Maaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Pada satu hari di SMP NEGERI 1 SEMARANG ada seorang murid yang bernama Reina. Reina sekarang ini duduk di bangku kelas 8, Reina adalah salah satu murid yang berprestasi dan tegas.
Di saat pelajaran bahasa Indonesia berlangsung semua siswa mendapatkan tugas kelompok dari pak guru. Reina mendapatkan kelompok nomor 2 yang anggotanya terdiri dari 6 (enam) orang yaitu: Reina sendiri, Lili, Nisa, Rara, Yaya, dan Lia. Mereka berenam sepakat akan berdiskusi pada hari selasa pulang sekolah

Keesokan harinya di saat pelajaran sudah berakhir, tepatnya pulang sekolah Reina, Lili, Nisa, Rara, Yaya, dan Lia berkumpul di dalam kelas, mereka duduk melingkar dengan raut wajah yang serius. Namun, ada salah satu temannya yang bernama Lia itu sedang asik mainan HP dan senyum-senyum sendirian.

“Berhentilah main HP mu itu Lia!” kata Reina
“Iya-iya aku berhenti deh mainan HPnya!” balas Lia

Lalu mereka memulai diskusi tentang tugas drama yang diberikan oleh pak guru kemarin. Hal pertama yang mereka diskusikan adalah tentang judul drama yang akan mereka tampilkan. Setelah berfikir panjang akhirnya Rara mengusulkan judul dramanya adalah sahabat sejati, Yaya mengusulkan judul dramanya adalah Malin kundang dan Lili mengusulkan bahwa sebaiknya kita cari saja di Google, dan semuanya pun setuju. Setelah mencari-cari agak lama, akhirnya mereka menemukan judul yang mereka setujui yaitu PERSAHABATAN, saat itu waktu menunjukkan pukul 14.30, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan diskusi besok siang sepulang sekolah.

Keesokan harinya menjelang siang, setelah pelajaran berakhir, akhirnya mereka melanjutkan diskusi mereka. Pada pertemuan kali ini mereka membahas tentang tokoh yang akan mereka perankan. Lalu Rara menjelaskan tokoh-tokohnya.
“Baiklah aku akan menjelaskan tokoh-tokohnya, tokoh yang pertama, kedua, dan ketiga adalah Lala, Putri dan Nana mereka adalah siswi-siswi yang sombong dan jahil. Lalu tokoh yang keempat adalah Lulu, dia adalah anak yang selalu dijahili oleh Lala, Putri, dan Nana. Dan tokoh yang yang kelima dan keenam adalah Lita dan Jenny mereka berdua adalah temannya Lulu.” jelas Rara.
“Baiklah aku selaku ketua di kelompok ini akan membagikan siapa saja peran-peran untuk kalian!” kata Reina.
“Oke, aku dan Lili yang akan menjadi pemeran Lita dan Jenny. Lalu Nisa, Yaya, dan Rara yang akan menjadi Lala, Putri, dan Nana. Dan Lia yang menjadi pemeran Lulu!” kata Reina.
“Reina, aku tidak mau menjadi pemeran itu, aku tidak suka menjadi pemeran yang harus ditindas, aku tidak mau!” kata Lia dengan marah.
“Lia, dengarkan kami kau pantas memerankan tokoh ini, aktingmu sangat bagus dan dilihat dari raut wajahmu kau pantas memerankan tokoh ini.” kata Rara menjelaskan Lia.
Lia menjadi sangat marah pada saat itu, tiba-tiba Lia menampar menampar pipi Rara, dan semua pun terkejut.
“Apa yang kamu lakukan Lia, kau telah menampar pipiku!” kata Rara sambil menangis karena kesakitan.
“Lia kami semua kecewa padamu!” kata Reina dengan marah.
Lalu Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya pergi meninggalkan Lia sendirian di kelas. Sejak saat itu Lia bermusuhan dengan Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya.

SATU MINGGU KEMUDIAN
Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya merasa bingung karena besok ada pelajaran bahasa Indonesia, sedangkan mereka sama sekali belum berlatih drama.
“Ini semua gara-gara Lia, karena dia kita jadi belum berlatih sama sekali.” kata Yaya dengan nada kesal.

Keesokan harinya pada saat jam pelajaran bahasa Indonesia semua siswa sudah siap dengan drama yang akan mereka tampilkan, tinggal kelompok Reina saja yang belum siap dengan drama yang akan mereka tampilkan.
“Bagaimana ini Re tinggal kelompok kita yang belum siap” kata Lili mengeluh.
“Nah, sekarang kalian akan menampilkan tugas drama yang bapak berikan kemarin, di muai dari kelompok 1 (satu) dan seterusnya!” kata pak guru menjelaskan.

Lalu kelompok satu maju menampilkan drama yang berjudul Ande-Ande Lumut, mereka menampilkan drama itu dengan sangat baik, sangat lancar, dan sangat kompak. Lalu sekarang adalah gilirannya kelompok 2 (dua). Reina menjadi sangat bingung dan tegang.Lalu Reina meminta maaf kepada pak guru bahwa kelompoknya belum siap menampilkan dramanya. Pak guru memaafkan, dan memberi waktu 2 (dua) hari untuk berlatih drama.

“Apa yang membuat kalian belum siap dalam menampilkan drama ini?” tanya pak guru kepada Reina.
“Ada perselisihan di antara kami dengan Lia pak” kata Reina menjelaskan
Pak guru hanya diam, dan tiba-tiba pak guru menegur Lia.
“Lia mengapa kamu bermusuhan dengan Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya?” tanya pak guru kepada Lia.
“Tidak pak guru, aku tidak bermusuhan dengan Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya. Tetapi mereka yang memusuhiku!” jawab Lia berbohong.
“Baiklah terserah kalian siapa yang salah dalam masalah ini, yang penting kalian harus menampilkan drama kalian dalam waktu 2 hari, jika kalian dalam 2 hari belum juga menampilkan drama kalian maka, kalian akan saya berikan hukuman!” kata pak guru dengan tegas.

Teeeeeett… Lalu tanda bel pulang telah berbunyi, semua murid berlarian menuju pintu gerbang sekolah, kecuali Reina, Rara, Lili, Nisa, Yaya dan Lia. Mereka membahas tentang permasalahan mereka dan tugas drama yang belum juga selesai. Saat itu Lia sangat cuek sekali, dia juga malah mainan HP miliknya.

“Lia apa kau tidak sadar, kita telah ditegur oleh pak guru, karena kita belum juga siap dalam menampilkan drama kita. Sekarang kita akan membahas itu tapi kau malah asyik mainan HP milikmu itu!” kata Nisa.
“Terserah aku dong ini kan HP milikku, lagian ini juga bukan kesalahanku, ini adalah salah Reina, mentang-mentang dia yang ditunjuk sebagai ketua dalam kelompok ini dia seenaknya sendiri menentukan peran orang lain, ih sangat memalukan” jawab Lia sombong.
“Lia apa yang kamu katakan sebagai ketua dalam kelompok ini, memang kewajiban Reina untuk memilih siapa peran-peran untuk kita, pliss Lia jangan sombong deh!!” ucap Yaya.
“Heh Lia kenapa kamu tadi berbohong di depan pak guru, kan yang memulai perselisihan ini kami, tapi kenapa kamu bilang kepada pak guru bahwa yang memulai perselisihan ini adalah aku dan yang lainnya”. Kata Lili menegur Lia.
“Terserah aku dong, lagian sih kalian pakek ngadu sama pak guru segala, kayak anak kecil aja bisanya cuma ngadu terus, cemen banget sih kalian” ucap Lia mengejek Reina, Rar, Lili, Nisa, dan Yaya.
“Stop deh gak usah berdebat, sekarang ini yang penting bagaimana kita bisa menyelesaikan tugas drama yang diberikan oleh pak guru” kata Reina.
“Baiklah kalau Lia tidak mau menjadi pemeran Lulu, maka aku saja yang menjadi pemeran itu, dan Lia menjadi pemeran Jenny. Bagaimana Li kamu mau gak menjadi pemeran Jenny!” ucap Lili.
“Terserah kalian deh, aku gak mau ikut kelompok ini lagi, kalian semua selau ngatur-ngatur aku!” balas Lia sambil meninggalkan teman-temannya.

Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya, hanya menggelengkan kepalanya, karena kelakuan Lia yang semakin lama semakin keterlaluan. Lia sekarang ini tidak peduli dengan pelajaran di sekolah, Lia juga tidak peduli dengan nasihat-nasihat yang diberikan oleh teman-temannya. Lia hanya ingin menjadi yang mengatur dan merasa bahwa dirinya selalu benar. Lalu Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya sepakat melanjutkan permasalahan ini besok sepulang sekolah.

Lalu keesokan harinya menjelang siang, mereka melanjutkan diskusi tentang permasalahan mereka. Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya sudah berkumpul, kecuali Lia. Semuanya menjadi sangat bingung, karena waktu mereka tinggal 1 (satu) hari. Lalu mereka sepakat untuk pergi ke rumah Lia, agar mereka bisa melanjutkan diskusi mereka, namun Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya tidak ada yang tahu di mana rumah Lia. Tetapi di kelas yang lain ada seorang yang rumahnya dekat dengan rumah Lia, lalu Reina langsung mendatangi orang itu, hari ini kelasnya pulang yang paling akhir karena ada pelajaran tambahan.

“Apakah kamu yang rumahnya dekat dengan rumah Lia?” tanya Lili kepada orang itu.
“Iya, memangnya kenapa, kalian bertanya seperti itu?” jawab orang itu.
“Kami mempunyai urusan dengan Lia, tolong katakan di mana rumah Lia?” Ucap Reina.
“Baiklah akan kuberi tahu kalian di mana rumah Lia. Rumah Lia ada di jalan Pattimura nomor 35, bercat hijau!” jelas orang itu.
“Baiklah kami mengerti, terima kasih ya. Oh ya nama kamu siapa?” ucap Rara.
“Namaku Raisa, kalau kamu aku sudah tahu namamu!” jawab Raisa.
Lalu Rara hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Raisa. Setelah itu lalu pergi meninggalkan Raisa dan mencari letak rumah Lia.

Setelah mencari agak lama dan sudah banyak bertanya, akhirnya mereka menemukan rumah Lia, tidak berpikir panjang mereka langsung mengetuk pintu rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, akhirnya keluarlah seorang ibu-ibu dan bertanya “mencari siapa nak”.
“Permisi bu kami di sini mencari Lia, kami ada urusan dengan Lia. Apakah Lia ada di rumah bu?” jelas Reina.
“Lia?dia belum pulang sekolah, apakah sekolah sudah pulang nak, tetapi kenapa Lia belum pulang, dan kenapa kalian mencari Lia” jawab ibu-ibu itu.
“Sekolah sudah pulang dari tadi bu, kami juga tidak tahu kenapa Lia tidak pulang ke rumah.Kami mencari Lia karena kami ada tugas kelompok dari pak guru, sebetulnya tugas ini sudah lama, tetapi ada masalah di antara kami dengan Lia, jadi tugas ini belum selesai sampai saat ini. Bahkan kami pun ditegur pak guru karena kami belum siap menampilkan tugas kami, dan sekarang Lia malah menghilang padahal waktu kita tinggal 1 (satu) hari lagi, bagai mana ini?” jelas Reina.
Setelah menunggu lama, lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya sudah sampai di sekolah mereka semua menunggu kedatangan Lia. Setelah menunggu lama akhirnya Lia datang dan Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya langsung menghampiri Lia dan bertanya “pergi ke mana kamu kemarin”.
“Apa urusannya denganmu, terserah aku mau pergi ke mana, ini kan hidupku!” balas Lia.
“Apa kau tidak ingat kita mempunyai tugas dari pak guru, dan kita hanya tinggal punya waktu 1 (satu) hari lagi” ucap Lili.
“Itu kan urusanmu, aku kan sudah bilang tidak mau ikut kelompokmu lagi, kenapa kalian masih memaksaku terus!” jawab Lia.
Saat itu terjadi perdebatan yang begitu panjang, hingga semuanya berkumpul untuk melihat perdebatan antara Reina, Rara, Lili, Nisa, Yaya dan Lia. Walaupun sudah dibujuk dengan cara apapun tetapi Lia tetap tidak mau mengikuti drama itu. Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya menjadi sangat-sangat bingung pada waktu itu karena waktu mereka tinggal 1 (satu) hari lagi, sedangkan mereka belum berlatih sama sekali, kalau mereka besok belum juga siap dengan tugas drama mereka, maka mereka akan dihukum oleh pak guru.Setelah sekolah sudah di pulangkan Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya menahan Lia agar tidak pulang terlebih dahulu.Lalu mereka mencoba membujuk Lia lagi, tetapi Lia tidak mau, dia malah memukul tangan Lili dan menginjak kaki Rara dengan sengaja. Setelah itu Lia pergi begitu saja meninggal kan temannya terutana Lili dan Rara yang sedang pesakitan karena ulahnya.

Keesokan harinya saat Lia sampai di sekolah, tidak ada yang mau berbicara, dan bermain dengan Lia. Lia merasa bingung kenapa semua orang di sekolah tidak ada yang berbicara dan bermain dengannya. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang mengejek-ejek Lia “LIA BODOH, LIA BODOH”, Lia bingung kenapa orang itu mengejek-ejeknya.
“Kenapa kamu bilang bahwa aku bodoh?” tanya Lia kepada laki-laki itu.
“Kamu memang bodoh, kamu telah menyakiti temanmu sendiri dan kamu telah menyepelekan tugas yang diberikan oleh pak guru. Jadi apa salahnya aku mengejekmu bodoh!” jawab laki-laki itu
Tubuh Lia menjadi diam, ia teringat apa yang telah ia lakukan kepada temannya, ia telah menyakiti tangan Lili, ia telah menyakiti kaki Rara dan telah menyakiti hati dan perasaan semua temannya, ia juga teringat bahwa ia telah menyepelekan tugas dari pak guru. Lia menjadi menangis karena telah menyadari semua kesalahannya, lalu Lia lari untuk menemui Reina, Rara, Lili, Nisa dan Yaya, setelah sampai di tempat Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya, sambil menangis Lia langsung meminta maaf kepada Reina, Rara, Lili, Nisa, dan Yaya atas semua kesalahan yang telah ia perbuat.

“Reina, Rara, Lili, Nisa, Yaya tolong maafkan aku, aku telah menyakiti kalian kemarin, sekarang aku telah sadar bahwa aku salah, tolong maafkan aku!” kata Lia.
“Baiklah kami memaafkanmu, tetapi kau harus mau menjadi tokoh itu, jika tidak kami tidak akan memaafkanmu!” jawab Reina.
“Baiklah aku mau menjadi tokoh itu, nanti sepulang sekolah aku akan berlatih dengan kalian semua!” balas Lia.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi Reina, Rara, Lili, Yaya, Nisa, dan Lia berkumpul di kelas untuk berlatih drama. Mereka berlatih dengan sangat kompak dan semangat, hingga akhirnya mereka berhasil hafal dialog drama mereka masing-masing dalam setengah hari. Setelah berlatih lama, lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya saat pelajaran Bahasa Indonesia mereka menampilkan drama dengan lancar, baik dan benar, sehingga semua memeberi tepuk tangan dan memeberi pujian untuk mereka. Akhirnya mereka tidak jadi dihukum oleh pak guru, sejak saat itu mereka menjadi sahabat yang paling baik di sekolahnya.

Cerpen Karangan: Sovia Fatikah Craftista
Facebook: Adinda Tyas Lumintang
Anak SMP N 3 GODEAN kelas 7A

Cerpen Maaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Sebuah Bangku Semen

Oleh:
Lara menatap bangku semen itu dari kejauhan, bangku yang selalu menjadi singgasananya yang nyaman. Ia merasa tentram duduk di sana dalam kesendirian. Menikmati desau angin yang membelai belai wajah

Inilah Saat yang Kami Tunggu

Oleh:
Inilah saat yang kami tunggu! Kami akan membuktikan bahwa matahari punya energi dahsyat. Sejak belajar tentang matahari, kami memang penasaran. Sebab, Pak Akma selalu membuat kami tercengang ketika menyimak

Obat Alami Layila

Oleh:
Di pinggir jalan, seorang anak yang kira-kira berusia 12 tahun duduk sambil berjualan obat-obatan alami. Namanya Layila. Barang dagangannya masih lengkap, belum ada yang terjual. Daun sirih, lidah buaya,

Ulang Tahun Penuh Kenangan

Oleh:
Pagi yang cerah… pagi dimana hari itu adalah hari ulangtahunku. Aku berangkat sekolah dengan perasaan senang sekali… suasana di sekolah sih.. masih biasa-biasa saja, sampai waktu istirahat pun tiba,

Hadiah Terburukku

Oleh:
Huaaaaammm. Aku menguap. Rasanya mengantuk sekali. Suasana kelas yang ribut membuatku tidak semangat belajar. Aku Justin Jones. Hari ini hari ulang tahunku. Karena itu aku sangat bersemangat pulang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *