Maaf dari Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Hidup akan terasa hambar bila tanpa orang-orang di sekeliling kita termasuk sahabat. Sahabat adalah seseorang yang selalu mengerti dan memahami kelebihan bahkan kekurangan yang kita miliki. Sahabat juga sebagai orang yang paling berarti dalam hidup.

Sahabatlah tempat kita membagi perasaan senang dan duka. Sahabatlah yang mengisi hari-hari kita, dan sebagai pembangkit semangat kita. Sahabat juga selalu memberikan pundak ketika kita lelah akan segala hal dan membangkitkan kita saat kita mulai terjatuh. Dialah salah satu orang yang sangat berharga dan banyak melukiskan pengalaman yang sangat mengesankan dalam hidup.

Aku adalah salah seorang yang sangat percaya akan kekuatan dari persahabatan. Bagiku persahabatan adalah sebuah ikatan yang tidak sembarang orang dapat memutuskannya dengan mudah, yah walaupun persahabatan yang kujalani pun tak sempurna. Aku memiliki beberapa orang sahabat, bagiku mereka adalah teman terbaik yang mampu menerima diriku. Mungkin tak ada yang bisa menandingi persahabatan kami. Karena bagiku telah banyak cerita yang telah kami lalui, baik senang maupun duka. Dan tak pernah aku bayangkan akan kehilangan salah seorang dari kalian.

Pernah suatu hari kita lalui masa dimana kita diuji dengan keegoisan. Pada saat itu, aku sangat menyesal tidak dapat menyelesaikan semua yang terjadi, hingga membuat kesalah-pahaman di antara kita. Aku benci diriku pada saat itu. Kenapa aku bisa sampai membuatmu menangis, sementara kau begitu percaya dengan diriku. Jika aku membayangkan kejadian itu kembali, aku ingin itu takkan pernah terjadi dan ingin kuubah situasi menjadi menyenangkan. Tapi, aku rasa itu sangat mustahil.

Sahabat, apa kau masih ingat? Setelah kejadian itu kau menjauh dari diriku, kau menghindar dan menjaga jarak denganku, bahkan kau terkadang tidak menganggap aku ada. Jujur saja aku sangat sedih pada saat itu, ingin sekali aku meminta maaf padamu, tapi karena keegoisan aku yang besar dapat mengalah kan rasa bersalahku padamu. Aku ingat saat kau menghampiri aku untuk meminta maaf padaku, di sana aku melihat dirimu yang berbeda sahabat. Kau tak tersenyum seperti biasa, raut wajah kecewa pun kau tampakkan, dan parahnya kau menetaskan beberapa buliran bening di matamu yang tak bersalah. Tetapi karena sifat egois menyelimuti diriku, aku benci dirimu waktu itu.

Hari-hari sangat berbeda ketika dirimu mulai menjauh dari aktivitas kehidupanku. Tawa yang dulu tercipta di antara kita kini terganti dengan kecanggungan, cerita seru dirimu yang sangat aku rindukan, Kata penyemangat dan menghibur telah sirna oleh kesalah pahaman itu. Sapaan dan panggilan unik dirimu tak bisa aku dengar kembali. Dan setelah semuanya terjadi serta mengubah segalanya, aku baru tersadar akan kehilangan dirimu.

Ketika kau mulai melangkah menjauhi aku, aku berusaha untuk meminta maafmu, meskipun aku tau itu sudah terlambat. Aku berusaha mendekatkan diriku padamu lagi, dan berharap memperbaiki hubungan persahabatan kita. Walupun kata maaf telah kita ucapkan untuk memperbaiki semuanya, tetapi rasa dalam persahabatan itu tak sesempurna seperti awal kita bersama dahulu. Sudah beberapa kali kau tersenyum dan berbicara kepadaku, tetapi tampak jelas berbeda dari dirimu sahabat yang tak pernah kau tunjukan padaku. Aku tidak tau apakah itu hanya perasaanku saja atau memang kau telah berubah.

Sekarang tidak ada lagi kata konyol dan candaan dirimu yang sering kau utarakan, yang tersisa hanyalah obrolan yang menurutku tak seasik dulu. Apakah kau telah membenci aku sekarang?. Aku merasa kau mulai merenggangkan jarak persahabatan kita, dan mulai melupakan kenangan yang pernah kita alami dahulu.

Waktu telah membawamu pergi lebih jauh dariku, sekarang aku tersiksa akan kesalahanku padamu sahabat. Aku ingin meminta maaf sekali lagi, namun aku rasa Kata itu sudah tidak kau butuhkan lagi saat ini. Aku sadari bahwa kesalahanku mungkin takkan bisa kau maafkan. Jadi biarkan ini menjadi pelajaran hidupku untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan untuk kau sahabatku, aku sangat berterimakasih karena pernah singgah untuk memberi warna dalam hidupku meskipun aku telah menyakiti dan mengecewakan kepercayaanmu untukku. Hanya tinggal sepatah kata yang tersisa dari hatiku untuk dirimu sahabat, maaf kan aku.

Special for -LH-

Cerpen Karangan: Hada Apriani Rahman
Facebook: Hada Apriani Rahman

Cerpen Maaf dari Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Detik Terindahmu

Oleh:
“Ma, Tifany main dulu ya” “jangan jauh jauh ya…” “siap ma” Besok adalah ulang tahun sahabatnya, Tifa sengaja pergi untuk membeli kado. Tifa ingin menjadi The First di detik

Kembali, Tapi Tak Sama (Part 1)

Oleh:
Kicauan burung-burung pagi membangunkanku yang sedang tertidur lelap. Pagi yang cerah, matahari dengan senang hatinya tersenyum padaku, berusaha mengatakan bahwa pagi ini adalah pagi yang indah. Mataku masih setengahnya

This Is Us

Oleh:
Sebelumnya gua gak mau cerita, tapi karena loe mau baca yah sudah lah gua juga gak akan memaksa. Kenalin nama gua feri gua anak pertama dari 1 saudara… maksudnya

Sebesar Biji Zarah

Oleh:
Waktu menunjukkan bahwa senja segera tiba. Di ruangan sederhana, terlihat jelas barang-barang berserakan, sudah, sangat tidak beraturan. Menggambarkan sang pemilik ruangan, persis. Belum terlalu gelap saat itu, biasan cahaya

Catatan Alzi Si Berandal

Oleh:
Matahari mulai berayun ke arah barat, sinarnya mulai meredup tapi tetap memancarkan sinar pancarona yang indah terlihat mata. Sepasang pemuda dan pemudi nampak asyik masyuk bercakap-cakap. Mereka adalah Alzi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *