Magical of Miror

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 March 2017

Gaun hitam menyelimuti seluruh tubuhku. Hari ini adalah hari pemakaman kakekku. Kemarin kakekku baru saja meninggal. Tepat dihari ulang tahunku yang kesepuluh.

Di dunia ini hanya kakek yang kumiliki. Orangtuaku meninggalkanku saat umurku lima tahun di depan rumah kakek. Andai saja kakek tidak menemukanku. Pasti aku sudah meninggal karena kedinginan saat itu. Sungguh musim dingin yang buruk. Begitu pula musim dingin saat ini, ketika kakek yang kumiliki pergi.

Aku berjalan menyelusuri rumah kakek yang telah tua. Begitu banyak kenanganku dengan kakek di rumah ini. Aku tidak tau bagaimana nasibku nanti tanpa kakek.

Di kamar milik kakek aku menangis tepat di depan cermin tua miliknya. Cermin yang amat kakek sayangi. Entah apa alasannya. Tapi, sangking sayangnya kakek pada cermin itu aku bahkan tidak boleh menyentuhnya.

Aku memperhatikan bayanganku di cermin itu. Aku melihat gadis kecil dengan gaun hitam yang mengeluarkan air mata. Tapi, perlahan bayangan itu berubah menjadi seorang anak laki-laki. Ia memakai celana pendek, baju panjang yang lengannya ditekuk hingga siku, juga jubah hitam yang menutupi seluruh punggungnya hingga lantai pijakannya.
“Jangan menangis,” ujarnya sembil menempelkan jari telunjuknya ke kaca cermin tepat ke arah hidungku.
“Kamu siapa?” tanyaku.
Dia tersenyum padaku.
“Namaku Gin, lalu namamu siapa?” ujarnya.
“Aku Ara,” jawabku ragu sambil memegang kayu pada cermin itu.
“Kamu kenapa menangis?”
“Kakek, kakek meninggalkanku sendirian. Aku takut,” aku berusaha menahan air mataku.
“Kakek tidak meninggalkanmu. Dia hanya pergi sebentar. Aku akan menjagamu. Jadi, jangan menangis,” ujarnya.
Aku hanya menganggukan kepala.
“Ayo tersenyum,” katanya sambil menunjukan jari telunjuknya padaku.
Aku menghapus air mataku dan tersenyum padanya.

Bunga sakura mulai bermekaran di depan halamanku. Itu adalah pertanda bahwa musim semi sudah datang.
Aku duduk di depan cermin, dan berhadapan dengan Gin. Aku jadi teringat pertama kali bertemu dengannya, yaitu di musim dingin saat kakek meninggal.

“Gin.”
“Apa?”
“Kamu kenapa ada di dalam cermin?”
Gin mengangkat dagunya. Lalu memainkan jari telunjuknya. Seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
“Itu karena aku adalah seorang peri cermin. Tugasku adalah memebuat seorang gadis kecil tertawa. Sepertimu,” jawab Gin sambil tersenyum.
Aku merasa agak kebingungan dengan jawaban Gin barusan. Tapi aku tidak peduli.

Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca cermin. Lalu Gin juga melakukan hal yang sama. Searah dengan telapak tanganku. Lalu sesuatu yang ajaib terjadi. Aku tidak bisa merasakan kaca cermin itu lagi. Yang kurasakan justru tangan Gin yang agak dingin namun lembut. Sama seperti musim semi.
Aku menggengam tanganku sendiri. Lalu Gin justru mengenggam tanganku.

Musim panas yang amat panas. Aku tergeletak di depan cermin, sambil terus mengipasi diriku dengan kipas kecil milikku. Gaun pendek berwarna kuningku terseret di lantai ruangan itu.
“Gin, apa di dalam cermin itu panas?”
“Panas, tapi tidak terlalu sih,” jawabnya santai dengan posisi tubuh yang sama denganku, hanya kedua tangannya tergelatak di lantai kaca.
Aku berusaha berdiri, Gin yang melihatnya pun juga ikut berdiri. Aku mendekati Gin, lalu mengulurkan tanganku untuk meraih tangannya. Gin yang kebingunganpun langsung memegang tanganku.
“Ara ada apa?”
“Gin, apakah kita akan menjadi teman selamanya?” tanyaku.
Gin tersenyum padaku. Lalu menganggukan kepalanya.
“Janji ya,” ujarku.
“Iya.”
Aku pun tersenyum, membuat Gin pun ikut tersenyum.

Malam musim gugur. Aku hampir ketakutaan karena suara ketukan pintu di depan rumahku. Aku pun berusaha untuk memberanikan diriku dan membuka pintu itu.
Aku sempat terkejut ketika melihat wanita yang berdiri di balik pintu itu. Tapi aku tidak suka dengan wanita itu. karena dia memintaku untuk pergi dari rumah tua milik kakek dan tinggal dengan orang yang akan merawatku. Itu berarti aku akan jauh dari Gin.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan tentang perkataan wanita itu. Jadi aku memutuskan untuk bertemu dengan Gin dan bertanya kepadanya.

Dengan lilin di cawan kecil yang kubawa. Aku memberanikan diri untuk masuk ke kamar kakek dan menemui Gin.
Gin berdiri di dalam cermin sambil tersenyum ke arahku.
“Gin, ada yang harus kubicarakan padamu.”
“Aku juga,” senyum Gin mulai pudar.
Aku terdiam sejenak dan menyuruh Gin untuk berbicara terlebih dulu.
“Ara tugasku telah selesai, jadi aku harus pergi,” ujar Gin.
Perkataan Gin membuatku ingin menangis.
“Ara jagalah dirimu, dan teruslah tersenyum. Dengan begitu hidupmu tidak akan kesepian,” lanjutnya.
Aku meneteskan air mata ketika melihat tubuh Gin yang mulai menghilang.
“Gin kenapa kamu harus pergi?” aku tidak bisa menahan air mata. Dadaku terasa sesak.
Gin hanya tersenyum padaku.
“Sudah kubilang, aku adalah peri cermin. Tugasku adalah menemani anak-anak di dunia ini yang kesepian. Tapi batasku menemani anak itu adalah sebelas bulan. Sebelum aku pergi menghilang dari cermin,” ujar Gin sambil terus mengajungkan jari telunjuknya seperti biasa.
“Ara sebelum aku pergi apa keinginan terbesarmu?” ujar Gin.
“Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin kamu di sini, menemaniku. Aku tidak mau sendirian di sini,” air mata terus turun dengan deras dari mataku,” Gin jangan pergi.”
“Jangan menangis, kamu tidak akan sendirian. Pasti ada lebih banyak teman yang akan datang kepadamu. Kamu pasti tidak akan kesepian,” jawab Gin.
Tubuh Gin semakin menghilang. Kini hanya terlihat hanya baju putihnya, tangan kanannya yang masih memainkan jari telujuknya, tangan kiri yang memegang kaca cermin, juga wajahnya yang terus tersenyum. Jubahnya hanya terlihat setengah saja. Menutupi pundaknya.
“Jangan pergi,” ujarku.
“Jangan menangis.”
Gin terus tersenyum, sedangkan aku terus saja menangis.
“Ara, senang bisa menjadi temanmu,” ujarnya.
“Jangan…” Teriakku sambil mengulurkan tangan kananku.
“Pyaaar…”
Kaca cermin pecah. Begitupun Gin yang telah menghilang. Aku memegang serpihan kaca cermin itu. Mengingat ada Gin yang selalu tersenyum di balik kaca cermin itu.

Sepuluh tahun kemudian. Di musim dingin.
Aku memakai gaun putih yang menutupi hampir seluruh badan dan kakiku hanya bahuku saja yang tidak bisa ia tutupi. Sapu tangan putih menutupi telapak tanganku hingga sikuku. Sedangkan kerudung putih tertata rapi menghiasi kepalaku. Ini adalah hari pernikahanku.

Wanita yang menemuiku sepuluh tahun lalu, ternyata wanita yang baik hati. Dia mempertemukanku dengan kakak kandungku. Namanya kak Nayla. Sedengkan orangtuaku telah meninggal dunia lima tahun sebelumnya karena sebuah kecelakaan.

Aku tidak pernah meninggalkan rumah tua milik kakek. Sebab kak Nayla dan aku memutuskan untuk tinggal di rumah ini. Hingga aku menikah kelak. Dan ini adalah akhirnya.

Aku tersenyum pada sebuah cermin tua di sebuah ruangan kosong.
“Hey Gin, kau lihat sebentar lagi aku akan menikah,” aku meneteskan air mata.
“Terimakasih karena pernah menjadi temanku walaupun hanya sebentar,” aku kembali tersenyum pada cermin itu.
Aku pergi meninggalkan cermin tua itu dan ruangan kosong itu. Aku berlari menuju sebuah kereta kuda yang telah menungguku di depan rumahku. Angin dingin dan salju lembut menemani langkahku.

Sebelum pergi, aku menyempatkan diri untuk tersenyum pada rumah tua milik kakek, dan juga kenangan yang tersimpan di sana. Untuk waktu yang cukup lama aku akan jauh dari semua itu. karena sebuah kereta kuda akan membawaku pergi.

Seorang anak laki-laki berpakaian aneh mengajungkan jari telunjuknya sambil tersenyum. Hal yang tak akan pernah kulupakan selamanya.

Cerpen Karangan: Nisfaul Hikmah

Cerpen Magical of Miror merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bermain Petak Umpet

Oleh:
Kami tiba di depan rumah kayu ulin yang belum jadi. Aku tidak mengatakan ini dapat disebut rumah panggung sebab pondasinya langsung tertanam di tanah. Banyak kayu centang-perenang di sisi

Kejutan Untuk Sahabat Kami

Oleh:
Di hari yang cerah dan menyenangkan, tepat pada jam 11 siang tentunya aku sudah berada di sekolah, mengikuti kegiatan belajar seperti hari-hari yang biasanya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) telah

Sahabat Scouts Selamanya (Part 1)

Oleh:
Suara adzan subuh bergema, begitu juga dengan suara alarm handphone yang berdering memecah telinga seisi tenda, sontak semua terkejut, mereka meraba ke sana ke mari mencari di mana sumber

Peri Malam

Oleh:
Di malam hari yang dingin, dengan kabut yang lumayan tebal, aku menyusuri jalan ini sambil memeluk kedua lenganku. “Aku yakin mereka pasti ada di tempat itu!” Ucapku dalam hati.

A Dark Mind

Oleh:
“Hufftttt,” Anton menghembuskan napas yang sangat panjang dari mulut, lalu ia mulai beranjak dari tempat duduknya menuju ke luar rumah. Anton adalah seorang Ayah yang memiliki seorang istri dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *