Maaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 June 2016

Aku merasa diriku memang pengecut. Hanya duduk di kamar dengan hati gelisah. Padahal mungkin itu kesempatan terakhirku agar masalah cepat terselesaikan. Hal itu karena ia akan pergi jauh. Apalah dayaku? Aku tak berani bertindak. Hanya kata maaf berulang-ulang kali yang terucap di hatinya. Tak ada nyali untuk melakukan sesuatu agar bisa memperbaiki kesalahan. Untuk hilangkan kesalahpahaman pun aku tak berani maju menjelaskan padanya.

Namaku Arini. Aku adalah salah satu siswa pandai di kelasku. Banyak anak yang ingin berteman denganku. Apalagi yang ingin duduk sebangku denganku. Teman dekatku saja saling berebut untuk duduk di sampingku. Entahlah. Apa benar-benar mereka ingin berteman denganku secara tulus ataukah hanya ingin mengambil keuntungan dariku? Dengan adanya Imel, Nika dan Sandy, aku merasa sangat bahagia. Aku menyayangi mereka, meski tak bisa kutunjukkan dengan tindakan. Bukan caraku seperti itu, namun aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka.
Pelit bukanlah tipeku. Apalagi dalam hal pelajaran. Aku akan membantu semua temanku yang kesusahan mengerjakan soal, atau terkadang memberikan mereka jawaban. Entahlah perbuatanku itu benar atau salah. Itulah aku!

“Yeee… aku naik kelas empat,” seru salah satu sekelasku. Dia sangat gugup mendengarkan hasil belajarnya karena dia peringkat terakhir waktu semester ganjil.
Teman-teman yang lain menertawakannya dan bersorak serempak, “Huuu…”
Yang merasa disorakin hanya tertawa
Rapor-ku dan ketiga temanku telah diambil. Kami berempat tidak langsung beranjak untuk pulang ke rumah. Membandingkan nilai-nilai raport tentu selalu kami lakukan terlebih dulu sebelum dipanggil orangtua masing-masing untuk pulang.

“Sial, kau selalu peringkat pertama dan aku selalu jadi nomor dua,” kata Sandy sedikit kesal melihat nilainya selalu lebih rendah dariku.
Aku tertawa, dan kemudian berkata, “Ya harus dong. Kau tak boleh melewatiku.”
Sandy manyun mendengar ucapanku. Imel dan Nika hanya tertawa melihat tingkah kami.
Tiba-tiba Maminya Imel datang. Beliau menyela pembicaraan kami.
“Nak Arin, besok kelas empat mau sebangku sama siapa?”
“Belum tahu tante.”
“Ya sudah. Sama Imel saja ya?”
Aku yang tak terlalu memikirkan duduk dengan siapapun, kemudian mengiyakan.
“Tolong besok kamu yang nyari tempat duduk ya? Soalnya tante sama Imel mau berangkat ke rumah simbah hari ini. Nanti Imel berangkatnya hari Selasa.”
“Iya tante. Siap!” kataku sambil menghormat pada Maminya Imel.
Imel dan Maminya kemudian pamitan buat pulang duluan. “Kami pulang duluan ya? Besok kalian bawain oleh-oleh deh,” kata Maminya Imel sambil berlalu dari hadapanku, Nika, dan Sandy. Imel menjabat tangan kami bertiga, kemudian mengikuti Maminya pergi. Nika pun juga diajak pulang oleh ibunya. Tinggal aku dan Sandy yang tersisa. Sandy menunggu ayahnya yang masih membagikan rapor, sedangkan aku sudah bersiap untuk pulang ke rumah.
Tiba-tiba Sandy nyeletuk, “Tadi Maminya Imel minta buat kamu duduk sama Imel? Apa? Kamu itu cuma dimanfaatin aja lo. Biar Imel bisa dapat nilai bagus.”
Aku terdiam. Berusaha mencerna ucapan Sandy. Belum tahu apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku pamitan sama Sandy buat pulang duluan.

Hari-hari penuh kebebasan telah usai. Tahun ajaran baru telah di mulai. Jalanan telah ramai dipenuhi siswa yang bersiap untuk menghadapi kelas barunya meski udara dingin masih serasa menusuk tulang. Sinar mentari pun terlihat masih enggan untuk membagikan sinarnya. Hal itu menjadikanku enggan untuk bergegas melakukan aktivitas. Aku melakukannya secara perlahan.
“Yaelah. Mereka berangkatnya pagi banget sih? Aku kan belum selesai siap-siapnya?” ujarku sedikit kesal.
Aku pun memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah. Selesai pakai sepatu, kemudian jabat tangan dengan bapak ibu, langsung bergegas menuju ke sekolah.
“Kamu nggak sarapan dulu Rin?” kata ibu sedikit jengkel karena anaknya tak mau sarapan dulu.
“Nanti aja bu. Hari ini kan pulangnya lebih awal, paling cuma kenalan sama wali kelas,” kataku sambil berlari mengejar teman-temanku yang sudah duluan berangkat sekolah.

“Rin, gimana? Jadinya mau duduk sama siapa?” kata Sandy sambil menepuk bahuku lewat belakang. Sontak aku kaget. Dia malah menertawakanku.
“Asem kau ni. Belum tahu aku,” kataku sambil berjalan menuju kelas. Muncul kebimbangan dalam diriku sejak ucapan Sandy kemarin. “Kenapa tak aku pikirkan sejak kemarin? Aku malah asyik dengan kehidupanku di rumah, bermain dengan teman-teman,” batinku merasa menyesal.
“Ya udah duduk sama aku aja,” bujuk Sandy.
Aku hanya diam, belum bisa memberikan jawaban.

Suasana kelas sudah sangat ramai. Aku menuju salah satu bangku nomor dua di depan. Sandy mengikutiku. Dia langsung duduk di sebelahku. Aku melihat sekeliling. Nika duduk di pojok dekat jendela nomor tiga dari depan.
“Hai Nik,” sapaku padanya sambil melambaikan tangan.
Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya.
“Rin, kamu duduk denganku aja ya?” kata Sandy kembali memberikan pertanyaan yang sama sambil menggoyang-goyangkan tanganku.
Aku bimbang, bingung harus berbuat apa. Tak enak rasanya menolak Sandy yang terus memintanya. Apalagi ia dan Sandy masih kerabat. Kebimbangan itu menjadikannya tak menyadari kalo ia menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan Arini, Sandy menyimpulkan bahwa temannya itu menyetujui permintaannya.

“Teman, aku punya kabar buruk,” seru Sandy sambil berjalan mendekatiku dan Nika.
Nika sudah tahu kabar yang dibawa Sandy. Ia memandangku dengan tatapan sedih. Aku balas menatapnya, namun tak mengeti arti tatapan itu.
“Kemarin aku dan Nika ke rumah Imel. Maminya tanya sama aku, Arini duduk sama siapa? Aku jawab kalo dia duduk sama aku,” kata Sandy penuh percaya diri.
Deg!
Dentaman keras menampar dadaku. Rasanya sakit sekali.
“Trus maminya bilang kalo akan bawa imel ke rumah simbahnya. Otomatis dia pindah sekolah kan?. Nanti sore aku, Nika, dan temen-temen kita yang lain diajak main ke sana buat perpisahan,” lanjut Imel menjelaskan.
“Apa ia pindah karena aku?” batinku dalam hati.
“Tapi kenapa dia nggak nyuruh kamu datang ke rumahnya ya Rin?” tambah Sandy penasaran.
“Apakah aku harus menanggung kesalahpahaman ini sendirian?” batinku sakit.
Nika kembali menatapku dengan raut muka penuh kesedihan.

Aku tidak bisa diam di dalam kamarku. Bolak-balik berjalan menuju jendela. Melihat ke arah selatan, arah rumah Imel. Aku bingung apakah aku harus ke rumah Imel ataukah tetap berdiam diri di kamarnya?
Waktu berjalan dengan cepatnya. Aku masih bimbang, terduduk lesu di depan jendela. Tak ada keberanian untuk mengungkap kesalahpahaman itu.
“Maaf kawan. Semoga kau memaafkanku di kemudian hari. Semoga kita bertemu lagi nanti dalam keadaan baik,” batinku penuh harap.
Menunggu agar hari cepat berganti. Esok segera menyapa, biar aku segera tahu apa yang terjadi di sana.

Cerpen Karangan: Lestari Handayani
Blog: Lemarisastra.wordpress.com

Cerpen Maaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ala Ala Tomboy

Oleh:
Kali ini akan aku ceritakan tentang kisah Helena Natasya, seorang artis cilik yang sedang tenar dengan lagunya yaitu ‘Go Run’ Pagi hari, matahari bersinar secerah wajahnya. Ya, Helena. Embun

Permasalahan Yang Sepele

Oleh:
Reni, Evi dan Sasya adalah 3 sahabat yang sangat akur. Suatu hari di sekolah Evi meninggalkan Reni dan Sasya sendirian Reni merasa itu hal yang wajar namun Sasya berfikir

Mesin Ajaib

Oleh:
Seorang gadis cantik sedang menangis di pojok ruangan kecil yang berwarna merah muda. Gadis itu menghadap ke sudut ruangan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Gadis kecil itu sedang

Elegi Kehidupan

Oleh:
Hari telah sore, matahari telah berada di ufuk barat. Bibir angin meniup-niup dahan pohon. Pemuda berusia 15 tahun itu sedang duduk di sebuah bangku taman. Tangan kanannya memegang sebuah

Jika Kembali Bersama

Oleh:
Entah kenapa bisa aku teringat ingat sesosok saudara yang mirip denganku. Namun aku tak ingat tak ingat seluk beluknya. Orangtuaku sudah berpisah, hanya aku yang tinggal bersama Ayah. Namaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *