Lupa Cara Menangis (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Langkah kaki menggeser waktu lebih cepat dari perpaduan putaran jarum pengarah waktu yang melingkar di tanganku. Balok beroda empat ku tancap melaju begitu cepat tak peduli apa yang menghalangiku. Macet karena ditutupnya palang itu untuk mempersilakan jajaran gerbong ular besi berisi orang jurusan Surabaya membuatku penat hingga ku pencet hidung balok roda empat ini sampai berteriak berkali-kali (tin, tin, tin).

“La, aku tahu kamu sedih, aku tahu kamu kecewa, aku tahu kamu tak dapat berpikir mengapa ini bisa terjadi dan aku mohon kamu masih menggunakan otakmu untuk mengendalikan mobil ini. Cowok gak cuma satu di dunia ini namun nyawa dan hidup kita hanya satu.” Rara mengelus rambutku sontak aku memeluknya.
“Ra, aku sedih, kecewa, dan hina entah apalagi rasa ini diduakan sama orang yang ternyata gak pernah peduli denganku tapi Ra aku lupa caranya menangis, aku heran aku tak dapat menangis Ra.”

Rara tersenyum memandangku, kulit tangannya yang putih menempel ke pipiku dan matanya yang indah memandangku penuh isyarat. Aku tak tahu apa artinya itu tapi aku mengerti dia tak dapat mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan. Palang pelindung ular besi telah dibuka namun aku malah mengeluarkan ponsel, ku bongkar, ku keluarkan kartu operator berwarna kuning ini, dan akhirnya ku patahkan.

“La, gila kamu ngapain La? Sadar dong yang tahu nomor itu kan Rio aja kan? Kalau ada yang penting dari teman lama atau siapa gimana?” akhirnya aku menyesal karena tindakanku.
“Oh iya, aaarrrgghh.. aku gak tahu Ra. Ganti nomor saja,”
“La plis La, jangan banting hp atau pun banting setir.”
“Ra, kamu gak merasakan apa yang aku rasakan!!”
“iya La tapi ingat kita lagi di jalan.”
“Sorry Ra.”

Cowok tidak terlalu tinggi, tidak terlalu ganteng dan tidak pernah bisa mengerti aku kini pulang bersama pacar gelapnya di hari yang cerah. Mereka melesat dengan kuda besi yang berbeda. Sampai di rumah Rio tak kuat berpikir dan mau menghubungi Lala pun tidak bisa. Diangkatnya gagang layar sentuh itu, menghubungi, “… Halo Ra? Halo…”
“iya, Rio apa?”
“Ra, kamu kenal Lala ya ternyata? Ra kenapa si tega amat ngasih tahu dia?”
“Eh dasar cowok gak jelas, tahu-tahu udah nuduh sembarangan.” Sejenak hening dan Rara meninggalkan telepon itu sejenak untuk ganti baju.

“Oke sorry jadi gimana ceritanya, Ra?”
“Oh jadi masih punya nyali kamu tanya begitu, tega ya menduakan?”
“Hei Ra aku hanya belum siap bilang saja sama dia, kamu gak tahu Ra.”
Rara sadar kalau memang dia hanya sahabat Lala baru 2 hari jadi tidak tahu permasalahan yang pasti.
“Emang, aku gak tahu tapi hal itu termasuk tega Rio.”

“Dia terlalu baik buat aku Ra.” Rara tak peduli namun sejenak dia berpikir kalau Rara juga ingin tahu masalahnya siapa tahu bisa diselesaikan.
“Oke begini, 2 hari yang lalu Lala menemui Santi, teman kita sekelas, nanya tentang ‘penyusup gelap itu’ dan sebenarnya Lala sudah tahu tentang kelakuanmu itu sejak beberapa Minggu sebelumnya pas kalian ketemu dia menemukan bukti di hp-mu Rio.” Tiba-tiba telepon terputus entah apa yang membuat terputus tapi ternyata pulsa Rio habis untuk menelepon.

“Sial pulsa kurang ajar!”
“Jadi Lala tahu? Bukti? Apa? Foto sudah aku pindahi ke laptop kalau lagi ketemuan, chat Cila juga sudah aku bersihin.” Tambahnya. Rio menelusuri sms dan chat di hp-nya, menyelam di antara akun-akun tertentu. Dia terperanjat kaget menemukan chat-nya bersama Cila yang isinya janjian pergi ke pantai berdua.

Siang masih menggeluti awan hingga panasnya sampai ke bumi, lirikan kedua bola mata menyapu sekelilingnya sejauh memandang untuk menemukan seseorang bagaikan detektif mencari duri dalam daging tetapi duri ini adalah pilihan. Tak semudah menemukan orang di zaman edan seperti ini tinggal memencet balok layar sentuh, berbicara seperti orang gila dan ketemulah orang yang dicari. Namun apa daya tanpa jajaran angka dari penyedia layanan balok berbicara itu. Secanggih apa pun layar yang disentuh itu tanpa nomor berjajar apalah. “Bego deh aku mencari Santi di depan kampusnya dan aku gak tahu jadwal dia, yang jelas aku tahu dia ada di gedung ini dan lewat parkiran inilah dia pulang.”

Berjam-jam aku menunggu durian runtuh dari pohon mangga, hal itu serasa sangat mustahil. Sebesar apa pun pohon itu tidak mungkin berbuah lain kecuali Tuhan yang menghendaki. Waktu dan keadaan telah berpihak padaku saat aku mulai merasakan kantuk yang menyengat seluruh mata dan otakku, “Itu sepertinya Santi.” Ku tancap gas mendahuluinya tetapi dia kira aku orang tidak jelas yang mencoba menghalangi jalannya, malah dia mendahuluiku balik. Ku buka jendela mobil ini ku lambaikan sebelah tanganku padanya pasti dia kira aku adalah begal. Tapi tidak, dia mengenaliku.

“Kamu! Kamu pacarnya Rio kan?”
“Ee iya, Santi kan? Masih ingat aku? Kita bicara di sana aja ya? gak enak di jalan ini aku turun dulu, kamu parkir dulu di mana terserah.” Kursi ini sangat panas ku duduki karena akan ku ajak membicarakan masalah ‘penyusup cinta’ dan dia akan menjadi saksi bisu dan meja ini akan mencatatnya.

“Santi? Gimana kabarmu?”
“Gila La, gimana bisa sampai sini? Kamu gak kuliah? Mau ketemu Rio?” Otakku seketika menepuk dahiku mendengarkan pertanyaan Santi yang belum sempat menjawab pertanyaanku. “Eh aku baik La. He..”
“Nah gitu dong jawab tanyaku, malah melempari aku tanya. Aku libur San, sengaja ingin ketemu kamu, langsung saja ya?” helaan napasku lebih panjang. “Kamu kenal gak dengan anak yang namanya Cila?” matanya mengisyaratkan perubahan perasaan yang semula gembira menjadi khawatir.
“Cila siapa ya? Banyak lo yang namanya Cila.” Hatiku terkoyak ingin menggebrak meja dan menampar Santi karena dia sangat terlihat berpura-pura namun hati menyurutkan niatku.
“Yang kamu tahu dekat dengan Rio, Cila mana?”

“Aku tidak akan membenci Rio ataupun Cila, aku hanya butuh kepastian apa benar di hp Rio yang sempat aku intip ada Cila, entah siapa itu aku tak dapat menemukan fotonya.”
“La, aku minta maaf banget ya? saat awal kuliah dia memang mengaku kalau kamu adalah pacarnya tapi saat semester 3 dia bilang punya pacar baru namanya Cila.” Kata-kata yang sepertinya belum selesai itu menyudutkanku dan membuatku merasa menjadi orang paling bodoh sedunia, bayangkan semester 3? Sekarang aku semester 5 aku telah tertipu.
“La, kamu ingat ketika kita bertemu? Sebenarnya seminggu sebelumnya dia mengaku jadian dengan Cila tapi saat itu kan ada aku, kamu, Rio, dan 4 temanku lainnya, ingat?” aku mengangguk. “Saat itu aku kaget tapi Rio memaksa kami semua bungkam bahwa dia telah mendua.” Aku terdiam, hening hampir 10 menit.

“Santi makasih ya infonya, kalau begini kan jelas.”
“Maafkan aku Lala, apa kamu sakit hati?”
“Sa, yang pasti aku sakit hati, kecewa, campur aduk karena dia pacar pertamaku dan aku belum pernah ada pengalaman pacaran. Mungkin ini bisa jadi pengalaman, aku ikhlas, mungkin dia bosan.” kataku. “La, maafkan aku apa kamu mau putus dengannya?”
“Yang jelas iya dan aku tidak punya kesempatan kedua bagi orang seperti itu, jangan minta maaf kamu gak salah Sa, makasih.” Kita berpelukan.

“Oh ya, aku ada info senin depan Rio ulang tahun kan? Kayaknya mereka ketemuan di KM, makan bareng, Cila curhat ke aku kemarin mau ngasih kado apa. Cuma itu yang aku tahu.” Dia tertekan. “Kamu bisa antar aku?”
“Maaf aku ada kelas, aku ada sahabat namanya Rara tapi dia tahunya pacar Rio itu Cila bukan kamu jadi aku kasih nomornya, nanti aku kasih tahu dia, kalian bisa janjian atau cerita-ceritalah.” aku menyanggupi dan itu awal persahabatanku dengan Rara.

Pagi hari Rio memandang kedua temannya, Rara dan Santi, sangat beda.
“Ra, bantu aku menemui Lala, nomornya gak aktif.”
“Rio, aku kan gak tahu rumahnya, lagian gila ya kamu ternyata mendua.”
“Ceritanya panjang Ra. Aku hanya bosan sesaat tapi sebenarnya aku cuma cinta dia bukan Cila.”
Tak ada jawaban dari Rara itu artinya dia menolak untuk menyatukan Rio kembali.

Pagi beranjak siang, siang beranjak sore hingga sore menuju malam tampaknya bintang-bintang mengetahui masalah ini. Bintang dan hatiku berkolaborasi menyuruhku menemui Rara. Aspal dan mobilku menjadi saksi perjalanan ini. “Ra,” mengetuk pintu, “permisi.”
“Lala! Gila kamu ayo masuk.”
“Eh aku cuma mau nitip ini ke Rio dan bilang aku gak akan ada kesempatan kedua.”
Dia menuntunku ke kursi sebelah pintu, “La sabar dulu sabar.”
“Ra aku tadi pagi pamit berangkat ke kos dan izin gak pulang satu bulan biar fokus kuliah. Dan aku mampir ke rumah temanku untuk curhat dan jam segini aku baru mau berangkat ke sana. Mungkin sampai sana jam 9.”

Rara tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya menyampaikan dalam rekaman yang aku titipkan itu jika memang dia berubah lebih baik, berikan kebaikan itu untuk orang yang tepat misalnya Cila dan aku tidak membenci dia, kita masih bersahabat. Jika Tuhan menghendaki aku dan dia bersama pasti dipertemukan dan jika tidak aku hanya meminta pada Tuhan untuk memberikan yang terbaik.

Rabu, 13 Januari 2016 sepanjang jalan menuju kota apel ini menjadi saksi kebodohanku yang ku terima dari orang yang tidak pernah memihakku dan ketidakbodohanku direnggut paksa olehnya. Kebetulan entah apa maksud bogiku saat tangan kecilku menjamah kotak bernyanyi dalam mobilku, bogiku menyanyikan lagu untuk kesedihanku yang mendalam.
“Berat bebanku, meninggalkanmu, separuh napas jiwaku sirna… Bukan salahmu, apa dayaku, mungkin benar cinta sejati tak berpihak pada kita. Kasihku sampai di sini kisah kita jangan tangisi keadaannya bukan karena kita berbeda. Dengarkan, dengarkan lagu, lagu ini melodi rintihan hati ini. Kisah kita berakhir di Januari…” Seketika kekecewaanku seakan ingin memecah dinding kepalaku dengan lagu ini.

Siraman cahaya bagaikan menyampaikan pesan dari jauh untuk yang terdekat. Rio merasakan teriakan dalam dadanya yang berdentang bintik menumpahkan dalam lagu, kisah kita berakhir di Januari.. kebetulan seperti ini akan datang tak ada yang menyangka. Suasana hatinya yang kacau tersembunyi ketidakpastian bahkan untuk berpikir pun tak ada daya. Angannya membawa seluruh jiwa raga menembus ruang tanpa batas agar dapat bertemu dengan Lala walaupun sekadar angan, seindah apa pun itu hanya angan. Namun ingat sekelam apa pun masa yang telah berlalu, itulah kenyataan.

Cerpen Karangan: Zuni Lilaifi
Blog: http://lilaemaliza.blogspot.co.id
Zuni Lilaifi, masih mencoba menjadi penulis pemula memiliki akun Facebook: Lila Emaliza dan Twitter: @Lilaifi

Cerpen Lupa Cara Menangis (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar Merah Ternoda

Oleh:
Kamar kosong dengan laptop menyala lagu padi -kasih tak sampai ku biarkan mengiringi kepedihan hatiku, entah apa yang ku rasakan kini, entah apa yang ku gores dengan penah di

Ukiran Mimpi Dalam Takdirku

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar begitu mengalun-alun seolah mereka sedang menyanyikan sebuah tembang yang mampu menyihir orang-orang yang mendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulasnya dan hidup

Disinilah Hal yang Baru Itu di Mulai

Oleh:
Disini adalah sesuatu. Saat kesedihan itu datang karna seseorang yang gw sayang harus berurusan dengan polisi karna kasus narkoba,tempat ini lah yang gw pilih untuk tinggal,menetap, bekerja dan memulai

Sebuah Kenangan Yang Manis

Oleh:
Aku menatap langit luar yang mndung, tanda bahwa hujan akan turun. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Akhirnya, mataku tertuju kepada sebuah foto yang tampak kusam dan usang.

Dia Masih Sahabatku

Oleh:
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur disakiti, diperhatikan dikecewakan, didengar diabaikan, dibantu ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian…. Namaku jane marisa,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *