Luthfi Arrahman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 3 November 2016

Aku cepat-cepat meraih tasku, “nggak makan dulu, Anya?” tanya Mama yang sedang mengoles roti dengan selai
“Nggak sempat, Ma, sudah telat, Anya pamit ya, assalamu’alaikum” aku setengah berlari menuju pintu ke luar
“Assalamu’alaikum” si Luthfi sudah berdiri di depan pintu, memasang senyum lebar
“Sarapan dulu yuk, Luth” ajak Mama
“Nggak usah, Ma, Luthfi sama Anya sudah telat banget ini, kamu juga, ngapain sih lelet, telat tau” aku memukul lengan Luthfi
“Ih yang telat bangun kamu kan? Luthfi sama Anya jalan ya tante, assalamu’alaikum”
“Hati-hati bawa motornya, Luth” Mama mengingatkan
“Iya, tante, Luthfi hati-hati kok”
Aku mendorong Luthfi agar cepat-cepat menuju motornya

“Sudah telat banget memang, Nya?”
“Menurut kamu? Aduh, Luth, nggak usah nanya-nanya, jalan aja cepet ayuk”
“Mama kamu kan bilang nggak boleh balap balap” kata Luthfi yang menjalankan motornya seperti siput
Aku memukul bahunya, “nggak kayak begini juga lambatnya atuh, Luth, bisa sampai kampus besok kita”
Luthfi tertawa lalu melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata.

Aku dan Luthfi sudah bersahabat sejak SMA, awalnya sih karena tetanggaan sama si gelo, tapi berhubung si Luthfi sudah pindah, kami jadi nggak tetanggan lagi. Tapi kami berdua tetap sahabatan, malahan si Luthfi selalu antar jemput kampus meski kami sudah beda jurusan.

“Pulang kampusnya jam berapa, Nya?” tanya Luthfi yang menurunkan aku di depan gedung kampusku
“Abis ashar, Luth, aku langsung masuk ya, dadah, makasih Luthfi gelo” aku langsung berlari menuju ruangan kuliahku pagi itu
Nana yang juga sedang menuju ruang kuliah kami mencegatku, “eh eh ngapain kamu lari-lari?” tanya Nana
“Udah telat, Nana, kamu kenapa santai banget?”
“Ih, jam kuliahnya kan diundur, kamu nggak baca bbm ya?”
“Aku nggak ngecek hp dari tadi pagi, ih nyesel aku lari-lari, mana nggak sempat sarapan lagi” aku memegang perutku yang keroncongan
“Ke kantin aja dulu kalau gitu, Ami juga di kantin, kuliah kan diundur jadi jam 9, ayuk ke kantin” Nana menarik tanganku, merubah arah perjalanan kami

Di kantin Ami sedang duduk sendirian menikmati makanannya. Aku dan Nana langsung menghampirinya.
“Makan apa, Mi?” tanyaku
“Bakso”
“Aku juga mau bakso ah, Na, pesenin yah?”
“Oke”
“Tadi dianter Luthfi lagi?” tanya Ami
“Iya, tau darimana?”
“Ih kamu itu ya, si Luthfi kan banyak fansnya, tadi aku dengar dari anak kelas lain, katanya ada A Luthfi di depan”
Aku langsung ketawa, “ih apanya si Luthfi sih yang cakep, anak-anak buta ih”
“Kamu yang buta” timpal Nana yang sudah kembali dari memesan makanan
“Ih, cakepan waktu SMA tau, cakepan dikit, sekarang gondrong begitu cakepnya yang dikit itu hilang semua” kataku sambil ketawa
“Anak-anak malah tambah suka tau sama Luthfi yang gondrong, kenapa Luthfi tiba tiba gondrong sih, Nya?”
“Mau balas dendam mungkin dia, soalnya waktu SMA kan rambut panjang dikit langsung ditegur BP” jelasku
“Luthfi ada pacarnya nggak sih? Antar jemput kamu begitu pacarnya nggak ngamuk?”
Aku menggeleng, “nggak ada pacarnya dia mah, siapa yang mau sama cowok gondrong begitu ih”
“Luthfi keren tauk, sering nyanyi kalau ada event, suaranya bagus lagi, jago main gitar, terus aktif di kegiatan sosial, sama kegiatan kampus, keren pisan” jelas Nana
Ami tertawa, “kamu kelamaan sama Luthfi kali, makanya kebal sama pesonanya”
Aku mengangkat bahu.
Rasanya aneh. Luthfi yang selalu bareng aku, sama sama aku, gila-gilaan sama aku. Ternyata banyak yang naksir, banyak yang bilang dia cakep. Mungkin benar kata Ami ya, aku kelamaan sama Luthfi, makanya nggak sadar.

“Kamu nggak jealous?” tanya Ami
“Jealous kenapa?” Aku bertanya balik
“Sama cewek-cewek yang ngefans sama Luthfi”
“Ih nggak lah, kenapa harus jealous, Luthfi kan bukan pacar aku”
“Kalau Luthfi ada pacarnya?” tanya Nana

“Anya!”
Aku menoleh.
“Yang diomongin panjang umur” kata Nana
Luthfi berdiri di pintu kantin. Rambutnya yang panjang diikat membentuk cepol di tengkuknya. Luthfi berjalan menghampiri meja tempat aku dan teman-temanku duduk.

“Ih pagi-pagi udah makan bakso aja kamu, Nya, gembul” Luthfi langsung duduk di bangku sebelahku, dan mencomot satu baksoku dengan garpu
“Ih, ngapain kesini? Nggak kuliah kamu?”
“Nggak, kuliah aku jam 9” jawab Luthfi sambil mengunyah bakso
“Terus kenapa kesini? Nyerobot makanan orang”
Luthfi mencomot satu bakso lagi.
“handphone kamu” Luthfi mengeluarkan Handphoneku dari saku celana jeansnya
Aku langsung mengambilnya, “ya ampun, ketinggalan dimana?”
“Di rumah, tadi mama kamu nelepon aku, ya aku balik aja ke rumah kamu terus kesini, nggak ada kuliah juga” Luthfi mencomot satu bakso lagi
Aku jadi merasa bersalah.
“Ih tumben baik, aku traktir bakso ya?”
Luthfi tertawa, “aku mah baik terus Anya, nggak mau bakso, nanti aku yang pilih traktirannya” Luthfi mencomot bakso terakhir, tandas sudah sarapan pagiku
Luthfi meneguk es tehku hingga setengah lalu bangkit, “aku balik ke kampusku ya, habis ashar aku jemputnya kan?”
“Iya, udah sana, nanti telat, minta traktirnya jangan yang mahal mahal ya”
Luthfi tertawa.
“Ih baik banget si Luthfi” kata Nana tiba-tiba
“Ih aku mah bakal klepek klepek kalau jadi kamu, Nya” kata Ami
“Ada orangnya nggak berani muji, nggak ada aja berani muji-muji” godaku
“Serius aku, Nya, kamu nggak ada naksir-naksirnya sama Luthfi?”

Satu, dari Cerita Bersambung, Teman Hidup. Luthfi Arrahman, 2 Juni 2016. – Ken Pratiwi

Cerpen Karangan: Ken Pratiwi
Blog: its-pointsofview.tumblr.com

Cerpen Luthfi Arrahman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Potret Hitam (Part 2)

Oleh:
Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Aku mengucapkan salam dan terdapat sahutan disana. Ternyata itu seorang perempuan “apa betul saya bicara dengan Nona Arsitania?” tanyanya. “iya, ini saya, maaf ibu

Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 1)

Oleh:
“Ayo bangun nak sudah siang, kamu kan harus sekolah” Bujuk seorang wanita pada seorang gadis. “Iya, Bun” Jawab gadis itu yang masih mengumpulkan nyawanya. “Cepat mandi, Bunda tunggu di

Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku baru saja ke luar dari gedung sekolahku pada sore itu. Sungguh lelah hari ini, mengikuti pembelajaran sore yang membosankan. “Akhirnya, selesai juga latihan menari sore ini.” Gumamku sambil

Bertemu Sahabat Lama

Oleh:
Namaku Dinda Ananta Dewi, aku biasa dipanggil Dinda. Sekarang ini aku baru duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku tinggal di kota Bandung bersama dengan ibuku. Setelah ayahku meninggal

Sahabat Penanti Hujan

Oleh:
Hembusan angin mulai terasa di tubuh, perlahan lahan anginnya berhembus dengan kencang hingga meliuk liukkan pohon palma di depan terasku. Terlihat dari kejauhan banyak burung pipit berteduh di bawah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *