Lupa Cara Menangis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Terlalu sering aku merasakan rasa sakit. Rasa sakit itu akan merasakan apa yang tidak aku rasakan saat sakit. Terlalu sering aku bersedih namun aku lupa caranya menangis. Aku tidak akan menangisi hal ataupun orang yang tidak pantas untuk ku tangisi. Masa kelamku, luka lamaku bahkan kisah yang sudah ku kubur dalam-dalam, kini terbuka lagi. Di mana letak masa lalu itu sebenarnya? Mengapa terkadang dia seperti lemari yang telah terkunci rapat dan gembok ku simpan tiba-tiba terbuka karena pintu yang sangat kuat itu rapuh. Sebenarnya apa letak memori di dalam tubuh kita itu seperti lemari? Jadi otak kita seperti ruangan? Atau justru hati kita seperti lemari yang bisa merasakan masa lalu? Untuk menyimpan sesuatu berlebihan tapi akhirnya rusak dan tak dapat menampung lagi? Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri dan masa laluku.

Ku tendang selimut karena menutupku seakan menolak diriku untuk bangun dan ku hajar kasurku yang seakan menahanku untuk beranjak. Ya, pagi ini adalah hari terberat dalam hidupku karena aku akan bertemu sahabatku untuk misi pengintaian, dia baru ku kenal 2 hari yang lalu. Bagaimana dia bisa ku sebut sahabat? Karena dia telah menyelamatkanku dari lubang kebodohan, menarikku tanpa rasa geli dan takut dari jurang ketololan dan menjamahku bangkit menemukan jalan kerikil berujung cahaya emas yang berkilau. Butuh berabad-abad aku membasuh badan dan berdandan, maklum hari ini tidak ada kuliah jadi tidak seperti dikejar pasukan jam membawa tombak. Ku raih benda kotak yang menurut orang primitif membuat orang bisa gila karena setiap ditekan beberapa nomor pemilik benda kotak itu aku ngomong dan ngomel sendiri, benda ini oleh anak kekinian dikenal “hp”.

“Halo, Ra? Jadi kan kita ketemu?” benar kan aku ngomong sama barang kotak ini? Aduh kemajuan teknologi mengantarkan kemudahan namun aku hanya sebatas penikmat bukan pembuat dan penyebab. “Lala? Gila sepagi ini? Aku baru buka mata nih?” jawaban itu menyentak saraf emosi marahku padahal kita janjian jam 10 dia bilang masih pagi, tahu gini aku tidak mandi tadi. “Gila Ra, ini kan udah jam 10 bisa-bisanya perawan jam segini belum bangun, gak diguyur air sama Mamamu?” dia ketawa cekikikan sampai suara kuntilanak aja kalah padahal aku belum pernah tahu suara kuntilanak itu seperti apa, ya hanya tahu di film-film horor jadi seperti itulah tertawanya, “Lala, Lala, Mamaku gak mungkin kayak gitu.”

Rara, teman yang ku kenal 2 hari yang lalu tetapi kalian tahu tidak? Kita seperti sudah lama bersahabat karena tanpa ada rasa canggung dalam diriku dan dirinya untuk mengungkapkan sesuatu yang mengganjal bahkan kami kemarin bertengkar hebat sampai jambak-menjambak hanya gara-gara beda pendapat. Namun kalian lihat pagi ini? Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku menunggangi balok ajaib beroda empat dan berkemudi satu. Rok yang ku kenakan dengan sweater abu-abu gelap polos dan meluncur dengan selimut kaki bertuliskan NIKE. Penampilanku yang kasual menemani perjalanan bagiku, nama mobilku, menerjang angin. Tak lupa aku membawa kotak berisi kotak yang ku jinjing di pundak.

Rumahnya sederhana namun penghuninya bahagia, (tok, tok, tok)
“Rara? Rara?” seperti cacing kepanasan tak punya rasa sabar.
“Iya sebentar,” suara pintu terbuka.
“Lala? Peluk dulu dong, yuk masuk di gubuk kami.”
“Makasih Rara.” Sebari aku masuk ruang dia melongo melihat ke luar.
“La? La, kamu naik mobil? Sendiri? Bisa?” aku hanya tersenyum memerah.
Tiba-tiba dua anak kecil menghampiriku, “Hai Kak namaku Cika dan ini Cinta.” Aku hanya meringis.

Rara memiliki adik kembar cewek yang lucu minta ampun, mereka masih TK jadi kalau ada teman kakaknya datang pasti ingin berkenalan. Walaupun Rara tinggal di kota, tepatnya di Kota Kediri, rumahnya termasuk ujung maka dari itu jarang melihat temannya membawa mobil jadi maklum kalau dia terperangah. Kami beda kampus tapi kami dipertemukan sebagai sahabat. Aku kuliah di luar kota dan dia kuliah di Kediri.

“La, gimana kamu siap tidak?” dia pasang wajah tidak berdaya jadi aku tertular deh.
“Ra, sebenarnya aku tidak percaya ini semua, aku tidak tahu harus sedih atau marah atau bagaimana?”
“Aduh tenang ya aku juga tak tahu tapi informasi ini perlu dibuktikan. Yuk masuk kamarku dulu aku ada baju-baju bagus, kalau ingin coba-coba sih, teman-teman SMA-ku sih biasanya gitu.” Aku hanya mengangguk. Kata Rara hari ini papa mamanya masih ke luar entah ke mana jadi kita harus menunggu pulang semoga tidak lebih dari jam 2 karena kami ingin melakukan pengintaian pada seseorang, dia ada di Kediri Mall sekitar jam 12 sampai jam 2 siang.

“Ra, ada gitar gak?” dia jadi kaget padahal Rara sudah menyiapkan baju-baju kerennya.
“Ada La milik Papaku sebentar ya aku ambilkan.”
“Thanks Ra, aku sedikit mengguncang kamarmu dengan suara sumbangku ya?”
“La, sebenarnya aku baru tahu kalau kamu bisa main gitar.”
“Iya, kan kita juga baru kenal Ra.”
(jreng, intro lagu cinta dan rahasia) Tiba-tiba Rara menyahut, betapa kagetnya diriku sehingga seakan telingaku menjerit mendengarnya. “Terakhir ku tatap mata indahmu di bawah bintang-bintang Terbelah hatiku antara cinta dan rahasia.”

“Sebentar, sebentar Ra, sumpah suaramu bagus banget. Kita ulangi ya? Kamu dulu terus aku terus kamu dan nanti sesuaikan.”
“kamu gombal kayak cowok aja, gila kamu La, ayolah nyanyi.”
“…Ku cinta padamu namun kau milik sahabatku. Dilema, hatiku, andai ku bisa berkata sejujurnya. Jangan… kau pilih dia oh pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia. Bukan… ku ingin merebutmu dari sahabatku namun kau tahu cinta tak bisa, tak bisa kau salahkan,”

Kami mengeluarkan angin dari mulut dan memproses dari paru-paru dan segala yang diciptakan Tuhan untukku dan Rara sehingga angin yang ke luar dari mulut kami menjadi suara dengan nada dan syair menyentuh hati. Sekarang kekuasaan mana yang bisa ya angin ke luar dari paru-paru melewati mulut dengan segala prosesnya sampai bisa menyentuh hati? Padahal hati letaknya sangat dalam, tidak ada kekuasaan seperti itu kecuali dari Tuhan.

“Gila La, keren kita ya?”
“Hih apa si Rara? Gitu aja keren, coba lagu lagu lain kita puaskan permainan kita. Baru itu keren!”

Lagu-lagu lain mendenging di kamar Rara sampai tiba papa mamanya, aku berusaha mengobrol dengan mereka. Sebenarnya aku mati gaya karena orangtua Rara pertanyaannya intelektual banget tidak ada bercandanya, ada sih tapi bercanda orang elit itu sedikit, sambil menunggu Rara masam mukaku, mahkota atau apalah yang diatur lagi, dandan saja lama seperti mau ke kondangan.

“Tante aku pinjam Rara mau pergi dulu ya? Permisi selamat pagi menjelang siang.”
“Pa, Ma, Rara pergi sama Lala sebentar ke Kediri Mall.” cium pipi kanan pipi kiri. Aku jadi iri karena orangtuaku jarang seperti itu, mungkin seperti itu setahun 3 kali saat hari Raya, Natal, hari Ibu, dan hari Ayah.

Melaju dengan balok ajaibku, bogi, ku pegang kemudi dan sabuk kursi mengikat kami mengikuti lenggak-lenggok jalanan kota. Panas matahari tak terasa karena bogi punya mesin pendingin seakan kita bagai sayur dalam kulkas. Sampai di Mall, ku parkir bogi melewati jalan mirip ular seperti dalam film The Fast and Farious dan berhenti di sebelah tiang beton bertuliskan 3 A. Lalu kita ayunkan langkah ke Mall. Langkah Rara terhenti karena aku menarik lengannya.

“Ra, coba lipstik yuk?”
“Gak ah La, kan dicoba orang-orang nanti kalau ada kuman gimana?” Entahlah aku jadi pikir dua kali untuk coba karena aku tidak tahu cara-cara penyebaran kuman.
“Oke deh Ra kalau begitu yuk langsung ke tempat makan.” Rara tak sedikit pun melangkahkan kaki.
“Ra! malah diam aja!”
“La, aku gak tega lihat kamu nanti gimana.” Aku tak habis pikir dengan Rara.
“Udahlah tenang saja kan yang ada masalah aku kenapa kamu yang jadi risau, Ra?” Langkah kaki mereka bersuara tap, tap, tap, menandakan sepatu keempat kaki itu merambat menuju tempat makan, setelah mendapat tempat duduk waktunya memanggil manusia pembawa lembaran bergambar makanan itu untuk mengambilkan pesanan.

“La lihat arah jam 11 itu yang namanya Cila.”
“Terus Rio mana?” dua kepala itu menengok ke sana ke mari tidak menemukan laki-laki yang ingin mereka temui.
“Mungkin mereka janjian dan sepertinya Rio masih di kampus, dia ada acara kayaknya.” Jantungnya tiba-tiba seperti disetrum dan kata-kata meloncat dari mulutnya.
“Ra, kamu tahu ini, ini bbm dari Rio katanya dia sudah pulang dan sekarang sudah di rumah.” Rara menghela napas lalu menghembuskannya dengan panjang.
“huuuf… ayo pulang La.”
“kenapa?”

Rasa aneh muncul ketika Rara mengangkat badannya untuk beranjak dari duduknya entah bagaimana nasib pesanan makanan mereka. Lala seakan melihat kilatan cahaya yang menyilaukan mata dan di hari yang panas begini bagaikan ada petir di siang bolong. Hatinya bergemuruh menandakan rasa sakit yang begitu dalam. Badan Lala diangkat dan beranjak namun tak searah dengan Rara, ke arah jam 11 dia melaju layaknya kilat.

“Rio?” betapa kaget Rio melihat Lala di depan matanya seakan matanya ingin sembunyi karena dia terbukti melakukan penipuan terhadap Lala. “Hai Kak, Kakak siapa? Teman Rio ya?” Perempuan cantik berpipi ramping dengan polesan make up mengalahkan umurnya. Badan berkulit putih di hadapan Lala dan Rio memandang penuh ramah dengan bola mata yang cantiknya tak kalah dengan rambutnya yang berkilau. “Kak, kok diam saja? Kalau mau gabung gak apa, duduk saja. Perkenalkan aku Cila, pacarnya Rio.”

Kata-kata Cila memancing petir di siang bolong hingga menimbulkan hujan di dalam hatinya. Namun bibir manisnya seakan menyembunyikan hati yang sedang bergolak. Namun matanya tak dapat berbohong, dia memandang Rio yang tak dapat berkutik itu, pengecut. Lalu ia berpaling pada perempuan yang terlihat muda, anak SMA, dan bau kencur itu sangat polos. Sontak pikirannya seperti tersengat ratu lebah.

“Eh makasih, tapi sepertinya aku pernah kenal kamu!”
“Oh ya kak? Mungkin salah orang atau aku yang gak tahu Kakak ya?” kata-katanya sombong banget.
Aku abaikan tapi tetap berpikir, “kamu adiknya, Tata kan?”
“Hah? Kakak kok tahu?”
“Serius kamu adiknya Tata? Anak SMAN 1 Kediri dulu?” mataku semakin berkaca-kaca tak dapat diajak menyamarkan perasaan sedih ini. “Yap,”
“Kamu ingat pas kakak kamu ulang tahun dia mengundang aku untuk mengisi acara dan kamu melihatku menyanyi lalu kamu tanya aku ‘kakak siapa?’ apa kamu ingat Cila?”
“Oh ya, ya, ya Kak Lala, aku ingat, kakak beda banget kak maaf sampai gak mengenali, kakak semakin cantik aja.”
“Kamu malah cantik dari dulu.”

Sembari mengatakan hal itu tangan kananku menyusup ke dalam tas dan mengeluarkan kotak yang isinya hanya diketahui Lala tapi nantinya Rio akan tahu disusupkan ke bawah meja lalu mendarat di paha Rio. Rio tersentak karena memang dia sadar hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku tinggalkan mereka berdua dengan membawa hatiku yang hancur berkeping namun tidak jatuh. Anehnya aku lupa cara menangis padahal hati ini telah lepas dari peradabannya. Seakan mataku sudah tidak punya persediaan air mata untuk menangisi kekonyolan.

Ku berjalan menyisiri meja demi meja membawa kebohongan Rio yang akan ku buang ke tempat yang lebih hina dari sampah. Rara menghampiri dan memelukku sambil matanya tak sanggup menahan kesal, diliriknya Rio dengan api kemarahan munclak-munclak di kedua bola mata itu. Terlihat Rio juga kaget bertemu Rara dan Lala bisa bersama. “Apa hubungannya Rara dan Lala, bagaimana mereka bisa saling kenal?” kata Rio dalam hati menahan hantaman perasaan yang membuat dia kaget tak kepalang dan melotot melihat mereka.

Bersambung

Cerpen Karangan: Zuni Lilaifi
Blog: http://lilaemaliza.blogspot.co.id
Zuni Lilaifi, masih mencoba menjadi penulis pemula memiliki akun Facebook: Lila Emaliza dan Twitter: @Lilaifi

Cerpen Lupa Cara Menangis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Never Diet

Oleh:
Kutatap seorang pria yang baru kemarin bangkunya bersebelahan dengan bangkuku. Namun ia sama sekali tidak merespon dengan menatapku balik. “Rey… kamu tuh ya.. kapan dietnya? Makan nasi aja bisa

Bandung In Love

Oleh:
Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”

Surat Terakhir

Oleh:
Aku sangat senang ketika ibu memanggilku untuk mengambil surat dari pak pos. Apalagi saat kulihat ternyata dari sahabatku Nina. Aku langsung berlari ke kamar dan membuka surat itu. Untuk

Secercah Harapan

Oleh:
Aku terpaku menatap seutas tali yang menjalar di atas kedai beratapkan daun Kelapa itu. Air hujan yang datang menyerbu dataran tanah kuning ini tak kunjung henti. Entah sudah berapa

Buang

Oleh:
Aku yang kini sedang jatuh. Meski tak akan kau temukan luka pada tubuhku. Tapi tidak dengan hatiku. Kacau dalam hatiku. Galau pikiranku. Hmm.. sampai selarut ini mataku enggan terpejam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *