Lucky I am in Love With My Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 June 2013

Di sorot mata itu, entah itukah pancaran misteri hati?
Atau hanya pesonanya hingga tatapku terpatri?
Rusuk-rusuk dada semakin nyeri terasa.
Bias cakrawala dipeluknya dalam isyarat yang menyapa.
Jauh… Seolah memandang dalam di kedalaman hatiku.
Membaca gerakku lalu sodorkan bibir yang tersipu.
Setiap detik indah aura itu memojokkanku
Degup jantung berpacu seolah mengejar kereta laju
Ego meronta meloncati ruang belenggu
Menepis keberadaanku yang gagu karena malu
Sungguh… Kali ini aku benar terpesona olehmu.

Kubuka pintu kelas, dan lagi-lagi aku adalah orang pertama yang tiba di kelas. Kulihat di koridor sekolah hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07:15.
“Ya ampun kok sunyi banget ya” bisikku dalam hati. Beberapa saat kemudian sahabatku Radit datang. Radit begitu baik, selalu mendengarkan curhatku. Dia orang yang manis, ganteng dan baik hati. Aku begitu senang karena ada sesuatu yang akan kuceritakan padanya.
“Radiiittt, aku punya cerita nih. Dengerin ya ya ya plisss” dengan wajah yang tengil kupaksa Radit mendengarkan sepetik ceritaku. Ya, Radit adalah sahabatku sejak lama karena kami adalah tetangga dekat. Ehm, hanya berselang 1 rumah saja.
“Ehm ya ya, mau cerita tentang Brian ya?” tebak Radit sahabatku.
“Hehehe, tau aja ya kamu” ku pasang lagi wajah tengilku.
“Memang kenapa sama si Brian yang sok cool itu?” tanyanya dengan wajah sama sekali tak menatapku.
“Jangan gitu dong. Gini nih, tadi malam aku tuh BBMan sama dia, seneng banget tau nggak. Hahaha dia nanyain aku udah makan, udah mandi abis itu kita bahas-bahas yang lain. Awww co cweett” aku bercerocos dengan centilnya.
“Idih, lebay banget sih kamu. Lagian kamu kok mau sih digombalin sama si Brian itu? Satu sekolahan juga tau kalo dia tuh playboy cap durian” lagi-lagi Radit menjelek-jelekkan Brian.
“Ih apaan sih kamu, bodo amat! Toh aku suka sama dia udah dari dulu. Kamu kok nanggepinnya cuek banget sih setiap aku ngomongin Brian?” ujarku dengan wajah memelas.
“Ya iya lah aku tuh gak suka kalo kamu…” Radit terdiam sejenak. Entah apa yang membuatnya terhenti.
“Kalo kamu apaan Dit?” sambungku.
“Ehhmm.. Aku tuh gak su.. suka ka.. kkaa.. kalo kamu gak dihargain dia. Sadar dong, kamu tuh gak pernah di respon dia. Dia malah sibuk gonta-ganti pacar semaunya. Banyak tuh cewek yang benci sama dia. Kamu tuh jangan sampe dipermainin sama Brian” ujarnya dengan sedikit terbata-bata.
“Ya siapa tau kalo aku jadian sama dia, dia bisa berubah. Kamu kok marah-marah gitu sih? Hargain aku ngomong dong. Gak biasanya banget kamu kayak gini. Kenapa sih sebenarnya? Kamu berantem sama Brian ya?” pertanyaan bertubi-tubi kulontarkan kepada Radit.
“Gapapa kok, aku gak berantem sama dia” Radit bergegas pergi meninggalkanku dengan wajah super cuek dan super jutek. Membuatku bingung dengan 1001 pertanyaan di dalam hati.
Radit kenapa ya? Sebenarnya ada apa? Kenapa dia sensitif banget? Kenapa dia marah-marah? Kenapa dia selalu gak suka kalau aku cerita tentang Brian? Ada apa antara Radit dan Brian? Ada apa antara Aku dan Radit? Entahlah, beribu-ribu entah melayang-layang dalam benakku. Biarlah waktu yang perlahan membukanya satu persatu.

Saat bel istirahat, aku menemui Radit di kantin. Aku duduk berhadapan dengannya. Dengan nada pelan dan lembut aku mencoba meminta maaf kepadanya. Aku memang selalu tidak tenang jika hubunganku dengan Radit sedikit renggang.
“Dit, maafin aku ya” ujarku lembut.
“Kamu ngga salah kok Manda” ungkapnya dengan tenang.
“Terus tadi kamu kenapa?” tanyaku lagi.
“Gapapa, Manda. Aku minta maaf juga ya tadi sedikit kasar sama kamu” ujar Radit
“Tapi… Ada syaratnya. Traktir aku makan bakso dong!” ledekku.
“Beehhh! Kamu nih yaa. Ya udah deh, pesan deh sampe muntah-muntah” jawabnya dengan mengacak-acak rambutku.
“Gak sampe muntah juga kaleee” jelasku.
Aku berhasil membujuk Radit. Memang Radit adalah sahabatku yang paling pemaaf. Dia selalu memaafkan segala kesalahanku. Baik itu besar ataupun kecil. Aku sangat menyayangi Radit.

Pagi ini benar-benar pagi yang cerah sekali. Wajahku berseri-seri layaknya mentari pagi yang cerah menyinari. Aku tak sabar menemui Radit, benar-benar tidak sabar.
“Radit.. Radit!! Tungguu!” aku memanggilnya saat dia hendak masuk ke perpustakaan.
Radit menghentikan langkah dan berbalik kearahku. Akupun menghampirinya.
“Dit, dit ayo kita masuk saja ke perpustakaan. Kita ngomong di dalam aja” ungkapku tak sabaran seraya menarik tangannya.
“Apaan sih Manda jelek? Tuh kan kamu sih lari-lari, jadi keringetan kan. Udah jelek, pendek, keringetan lagi. Makin jelek aja. Hehehehe” ejeknya.
“Idihh sok kegantengan banget kamu ya. Urus tuh bibir kamu yang merah itu. Ke sekolah aja pake lipstick! Centil!” balasku.
“Hahaha, emang aku ganteng kok ya” balasnya tak mau kalah. “Ehm, jadi mau cerita apa nih?”
“Gini nih Radit, gue udah jadian sama Brian! Yeeyy aku seneng banget loh” ujarku senang dan bangga.
“Oya? Selamat ya Manda. Langgeng ya sama si playboy cap durian” dia mengulurkan tanganku mengajak berjabat.
“Iyaa iyaa makasih banget yaa. Hihihi” aku membalas uluran tangannya.

Pagi hari ketika aku bangun, aku mendapati sebuah sms dari Radit, tertulis: “Aku sayang kamu, apapun yang terjadi.” Aku tak paham maksud sms Radit yang masuk sekitar pukul 12 malam itu. Aku cuek saja dengan smsnya. Tiba-tiba… Berdering lagi handphoneku, ternyata ada sebuah BBM dari Brian, dia mengajakku hangout untuk makan bareng nanti siang. Aku menyetujuinya.
Siang harinya, aku tiba di café tempat kami berjanji untuk bertemu. Sudah 30 menit aku menunggu Brian, akhirnya dia datang.
“Maaf ya sayang. Tadi aku di suruh mama nganterin dia ke arisannya. Biasalah ibu-ibu” ungkap Brian.
“Iya-iya gapapa kok”
Kami pun makan bersama, tetapi… ada sesuatu yang begitu mengganjal mataku. Sedari tadi Brian tampak mengutak-atik BBnya. Entah apa yang dikerjakannya. Aku berusaha cuek saja.

Sudah lama aku tak bermain-main bersama dengan Radit lagi semenjak aku sering pulang sama dengan Brian. Aku merasa aku telah melupakannya. Aku mencoba untuk menemuinya, tetapi dia tidak hadir. Aku merasa sedih sekali. Padahal ada banyak cerita yang ingin aku ceritakan kepadanya.

Lama-kelamaan aku semakin risih melihat tingkah Brian yang makin semaunya. Setiap kali kami jalan, dia selalu mengutak-atik hapenya, dia sering bertelepon diam-diam. Bahkan di sekolah dia selalu berpapasan dengan melemparkan senyuman kepada perempuan-perempuan lain.
Saat ini aku benar-benar butuh Radit, aku mencoba mendatangi rumahnya. Ternyata Radit sedang demam tinggi. Aku benar-benar iba melihatnya. Tetapi Radit masih saja memasang senyum manis diwajahnya.
“Eh Manda, apa kabar? Sorry ya gak ada ngasih tau kamu kalo aku gak datang.”
“Aku baik kok Dit. Tega banget ya kamu gak ngasih tau aku”
“Hehe, sorry bos. Gak bakal di ulang lagi. Gimana hubungan dengan Brian?”
“Baik-baik aja, tapi dia makin aneh.” Akupun menceritakan tentang sikap-sikap Brian yang semakin lama semakin berubah kepada ku. Radit tampak serius mendengarkannya.
“Itulah makanya Manda. Kamu sih di bilang gak percaya. Ehm.. Udah deh, jangan mikirin dia sejenak. Gimana kalo kita jalan-jalan aja?”
“Ehm, kamu kan sakit Dit.”
“Ah aku gapapa kok. Santai aja lagi! Aku kan superman! Hahaha” ledeknya.
“Kalau begitu, siapa takut!” tantangku.

Radit pun mengeluarkan sepeda motornya, kami pergi mengelilingi kota yang sejuk nan indah ini. Kami sangat bersuka cita, tertawa bersama dan bercanda setiap saat. Hingga akhirnya kami pergi ke mall, aku melihat Brian merangkul seorang wanita yang tak lain adalah Thalita. Thalita adalah seorang cewek super centil dan super lebay di sekolah yang kerjaannya berantem dengan cewek-cewek lain dan merasa paling oke dan perfect bersama gengnya. Ya! Aku benar-benar tau sekarang bagaimana sifat Brian. Ternyata benar yang ditakutkan Radit selama ini. Seketika aku menangis di hadapan Radit, dia menarik tanganku dan mengajakku keluar. Dia membawaku ke taman. Sedangkan air mataku tak kunjung berhenti.

Sesampainya di taman, kami duduk di bawah pohon yang teduh dikelilingi bunga yang berbaris dan sebuah danau kecil didepannya. Aku menangis dibahunya. Dia mendekapku dalam pelukan hangatnya.
“Sabar ya Manda. Dari awal aku udah bilang ke kamu. Kamu gak mau dengar perkataanku. Mulai dari sekarang kamu harus meninggalkan dan melupakan Brian. Dia itu jahat” ungkap Radit seraya mengelus rambutku dan menghapuskan air mataku.
“Maafin aku ya Radit, selama ini aku bodoh. Aku udah gak dengerin perkataan kamu” aku mencoba menghentikan tangisku yang terisak-isak tadi.

Seketika cuaca berubah menjadi mendung, sesaat itu jugalah hujan turun. Kami berlari mencari perteduhan. Setelah beberapa lama kami mencari, akhirnya kami menemukan sebuah joglo kecil di pinggir danau itu. Dengan tubuh yang menggigil dan basah kuyup, Radit melepaskan jaket yang dipakainya dan memakaikannya ketubuhku.
“Ini Manda. Kamu harus pakai jaket, liat tuh kamu sudah menggigil” dia memelukku lagi.
“Makasih ya Radit” seketika aku merasa nyaman dan tentram sekali berada dalam dekapan Radit. Entah bagaimana aku mengungkapkan perasaanku ini. Seketika perasaan sayang sebagai sahabat itu berubah menjadi lebih dalam dan lebih dalam sehingga berujung menjadi cinta.
“Radit, aku sayang kamu” ujarku sambil menatap matanya di tengah derasnya hujan itu.
“Aku juga sayang kamu sahabatku” ungkapnya tersenyum.
“Sahabat?” tanyaku lirih.
“Iya, kamu akan selalu menjadi sahabatku” jawabnya.
“Hanya sekedar sahabat? Aku tak mau Radit. Aku mau lebih dari itu” Aku langsung memeluk erat tubuhnya. Radit terdiam, entah apa yang membuatnya terdiam. Beberapa saat kemudian dia mulai berbicara.
“Manda, aku sayang sama kamu. Bukan cuma sekedar sahabat, tetapi lebih dari itu sudah aku berikan kepada kamu. Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Aku benar-benar sangat cemburu mulai dari kamu menceritakan tentang kedekatanmu dengan Brian. Itulah yang selama ini membuatku cuek kepada kamu. Aku benar-benar terpukul mendengar kamu menjalin hubungan dengannya” ungkapnya dengan tulus.
“Kamu benar Radit, aku mencintai orang yang salah. Seharusnya kamulah yang pantas dicintai. Kamu begitu sempurna Radit. Aku mencintai kamu” kataku.
“Mulai dari sekarang lupakanlah ingatanmu tentang Brian. Aku akan mencintai kamu dengan sepenuh hatiku, aku berjanji akan menjadi sahabat sekaligus pacarmu yang selalu menjagamu. I love you Manda.”

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Cerpen Karangan: Nona Nada Damanik
Blog: littlethingaboutnona.blogspot.com

Cerpen Lucky I am in Love With My Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah surat terakhir sahabat ku

Oleh:
Aku hanya melamun saat berjalan menuju kelasku. Dengan tiba-tiba aku melihat Angel sedang merundukkan kepalanya, sepertinya dia sedih. “Angel, kamu kenapa?” tanyaku. “Gak apa-apa Kak, aku cuma sedih menunggu

Dekapan Sahabat

Oleh:
Hembusan angin membelai lembut pipi chubbynya, ketika kedua tangan ini memeluk tubuhnya dan mengusap jilbab kelabunya. “Menangislah. Aku disini, Aku hanya datang untukmu. Untuk menghapus air matamu. Tumpahkanlah semua

The Best Of Friends

Oleh:
Sahabat karibku dialah yang bernama aguswan. Dulu saya dan aguswan berteman dari SD. Saya (sandi) dan aguswan selalu bersama di SD selalu berdua; hobi kami berdua ialah bermain bola,

Perempuan Penikmat Senja

Oleh:
Apa yang kau tahu tentang senja? Bukan, Bukan senja itu yang kumaksud! Sejak saat itu, Aku suka sekali melihat senja. Di bukit itu, Kusaksikan saat mentari meninggalkan langit dalam

Enemy Become Friend

Oleh:
Namaku Roro Widodo, aku biasa dipanggil Roro. Aku berumur 14 tahun. Aku kelas dua di SMP Negeri 1 Binjai yang merupakan sekolah favorit dikotaku. Aku bersuku Jawa keturunan dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Lucky I am in Love With My Best Friend”

  1. Salwa rahmi salsabila says:

    Wah… keren,
    aku baca cerpen ini karna aku cinta banget sama lagu lucky dari jason mraz..
    Makasih buat cerpennya! 🙂

  2. desi lia says:

    ohhh….so sweet…….
    Dr sahabat jd cinta …….

  3. cici putriya says:

    waw…
    cerpennya bagus sekali…
    sama seperti kisahku juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *