Blog: jubaidah229.blogspot.com

Cerpen Love Hurt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keheningan Putih

Oleh:
Pagi itu, semuanya putih berbalut keheningan pagi. Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Hembusan angin pagi tak bisa kurasakan karena tak tertembus oleh jendela yang tertutup. Tepat di sebelah tempat

Remuknya Hati

Oleh:
Aku merasa hatiku seperti dihantam oleh batuan besar, sungguh aku sudah tidak kuat lagi. Wajah itu setiap hari mengganggu pikiranku, aku selalu ingin membunuhnya! Tapi.. tapi aku sangat mencintainya..

Penantian Sia Sia

Oleh:
Masa ini adalah masa yang menyenangkan bagi setiap anak yang akan melakukan transisi dari remaja ke dewasa yapz tentu saja masa itu masa SMA, mungkin setiap anak SMA tidak

Gigil Hati

Oleh:
Kau benar, Mas. Hidupku tidak bahagia. Semua ini hanya sandiwara. Seharusnya aku bisa memilih. Tidak ada kata terlambat. Ku sadari, pintu terbuka untuk melangkah ke luar. Namun, aku terlalu

Vegetable Island

Oleh:
“Aaaaa!!” jerit Lynzy kesakitan dan meniup-niup sikunya yang terluka. “Stttt… sekarang kita ada di mana?” tanyaku melihat sekitarnya. Aku menarik tangan Lynzy masuk ke dalam semak-semak. “Kita di mana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love Hurt”

  1. dinbel says:

    Ichhhhhhh, jadi sedih baca nya. Cerita yang keren yang sukses bikin baper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *